Napas yang Tertinggal di Gang Sempit
Oleh:
Ummu Fahhala
(Praktisi Pendidikan dan Pegiat Literasi)
Terasjabar.co – Di sebuah gang kecil di Bandung, saya bertemu seorang ibu yang duduk di depan rumah petaknya. Napasnya berat, sementara anaknya terus batuk sejak berminggu-minggu.
“Bu, sudah ke puskesmas?” tanya saya.
Ia menggeleng. “Jauh, Bu… dan saya takut biayanya.”
Jawaban itu menyayat hati. Di balik rumah sempit, minim cahaya, dan pengap itu, saya melihat kenyataan yang lebih besar, bahwa tuberkulosis bukan hanya penyakit; ia adalah potret kesejahteraan yang rapuh.
Data menyebutkan estimasi TB di Jawa Barat mencapai 234.280 kasus, tetapi yang terdeteksi baru 34,9%. Artinya, ratusan ribu orang mungkin sakit tanpa tahu, tanpa akses, tanpa suara.
TB menyampaikan pesan diam, masih banyak keluarga hidup di hunian kumuh, gizi kurang, dan akses kesehatan yang jauh. Ini bukan sekadar urusan medis, tetapi urusan peradaban hidup.
Negara Harus Hadir Lebih Dalam
Dalam angka-angka itu, saya melihat kebutuhan akan kehadiran negara yang nyata, untuk memperbaiki pemukiman kumuh, menyediakan akses sehat bagi warga miskin, memperkuat deteksi dini, memastikan obat dan tenaga medis merata.
Kesehatan adalah hak, bukan sekadar program.
Hikmah Islam: Menjaga Jiwa sebagai Titik Awal
Islam memandang pengelolaan kesehatan sebagai amanah besar. Allah Swt. Berfirman, “Dan janganlah kamu menjatuhkan dirimu ke dalam kebinasaan.” (QS. Al-Baqarah [2]: 195)
Rasulullah Saw. bersabda, “Tidak boleh membahayakan diri sendiri dan tidak boleh membahayakan orang lain.” (HR. Ibn Majah)
Di masa Rasulullah hingga para khalifah, negara mengelola kesehatan secara menyeluruh, meliputi layanan gratis, isolasi pasien menular, sanitasi lingkungan, distribusi gizi, hingga riset medis.
Islam bukan hanya mengobati, tetapi membangun lingkungan yang mencegah penyakit sejak awal.
Sebelum saya pamit, ibu itu berkata lirih, “Bu… kami hanya ingin hidup yang layak.”
TB adalah alarm bagi kita semua agar memastikan tidak ada lagi keluarga yang hidup tanpa jendela, tanpa gizi, tanpa akses kesehatan. Ketika negara hadir sepenuh hati dan nilai Islam dihidupkan dalam tata kelola kesehatan, maka angka yang menakutkan itu akan berubah menjadi harapan. Harapan untuk setiap napas yang tertinggal di gang-gang kecil Jawa Barat.






Leave a Reply