Cimacan, Cimaung, Jasinga dan Cibanteng: Perlawanan dan Kearifan Lokal

Oleh:
Nunu A. Hamijaya
(Sejarawan Publik/Pusat Studi Sunda)

Terasjabar.co – Beberapa nama desa di kabupaten di Jawa Barat (Tatar Sunda) memiliki unsur nama yang berasal dari nama binatang (fauna), baik dalam bahasa Indonesia maupun bahasa Sunda. Penggunaan nama binatang ini biasanya berkaitan dengan sejarah, folklore, mitos, dan kehadiran hewan yang ditemukan di wilayah tersebut. Beberapa nama hewan yang termasuk memiliki legenda adalah: macan, maung, meong, singa, dan banteng.

Banyak hutan di Jawa Barat memiliki nilai legendaris. Selain menjadi penyangga utama lingkungan, hutan-hutan tersebut juga menjadi sumber folklor atau cerita rakyat, yang tercatat dalam dongeng, kepercayaan lokal, babasan, dan paribasa. Hutan Cihea sendiri sudah lenyap ditelan perkembangan pembangunan, apalagi badak penghuninya.

Sebagai contoh, Hutan Sancang di Kecamatan Pameungpeuk, Kabupaten Garut merupakan salah satu hutan legendaris di Tatar Sunda. Di hutan seluas kurang lebih 3 ribu hektare itu, pernah hidup subur hewan jenis banteng dan Harimau Sunda (Pantheratihgris sundaica), yang terkenal dengan sebutan “Maung Lodaya”. Hutan Sancang dikenal adanya maung sancang jelmaan Prabu Siliwangi. Keberadaan maung Sancang dan kepercayaan masyarakat terhadap “maung kajajaden” telah diteliti secara ilmiah oleh Dr. Robert Wessing, sosiolog asal AS, dalam disertasinya berjudul “The Soul of Ambiguity: The Tiger in Shouteast Asia” (1986). Selama melakukan penelitian (1975-1978), Robert Wesssing tinggal di Bandung, dikenal dengan nama “Mang Obet”.

Nama Kodam III Siliwangi di Jawa Barat, identik dengan lambang harimau. Sementara, Kepolisian Daeran (Polda) Jawa Barat menjadikan Maung Lodaya atau Macan Kumbang sebagai logo kesatuannya. Beberapa nama desa itu, misalnya: Cimacan, Cimeong, Cibanteng (Cianjur), Cimeong (Majalengka, Kuningan, Bogor), Cimaung (Bandung), dan Jasinga (Bogor).

Macan, Maung, Meong dan Singa Podium

Kata ‘macan’ sudah digunakan dalam gaya basa Sunda, ‘ngupamakeun’ (ngabandingkeu), seperti “keupatna macan teu nangan.” Misalnya untuk menggambarkan ‘mojang priangan’ dalam lagu karya Ismail Marzuki berjudul “panon hideung”. Tingkah laku macan yang tidak punya keinginan untuk menerkam atau mengejar mangsanya. Peribahasa “sagalak-gakakna macan, moal ngahakan anakna” memiliki makna meski memiliki orangtua yang berwatak keras, seorang orang tua tidak akan tega melukai anaknya sendiri.

Demikian pula dengan kata ‘maung’. Beberaopa contoh, misalnya “katempuhan buntut maung” yang berartikan mendapatkan kesulitan akibat kesalahan yang dibuat oleh orang lain, menggunakan diksi ‘maung’, yang menggambarkan seseorang yang berada di kondisi yang tidak beruntung karena membuatnya harus menanggung kerugian dari orang lain.

“Aya di sihung maung”. Artinya: Banyak berhubungan dengan pembesar sehingga mudah mendapatkan pertolongan; mempunyai banyak relasi di kalangan pejabat.“Kawas maung meunang”. Bibirnya merah karena mengunyah sepah atau merah menyala karena memakai lipstik yang berlebihan. “Kawas maung ompong” adalah babasan (ungkapan) Sunda yang menggambarkan seseorang yang disegani, dihormati, atau pernah memiliki kekuasaan besar, namun kini sudah tidak memiliki kekuatan atau pengaruh lagi. Meskipun tidak lagi berkuasa, ia tetap ditakuti atau dihormati oleh orang lain.

Maung dalam Bahasa Indonesia disebut harimau. Harimau yang memiliki nama latin panthera tigris merupakan salah satu spesies dari kelompok kucing besar (big cat). Harimau diketahui memiliki corak loreng dengan warna beragam, mulai dari hitam, cokelat, hingga putih. Pada umumnya harimau jantan memiliki berat antara 180 kg sampai 320 kg dan harimau betina antara 120 kg sampai 180 kg. Sedangkan macan, merupakan spesies dari kelompok kucing sedang (middle cat). Berbeda dengan harimau yang memiliki corak loreng, macan bercorak tutul-tutul. Macan juga memiliki tubuh yang lebih ramping dan ekor yang panjang. Macan tutul Jawa biasanya memiliki berat sekitar 40-60 kg.

Meong sebenarnya adalah nama lain untuk ‘kucing’. Dalam Bahasa Sunda, dikenal pula sebutan meong. Kucing dan harimau tergolong dalam famili Felidae, yang terbagi menjadi kucing kecil (Felinae) dan kucing besar/kucing raung (Pantherinae).

Dalam Bahasa Sunda, digunakan dalam berbagai ungkapan, seperti:

  1. Meong kokocokan: Ngagambarkeun jalma anu siga nu enya wanian atawa gagah, tapi saenyana mah borangan atawa teu boga kawanu.
  2. Meong peungpeun: Jalma anu api-api teu nyaho, padahal saenyana mah nyaho pisan kana hiji perkara (biasana perkara anu kurang hadé).
  3. Kawas meong keur mamanis: Ngagambarkeun jalma anu keur api-api hadé laku lampahna atawa leuleuy budina kulantaran aya pamaksad (biasana hayang meunang perhatian atawa boga kahayang).
  4. Meong congkok di parako: Sanajan katingalina cicingeun atawa kalem, tapi saenyana mah waspada sarta siap nyamber lamun aya kasempetan.

Kerajaan Tua, Singadepa dan Singa Podium

Di Tatar Sunda bahkan di Indonesia, tidak ditemukan habitat singa satu pun.Jadi, hewan ini adalah hewan dari luar negeri. Singa merupakan hewan yang hidup berkelompok. Biasanya terdiri dari seekor jantan dan beberapa ekor betina. Singa menjaga daerah kekuasaannya dan melakukan pemburuan secara berkelompok. Karena itu singa lebih suka mempermainkan mangsanya dan menguasai wilayah.

Jika dikaitkan dengan datangnya raja-raja pendahulu dari India, besar kemungkinan perlambang Singa berasal dari India pula. Sebuah naskah lama berjudul Pustaka Rajyarajya I Bhumi Nusantara (Kitab Kerajaan-kerajaan di Nusantara) yang disusun oleh Pangeran Wangsakerta, antara 1677-1698, menerangkan bahwa sebelum kerajaan Tarumanagara muncul, ada beberapa kerajaan lain di Tanah Pasundan. Dua terbesar di antaranya Salakanagara dan Jayasinghapura.

Jayasinghapura besar kemungkinan sekarang ini adalah Jasinga, sebuah kawasan di sebelah barat Bogor. Pada masa lalu, wilayah ini meliputi batas-batas Sajira di sebelah Barat, Tangerang di sebelah Utara, Bayah di sebelah Selatan dan Cikaniki di sebelah Timur. Seiring waktu, kini meliputi daerah Cigudeg, Tenjo, Nanggung, Parungpanjang dan Jasinga sebagai titik pusatnya. Jayasingharwarman (358-382 M) Raja Tarumanagara I yang menjadikan Jayasinghapura sebagai ibukota kerajaan. Jayasingharwarman menikah dengan Putri Dewawarman VIII yaitu Dewi Iswari Tunggal Pertiwi, dan mendirikan ibukotanya Jayasinghapura. Jayasinghawarman (358-382 M) bergelar Rajadiraja Gurudharmapurusa, wafat di tepi kali Gomati (Bekasi). Ibukota Jayasinghapura dipindahkan oleh Purnawarman Raja Taruma III (395-434 M) ke arah pesisir dengan nama Sundapura.

Nama ‘singa’ juga terdapat pada sebuah tanaman yang bernama Singadepa yang tumbuh di hutan-hutan. Daun Singadepa berguna untuk memandikan bayi yang baru lahir, pengharum badan, serta sebagai pencuci darah. Tumbuhan Singadepa mempunyai tinggi + 30 cm, hidup di daerah yang lembab dan tertutup oleh pohon-pohon yang lebih tinggi. Di wilayah ini tanaman Singadepa sangat sedikit dan ada di hutan-hutan tertentu, kecuali di hutan pedalaman Baduy hingga ke Lebak sibedug (Citorek) di dekat Gunung Bapang.

Dalam Bahasa Indonesia, kata singa digunakan dalam ungkapan ‘singa podium’, kepada seseorang yang memiliki kemampuan berorasi/berpidato berpengaruhi kuat sehingga mampu menggrekan massa rakyat. “Singa Podium” adalah julukan bagi orator ulung yang mampu membakar semangat massa melalui pidato berapi-api. Tokoh utama yang paling ikonik dengan julukan ini adalah HOS Tjokroaminoto, Soekarno, Bung Tomo, H.R. Rasuna Said, dan KH Isa Anshary, yang orasinya sangat memengaruhi pergerakan kemerdekaan Indonesia. Sedangkan dalam bahasa Sunda, bunyi harimau atau singa disebut ngagerem atau ngagaur.

Singa & Banteng: Simbol Musuh dan Perlawanan

Singa adalah simbol utama dalam sejarah kerajaan Belanda, melambangkan kekuatan, keberanian, dan kedaulatan. Generaliteitsleeuw (Singa Kenegaraan) pertama kali muncul tahun 1579, dan sejak 1815 singa emas menjadi elemen utama lambang kerajaan (Nederlandse leeuw) yang diwarisi dari Wangsa Nassau, melambangkan persatuan provinsi Belanda.

Simbol Republik & Kerajaan: Singa bermahkota memegang pedang dan panah (simbol Generaliteitsleeuw) mewakili republik pada 1584, kemudian diadopsi menjadi lambang kerajaan pada 1815. Tentu saja, singa bermahkota adalah Simbol Kolonialisme Belanda yang digunakan dalam lambang-lambang pemerintah daerah (Gemeente) di masa Hindia Belanda (seperti Medan dan Malang) untuk menunjukkan otoritas kolonial. Adapun Orde Singa Emas Nassau (1858) adalah tanda kehormatan dinasti yang dianugerahkan oleh penguasa monarki Belanda

Rosihan Anwar menulis buku dengan judul Singa dan banteng: sejarah hubungan Belanda-Indonesia, 1945-1950 ( 1997, UI) . Buku ini merupakan kumpulan tulisan hasil refleksi dan laporan penulis saat mengikuti Kongres Internasional Sejarah tentang hubungan Belanda-Indonesia tahun 1945–1950 di Den Haag. Buku ini menyampaikan informasi kepada publik Indonesia mengenai Perang Kemerdekaan, dengan gaya populer dan mudah dipahami. Judulnya merujuk pada simbol Belanda (Singa) dan Bung Karno sebagai “Banteng”, tokoh utama perjuangan Indonesia.

Lapangan Banteng: Pusat Pemerintahan dan Simbol Perlawanan

Keberadaan Lapangan Banteng, Jakarta Pusat, ternyata sudah ada sejak 1600-an.. Dahulu, Lapangan Banteng dan Monas terkenal dengan nama weltvreden. Kepemilikannya pun berpindah-pindah tangan mengikuti fungsi lapangan yang berubah. Pada 1623 kawasan weltevreden adalah milik anthonie Pavilioen. Kemudian pada 1649 kepemilian beralih kepada anaknya, Anthonie Pavillioen Junior. Pada saat ini fungsinya menjadi pavilion fet atau lapangan pavilion. Pada masa kepemilikan itu, lapangan tersebut disewakan untuk perkebunan dan peternakan. Selanjutnya pada 1750 kepemilikan tanah beralih kepada gubernur jenderal yang berkuasa kala itu, mulai dari Jacob Mossel hingga pemerintahan Herman Williem Daendels pada 1800-an.

Sementara itu pada 1809 Daendels membangun sebuah istana white house besar di kawasan weltevreden. Rumah putih ini sekarang beralih fungsi menjadi kantor Kementerian Keuangan Republik Indonesia. Saat itulah Daendels memfungsikan wilayah Weltevreden sebagai tempat kawasan militer dengan memamerkan pertunjukan parade militer dan latihan perang. Setelah era Daendels, pemerintahan kolonial Hindia-Belanda beralih ke tangan Leonardo Bush. Di tangannya sebuah monumen tinggi dengan patung singa di atas berdiri di depan gedung white house dan Waterloo.

Tidak hanya patung singa, di Lapangan Banteng sempat terdapat patung pendiri Batavia, J.P. Coen, yang berdiri pada 1876. Patung tersebut dibangun oleh pemerintahan kolonial Belanda untuk mengenang 257 tahun Jayakarta yang tertaklukkan oleh J.P Coen. Tahun 1942, saat Jepang berhasil menduduki wilayah Indonesia pada masa pemerintahan Hindia-Belanda, semua patuh bernuansa kolonialisme dihancurkan

Disebut Lapangan Banteng

Setelah kemerdekaan Indonesia pada 1945, nama Waterloo berubah nama menjadi Lapangan Banteng. Soal nama Lapangan Banteng ini ada beberapa asal usulnya. Dahulu pada masa kolonial Belanda ada yang menyebut Buffelsveld yang berarti lapangan banteng atau kerbau. Ada juga yang menyebut, area ini banyak sekali satwa liar seperti macan, kijang, dan banteng. Versi lain menyebut di kawasan Lapangan Banteng adalah rawa-rawa, sehingga menjadi tempat favorit kerbau dan banteng berkubang di dalamnya. Versia lainnya, penamaan yang berhubungan dengan situasi politik saat itu. Saat itu partai yang menang adalah Partai Nasional Indonesia (PNI), yang logonya bergambar banteng, sehingga menyebutnya Lapangan Banteng. Namun pendapat lain, bahwa pemilihan nama banteng oleh Bung Karno murni sebab banteng adalah representasi yang tepat untuk sebuah perjuangan masyarakat Indonesia.

anteng dipilih oleh Bung Karno sebagai lambang pergerakan politiknya karena hewan ini dikenal sebagai simbol kekuatan dan pendobrak. Pengambilan banteng sebenarnya berasal dari lambang Sarekat Islam (1911) pimpinan HOS Tjokroaminoto yang merupakan guru politik Soekarno. Bahkan, ‘banteng’ kemudian menjadi logo resmi Partai Nasional Indonesia (PNI) dan ODI-Perjuangan (Megawati Soekarnoputri).

Dalam konteks buku Indonesia Menggugat, “Banteng” sering dikaitkan dengan simbol perlawanan radikal PNI (Perserikatan Nasional Indonesia) yang dipimpin Soekarno, terutama melalui istilah “Banteng Segitiga” yang menandakan energi rakyat melawan penjajahan. Pidato pembelaan tahun 1930 ini menunjukkan “semangat banteng” yang pantang menyerah.

Demikian, dari toponomi mengungkap banyak sejarah, mitos, dan pengetahuan ilmiah dan kearifan lokal masyarakatnya. Maka, atas nama tugas manusia sebagai kholifah fil ardhi dan abdullah , masa depan kemanusiaan yang berkeadlian dan berkeadaban, warisan nama-nama dan keadaan yang seharusnya diletarikan menjadi komitmen generasi kita hari ini.

Bagikan :

Leave a Reply

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

three × one =

Pengalaman Pengguna Game Penghasil Saldo DANA Lebih Cepat Adaptif Dan Efisien Dibawa Oleh Inovasi Teknologi
Pergeseran Mutu Produksi Kosmetik Terdeteksi Lebih Akurat Berkat Aliran Data Langsung
Pengalaman Pengguna Semakin Responsif Adaptif Dan Efisien Berkat Perkembangan Teknologi Modern
Momentum Tetap Terarah Dan Terkendali Dipertahankan Melalui Taktik Mode Pemburu Sic Bo Live
Keputusan Tetap Terukur Dalam Game Online Dipertahankan Melalui Pengelolaan Modal Cerdas
Kapitalisasi Pasar Dan Inovasi Kasino Online Berubah Di Tengah Disrupsi Teknologi Modern
Strategi Baru Untuk Meningkatkan Keunggulan Kompetitif Dibuka Melalui Business Model Canvas Mahjong Ways
Kualitas Sistem Mahjongways Kasino Online Dipahami Melalui Identifikasi Nilai Pembayaran Game Penghasil Saldo DANA
Perspektif Baru Dalam Menganalisis Perkembangan Mahjong Ways Dibuka Melalui Modernisasi Strategi
Kasino Menjadi Studi Sistem Informasi Bagi Mahasiswa Melalui Pelatihan Enterprise Architecture
Mahjongways Kasino Online Dijadikan Acuan Strategi Marketing dalam Lingkungan Pemerintahan
Keamanan Informasi Jadi Fondasi Utama Layanan Konsultasi Kosmetik Berbasis Teknologi
Teknologi Pemantauan Membantu Mengukur Frekuensi Pembayaran secara Lebih Objektif dan Terukur
Kajian Statistik Pola RTP Menyoroti Perkembangan Teknologi Neural Sintetis Regulatoris
Simulasi Statistik Membuka Pendekatan Baru Memahami Mahjong Game Sungai Penuh secara Terukur
Statistik Objektif Membantu Membaca Pola Mahjong Game Sungai Penuh dengan Lebih Rasional
Strategi Mahjong Game Sungai Penuh Makin Terarah melalui Pendekatan Statistik Modern
Pendekatan Data Objektif Membantu Mengkaji Mahjong Game Saldo DANA Sungai Penuh secara Lebih Terstruktur
Mahjong Game Sungai Penuh Dikaji lewat Simulasi Statistik untuk Membaca Pola Aktivitas
Aturan Mahjong Digital dari Dua Kartu Awal hingga Penentuan Rentang Nilai Game Penghasil Saldo DANA
Pendekatan Adaptif MahjongWays Kasino Online Membantu Menjaga Keseimbangan Anggaran Hiburan
Kemunculan Simbol Unik MahjongWays Kasino Online Perlu Dibaca Secara Lebih Rasional
Mahjong Ways Menarik Minat Pemain di Tengah Ketatnya Persaingan Game Digital
Pengaturan Tempo MahjongWays Kasino Online Tidak Menentukan Munculnya Kombinasi Khusus
Starlight Princess Kembali Merebut Perhatian Pemain MBG Berkat Daya Tariknya
Membaca Pola Mahjong Ways dan Tren Permainan Lewat Data Saldo DANA Terbaru
Disiplin Mental MahjongWays Kasino Online Membantu Mencegah Keputusan Finansial yang Terlalu Impulsif
Mengenal Sweet Bonanza sebagai Game Digital Online dengan Tema Manis yang Menarik
Rotasi Awal MahjongWays Kasino Online Bukan Tolok Ukur Kemurahan Sistem Permainan
Menelusuri Strategi Terbaik dalam Bermain Game Penghasil Saldo DANA Secara Lebih Mendalam