Tim Peneliti LPDP-MoRA Ungkap Strategi Ketahanan Pangan Adat di Kasepuhan Gelar Alam, Gelar Eksplorasi di Sukabumi
Terasjabar.co – Tim Peneliti Riset MoRA yang didanai Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP) Kementerian Agama RI melaksanakan studi eksplorasi lapangan di Kasepuhan Gelar Alam, Desa Sirnaresmi, Kecamatan Cisolok, Kabupaten Sukabumi, pada 11–13 April 2026. Kegiatan ini secara khusus mengkaji hubungan antara mobilitas masyarakat dan ketahanan ekologis-pangan, serta strategi adaptif komunitas adat dalam mengelola lingkungan asal di tengah tekanan globalisasi dan perubahan iklim.
Riset multidisiplin ini dipimpin oleh Prof. Dr. Hj. Lilis Sulastri, M.M., bersama tiga anggota peneliti yaitu Prof. Dr. H. Enjang AS., M.Si., M.Ag., Dr. H. Mukhlis Aliyudin, M.Ag., dan Ridwan Rustandi, M.Sos. dari Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Gunung Djati Bandung. Tim turun langsung berinteraksi dengan pemangku kepentingan adat yang dipimpin Abah Ugih, petani tradisional, perempuan pengelola pangan, hingga pemuda adat untuk memetakan dinamika sosial-ekologis yang berlangsung dalam dua dekade terakhir.
Dalam kurun tiga hari tersebut, peneliti menerapkan pendekatan etnografi partisipatif dengan melakukan observasi langsung terhadap praktik pertanian huma (ladang gilir balik), sistem leuit (lumbung padi), ritual adat, serta tata kelola hutan berbasis zonasi. Pengumpulan data juga diperkuat melalui wawancara mendalam, Focus Group Discussion (FGD) lintas generasi, dan dokumentasi visual untuk menangkap bagaimana pengetahuan ekologis diwariskan, dimaknai, dan diadaptasi secara dinamis.
Studi ini dilatarbelakangi oleh fakta bahwa Kasepuhan Gelar Alam memegang filosofi mendalam yang memandang padi bukan sekadar komoditas ekonomi, melainkan representasi kehidupan itu sendiri. Konsepsi ini tercermin dalam pandangan yang menganggap penjualan padi sebagai tindakan menjual kehidupan mereka sendiri, sebuah worldview “Ngamumulĕ Melak Parĕ” yang menjadi fondasi seluruh sistem pertanian dan ketahanan pangan komunitas. Sejak tahun 1368, kasepuhan telah mengalami 19 kali perpindahan pusat pemerintahan, di mana imah gede selalu didirikan pertama kali di setiap lokasi baru sebagai penanda signifikansi spiritual dan sosial.

Meski memiliki ketahanan luar biasa, komunitas ini menghadapi tekanan eksternal yang intensif. Penetrasi ekonomi pasar, kebijakan pembangunan, dan perubahan iklim nyata mendorong peningkatan mobilitas warga, baik sirkuler maupun semi-permanen. Fenomena ini menciptakan paradoks: di satu sisi membuka akses ekonomi dan pengetahuan baru, namun di sisi lain berpotensi mengikis sistem pengetahuan tradisional, melemahkan kohesi sosial berbasis adat, dan mengubah pola pengelolaan lingkungan yang telah terbukti berkelanjutan selama berabad-abad.
Temuan dari eksplorasi 11–13 April 2026 ini akan menjadi fondasi dokumentasi sistematis bagi pengetahuan tradisional yang terancam punah, sekaligus bahan baku untuk merumuskan model ketahanan ekologis-pangan berbasis kearifan lokal. Model ini diproyeksikan dapat direplikasi sebagai rujukan kebijakan nasional, mendukung agenda swasembada pangan hijau, dan memperkuat harmonisasi alam-budaya sesuai dengan prioritas pembangunan berkelanjutan Indonesia.
Kearifan lokal masyarakat adat bukan sekadar warisan masa lalu, melainkan solusi strategis menghadapi krisis ekologis dan ketahanan pangan kontemporer. Studi ini menjadi langkah awal untuk menjembatani pengetahuan tradisional dengan kebijakan berbasis bukti,” ungkap Ketua Tim Peneliti, Prof. Dr. Hj. Lilis Sulastri, M.M., seusai kegiatan lapangan.
Penelitian ini merupakan bagian dari program Pendanaan Riset MoRA The AIR Funds LPDP yang berfokus pada pengembangan model tata kelola lingkungan dan pangan berkelanjutan berbasis nilai spiritual dan kearifan lokal.






Leave a Reply