Kebngkitan Seorang Perempuan dan Dunia yang Tak Lagi Ramah
Oleh:
Lilis Sulastri
(Guru Besar Ilmu Manajemen, FEBI, UIN Sunan Gunung Djati Bandung)
Terasjabar.co – Tahun 2026, Komnas Perempuan mencatat peningkatan 14,07 persen kasus kekerasan berbasis gender terhadap perempuan Indonesia dibanding tahun sebelumnya.
Sementara itu, laporan kekerasan berbasis gender di ruang digital melonjak 40,8 persen dengan rata-rata 2.000 laporan per tahun, didominasi oleh kekerasan seksual dan manipulasi psikologis daring.
Di ranah ekonomi, Otoritas Jasa Keuangan mencatat 3.494 aduan love scam sepanjang 2025 dengan total kerugian mencapai Rp 49,19 miliar dan korbannya mayoritas adalah perempuan.
Teknologi deepfake juga menjadi senjata baru di Indonesia, peningkatannya mencapai 550 persen setiap lima tahun, menjadikan wajah dan tubuh perempuan sebagai komoditas eksploitasi digital tanpa izin.
Inilah dunia yang tak lagi ramah bagi perempuan. Dunia di mana empati diperdagangkan. Dunia di mana kebaikan dijadikan celah untuk menghancurkan. Dan di dunia seperti inilah Kirana seorang perempuan berusia 29 tahun harus berjuang untuk tetap hidup.
Yang Tampak dari Luar
Kirana adalah pendiri ‘SuarAman’, sebuah platform digital yang menghubungkan korban kekerasan berbasis gender dengan layanan pendampingan hukum dan psikososial gratis. Platformnya telah membantu lebih dari 800 perempuan di seluruh Indonesia. Ia diundang ke forum-forum internasional. Ia disebut sebagai aktivis milenial paling berpengaruh. Dan yang tak diketahui siapa pun, di balik semua itu, kirana adalah reruntuhan yang berjalan.
Semua bermula dari seorang laki-laki bernama Dimas Ardianto. Seorang venture capitalist yang katanya ingin mendanai pengembangan SuarAman. Pendekatannya sempurna. Ia memuji visi kiranadan mendukung kampanyenya, menjadi tempat kirana bercerita, tentang masa kecilnya yang sulit, tentang ibunya yang juga korban KDRT, tentang mimpinya melindungi perempuan Indonesia. Selama delapan bulan, Dimas membangun ilusi sebagai seorang partner yang memahami, mencintai, dan mendukung. Dengan meminjam uang untuk proyek bersama yang tak pernah ada. Kemudia meminta akses ke database SuarAman untuk riset pasar yang tak pernah terjadi. Dan menggunakan informasi pribadi kirana untuk membuka pinjaman daring atas namanya.
Ketika semuanya terungkap, Dimas sudah menghilang membawa Rp 780 juta dari rekening platform, data 37 korban kekerasan seksual yang identitasnya kini terancam bocor, dan semua tabungan pribadi kirana. “Kenapa aku bisa sebodoh ini?” tanya kirana pada dirinya sendiri berulang kali. Jawabannya sederhana dan mengerikan, karena ia percaya pada kebaikan. Dan kepercayaan itu dimanfaatkan.
Penelitian dari Universitas Cardiff menyebut fenomena ini sebagai therapeutic but toxic spaces, adalah ruang-ruang relasi yang terasa menyembuhkan, tapi sesungguhnya dirancang untuk menghancurkan. Para pelaku memanipulasi keinginan dan aspirasi korban, menjadikan harapan sebagai umpan dan empati sebagai jerat.
Dunia yang Menyalahkan
Ketika kasus mulai terkuak, kirana berharap dunia akan membelanya. Namun yang terjadi sebaliknya. Media sosial menggorengnya habis-habisan. Aktivis kok kena love scam? menjadi meme. Katanya memperjuangkan perempuan, ternyata dirinya sendiri tolol.” Ini pelajaran buat cewek yang terlalu percaya sama omongan manis.” Foto-foto kirana diambil dari akun Instagram, diedit menggunakan AI, disebarkan di grup-grup WhatsApp. Teknologi deepfake, teknologi yang sama yang peningkatannya mencapai 550 persen di Indonesia dan mengubah wajahnya menjadi konten-konten yang merendahkan. Satu per satu, donatur menarik diri dari SuarAman. “Reputasi platform ini sudah tercoreng,” kata mereka. “Kami tidak bisa berafiliasi dengan founder yang tidak kompeten.” Dalam dua bulan, kirana kehilangan platformnya, tabungannya, reputasinya, dan yang paling menyakitkan kepercayaannya pada dirinya sendiri.
Malam itu, di apartemen kosong yang sebentar lagi harus ditinggalkan karena tak mampu membayar sewa, kirana duduk di lantai kamar mandi. Ia menggenggam pisau. Teleponnya bergetar. Sebuah pesan WhatsApp masuk dari nomor tak dikenal: “Hai kiran, jangan sedih ya. Kamu masih cantik kok, sayang kalau mati. Aku transfer 50 juta ya, tapi kamu mau kan jadi pacarku? Aku udah lama ngikutin kamu hehe ????” Pesan itu disertai foto kirana hasil deepfake, meski ia tak pernah mengambil foto seperti itu. Kirana menatap layar ponselnya lama sekali. Air matanya jatuh satu per satu. Tapi ada sesuatu yang berubah di dalam dirinya. Bukan kemarahan. Bukan kesedihan. Sesuatu yang lebih dalam. Mengapa dunia ini begitu jahat pada perempuan yang hanya ingin berbuat baik? Mengapa empati diperdagangkan seperti komoditas? Dan mengapa aku korbannya yang harus mati, sementara mereka terus hidup dan mencari mangsa baru? Malam itu, kirana meletakkan pisau dan mengambil laptopnya.
Apa Artinya Bangkit?
Tanggal 19 Mei 2026. Malam sebelum Hari Kebangkitan Nasional. Kirana duduk di perpustakaan umum, satu-satunya tempat yang masih bisa diakses gratis dikelilingi tumpukan data dan laporan. Ia membaca bahwa Komnas Perempuan mencatat 3.942 kasus kekerasan terhadap perempuan di dunia kerja sepanjang 2025, mulai dari kekerasan seksual hingga manipulasi psikologis seperti gaslighting. Ia membaca tentang Puspa, korban perdagangan orang yang berhasil bangkit dan membangun hidup baru di Yogyakarta. Ia membaca tentang para perempuan di Lapas Kerobokan yang menjalani program SheInspire yang bangkit dari stigma kriminal dan menjadi wirausahawan mandiri. Ia membaca tentang sejarah Hari Kebangkitan Nasional itu sendiri, yang lahir dari sekumpulan pelajar STOVIA yang mendirikan Boedi Oetomo pada 20 Mei 1908, bukan karena mereka kuat, tapi karena mereka berani bermimpi dalam keterbatasan. Mereka tidak menunggu keadaan membaik. Mereka menciptakan kebangkitan itu sendiri.
Kirana menutup laptopnya. Tanggal sudah berganti. Pukul 00.01 WIB. Rabu, 20 Mei 2026. Ia menulis di buku catatannya. Bangkit bukan tentang menjadi kuat seketika. Bangkit adalah tentang memilih untuk tidak menyerah, meski dunia terus menjatuhkanmu. Jatuh adalah biasa. Bangkit lagi adalah pilihan. Dan aku memilih.
Tiga bulan kemudian, Agustus 2026. Kirana meluncurkan platform barunya, ‘Bangkit’ . Platform ini berbeda dari ‘SuarAman’. Jika SuarAman hanya menghubungkan korban dengan layanan pendampingan, sementara ‘Bangkit’ melangkah lebih jauh sebagai ekosistem pemulihan penuh pendampingan hukum, psikososial, pemberdayaan ekonomi, dan pelatihan vokasional dan semua dirancang oleh dan untuk perempuan korban eksploitasi. ‘Bangkit’ juga memiliki fitur yang tak dimiliki platform lain, sistem deteksi dini manipulasi. Menggunakan model kecerdasan buatan etis yang dilatih dari ribuan pola love scam dan gaslighting, sistem ini bisa mendeteksi pola komunikasi manipulatif sebelum korbannya terjebak terlalu dalam. Kirana merekrut tim dari sesama korban. Ada yang mantan korban love scam. Ada yang korban deepfake. Ada yang korban kekerasan domestik dan psikologis. Mereka semua perempuan yang pernah remuk dan memilih untuk bangkit bersama. Kami bukan lagi korban. Kami adalah pelaku perubahan,” ucap kirana dalam pidato peluncurannya.
Tentu, perjalanan ini tidak mulus. Para predator tidak tinggal diam. Dimas Ardianto yang ternyata bagian dari sindikat love scam lintas provinsi mencoba membalas. Ia menyebarkan lebih banyak konten deepfake. Ia mengirim ancaman. Ia mencoba membobol database ‘Bangkit’. Tapi kali ini kirana berbeda. Ia tidak lagi bertarung sendirian. Ia punya tim. Ia punya sistem keamanan siber yang kuat. Ia punya bukti-bukti yang cukup. Pada akhir tahun 2026, Dimas dan jaringannya ditangkap dalam operasi gabungan OJK dan aparat penegak hukum sebagai bagian dari langkah tegas pemerintah terhadap love scam yang terus meningkat.
Kirana menyaksikan persidangan itu dari kursi depan. Ketika mata Dimas bertemu matanya, ia melihat sesuatu yang dulu tak pernah ia sadari, bahwa para predator ini bukan monster yang menakutkan. Mereka pengecut yang bersembunyi di balik teknologi dan manipulasi. Begitu korbannya bersatu dan melawan, mereka tak punya daya apa-apa.
Setahun kemudian
Kirana berdiri di hadapan 1.200 perempuan yang berkumpul di gedung serbaguna Jakarta. Mereka adalah para survivor dan korban yang selamat dan bangkit dari seluruh Indonesia. Ada yang datang dari Nusa Tenggara Timur dengan cerita perdagangan manusia. Ada yang dari Kalimantan dengan luka deepfake. Ada yang dari Jawa dengan jerat love scam. “Setahun yang lalu,” kirana memulai pidatonya, “aku hampir mengakhiri hidupku di lantai kamar mandi. Hari ini, aku berdiri bersama kalian 1.200 perempuan yang memilih untuk bangkit. ‘ Ia menatap lautan wajah di hadapannya. Ada yang menangis. Ada yang tersenyum. Ada yang melakukan keduanya sekaligus.
Dan seperti Pada 20 Mei 1908, sekelompok pemuda mendirikan Boedi Oetomo bukan karena mereka kuat. Tapi karena mereka berani bermimpi bahwa Indonesia bisa bangkit. Hari ini, 119 tahun kemudian, kita berdiri di sini bukan karena kita sempurna. Kita berdiri karena kita memilih. Memilih bangkit dari luka. Memilih bertahan dari kehancuran. Memilih berkembang dari keterpurukan. Suasana hening. Lalu gemuruh tepuk tangan memenuhi ruangan. “Jatuh itu biasa. Kita semua pernah jatuh. Tapi bangkit dan bangkit adalah pilihan luar biasa’. Dan hari ini, di Hari Kebangkitan Nasional, di hari ulang tahunku, aku ingin kita semua bersumpah bahwa ‘selama kita masih bisa memilih, kita akan memilih untuk bangkit. Lagi. Dan lagi. Dan lagi.’
Bangkit adalah sejatinya kehidupan
Kepada perempuan yang terluka batin, karena dunia yang tak lagi ramah, karena kebaikan yang dimanfaatkan, karena empati yang diperdagangkan, maka cerita ini adalah untukmu. Kepada siapa pun yang pernah terjatuh dan merasa tak ada gunanya berdiri lagi, ketahuilah bahwa bangkit bukan tentang melupakan luka. Bangkit adalah tentang membawa luka itu bersamamu, dan tetap berjalan. Tentang mengubah amarah menjadi aksi. Tentang mengubah kehancuran menjadi fondasi yang lebih kokoh.
Jatuh adalah hal biasa. Tapi berdiri lagi dan memilih untuk bangkit adalah pilihan yang luar biasa. Karena sejatinya, hidup bukan tentang tidak pernah jatuh. Hidup adalah tentang selalu bangkit dan bagaimana membangun Kembali kehidupan
20Mei2026 #HariKebangkitanNasional #BangkitBersama #PerempuanTangguh
Cerita ini disusun berdasarkan riset faktual dari Komnas Perempuan, OJK, Universitas Cardiff, serta data terkait deepfake dan love scam di Indonesia , dirangkai menjadi narasi fiksi ilmiah






Leave a Reply