KERJA MARATHON INTELEKTUAL 20 Tahun: 5 Jilid ENSIKLOPEDI SASTRA NUSANTARA (ESN) karya RTH
Terasjabar.co – Dalam forum Sosialisasi ENSIKLOPEDI SASTRA. NUSANTARA (ESN), Rachmat Taufiq Hidayat (RTH) setelah melakukan kerja kreatif melakukan marathon intelektual-nya selama 20 tahun, akhirnya berhasil ke garis finish, mempersembahkan buku ESN 5 Jilid ke hadapan publik nasional. Ruang Pusat Studi Sunda (PSS) di Gedung Perpustakaan Ajip Rosidi Jl. Garut No. 2 Bandung, menjadi saksi bisu sejarah yang disaksikan para narasumber, Prof. Ganjar Kurnia (Kepala Pusat Budaya Sunda Unpad) dan Dr. Wawan Setiawan (Kang Hawe); moderator Kang Ready Susanto disaksikan 50 peserta undangan VIP: kalangan tokoh sastrawan, budayawan, dan dosen dari berbagai perguruan tinggi, seperti Unpad, UPI, Unpas, UIN SGD, ISBI, dan alumni ITB bergiat lama di dunia literasi, seni dan budaya penerbitan, seperti Andhi Yuda, Sari Meutia, dan Juniarso Ridwan.
Beberapa dosen dan sastrawan, seperti Kang Memen Durachman, Dr. Ruhaliah (UPI). Dr. Ernawan S. Koesoemaatmadja (Majelis Sunda) dan Dr. Budiman (Perpustakaan KTILV- Leiden di Jakarta).
Acara yang berlangsung. pada Kamis, 24 September 2026. dibuka dengan bacaan BASMALAH oleh Nunu A Hamijaya (penanggungjawab) dan diserahterimakan kepada moderator (Kang Ready) hingga selesainya acara pada Pukul 15.30 WIB. Acara yang ditutup dengan bacaan doa kifaratul majlis ini diselenggarakan atas dukungan dari #danaindonesiaraya” Kementerian Kebudayaan RI Tahun 2025.
Dalam diskusi yang seirus tapi santau itu terungkap pembicaraan tentang. penggunaan istilah “Sastra Nusantara”, bukan “Sastra Indonesia”. Menurut Rachmat Taufiq Hidayat, penggunaan istilah Sastra Nusantara dimaksudkan untuk menunjukkan cakupan yang lebih luas. ESN tidak hanya membahas sastra daerah dan sastra Indonesia modern, tetapi juga memperhatikan khazanah sastra di kawasan Asia Tenggara yang memiliki keterkaitan rumpun budaya dan sejarah dengan Nusantara, antara lain Malaysia dan Brunei.
Dalam diskusi juga disampaikan bahwa hubungan antarkawasan tersebut dapat dilihat dari adanya keterkaitan sejarah, bahasa, budaya, maupun perjalanan sejumlah sastrawan yang memiliki hubungan dengan negara-negara di kawasan Asia Tenggara. Dengan demikian, istilah “Nusantara” dipandang lebih mampu menggambarkan ruang kebudayaan dan kesastraan yang menjadi perhatian ensiklopedi.

Terkait dengan penggunaan AI dan ensiklopedi dapat berada dalam konteks yang berbeda. AI dapat membantu masyarakat memperoleh informasi secara cepat, tetapi kualitas informasi yang dihasilkan tetap sangat bergantung pada sumber data yang digunakan. Karena itu, bagi penulis ESN, hal yang paling penting adalah memastikan bahwa informasi yang menjadi dasar penulisan bersumber dari data yang sahih dan dapat dipertanggungjawabkan.
Dalam proses penyusunan ESN, data tidak semata-mata diperoleh dari sumber sekunder, tetapi juga berasal dari data primer, antara lain dokumentasi foto, kumpulan lagu, surat, arsip, dan berbagai bahan dokumenter lainnya. Hal tersebut menjadi bagian penting dalam menjaga akurasi dan kekayaan informasi yang disajikan.
Perkembangan selanjutnya, bukan tidak mungkin ensiklopedi justru menjadi salah satu sumber yang digunakan oleh sistem AI untuk memperkaya basis informasi yang dimilikinya. Dengan demikian, keberadaan sumber rujukan yang terpercaya tetap memiliki peran penting di tengah perkembangan teknologi informasi dan AI.
Rencananya ESN 5 Jilid dengan lebih dari 2500 halaman dengan Kata Sambutan Presiden RI, dan 3 menteri kementerian terkait itu, yaitu: Kementerian Kebudayaan RI, Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah, serta Kementerian Riset, Teknologi dan Perguruan Tinggi RI akan dicetak ekslusif pada Desember 2026, oleh Penerbit Dunia Pustaka Jaya (DPJ) Bandung.






Leave a Reply