CARI MUKA
Oleh:
Ganjar Kurnia
(Akademisi)
Terasjabar.co – Di dalam salah satu bagian pidato syukuran 100 tahun Pondok Pesantren Gontor, KH Hasan Abdullah Sahal mengemukakan: sekarang ini …….kalau tidak punya ijazah, cari ijazah, kalau tidak punya uang cari uang, kalau tidak punya jabatan cari jabatan, kalau tidak punya muka, cari muka………..”.
Istilah cari muka ini, menarik untuk didiskusikan. Walaupun cari muka tidak ada ilmunya, tidak ada di kitab kuning, tidak punya matan, tidak punya syarah dan tentu tidak punya hasyiyah, namun praktiknya sangat luas.
Cari muka bukan sekadar ingin dipuji. Ia adalah seni menempatkan wajah pada kepentingan. Kalau kyai datang, wajah mendadak menjadi sangat tawadhu; kalau ada pejabat datang, wajah berubah menjadi sangat hormat; kalau ada orang kaya datang, senyumnya naik dua Tingkat; kalau bertemu rakyat, memperlihatkan wajah iba; kalau bertemu calon mertua, solat sosiologis; kalau kamera datang, wajah terlihat sangat sumringah, dst.
Begitulah muka. Ia punya kemampuan luar biasa untuk menyesuaikan diri dengan keadaan. Ada yang tersenyum kepada semua orang, tapi bukan karena ramah. Membantu mengangkat kursi, bukan karena kursinya berat, tapi karena yang akan duduk adalah orang penting. Rajin hadir dalam acara, bukan karena menarik, tapi karena daftar hadirnya. Ada yang lebih hebat lagi : hadir dalam foto, tanpa hadir dalam kegiatannya. Semacam kehadiran simbolik, tidak ikut bekerja,” tetapi fotonya tersebar dimana-mana. Masyarakat mungkin menyimpulkan: “Wah, beliau sangat aktif”, padahal yang aktif hanya editing AI nya saja.
Dalam tradisi pesantren, diajarkan adab kepada guru, kepada ilmu, kepada orang tua, kepada sesama, dsb. Tetapi di zaman modern, rupanya ada satu adab baru yang tidak diajarkan tetapi secara naluri sering dipraktekkan: adab kepada kamera. Kalau kamera datang, jangan membelakangi. Kalau foto bersama, usahakan dekat pejabat dan berada di tengah. Kalau bisa, bahu bersentuhan. Kalau memungkinkan, tangan menyentuh pundak orang yang pangkatnya lebih tinggi. Bukan untuk mencari berkah. Hanya untuk mencari sudut kamera.
Hal yang menarik, para pencari muka biasanya tidak merasa sedang mencari muka. Ia merasa sedang menjaga hubungan.
“Ini bukan cari muka,” katanya.
“Tapi membangun komunikasi.”
“Ini bukan menjilat.”
“ Tapi menjaga silaturahmi.”
“Ini bukan pencitraan.”
“Tapi dokumentasi.”
Bahasa ternyata sangat penting. Menjilat disebut komunikasi. Membungkuk disebut penghormatan. Memuji berlebihan disebut apresiasi. Mengikuti ke mana-mana disebut loyalitas, dan mencari muka disebut bagian membangun dari “networking”.
Ada pula pencari muka yang sangat religius. Ia mengutip ayat, mengutip hadis, mengutip perkataan ulama. Ia berkata: “Jangan berharap kepada manusia, harus ikhlas. Berbuatlah karena Allah, bukan karena manusia,,,,,,. Tetapi dibalik kata-kata itu terkadang diikuti pula dengan cari muka pula. Tausiyah berubah menjadi puja-puji dan legitimasi terhadap kebijakan.
Agama mengajarkan bahwa kemuliaan manusia bukan pada pakaian, jabatan, atau hartanya, melainkan pada takwa. Tetapi dunia luar mempunyai kurikulum sendiri: Jabatan menentukan jarak berdiri. Kekayaan menentukan volume senyum. Kekuasaan menentukan kehangatan salam dan kamera menentukan posisi duduk.
Pejabat atau pemerintahpun sering cari muka terhadap rakyatnya. Kelihatannya seperti membantu, padahal ada udang di balik batu, terutama menjelang Pemilu.
Modal cari muka memang sangat mudah: wajah, senyum, dan sedikit keberanian untuk berpura-pura tidak sedang mencari apa-apa.
Sekarang, kita hidup dalam zaman ketika orang bisa sangat dekat secara fotografis, videografis, tetapi sangat jauh secara moral. Foto Bersama, nilai berbeda. Senyum sama, niat berbeda. Tangan berjabat, hati belum tentu bersahabat.
Dibalik urusan pencari mukaan ini, ada hal yang sering luput dari ingatan manusia, yaitu ketika ada titik yang tidak bisa diakali: kamera mati, jabatan selesai, orang penting tidak lagi penting, nama tidak lagi disebut, ketika semua orang sudah pulang, ketika tepuk tangan berhenti dsb. Di dalam keadaan ini, maka tidak ada lagi posisi di tengah, tidak ada angle terbaik, tidak ada lighting, tidak ada caption, tidak ada like.
Karena itu, janganlah terlalu sibuk mencari muka. Orang yang sepanjang hidupnya mencari muka, seolah-olah sedang mengumumkan: bahwa muka yang sejak lahir menempel di depan kepalanya …………….hilang.






Leave a Reply