Kartini, Merawat Kewarasan di Tengah Manipulasi Dunia
Oleh:
Lilis Sulastri
(Guru Besar Ilmu Manajemen, Fakultas Ekonomi Bisnis Islam, UIN SGD Bandung)
Terasjabar.co – Setiap bulan April, kita merayakan semangat R. A. Kartini sebagai simbol emansipasi dan kekuatan pikiran. Namun, di balik kebaya dan perayaan formal, ada jutaan ‘Kartini masa kini’ yang sedang berjuang dalam sunyi. Mereka tidak sedang dipingit oleh tembok rumah, melainkan sedang dikepung oleh kekejaman dunia yang gemar mempermainkan logika dan mengaburkan batas kewarasan. Setiap kali nama Kartini disebut, yang terbayang adalah fajar yang menyingsing setelah malam yang panjang. Namun, bagi banyak perempuan hari ini, kegelapan bukan lagi berupa tradisi pingitan yang nyata, melainkan kabut tebal bernama manipulasi. Kita adalah Kartini masa kini, yang sedang berdiri di tengah dunia yang tampak maju secara intelektual, namun sering kali mundur secara moral.
Dunia yang Mempermainkan Logika
Kita hidup di era di mana kebenaran sering kali dikaburkan. Dunia yang manipulatif bekerja dengan cara yang halus, mereka memuji kelembutan perempuan, namun di saat yang sama menggunakan kelembutan itu sebagai celah untuk mengendalikan. Saat seorang perempuan menggunakan logikanya untuk menuntut keadilan, sering kali dihadapi dengan taktik mental gymnastic. Logikanya dipatahkan, kewarasannya dipertanyakan, dan kejujurannya diputarbalikkan hingga merasa seolah olah Perempuan lah yang bersalah. Hal tersebut menjadi bentuk kekejaman dunia moderndan menjadi serangan sistematis terhadap rasa percaya diri perempuan.
Seringkali, atribut perempuan sebagai ‘makhluk perasaan’ disalahgunakan oleh lingkungan sekitar. Dalam hubungan sosial maupun profesional, tak jarang perempuan dihadapkan pada situasi gaslighting, sebuah kondisi di mana logika kita diputarbalikkan hingga kita meragukan diri sendiri. Mereka yang mempermainkan kewarasan sebenarnya sedang merasa terancam. Ketika seorang perempuan berdiri tegak dengan prinsip dan kebenaran, cara termudah untuk meruntuhkannya adalah dengan menyerang mental, menyebutnya terlalu sensitif, atau melabeli pemikirannya sebagai sesuatu yang tidak logis.
Luka yang Menjadi Bukti Integritas
Menjadi terluka oleh dunia bukanlah sebuah aib. Bagi seorang Kartini modern, luka adalah tanda bahwa kita masih memiliki nurani yang hidup. Di tengah dunia yang kian sinis dan pragmatis, mempertahankan kebaikan adalah tugas yang berat. Perempuan diciptakan sebagai makhluk yang membawa harmoni. Namun, bukan berarti kita harus mengorbankan kewarasan demi menyenangkan mereka yang tidak menghargai kemanusiaan. Saat kita merasa disakiti oleh mereka yang memanfaatkan ketulusan kita, ingatlah bahwa kesempurnaan perempuan dalam kebaikan bukanlah kelemahan. Itu adalah kekuatan purba yang tidak dimiliki oleh mereka yang hidup dalam tipu daya.
Menjadi Kartini di era ini berarti berani untuk tetap waras di dunia yang terkadang gila. Tetap menjadi makhluk sempurna untuk kebaikan, namun sertai kebaikan itu dengan ketegasan dalam menjaga martabat. Sebab, pada akhirnya, kegelapan manipulasi akan selalu kalah oleh terangnya kejujuran dan keteguhan jiwa seorang Perempuan.
Ada anggapan bahwa perempuan adalah makhluk yang sempurna untuk menebar kebaikan. Namun, di tangan orang-orang yang manipulatif, predikat ‘baik’ menjadi jerat. Karena empati dianggap sebagai kelemahan. Ketulusan dianggap sebagai kesempatan untuk eksploitasi. Dan Kesabaran dianggap sebagai izin untuk terus menyakiti. Luka yang dirasakan muncul karena ada benturan hebat antara ketulusan jiwa dengan kekosongan jiwa dunia. Kita terluka bukan karena kita lemah, tapi karena kita tetap memilih untuk menjadi manusia di tengah lingkungan yang telah kehilangan kemanusiaannya.
Melawan dengan Kewarasan
R. A. Kartini tidak hanya melawan dengan surat, namun dengan pemikiran. Untuk menghadapi dunia yang manipulatif, ‘Jangan biarkan siapa pun memadamkan api logika hanya karena mereka tidak tahan melihat cahayanya’. Melawan manipulasi tidak harus dengan cara menjadi jahat. Melawan manipulasi adalah dengan tetap memegang kendali atas kebenaran yang di yakini. Jika dunia mencoba merusak kewarasan, maka menjaga kesehatan mental dan kejernihan berpikir adalah bentuk emansipasi tertinggi di zaman ini.
Menjadi makhluk yang penuh kebaikan bukan berarti menjadi martir bagi ego orang lain. Kartini yang terluka hari ini harus bertransformasi menjadi Kartini yang berdaulat. Seorang perempuan yang mampu membedakan mana pengabdian dan mana penindasan. Kita memang makhluk sempurna untuk kebaikan, tapi kebaikan yang paling utama harus kita berikan kepada diri kita sendiri, yaitu hak untuk tetap waras, hak untuk tetap logis, dan hak untuk tetap berdiri tegak meski dunia mencoba mematahkan langkah kita.
Pada akhirnya, mereka yang bermain di ruang-ruang gelap manipulasi akan selalu kalah oleh waktu. Mereka mungkin berhasil mengiris empati kita hingga kering, namun mereka lupa bahwa akar seorang perempuan yang berdaulat tertanam jauh lebih dalam dari yang bisa mereka jangkau. Luka yang tidak akan membuat kita menjadi seperti mereka, luka yang menjadi garis batas yang tegas antara kita yang memiliki nurani dan mereka yang hanya memiliki kekosongan. Jadilah Kartini yang memegang kendali penuh atas logikanya. Dunia boleh saja mencoba memutarbalikkan kewarasan kita, namun kita masih memiliki keberanian untuk berkata “Aku tahu kebenaranku,” maka cahaya tidak akan pernah padam. Kita adalah rahim kehidupan, dan dari ketangguhan kita hari ini, akan lahir sebuah kekuatan baru, kebaikan yang terjaga oleh ketegasan, dan empati yang dibentengi oleh logika yang tajam.
Kutipan ikonis “Habis Gelap Terbitlah Terang” bukan sekadar romantisme sejarah, melainkan sebuah hukum dialektika jiwa. Secara filosofis, Kartini mengajarkan bahwa kegelapan (manipulasi, penindasan, dan pengkhianatan nurani) bukanlah akhir, melainkan syarat niscaya bagi lahirnya cahaya kesadaran yang lebih tinggi. Luka yang diiris oleh mereka yang manipulatif memang mengoyak empati hingga kering, namun di titik tergelap itulah, kita dipaksa untuk menyalakan api logika kita sendiri.
Cahaya ‘Terang’ bagi Kartini masa kini adalah Kewarasan yang Berdaulat. Kita tidak lagi menjadi baik karena naif, melainkan menjadi baik karena kita memilihnya dengan sadar di tengah dunia yang keji. Maka tetaplah berdiri tegak. Sebab, sedalam apa pun mereka mengoyak rasamu, mereka tidak akan pernah bisa mencuri kebaikan yang terbit dari kejujuran jiwamu. Habis gelap, terbitlah cahaya kedaulatan diri. Kita tetap waras, tetap logis, dan selamanya merdeka dalam kebaikan dan kebenaran.
Selamat merayakan
Wallahu’a’lam bis showaab





Leave a Reply