CIHEA: Badak Cihea, Malaria, dan Bendungan Belanda

Oleh:
Nunu A. Hamijaya
(Pusat Studi Sunda-PSS Bandung)

Terasjabar.co – CIHEA, nama kawasan yang sudah dikenal sejak Zaman VOC Belanda. Namun, bagi generasi milenial atau G-Z, namanya tak akrab ditelinga,padahal banyak kisah pesona sejarah dan alam nan indah. Tersebut dalam babad Cihea, badak cihea, dan malaria yang mewabah dizamannya. Masyarakat saat ini lebih mengenal Ciranjang, yang awalnya termasuk daerah Bandung, tetapi sejak tahun 1902 termasuk wilayah Cianjur. Nama Ciranjang dipakai mulai tahun 1912, yang sebelumnya disebut Cihea. Saat ini, Cihea adalah nama desa di Kecamatan Haurwangi, Kabupaten Cianjur.

Disebut ‘cihea’ karena kawasan hutannya banyak pohon hea atau pohon Eha (Castanopsis acuminatissima) termasuk dalam famili Fagaceae (suku pasang-pasangan atau ek-ekkan). Pohon ini sering ditemukan di hutan tropis, memiliki ciri khas kulit batang beralur dangkal, permukaan daun bagian atas berwarna hijau, dan bawahnya putih keemasan. Namun, jenis pohon eha ini sudah tidak ada di Cihea. Malah, wilayah Desa Cihea, Haurwangi, Cianjur adalah penghasil daun pisang batu terbesar di Jawa Barat.

Pernah dengar istilah “kawas badak Cihea” (seperti badak Cihea)? Ungkapan itu konon muncul karena dulu di daerah Cihea terdapat habitat sekumpulan badak. Daerahnya yang subur karena berada di dekat aliran Citarum menjadikan daerah ini cukup diperhitungkan sejak zaman koloni Mataram hingga zaman kolonial Belanda.

Menurut Usep Romli HM, keberadaan badak Cihea menjadi idiom di masyarakat ‘kawas badak Cihea’ yang menggambarkan seseorang berjalan bergegas, terburu-buru, tanpa melihat kiri dan kanan. Di Tatar Sunda, keberadaan satwa langka badak, sebenarnya ada di lokasi lain, seperti Cipatujah, Tasikmalaya. Sebuah personifikasi berbunyi “kawas diseupah badak Cipatujah” menggambarkan keadaan benda yang hancur lebur tak bersisa, Hanya tinggal “seupah” (sepah) atau ampas. Seperti badak Cihea, badak Cipatujah pun sudah lenyap tak berbekas. Juga terfapat di bagian selatan Garut mengacu kepada informasi pengarang Sunda terkenal, Muhammad Ambri (wafat 1936), dalam bukunya “Numbuk di Sue” (Balai Pustaka, 1939). Walaupun merupakan karya fiksi, “Numbuk di Sue” cukup akurat mengung-kapkan keadaan sosial-budaya pedesaan Sunda tahun 1920-an yang masih serba sederhana,dan lingkungan alamnya masih terpelihara. Antara lain, masih banyak rawa di tengah hutan, tempat “pangguyangan” badak.

Cihea adalah sebuah kawasan hutan dan perkebunan di Bojongpicung, Cianjur. Konon pernah ada sebuah kerajaan kecil bernama Susuru, sezaman dengan Kerajaan Pajajaran yang berpusat di Pakuan (Bogor). Sisa-sisa gambaran Kerajaan Susuru, walaupun belum terbukti secara arkeologis, masih tampak hingga sekarang di sepanjang aliran irigasi Sukarama yang berhulu di Sungai Cisokan. Sisa-sisa tersebut, antara lain, berupa lapangan yang disebut alun-alun dan tampian (tempat pemandian).

Kisah perkembangan wilayah Cihea ini tertulis dalam ???????????????????? ????????ℎ????????. ???????????????????? ????????ℎ???????? secara umum mengisahkan perkembangan awal wilayah Cihea yang saat ini menjadi bagian dari Kecamatan Haurawangi, Kabupaten Cianjur. Wilayah Cihea diperkirakan telah berkembang sebelum abad ke-18, ketika Mataram Islam berkuasa di wilayah Priangan. Beberapa peninggalan dari masa lalu ketika wilayah Cihea berkembang masih dapat ditemukan hingga saat ini.

Dalam penelusuran pustaka mengenai ???????????????????? ????????ℎ????????, setidaknya ada dua versi yang ditemukan. Pertama adalah ???????????????????? ????????ℎ???????? yang dipublikasikan oleh Saleh Danasasmita, namun tahun publikasinya tidak diketahui. Sumber ini digunakan sebagai salah satu rujukan dalam buku ????????????????????????ℎ ???????????????????????????? ???????????????????????? ???????????????????? ???????????????? ???????????????? ???????????????? ???????????????????? ???????????????????????????????? ???????????????????????????? karya Bayu Surianingrat (1982).

Isi teksnya tidak disajikan secara lengkap, namun hanya berupa kutipan sebagai bahan perbandingan yang dibahas dalam bukunya tersebut. Sayangnya, publikasi asli ???????????????????? ????????ℎ???????? karya Saleh Danasasmita ini belum dapat ditelusuri keberadaannya. Jika sumber ini ditemukan di kemudian hari, tentu akan menjadi dokumen yang berharga untuk kembali dikaji dalam konteks sejarah budaya Cianjur.

Kedua, dari buku Lalampahan Pangeran Nampabaya sareng Pangeran Lirbaya, sebuah cerita sejarah karya Yuhana (nama samaran Akhmad Basah), diterbitkan di Bandung oleh penerbit Dachlan Bekti pada tahun 1930 dengan tebal 44 halaman (Kartini, dkk., 1979; Ilham Nurwansah, 2024).

Buku ini digunakan sebagai rujukan di dalam buku ???????????????????????????? ????????????????ℎ???????? ???????????????????????? ???????????????????????? ????????ℎ???????? ???????????????????? ???????????????????????????? jilid Kedua yang disusun oleh Rd. Hanafiyah Wiradiredja, Abdurrauf, dan Rd. Makbul Husein. Secara khusus kisah Babad Cihea disajikan pada Bab III bertajuk “Perjalanan Pangeran Nampabaya dan Pangeran Lirbaya, Para Tumenggung wewakil dari Sultan Mataram untuk membuat Tanah Koloni Mataram di seberang Barat Kali Citarum yang dinamakan Tanah CIHEA.”

Wabah Malaria, Proyek Irigasi dan Bendungan Cisokan

Saat ini, tak ada badak Cihea dan malaria. Namun, kisahnya berkaitan dengan proyek mercusuar Daedels Sang Gubernur Jenderal dengan kerja rodi membangun Jalan Raya Pos, dari nyer ke Panarukan.

Rakyat Cihea mendapat jatak kerja rodi diterapkan di selatan Cianjur tepatnya di dataran Tjihea (Tjihea-vlakte) dalam sebuah mega proyek pengairan (Tjihea-werken).Dijalankana sejak 1850 hingga lima puluh tahun kemudian, 1890. Meninggalkan sisa kepediahan dan penderitaan rakyatnya.

Pembangunan irigasi menimbulkan masalah baru. Wabah malaria membunuh ratusan rakyat Cihea. C. Lekkerkerker dalam bukunya Verbetering en vermeendering van Cultuurgron op Java (1929) mencatat ‎pembuatan sawah dan irigasi di dataran Cihea yang berlangsung pada 1891-1908 dengan luas lahan pertanian 8600 bahu sebagai pekerjaan irigasi besar pertama di Preanger (Priangan). Persoalan yang terjadi saat itu bukanlah keterbatasan pasokan air, melainkan berjangkitnya wabah malaria dan hasil panen yang biasa saja.

Koran berbahasa Belanda, Algemeen Handelsblad voor Nederlandsch-Indie dalam pemberitaannya pada 11 November 1939 menyebut dataran Cihea terkenal karena malaria.‎ De Prenger Bode pada 25 April 1913 juga mengupas penanganan wabah malaria yang merajelal di Cihea dengan pengawasan ketat terhadap kebersihan di kampung-kampung serta pembersihan kolam-kolam ikan. Laporan ledakan kasus malaria dimuat De Locomotief dalam pemberitaan pada 20 Januari 1934. Koran itu menyatakan ledakan kasus terjadi di dataran Cipadani yang berdekatan dengan Cihea. Sebanyak 80 warga pribumi dari satu desa di wilayah itu yang diduga terserang malaria. Merajalelanya penyakit akibat nyamuk tersebut terjadi kala pembukaan lahan dan pembuatan saluran irigasi yang dikerjakan sekira 1.000 kuli.

Sejarahwan Reiza D Dienaputra dalam buku “Cianjur: Antara Priangan dan Buitenzorg, Sejarah Cikal Bakal Cianjur dan Perkembangannya Hingga 1942 (Bandung 2004) menyebutkan, pembangunan sarana irigasi Cihea berhasil mengubah Cianjur menjadi daerah penghasil beras di Priangan.

Pembangunan irigasi di dataran Cihea itu dilakukan sejak akhir abad ke-19 dan selesai pada awal abad ke-20. Hingga akhir dasawarsa kedua abad ke-20, irigasi Cihea masih menjadi satu-satunya sistem pengairan yang relatif sangat baik untuk seluruh Keresidenan Priangan.

Wabah malaria itu bukanlah tumbal pertama dari pembangunan irigasi Cihea. Justru korban lebih banyak terjadi ketika Bendungan Cisokan yang berlokasi di Cisuru mulai dibangun.Korban tewas terjadi terutama di saat rakyat membangun terowongan air berdiameter 3 m sepanjang 1.200 m. Terowongan yang mengalirkan air dari Bendungan Cisokan ke saluran irigasi Cihea itu merupakan bagian paling berat dari proyek tersebut. Terowongan ini dibuat dengan melubangi tebing Sungai Cisokan yang merupakan daerah berbatu cadas.

TEROWONGAN ‘Irigasi Cihea’ Bojongpicung itu dikerja rodikan oleh ribuan rakyat, yang sebagian di antaranya didatangkan dari luar Cianjur, dikerja-paksa (rodi) untuk melubangi tebing cadas itu dengan peralatan sederhana: belincong, linggis, dan pacul. Sedangkan makanan sangat kurang. Tak heran bila banyak rakyat yang tewas karena kalaparan. Usai membuat terowongan air, rakyat kembali dikerja-paksa membuat saluran irigasi dengan lebar 5-10 m menelusuri tebing bukit hingga ke daerah dataran Cihea. Jumlah korban meninggal saat membuat saluran irigasi yang sekarang disebut warga setempat sebagai Walungan (Sungai) Cisuru itu kabarnya juga tidak sedikit, terutama diakibatkan serangan penyakit malaria.

Pengorbanan ribuan rakyat waktu itu tidaklah sia-sia. Karena Bendungan Cisokan berikut saluran irigasinya sampai sekarang masih berfungsi dengan baik. Sekalipun di musim kemarau, ribuan hektare sawah di Bojongpicung dan Ciranjang tetap bisa ditanami padi dua sampai tigakali dalam setahun.

Cihea dalam Karya Yuhana

Dalam kesusastraan Sunda, Yuhana (nama pena dari Akhmad Bassah, 1895-1930) adalah sastrawan, novelis, dan wartawan Sunda terkemuka sebelum kemerdekaan yang aktif menulis pada masa kolonial (1920-an). Karya sastra terkenalnya Tjarios Agan Permas. Ia rupanya menaruh perhatian pula pada bidang sejarah. Buku Lalampahan Pangeran Nampabaya sareng Pangeran Lirbaya bukan semata-mata legenda, karena ternyata memuat pula catatan-catatan tahun, catatan-catatan peninggalan serta tempat yang amat penting bagi penulisan sejarah. Sebuah daerah yang hampir tidak pernah disebut-sebut dalam sejarah nasional.

Dalam kata pengantarnya, Yuhana mengemukakan bahwa cerita ini ditulis berdasarkan cerita-cerita kesejarahan yang masih terdapat di kalangan masyarakat Ciranjang, Cianjur pada waktu itu. Di samping itu, dilakukan juga beberapa perbandingan dengan babad. Oleh karena itu Rusyana dkk. (1987:37) menyatakan bahwa buku itu dapat disebut berisi babad dalam corak penyajian baru.Tulisan Yuhana diakuinya sebagai hasil penelitian lapangan (Kartika, 1979:39).

Menurut Yuhana, (Kartika dkk., 1979:35-38) yang mula-mula mendirikan keraton di Cihea adalah raja Majapahit yang bernama Prabu Jaka Susuruh atau Prabu Hariang Banga, yang namanya sering disebut dalam ceria Pantun Sunda. Di samping raja Susuruh, yang pernah menguasai Cihea ini adalah pula seorang keturunan Pajajaran yang bernama Raden Rangga Gading. Bekas-bekas peninggalannya ditemukan di kampung Panghiasan, Desa Gunung Halu sekarang, berupa bekas-bekas keraton, pecahan benda dari kaca, piring, dan mangkuk-mangkuk kuno yang diduga buatan Cina.

Lebih lanjut Yuhana menjelaskan bahwa, setelah raja ini meninggalkan Cihea, kurang lebih tahun 1380, maka daerah itu menghutan kembali.Tahun 1645 barulah ada pendatang baru ke sana. Prabu Cakrakusumah atau Sultan Agung Mataram. Sesudah tahun 1645 Sultan Agung mengutus dua orang pembesar yaitu Tumenggung Nampabaya dan Tumenggung Lirbaya, kakak adik, yang selanjutnya disebut pangeran karena mereka adalah keturunan pangeran, masih kerabat dengan Pangeran Purbaya yang dikisahkan dalam Babad Batawi.

Dalam rangkaian peristiwa-peristiwa selama perjalanan itulah terjadi sasakala beberapa nama tempat. Antara lain kampung Batununggul, karena di situ terdapat batu besar tempat beristirahat mereka, Cihea karena di daerah itu penuh dengan kayu hea, Pasir Tangkolo karena terdapat banyak pohon tangkolo, kampung Nyampay tempat Pangeran Nampabaya dan Pangeran Lirbaya menyampirkan destarnya, kampung Pangkalan tempat mereka mangkal, Batu Tumenggung adalah batu bekas mengasah pedang Nampabaya yang dilemparkan ke sungai, kali Cinungnang di mana ketika Pangeran Nampabaya menyuruh orang-orang menabuh gamelan, kampung Pasanggrahan di mana kedua pangeran mulai membuka tempat peristirahatannya dan seterusnya.

Maka terbentanglah daerah Cihea menjadi negeri yang ramai. Dalem Nampabaya memerintah negeri dengan baik, adil dan bijaksana. Sebagai patihnya adalah Pangeran Lirbaya.Dalem Nampabaya mempunyai seorang anak laki-laki yang bernama Pangeran Nerangbaya. Sementara itu, Pangeran Lirbaya sebagai patih yang bijaksana ternyata beralih perhatian. Kini ia lebih sering memisahkan diri dari kakaknya, banyak mendalami ilmu dan bepergian. Dalam hal menuntut ilmu ia akrab dengan Dalem Cibalagung, yang terkenal dengan nama Aria Wiratanudatar, di Cikundul.

Keduanya akrab bersahabat. Dalam Babad Cikundul persahabatan kedua pembesar negeri ini dibicarakan waktu Dalem Cikundul memindahkan ibu kota dari Cikundul (Cibalagung) ke Cianjur, serta peristiwa melepaskan diri dari kekuasaan Banten dan pindah mengabdi kepada Sultan Mataram tanpa melalui peperangan,

Pangeran Nerangbaya yang menggantikan Dalem Nampabaya mula-mula berlaku adil dan bijaksana, tetapi ia kemudian lupa akan kemajuan negeri. Ia lebih tertarik dengan wanita-wanita cantik, hingga ia menikahi Ayu Baron, seorang penyanyi dan penari dari Samarang. Setelah merasa bosan dengan permaisuri Ayu Baron, ia menikahi putri Cikundul sebagai istri kedua. Ayu Baron merasa tersisihkan sehingga kabur . Dalem Nerangbaya mencarinya, dan menemukannya di dekat sungai Citarum dalam keadaan sakit payah hingga meninggalnya. Jenazahnya dimakamkan di kampung Pangkalan, sampai sekarang terkenal dengan nama makam Eyang Ayu Baron.

Dalem Nerangbaya pun tidak lama kemudian meninggal dan dimakamkan di atas sebuah bukit dekat Cihea, terkenal dengan nama Embah Dalem Pasir. Sedangkan patihnya yang dimakamkan di Cikawung dikenal dengan nama Sembah Dalem Cikawung. Maka lenyaplah pemerintahan Mataram di Cihea. Sultan Amangkurat yang menggantikan Sultan Aung tidak lagi berminat membuat koloni lagi. Apalagi daerah itu kemudian diserahkan kepada Kompeni sebagai upah, karena telah membantu Mataram dalam peperangan dengan Banten pada tahun 1677 (Kartini, dkk., 1979; Rusyana, dkk., 1987; Surianingrat, 1982; Wiradiredja, dkk., 1993; Nurwansah, 2024).

Dalam versi diktat berjudul Sejarah Kanjeng Dalem Cikundul (Yayasan Wargi Cikundul ,1996) disebutkan bahwa Bupati Cihea yang terkenal adalah Dalem Pasir Mataram yang makamnya masih ramai dikunjungi penjiarah di gunung Cupu, Cihea, Haurwangi. Dalem Pasir Mataram hidup sejaman dengan Dalem Cikundul, nama kecilnya adalah Raden Nerangbaya. Sedangkan Cihea dibangun atas instruksi Sultan Mataram Amangkurat I (1646-1677). Penguasa kesultanan Mataram ini terkenal dekat dengan penjajah Belanda dan selalu curiga terhadap para bupati ditatar Sunda akan berontak kepadanya.

Bagikan :

Leave a Reply

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

13 − nine =

gamespools

aceplay99

dewaslot88

slot anti rungkat

ace99play

slot777

Pengamatan Perkembangan Konsumsi Konten Digital yang Menunjukkan Lonjakan Signifikan
Perubahan Pola Online Muncul Seiring Habanero Semakin Sering Terlihat
Struktur Analisis Alur Permainan Mahjong Ways Kasino Online melalui Momentum Sesi dan Aktivitas Gameplay
Elaborasi Sebaran Winrate Dinamis Mahjong Ways Terkait Pola Bermain dan Pergerakan Modal
Eksplorasi Mekanisme RTP Adaptif Mahjong Ways dalam Membentuk Pola Bermain Berdasarkan Jam dan Distribusi Modal
Interaksi Pengguna Mulai Berubah Ketika Mahjong Ways 2 Tampil Lebih Konsisten
Starlight Princess Hadirkan Bonus Bintang Premium dengan Peluang Hadiah Maksimal
Super Scatter Tawarkan Bonus Tambahan melalui Sistem yang Lebih Cepat
Pendalaman Pola Ritme Sesi Mahjong Ways Kasino Online terkait Spin dan Dinamika Permainan
Eksplorasi Sebaran Simbol Tinggi Mahjong Ways Kasino Online dalam Observasi Premium dan Variasi Gameplay
Mahjong Ways Menyajikan Bonus Kombinasi Baru dengan Nilai yang Lebih Tinggi
Studi Pertumbuhan Platform Interaktif dalam Menunjang Hiburan Modern
Kajian Terkini tentang Perubahan Hiburan Digital di Era Mobile First
Eksplorasi Pola Ritme Permainan Mahjong Ways Kasino Online dalam Fase Akhir dan Variasi Gameplay
Interpretasi Sebaran Simbol Tinggi Mahjong Ways Kasino Online melalui Observasi Simbol Premium dan Dinamika Gameplay