Memantik Ingatan Para Editor: Ensiklopedi Sastra Nusantara (ESN)
Oleh:
Sari Meutia
Terasjabar.co – Dalam kesempatan ketiga dalam seri Diskusi Kelompok Terpumpun (FGD) Penyuntingan Buku Ensiklopedi Sastra Nusantara (ESN) karya Rachmat Taufik Hidayat (RTH), kali ini menampilkan tokoh-tokoh editor yang sudah berkarir lebih dari 25 tahun,hingga mencapai puncak karirnya menjadi dirkeyr/CEO, sejak tahun 95-an di beberapa penerbit di Bandung (Mizan, Pustaka Jaya, Kiblat Buku Utama). Akademisi/dosen peneliti senior diwakili Dr. Ruhaliah, M.Hum. (UPI Bandung). diskusi serius tapi santai mengalir bagai air mengalir jernih yang menyegarkan dan mencerahkan. Diskusi FGD dipandu moderator, Nunu A Hamijaya.
Saya diundang untuk bergabung dalam Forum Grup Diskusi (FGD) draft Ensiklopedi Sastra Nusantara (ESN) susunan Rachmat Taufiq Hidayat pada Rabu 3 Juni 2026, di Perpustakaan Ajip Rosidi, Bandung. Kami, berlima, pembaca dengan latar belakang berbeda, menelisik bagian entri masing-masing yang dibagikan pada saat itu juga.
Diskusinya serius. Tapi di sela pelbagai pertanyaan, penambahan informasi, ruang FGD berkali-kali pecah oleh tawa dan kenangan cerita masa lalu. Selain Mas Rachmat (RTH) yang sudah saya kenal sejak saya bergabung di Mizan sebagai editor pada 1997, ada 2 orang dua orang l agi yang pernah saya kenal puluhan tahun lalu berkerja sebagai editor. Sehingga, jadilah FGD ini sekalian reuni para editor.
Selain itu, membaca entri-entri tersebut, membuat saya terkenang pekerjaan awal saya sebagai editor di Mizan, mengerjakan pengeditan edisi bahasa Indonesia Atlas Budaya Islam, ensiklopedi monumental karya suami istri: Isma’il Raji al-Faruqi dan istrinya, Lois Lamya al-Faruqi, dan kemudian mengawal pengerjaan dan penerbitan edisi bahasa Indonesia Ensiklopedi Oxford: Dunia Islam Modern, John L. Esposito. Itu semua terjadi 20 tahun lalu.
Membaca entri susunan Mas Rahmat Taufiq Hidayat itu rasanya seperti membuka lemari arsip sastra. Ada nama-nama besar yang familiar. Ada juga nama penulis daerah yang hampir terlupakan, dan di situlah letak kekuatan ESN ini. Kerja filologis Mas Rahmat kelihatan: sumber dicantumkan, varian nama dicatat, konteks sejarahnya dijaga, bahkan waktu wafat (yang banyak sumber sering tidak konsisten).
Kebetulan saya mendapat entri G dan H. Saya sadari bahwa di masa lalu, begitu banyak nama Hadi dalam koleksi sastrawan Nusantara. Saya juga menemukan Fuad Hassan bertanggal lahir yang sama dengan saya, 26 Juni (tentu tahun lahir kami berbeda). Ada pula Abdul Harahap, yang begitu kreatif dalam memberikan “hook” (istilah gen Z sekarang) untuk judul-judul kisah horor dan thriller karyanya. Sudah pasti judul-judul ini akan menjadi rebutan para pembuat film-film horor masa kini.
Belum lagi, bagian Ali Hasyimi yang membuat saya merindukan kampung halaman ayah saya yang berasal dari kampung yang sama dengan beliau di Montasik (Aceh Besar). Rasanya tidak cukup waktu untuk membaca semua cerita para sastrawan yang masuk dalam entri ESN ini.
Saya juga sangat terkesan ketika membaca bagian Hamka, yang rasanya tidak habis-habis, berlembar-lembar, menunjukkan keluasan ilmu dan wawasannya.
Diskusi kami tidak sekadar soal “benar-salah data”. Kami juga mengenang nama-nama besar di dalam koleksi sastra Indonesia. Di momen itu saya sadar: ensiklopedi ini bukan cuma buku rujukan. Dia rumah singgah untuk mengenang penulis-penulis yang bahasanya dulu membentuk cara kita berpikir.
Masukan saya sederhana: pertahankan semangat “lengkap tapi manusiawi” ini. Data harus valid, tapi bahasa entri jangan sampai mematikan napas sastranya.
Terima kasih Mas Rachmat dan tim atas kesempatan yang diberikan kepada saya. Lima jam terasa sebentar untuk pekerjaan sebesar ini.






Leave a Reply