Santri dan Keberanian Menjadi Bermakna
Oleh:
Prof. Dr. Hj. Lilis Sulastri, S.Ag., MM.,CPHRM., CHRA.
(Guru Besar Ilmu Manajemen UIN Sunan Gunung Djati Bandung)
Terasjabar.co – Dunia yang dihadapi santri hari ini telah melampaui dinding pesantren, bahkan sebelum mereka meninggalkan halaman pondok. Perubahan hadir melalui layar, percakapan keluarga, tuntutan pekerjaan, dan gambaran keberhasilan yang beredar setiap hari. Di antara jadwal mengaji dan kewajiban belajar, tumbuh pertanyaan yang juga menghuni pikiran jutaan anak muda, apakah pengetahuan yang sedang dipelajari cukup untuk menghadapi masa depan? Bagaimana memperoleh penghidupan yang layak tanpa kehilangan prinsip? Dan bagaimana tetap menjadi diri sendiri ketika dunia terus menawarkan ukuran tentang siapa yang pantas dianggap berhasil?
Berbagai pertanyaan tersebut memperoleh bentuk konkret dalam perkembangan pesantren belakangan ini. Pada 16 Oktober 2026, misalnya, pelatihan kecerdasan buatan dan robotik bagi santri berlangsung di Pondok Pesantren Darullughah Wadda’wah, Pasuruan. Sebelumnya, pada Juni 2026, diluncurkan “Kang Santri AI”, platform kecerdasan buatan berbasis literatur pesantren yang dikembangkan kalangan santri. Dua peristiwa tersebut memperlihatkan bahwa sebagian lingkungan pesantren sedang memasuki percakapan teknologi sebagai peserta yang ingin belajar dan berkarya. Para santri mulai mengambil tempat dalam perubahan yang kerap dianggap jauh dari kehidupan pondok.
Namun, gambaran tersebut belum mewakili seluruh kenyataan. Pesantren memiliki kondisi yang beragam, sehingga kesempatan mengikuti perubahan pun berbeda. Kemampuan menyediakan perangkat, mendampingi penggunaan teknologi, dan memperluas jejaring belajar perlu dilihat sebagai persoalan yang berbeda pada setiap lembaga. Karena itu, keberhasilan beberapa pesantren mengembangkan inovasi seharusnya membuka pertanyaan tentang pemerataan kesempatan. Santri yang belum tersentuh pelatihan tetap memiliki hak atas pendidikan yang memungkinkan bakatnya tumbuh. Membicarakan masa depan kesantrian berarti memperhatikan mereka yang sudah bergerak maju sekaligus mereka yang masih bertumbuh.
Dalam tema Hari Santri 2026, “Santri Menguatkan Negeri Menuju Indonesia Emas”, perlu dibaca secara lebih mendalam. Menguatkan negeri menuntut keberanian menghadapi keadaan sebenarnya, termasuk jarak antara harapan besar kepada santri dan dukungan yang tersedia bagi mereka. Kita tidak dapat terus meminta generasi muda menjadi jawaban bagi persoalan bangsa sambil membiarkan mereka mencari jalan sendirian. Harapan harus disertai pendidikan yang bermutu, lingkungan yang aman, akses terhadap pengetahuan, dan kesempatan membuktikan kemampuan agar kesantrian dapat berkembang menjadi kekuatan yang bermanfaat dalam kehidupan masyarakat.
Persoalannya, masyarakat yang akan dimasuki santri juga sedang mengalami kegelisahan tentang arah hidup. Kita menyaksikan pengetahuan berlimpah bersama kebingungan, keterhubungan bersama kesepian, serta kebebasan berbicara bersama kesulitan mendengarkan. Orang dapat memperoleh perhatian karena mempermalukan sesamanya, sementara pekerjaan yang bermanfaat berlangsung tanpa sorotan. Keadaan semacam ini menumbuhkan kesan bahwa dunia semakin absurd, masih ada jarak yang mengganggu antara nilai yang diajarkan dan perilaku yang memperoleh penghargaan.
Albert Camus membantu kita memahami salah satu sisi kegelisahan tersebut. Dalam pemikirannya, absurditas muncul dari pertemuan antara kebutuhan manusia akan makna dan dunia yang tidak memberikan jawaban sebagaimana diharapkan. Pandangan yang menjadi pintu untuk membaca pengalaman generasi muda, tanpa harus menyamakan landasan filosofis Camus dengan keyakinan keagamaan santri. Seseorang dapat belajar tekun, memelihara harapan, lalu berhadapan dengan kenyataan yang mengecewakan. Artinya pertanyaan tentang makna lahir dari pengalaman yang sungguh-sungguh dijalani, bukan sekadar perenungan yang jauh dari kehidupan.
Bagi santri, iman menyediakan cakrawala untuk menghadapi pengalaman tersebut. Kehidupan memiliki pertanggungjawaban yang melampaui penilaian sesaat manusia. Namun, sebuah keyakinan perlu diterjemahkan menjadi keteguhan yang aktif, tetap belajar ketika kesempatan terasa sempit, memperbaiki cara bekerja ketika usaha gagal, dan mencari pertolongan ketika beban terlalu berat. Di titik inilah kebermaknaan menemukan bentuknya. Seseorang menjaga alasan untuk berbuat baik meskipun hasilnya belum segera terlihat, dan keikhlasan kemudian menjadi sumber daya batin yang memungkinkan manusia terus bekerja tanpa menggantungkan seluruh harga dirinya pada pengakuan orang lain.
Keteguhan semakin penting dalam kehidupan yang, menurut Zygmunt Bauman, berciri modernitas cair. Tatanan, hubungan, dan pegangan hidup mengalami perubahan sehingga manusia harus mengambil keputusan dalam ketidakpastian. Jika digunakan untuk membaca keadaan sekarang, gagasan ini membantu menjelaskan mengapa anak muda merasa perlu terus mengejar sesuatu, keterampilan terbaru, pekerjaan yang menjanjikan, penampilan yang diterima, atau identitas yang dianggap relevan. Santri pun berada dalam arus tersebut. Pengalaman tinggal di pesantren tidak dengan sendirinya membebaskan seseorang dari kecemasan tertinggal atau keinginan membandingkan hidupnya dengan kehidupan orang lain.
Karena itu, keunikan santri perlu ditemukan pada kemampuan mengolah pengalaman pendidikannya menjadi pegangan yang hidup. Kebiasaan menjalani jadwal, berbagi ruang, mengulang pelajaran, dan mengurus kebutuhan bersama dapat membentuk kesabaran serta tanggung jawab. Pembiasaan tersebut akan bernilai apabila dipahami maknanya. Disiplin mengajarkan pengelolaan diri, hidup bersama mengajarkan bahwa kebebasan seseorang bersentuhan dengan kebutuhan orang lain, ketekunan membaca mengajarkan bahwa pemahaman memerlukan proses. Dari pengalaman sehari-hari, santri memiliki bahan untuk membangun kecakapan menghadapi perubahan dengan lebih tenang dan matang.
Akan tetapi, tradisi juga membutuhkan pengawasan agar kekuatannya terus tumbuh. Penghormatan kepada guru harus memberi ruang bagi pertanyaan yang tulus. Kedisiplinan perlu menumbuhkan tanggung jawab dan rasa aman. Kebersamaan harus memungkinkan setiap santri mempertahankan martabat serta keberaniannya menyampaikan persoalan.
Dari lingkungan yang aman, keberanian intelektual tumbuh. Santri dapat belajar mengatakan belum memahami, meminta penjelasan, dan menguji alasan tanpa merasa kehilangan tempat. Kebiasaan yang menjadi bekal penting ketika menghadapi kecerdasan buatan. Mesin dapat menghasilkan jawaban dengan bahasa yang meyakinkan, sedangkan orang yang membacanya belum tentu memiliki cukup pengetahuan untuk memeriksa. Tantangan pendidikan terletak pada kemampuan membedakan kelancaran bahasa dari ketepatan isi. Santri membutuhkan kecakapan menggunakan teknologi sekaligus keberanian untuk meragukan jawaban yang tampak begitu sempurna.
Tradisi keilmuan pesantren menyediakan landasan yang menarik untuk pekerjaan tersebut. Dalam pembelajaran kitab, sebuah kata dapat diperiksa bentuk, kedudukan, dan hubungannya dengan kalimat lain. Penjelasan guru mengantar murid melihat bahwa kesimpulan memiliki dasar dan batas. Semangat pemeriksaan ini dapat dikembangkan dalam penggunaan teknologi: menelusuri sumber, membandingkan jawaban, menguji konteks, dan mengakui ketidakpastian. Dengan demikian, adaptasi tidak berhenti pada kemampuan mengoperasikan aplikasi. Adaptasi berkembang menjadi kecerdasan menilai kapan teknologi membantu pemahaman dan kapan kemudahannya dapat menutupi kekeliruan.
Perubahan cara belajar juga memerlukan perubahan cara menilai. Tugas yang hanya meminta rangkuman dan mudah diselesaikan tanpa keterlibatan pikiran yang memadai. Sebaliknya, santri dapat diajak menemukan persoalan di lingkungannya, mewawancarai pihak terkait, membaca sumber, lalu mempertanggungjawabkan usulan penyelesaiannya. Teknologi boleh membantu mengolah bahan, sementara pengalaman lapangan dan pertimbangan tetap menjadi bagian yang harus dijalani sendiri. Kecerdasan tumbuh ketika seseorang mampu menghubungkan pengetahuan dengan keadaan, mengenali keterbatasan jawabannya, dan bersedia memperbaiki kesimpulan setelah menemukan bukti baru.
Kemampuan itu dibutuhkan pula dalam menghadapi banjir informasi yang memasuki hampir seluruh sudut kehidupan. Kabar tentang agama, kesehatan, politik, dan keuangan datang melalui saluran yang sama, sering disertai nada mendesak agar segera dipercaya atau dibagikan. Dalam keadaan demikian, tabayun memiliki arti sosial yang luas. Menunda penyebaran kabar sampai sumbernya jelas merupakan tindakan melindungi masyarakat. Santri dapat membawa kebiasaan tersebut ke ruang digital melalui penjelasan yang dapat diperiksa, koreksi yang beradab, dan kesediaan mencabut pernyataan yang ternyata keliru.
Namun, ruang digital juga menguji sesuatu yang lebih pribadi, hubungan manusia dengan perhatian. Ketika jumlah penonton menjadi ukuran yang terus terlihat, seseorang dapat terdorong menyesuaikan diri dengan hal-hal yang paling mengundang reaksi. Kemarahan, sensasi, bahkan pengalaman spiritual berisiko diperlakukan sebagai bahan penampilan. Bagi santri, persoalannya menyangkut kemampuan menjaga niat sambil tetap berkarya di ruang publik. Dakwah dan pendidikan memang membutuhkan jangkauan, tetapi jangkauan perlu dipertanggungjawabkan melalui mutu pesan serta pengaruhnya terhadap orang yang menerima.
Di titik ini, pemikir Al-Ghazali menjelaskan bahwa hubungan ilmu dan amal memperoleh relevansi. Dalam Ayyuha al-Walad, pengetahuan diarahkan kepada pengamalan dan pembentukan kehidupan spiritual. Jika dibawa ke pengalaman sekarang, pertanyaan tentang keberhasilan belajar perlu menyentuh perubahan perilaku, apakah pengetahuan membuat seseorang lebih jujur, lebih cermat mengambil keputusan, dan lebih peka terhadap penderitaan? Pertanyaan tersebut mengantarkan kita melampaui kebanggaan atas banyaknya informasi yang dikuasai. Kehormatan ilmu memperoleh wujud ketika orang lain dapat merasakan manfaat dari cara pemiliknya menjalani kehidupan.
Dari hubungan ilmu dan amal itulah gagasan kesalehan tak terbatas dapat dipahami. Istilah ini menunjuk pada luasnya medan tanggung jawab, bukan klaim bahwa manusia telah mencapai kesempurnaan moral. Kesalehan menjangkau cara mencari nafkah, menggunakan data, memperlakukan pekerja, menjaga lingkungan, dan mengambil keputusan yang memengaruhi kehidupan sesama. Nilai agama mengikuti seseorang ketika memasuki kantor, laboratorium, pasar, ruang kebijakan, maupun dunia digital. Dengan pemahaman tersebut, santri memiliki peluang menghadirkan spiritualitas yang sanggup bekerja di tengah kerumitan kehidupan modern.
Dan tentu kesalehan yang luas memerlukan kecerdasan yang juga berkembang. Niat menolong harus disertai kemampuan memahami kebutuhan orang yang ditolong. Keinginan membangun usaha membutuhkan pencatatan, pengelolaan risiko, dan pemahaman pasar. Kepedulian terhadap lingkungan memerlukan pengetahuan tentang sumber masalah serta cara mengatasinya. Karena itu, santri perlu memperoleh kesempatan mempelajari ilmu dan keterampilan yang beragam. Kedalaman agama dapat menjadi dasar untuk menimbang tujuan, sedangkan penguasaan bidang keahlian memungkinkan tujuan tersebut diwujudkan melalui pekerjaan yang tepat dan dapat dipertanggungjawabkan.
Kemandirian ekonomi, misalnya, akan lebih bermakna jika dimulai dari persoalan yang dikenali dengan baik. Sebuah pesantren dapat memetakan kebutuhan pangan hariannya, menjalin hubungan dengan petani sekitar, lalu mengembangkan pengolahan produk yang sesuai dengan kemampuan lembaga. Santri belajar menghitung biaya, menjaga kebersihan, melayani pelanggan, dan membayar pemasok tepat waktu. Hal tersebut merupakan contoh rancangan pembelajaran, bukan gambaran keberhasilan yang otomatis terjadi. Nilainya pun terletak pada pertemuan antara keterampilan usaha dan pengalaman memahami bahwa keuntungan diperoleh melalui hubungan dengan banyak orang.
Pertemuan itu membantu memperluas ukuran keberhasilan. Usaha perlu menghasilkan pendapatan agar dapat bertahan, sekaligus menjaga kepercayaan yang memungkinkan hubungan ekonomi berlangsung. Dari sudut pandang manajemen berbasis nilai, tujuan, cara bekerja, dan akibat keputusan harus diperiksa bersama. Santri yang kelak menjadi pengusaha dapat membawa pertimbangan tersebut ketika menentukan upah, mutu produk, atau penggunaan sumber daya. Kemampuan bersaing memperoleh kedalaman ketika disertai kesadaran bahwa pekerja, pelanggan, pemasok, dan masyarakat sekitar memiliki kepentingan yang layak dihormati.
Tanggung jawab serupa menjangkau bumi yang menopang seluruh kegiatan ekonomi. Bagi pesantren, pendidikan ekologis dapat berangkat dari penggunaan air, pengelolaan sisa makanan, kebersihan saluran, dan kondisi ruang tinggal. Santri dapat belajar mencatat persoalan, mencari penyebab, lalu menilai perubahan setelah tindakan dilakukan. Dengan cara ini, kepedulian menjadi proses belajar yang berkelanjutan. Kesalehan ekologis tumbuh dalam perhatian akibat perbuatan sehari-hari, termasuk akibat yang baru akan dirasakan orang lain pada masa mendatang.
Meskipun demikian, kemampuan menjalani semua tanggung jawab tersebut memerlukan perhatian terhadap keadaan batin santri sendiri. Mereka adalah manusia muda yang dapat merasa takut, lelah, kecewa, dan ragu. Harapan keluarga serta tuntutan menjadi teladan kadang membuat seseorang sulit mengakui kebutuhan akan bantuan. Pendidikan yang matang menyediakan ruang percakapan tanpa segera menghakimi. Kesungguhan beribadah, dukungan pertemanan, pendampingan pengasuh, dan pertolongan profesional ketika diperlukan dapat ditempatkan dalam ikhtiar bersama menjaga kehidupan. Ketangguhan tumbuh melalui pengalaman memperoleh pertolongan dan belajar mengelola kesulitan.
Pengalaman diperlakukan secara manusiawi juga membentuk cara santri memandang orang yang berbeda. Dalam masyarakat yang beragam, kedalaman keyakinan perlu berjalan bersama kemampuan hidup berdampingan. Santri akan berjumpa dengan rekan kerja, tetangga, dan mitra yang memiliki latar berbeda. Keunikan dirinya memperoleh arti ketika dapat menjadi dasar untuk berhubungan secara jujur dan terbuka. Identitas yang matang memungkinkan seseorang menjelaskan prinsipnya, mendengarkan keberatan, serta bekerja sama dalam urusan yang menyangkut kepentingan bersama tanpa merasa harus menghapus perbedaan.
Dengan demikian, adaptasi santri salah satunya adalah memilih arah perubahan secara sadar. Ada keterampilan yang perlu diperbarui, kebiasaan yang patut dievaluasi, dan nilai yang harus terus diperjuangkan penerapannya. Pilihan tersebut membutuhkan pertimbangan tentang manusia seperti apa yang ingin dibentuk. Pesantren dapat membekali santri dengan kemampuan berpikir mendalam, bekerja terampil, mengelola diri, dan merawat hubungan. Bekal modal yang memungkinkan mereka memasuki berbagai profesi dengan sumbangan yang khas, sekaligus terus belajar dari dunia yang lebih luas.
Sumbangan tersebut akan terlihat dalam keputusan konkret. Santri yang menjadi aparatur dapat menjaga kemudahan pelayanan, menjadi peneliti dapat memelihara kejujuran data, santri yang bekerja dalam teknologi dapat memperhatikan privasi pengguna, menjadi pendidik yang dapat melindungi rasa ingin tahu muridnya. Dan pada setiap pekerjaan, kesantrian memperoleh kehidupan melalui tindakan.
Hari Santri akhirnya menjadi kesempatan untuk memeriksa keberanian kita memberi makna pada kemajuan. Kecerdasan perlu diarahkan kepada persoalan yang layak diselesaikan, sedangkan kesalehan perlu diperluas hingga menyentuh kehidupan yang selama ini luput dari perhatian. Di tengah keadaan yang terasa absurd, santri dapat menjaga keyakinan bahwa tindakan yang bertanggung jawab tetap memiliki arti. Makna dibangun melalui kesetiaan pada pekerjaan, keterbukaan terhadap koreksi, dan kesediaan hadir bagi sesama. Dari proses panjang tersebut lahir manusia yang mampu berubah sekaligus mengetahui alasan perubahan yang dipilihnya.
Masa depan memang tidak menjanjikan jalan yang mudah, bahkan ada teknologi yang mengguncang kebiasaan, informasi yang mengacaukan penilaian, dan keberhasilan semu yang menggoda nurani. Namun, santri memiliki peluang membawa pertemuan yang berharga antara kedalaman spiritual, ketekunan intelektual, dan keberanian berkarya. Ketiganya perlu dipelihara melalui pendidikan serta pengalaman yang nyata. Ketika ilmu membantu seseorang menemukan jalan keluar, ketika keterampilan membuka penghidupan, dan ketika iman menggerakkan kepedulian, kesantrian telah memberi jawaban yang dapat dirasakan, bahwa kehidupan akan menjadi lebih layak dijalani karena kehadiran manusia yang bersedia menjaganya.
Selamat hari santri 2026
Wallahu’a’lam bisshowaab





Leave a Reply