20 MEI: Tangan Yang Kembali Menulis
Oleh:
Lilis Sulastri
(Guru Besar Ilmu Manajemen, FEBI, UIN Sunan Gunung Djati Bandung)
Terasjabar.co – Tahun 2026 mencatatkan sederet fakta kelam bagi perempuan Indonesia. Komnas Perempuan mengumumkan peningkatan 14,07% kasus kekerasan berbasis gender dibanding tahun sebelumnya.
Kekerasan psikologis dan eksploitasi di ruang digital melonjak 40,8% dengan rata-rata 2.000 laporan setiap tahun, didominasi oleh penipuan berbasis manipulasi emosional.
Otoritas Jasa Keuangan mencatat kerugian love scam di tahun 2025 mencapai Rp 49,19 miliar, dengan mayoritas korban adalah perempuan.
Teknologi deepfake di Indonesia meningkat 550% per lima tahun, mengubah wajah dan tubuh perempuan menjadi komoditas pelecehan tanpa izin.
Di dunia maya, empati diperdagangkan, kebaikan dijadikan celah. Di tengah dunia yang tak lagi ramah inilah, seorang perempuan bergelut dengan luka batinnya sendiri seorang penulis yang nyaris kehilangan segalanya.
Yang Tak Terlihat dari Luar
Namanya Lintang. Sebuah nama yang berarti bintang kecil di langit gelap indah, sederhana, dan penuh makna. Ia seorang penulis novel dan esai, seorang ibu dan seorang introvert yang memilih menjauh dari hingar-bingar sosial. Baginya, rumah adalah kastil. Meja tulis di sudut kamar adalah altar. Kata-kata adalah doa. Lintang hidup dalam ritme sunyi dengan menulis, membaca, lalu menulis lagi. Dunia luar terasa terlalu bising. Klub-klub sosial, obrolan panjang di kafe, bahkan grup WhatsApp sekalipun semua ia hindari. Ia pernah berkata pada dirinya sendiri “Aku tidak butuh banyak orang. Aku hanya butuh anak-anakku, tulisanku, dan kedamaian. Tapi justru karena ia terlalu menggenggam damai, ia tak menyadari ada badai yang mengintai.
Kesepian itulah yang menjadi celah
Suatu malam, sebuah pesan masuk ke akun media sosialnya. Seseorang bernama Yara mengaku sebagai pembaca setia, mengagumi karya-karyanya, memahami setiap emosi yang ia tuangkan dalam novel. Kata-katanya seperti pelukan yang sudah lama tak Lintang rasakan. Mereka bertukar pesan setiap hari. Yara menjadi oase di tengah sunyi. Ia tahu kapan harus bertanya, kapan harus diam, kapan harus memuji. Lintang yang selama ini menghindari orang, alih alih membuka diri.
Penelitian dari Universitas Cardiff menyebut fenomena ini sebagai therapeutic but toxic spaces sebuah ruang relasi yang terasa menyembuhkan, tapi sesungguhnya dirancang untuk menghancurkan. Para pelaku memanipulasi keinginan dan aspirasi korban, menjadikan harapan sebagai umpan dan empati sebagai jerat. Dan Lintang adalah mangsa yang sempurna seorang yang terluka, kesepian, dan penuh kebaikan.
Jerat yang Meremukkan
Hubungan itu berlanjut selama lima bulan. Tanpa pernah bertemu fisik, Yara berhasil membangun ilusi cinta yang begitu kuat. Lalu, perlahan, permintaan itu datang. Pertama, pinjaman kecil untuk proyek bisnis yang gagal. Lalu, untuk biaya pengobatan keluarganya. Hingga akhirnya, permintaan terbesar. ‘Aku butuh modal untuk menyelesaikan startup. Lintang menggadaikan laptop kesayangannya. Ia mengambil pinjaman daring. Ia menjual beberapa barang barang yang dulu tak pernah rela ia lepaskan. Total lebih dari Rp 230 juta mengalir ke rekening yang tak pernah ia periksa kepemilikannya. Hingga hari itu tiba. Seluruh kontak yara hilang. Nomor telepon mati. Akun media sosial lenyap. Lintang menatap layar ponselnya dengan tangan gemetar. Lintang…’ bisiknya lirih, membaca namanya sendiri seolah bertanya siapa dirinya sekarang. Satu-satunya yang tersisa hanyalah pesan terakhir dari yara , dikirim sebelum menghilang, ‘ Kamu itu terlalu baik, Lin. Terlalu polos. Dunia ini enggak selembut kamu. Maaf ya, ini memang tugas aku. Semoga kamu belajar.” Malam itu, Lintang tidak menangis. Ia hanya duduk di depan meja tulisnya, menatap laptop yang sudah tidak ada, menatap tempat di mana ia biasa menuangkan kata-kata. Sekarang, ruang itu kosong. Bukan hanya uang yang hilang. Bukan hanya barang yang terjual. Tapi juga kepercayaan pada dirinya sendiri. Sebagai seorang penulis yang seharusnya kritis, ia merasa telah gagal membaca naskah hidupnya sendiri.
Yara bukan sekadar penipu. Ia adalah bagian dari sindikat love scam terorganisir yang menggunakan teknologi AI untuk menciptakan karakter fiktif yang sempurna. Suara hangat yang kadang ia kirim melalui voice note adalah hasil voice cloning. Foto-foto yang dikirim adalah curian yang diedit dengan deepfake. Setiap kata-katanya disusun oleh skrip psikologis yang dirancang untuk menghancurkan mental korban.
Mereka adalah jelmaan iblis zaman ini, tidak bertanduk, tidak menyeramkan, tetapi tampak seperti malaikat penolong. Mereka merusak mental, memperdagangkan empati perempuan, mengubah harapan menjadi jerat utang dan rasa malu. Dan Lintang adalah satu dari ribuan korban yang takut bersuara. Bukan hanya karena malu, tetapi karena dunia seringkali lebih kejam pada korban daripada pada pelaku. ‘Penulis kok kena tipu? Katanya cerdas, kok bisa segitunya? ‘Ini sih kebanyakan baper.’ Begitulah. Lintang memilih diam. Ia menarik diri semakin dalam, menghapus seluruh akun media sosialnya, dan berhenti menulis sama sekali.
Memilih Bangkit
Anak-anaknya sudah terlelap. Lintang duduk sendirian di meja dapur, menatap setumpuk surat peringatan dari bank dan koperasi daring. Total utangnya telah membengkak menjadi Rp 340 juta dengan bunga. Ia hampir kehilangan rumah. Di sudut meja, terselip sebuah buku tua bersampul cokelat. Buku itu adalah novel pertama yang ia tulis, sepuluh tahun silam. Judulnya: ‘Bintang yang Enggan Padam’. Buku itu bercerita tentang seorang perempuan yang bangkit dari kehancuran perang batinnya sendiri.
Lintang membukanya perlahan. Matanya menangkap paragraf pertama yang dulu ia tulis dengan penuh keyakinan. Dunia boleh meremukkanmu berkali-kali. Tapi selama kau masih bisa memilih untuk bangkit, kau belum benar-benar kalah. Air matanya jatuh membasahi halaman itu. Lihat aku sekarang’ , pikirnya getir. ‘ Aku menulis tentang bangkit, tapi aku sendiri tak bisa melakukannya.’ Namun, sebuah pikiran lain menyusup. ‘ Jika aku bisa menulis kata-kata itu dulu, berarti aku masih bisa menulisnya lagi sekarang. Aku masih bisa memilih.’
Ia mengingat kedua anaknya. Ia mengingat bahwa besok adalah 20 Mei Hari Kebangkitan Nasional, hari di mana lebih dari seabad lalu, Boedi Oetomo didirikan bukan oleh orang-orang yang sempurna, tetapi oleh mereka yang berani bermimpi di tengah keterbatasan. Dan ia mengingat bahwa besok juga adalah hari ulang tahunnya yang ke 34. Tengah malam tiba. Tanggal berganti. Lintang mengambil buku catatan kosong, satu-satunya alat tulis yang tersisa. Di halaman pertama, dengan tinta biru, ia menulis ‘ Hari ini aku memilih BANGKIT.
Pagi harinya, ia melakukan sesuatu yang sudah lama tidak ia lakukan dengan mengunjungi perpustakaan umum. Di sana, ia membaca data. Komnas Perempuan, OJK, laporan deepfake, penelitian psikologi tentang manipulasi emosional. Ia mengumpulkan riset untuk sebuah proyek yang perlahan terbentuk di benaknya. Ia akan menulis lagi. Bukan novel, tapi sesuatu yang lebih mentah. Sebuah memoar. Selama berbulan-bulan, Lintang menulis di notebook bekas, di kertas-kertas sisa, bahkan di belakang tagihan listrik. Ia menulis seluruh kisahnya, tentang kesepiannya, tentang kepercayaannya yang dikhianati, tentang rasa malu, tentang kemarahan, tentang proses pemulihannya yang berantakan. Ia tidak menyembunyikan apa pun. Seorang teman lama, satu-satunya yang ia izinkan masuk dan membantunya membuka kembali akun media sosial dengan identitas baru. Kali ini bukan untuk mencari validasi, melainkan untuk mendokumentasikan prosesnya. Ia membuat blog sederhana berjudul, ‘Luka yang Menulis’, mengunggah catatan-catatan hariannya. Awalnya sepi. Lalu, perlahan, pesan-pesan masuk. ‘Aku juga korban, Mbak. Terima kasih sudah berani cerita.” “Aku kira aku sendiri. Ternyata tidak.” “Tulisanmu membuatku tidak jadi bunuh diri tadi malam.“Satu per satu, Perempuan perempuan lain mulai bersuara.
Lintang tidak berhenti di situ. Dengan bantuan seorang ahli keamanan siber sukarelawan, ia melacak pola komunikasi yang digunakan sindikat love scam. Ia mengumpulkan bukti, mempelajari cara kerja voice cloning, deepfake, dan manipulasi psikologis yang digunakan. Ia menulis sebuah artikel panjang berbasis riset, ‘ Empati yang Diperdagangkan: Memahami Love Scam dari Sudut Korban dan Teknologi’ . Artikel itu viral. Diliput oleh media nasional. Lintang diundang ke podcast, ke diskusi daring, ke seminar dan anehnya, ia yang dulu anti sosial, kini bisa bicara dengan tegas. Karena kali ini ia tidak bicara untuk dirinya sendiri. Ia bicara untuk mereka yang belum mampu bersuara. Data yang ia kumpulkan bahkan membantu OJK dan pihak berwenang melacak jaringan yara. Pada akhir tahun 2026, lima anggota sindikat ditangkap termasuk yara sendiri, yang ternyata adalah buronan dengan empat nama palsu berbeda. Ketika polisi bertanya apakah ia ingin bertemu yara, Lintang menjawab, “Tidak. Aku sudah tidak butuh melihatnya. Aku sudah menulis kisahku sendiri, dan dia tidak lagi menjadi karakter utama.”
Bintang Yang Enggan Padam
Di sebuah panggung kecil di Taman Ismail Marzuki, Lintang berdiri di hadapan 300 orang. Ia bukan lagi perempuan yang duduk sendirian di dapur dengan tumpukan surat utang. Kini, ia adalah penulis buku memoar nasional terlaris berjudul ‘ Tangan yang Kembali Menulis’ . Uang royalti telah melunasi semua utangnya. Lebih dari itu, ia mendirikan sebuah komunitas penulisan bagi korban kekerasan berbasis gender ‘Pena Bangkit’ di mana para penyintas belajar menuangkan luka menjadi kata, dan kata menjadi kekuatan. Kedua anaknya duduk di baris depan, tersenyum bangga. Lintang memegang mikrofon. Suaranya tenang namun penuh kuasa. “Dulu, aku pikir menjadi introvert adalah kelemahan. Aku pikir kebaikanku adalah kebodohan. Aku pikir kehancuranku adalah akhir. Tapi 20 Mei mengajarkan sebaliknya.’ Hari ini, 119 tahun lalu, Boedi Oetomo lahir dari pemuda-pemudi yang tidak menunggu keadaan membaik. Mereka memilih bangkit.
Hari ini, di hari ulang tahunku, aku berdiri sebagai bukti bahwa jatuh adalah hal biasa. Kita semua pernah jatuh. Tapi memilih untuk bangkit, sekali lagi, dan sekali lagi adalah pilihan yang luar biasa. Aku memilih bangkit. Kalian juga bisa. Karena sejatinya, hidup bukan tentang tidak pernah hancur. Hidup adalah tentang selalu bangkit kembali.’
Tepuk tangan memenuhi ruangan. Lintang menatap ke atas, membayangkan bintang-bintang di langit malam yang tak terlihat karena lampu kota. Tapi ia tahu mereka ada. Seperti harapan. Seperti dirinya.
Cerita ini disusun berdasarkan riset faktual dari Komnas Perempuan, OJK, Universitas Cardiff, serta data terkait deepfake dan love scam di Indonesia , dirangkai menjadi narasi fiksi ilmiah





Leave a Reply