Krisis Kemanusiaan: Saat Musibah Menelanjangi Rapuhnya Sistem Kapitalisme
Oleh:
Suci Arumsari Hidayat
Terasjabar.co – Bencana yang melanda Aceh, Sumatera Utara, hingga Sumatera Barat kembali membuka luka lama tentang betapa rentannya negeri ini menghadapi musibah besar.
Data terbaru dari CNN Indonesia menunjukkan 604 orang meninggal, 464 orang masih hilang, 2.600 orang luka-luka, 1,5 juta warga terdampak, dan 570 ribu jiwa mengungsi (CNN Idonesia, 01/12/2025). Angka ini bukan sekadar statistik: ini adalah kisah manusia, keluarga, dan harapan yang tercerabut dalam sekejap.
Namun setiap kali bencana datang, pertanyaan yang sama kembali muncul: mengapa kerusakan begitu besar? mengapa penyelamatan begitu lambat? mengapa rakyat selalu menjadi pihak yang paling menderita, sementara negara terkesan gagap merespons? Jawabannya tidak bisa dilepaskan dari sistem yang menaungi negeri ini yaitu kapitalisme.
Bencana Alam yang Berubah Menjadi Bencana Sistemik
Secara alamiah, musibah seperti gempa, banjir, atau longsor adalah ketentuan Allah. Tetapi skala korban, kerusakan, dan kekacauan sering kali merupakan akibat dari kegagalan sistem manusia.
Dalam sistem kapitalisme, mitigasi bencana cenderung berjalan minimalis, dengan berbagai kebijakan yang mengutamakan keuntungan dibanding keselamatan, pembangunan mengabaikan kaidah keselamatan, eksploitasi alam masif tanpa memikirkan dampak ekologis, anggaran mitigasi kecil sementara proyek mercusuar besar tetap berjalan, masyarakat dibiarkan tinggal di zona rawan tanpa tata ruang yang jelas, dan teknologi deteksi dan evakuasi sering tertinggal karena tidak dianggap “menguntungkan”.
Ketika bencana datang, negara baru sibuk “merespons” (bukan mengantisipasi), sehingga rakyat selalu menjadi tameng terakhir dari kelalaian sistem.
Pandangan Islam: Bencana sebagai Ujian, Bukan Alasan untuk Lalai
Islam memandang bencana sebagai salah satu bentuk ujian dan peringatan dari Allah. Namun Islam tidak berhenti pada sikap pasrah: ada tanggung jawab besar yang seharusnya dipikul oleh sebuah negara.
Ada beberapa hal yang tidak boleh dilakukan menurut Islam, tetapi sering terjadi dalam sistem kapitalis: mulai dari mengabaikan amanah negara untuk menjaga nyawa rakyat.
Dalam Islam, negara wajib memastikan keselamatan rakyat melalui pembangunan berbasis keselamatan, mitigasi bencana yang serius, teknologi peringatan dini, dan kesiapsiagaan masyarakat yang teredukasi, sehingga ketika negara gagal menjalankan amanah ini karena korupsi, birokrasi lambat, atau orientasi profit, itu adalah kelalaian, bukan takdir.
Selain itu, dalam kapitalisme bencana sering berubah menjadi ladang proyek: pengadaan logistik yang tidak tepat sasaran, markup harga, dan distribusi yang lambat karena melewati banyak jalur “administrasi”, padahal dalam Islam pertolongan harus segera dan hak korban tidak boleh tertunda.
Sistem kapitalis juga sering membiarkan rakyat hidup di daerah rawan tanpa solusi jangka panjang, padahal Islam mengajarkan penataan ruang dan pemindahan penduduk jika daerahnya rawan (negara harus hadir penuh), rakyat sering dibiarkan bertahan di daerah berbahaya karena urusan “ekonomi”.
Terakhir, manajemen bencana seharusnya tidak menjadi ajang pencitraan pejabat: Islam mengharuskan pemimpin menjadi pelayan rakyat, bukan pencari panggung.
Bagaimana Islam Menyikapi Bencana?
Islam memiliki prinsip-prinsip jelas untuk menangani bencana yang berfokus pada keselamatan dan kemanusiaan. Negara harus berperan sebagai pelindung nyawa, dengan menyediakan mitigasi bencana yang kuat, teknologi modern, edukasi, dan tata ruang yang aman, bukan menyerahkannya pada swasta atau sekadar menunggu bantuan internasional.
Penyelamatan juga harus dilakukan cepat dan tanpa birokrasi, karena dalam Islam nyawa manusia lebih berharga daripada seluruh dunia dan isinya, sehingga tidak ada alasan prosedural yang boleh menghambat evakuasi.
Islam juga mendorong solidaritas masyarakat sebagai kekuatan, dengan mengajarkan akhlak tolong-menolong (bukan menunggu negara atau lembaga donor) yang membangun kekuatan sosial yang kokoh.
Terakhir, musibah harus menjadi ladang introspeksi: peringatan untuk kembali kepada Allah, meningkatkan taqwa, dan memperbaiki sistem hidup, bukan sekadar momen duka yang berlalu tanpa perubahan.
Indonesia Butuh Sistem yang Memanusiakan Rakyatnya
Bencana yang menimpa Sumatera bukan yang pertama, dan mungkin bukan yang terakhir. Namun akan selalu ada dua pilihan: tetap berjalan dengan sistem yang berulang kali gagal melindungi rakyat, atau beralih pada sistem yang menempatkan keselamatan, amanah, dan keadilan sebagai prinsip utama.
Islam telah menyiapkan jawaban tentang bagaimana sebuah negara seharusnya mengurus rakyatnya bahkan dalam kondisi paling kritis sekalipun. Musibah adalah ujian, tetapi kelalaian manusia dan kegagalan sistem adalah pilihan.






Leave a Reply