FILSAFAT KE-GOBLOK-AN
Oleh:
Ganjar Kurnia
(Akademisi)
Terasjabar. co – Pada mulanya, goblok hanyalah kata sifat. Ia tinggal dengan tenang di dalam kamus, bertetangga dengan bodoh, dungu, dan tolol. Hidupnya sederhana. Ia jarang keluar rumah karena tahu kehadirannya dapat melukai perasaan orang. Namun, sejak politik menjadi panggung lawak dan mikrofon lebih cepat daripada pikiran, goblok naik pangkat menjadi kata seru.
“Goblok!”
Begitu diteriakkan, kata itu melompat dari podium, menabrak kamera televisi, masuk ke telepon genggam, lalu berkembang biak di media sosial.
Ketika kata goblok kemudian diteriakkan di depan umum, semua orang serentak menoleh kiri kanan. Pejabat menunjuk pakar. Pakar menunjuk politisi. Politisi menunjuk oposisi. Oposisi menunjuk pemerintah. Pemerintah menunjuk data. Data menunjuk petugas yang memasukkannya. Petugas tidak menunjuk siapa-siapa karena kebetulan sedang cuti.
Rakyat hanya menunjuk televisi. Televisi menunjuk iklan. Iklan menawarkan obat penambah kecerdasan dengan cicilan dua belas bulan.
Di sebuah universitas, para profesor segera mengadakan seminar nasional bertajuk “Goblok sebagai Paradigma Baru Pembangunan Berkelanjutan.” Dalam seminar tersebut dijelaskan bahwa goblok bukan lagi kelemahan intelektual, melainkan peluang pembangunan.
“Kalau dikelola secara profesional,” ujar seorang pakar, “kegoblokan dapat menjadi sumber daya terbarukan.”
Peserta bertepuk tangan. Tidak seorang pun memahami maksudnya, tetapi semua merasa kalimat itu sangat ilmiah.
Seorang ekonom kemudian mempresentasikan Indeks Kegoblokan Nasional. Menurut grafiknya, tingkat kegoblokan meningkat ketika harga kebutuhan pokok naik, lapangan kerja menyusut, dan janji politik bertambah. Anehnya, ketika grafik mencapai puncak, sang ekonom justru menyimpulkan bahwa keadaan ekonomi sedang baik-baik saja.
Di kementerian yang baru dibentuk—Kementerian Penanggulangan Pikiran Kritis—para pejabat sibuk menyusun program pemberantasan kegoblokan. Anggarannya sangat besar karena kegoblokan dianggap musuh negara.
Program pertama adalah membagikan buku kepada masyarakat. Sayangnya, bukunya tidak boleh dibaca karena isinya dikhawatirkan menimbulkan pertanyaan.
Program kedua adalah meningkatkan kualitas pendidikan. Sekolah-sekolah diperintahkan membuat spanduk bertuliskan: MARI KITA CERDASKAN BANGSA!
Setelah spanduk dipasang, anggaran pendidikan dianggap telah terserap dengan sempurna. Guru tetap honorer. Laboratorium tetap terkunci. Perpustakaan berubah menjadi gudang kursi rusak. Akan tetapi, laporan kegiatan dicetak penuh warna dan dijilid dengan sampul mengkilap. Dalam administrasi pemerintahan, sampul yang mengkilap sering kali lebih penting daripada masa depan yang suram.
Sementara itu, di gedung parlemen, berlangsung sidang khusus untuk merumuskan definisi resmi kata goblok.
“Goblok adalah orang yang tidak sependapat dengan kita,” kata anggota pertama.
“Tidak tepat,” bantah anggota kedua. “Goblok adalah orang yang tidak memilih kita.”
Anggota ketiga mengusulkan definisi yang lebih demokratis:
“Goblok adalah rakyat yang sudah diberi uang, tetapi tetap memilih calon lain.”
Sidang berlangsung panas. Meja dipukul. Mikrofon dicabut. Kursi hampir dilempar. Akhirnya, mereka bersepakat membentuk panitia khusus. Panitia itu akan melakukan studi banding ke tujuh negara untuk mencari tahu bagaimana negara-negara maju mengelola kegoblokan. Setibanya di luar negeri, mereka berfoto di depan universitas. Tidak masuk ke dalamnya.
Di kampung, Mak Ijah mendengar berita itu sambil menggoreng bala-bala.
“Kalau semua orang saling menyebut goblok,” katanya, “siapa yang paling pintar?”
Mang Udin yang sedang berutang kopi menjawab, “Yang paling pintar adalah orang goblok merasa pintar.”
Di negeri seperti itu, kepintaran menjadi mencurigakan. Orang yang bertanya dianggap mengganggu. Orang yang mengkritik disebut tidak loyal. Pakar diminta memberi nasihat, tetapi nasihatnya hanya diterima jika sesuai dengan keinginan penguasa.
Akhirnya, kata goblok kehilangan alamat. Ia beterbangan dari mulut ke mulut, hinggap di kepala siapa saja, lalu pulang ke kamus dalam keadaan kelelahan. Di depan sampul kamus, ia duduk sambil menangis.
“Aku sebenarnya hanya sebuah kata,” keluhnya. “Mengapa manusia memakai namaku untuk mengumpat………?”






Leave a Reply