Boikot dan Kecaman Tak Mampu Menghentikan Penjajahan di Palestina
Oleh:
D. Budiarti Saputri
(Tenaga Kesehatan)
Terasjabar.co – Kondisi Gaza semakin memburuk. Jaringan komunikasi, listrik dan internet di Gaza kembali diputus. Pemadaman akses internet ini bukan sekadar masalah teknis, melainkan konsekuensi langsung dari strategi militer Israel yang menargetkan infrastruktur penting, termasuk jalur komunikasi utama. Terlebih pemadaman terjadi bertepatan dengan masuknya tank-tank Israel ke jantung Kota Gaza, memperkuat dugaan bahwa serangan ke jaringan telekomunikasi dilakukan bersamaan dengan manuver darat (Tribunnews.com, 19/9/2025).
Sekalipun negara-negara di dunia mengecam dan mengembargo, Israel tetap bergeming. Belgia menerapkan larangan impor dari Israel. Spanyol mengubah embargo senjata de facto yang berlaku saat ini menjadi Undang-Undang. Negara ini juga melarang kapal dan pesawat yang membawa senjata ke Israel berlabuh di pelabuhan Spanyol atau memasuki wilayah udaranya. Norwegia akan melakukan divestasi dari perusahaan-perusahaan yang terdaftar di Israel. Uni Eropa, berencana memberi sanksi kepada menteri sayap kanan dan menangguhkan sebagian elemen perdagangan dari perjanjian dengan Israel. Di Hollywood, surat penyeruan boikot terhadap perusahaan, festival, dan penyiaran Israel, telah ditandatangani oleh lebih dari 4.000 orang dalam sepekan. Hal yang sama terjadi di bidang olahraga yakni olahraga balap sepeda dan catur.
Semua kecaman dan boikot, serta permusuhan terhadap Israel, nyatanya tidak membuat zionis ini menghentikan penjajahannya di Palestina. Seakan-akan semua itu hanya angin lalu, yang tidak dihiraukan oleh mereka. Pemadaman listrik dan pemutusan telekomunikasi di Gaza merupakan strategi politik dan militer untuk menguasai Gaza, tak peduli kecaman Internasional. Gelombang Boikot internasional terhadap Israel, sampai saat ini, tidak mengubah keadaan di Gaza. Israel tetap bergeming dengan gelombang Boikot, karena Israel telah menetapkan tujuan akhirnya dalam Protokol Zionis yaitu membangun Negara Israel Raya dengan menjadikan Palestina sebagai pusat kekuasaannya. Untuk mewujudkan tujuan akhirnya, Israel didukung penuh oleh negara no 1 dunia yaitu Amerika Serikat, tempat dimana para kapitalis dunia yang terafiliasi kepada Gerakan zionis bermukim.
Hal seperti ini sangat lumrah terjadi dalam sisitem kapitalis. Karena dalam sistem kapitalis, boikot hanya lipstik politik, untuk menenangkan masa dan membuat merka terlihat baik dan bagus di mata umat. Kerja sama dengan Zionis tetap berjalan secara rahasia selama masih dianggap menguntungkan. Begitulah sistem ini berdiri, semuanya didasarkan pada untung rugi untuk diri sendiri dan kelompoknya.
Kejahatan perang Israel tidak akan pernah bisa dihentikan hanya dengan kecaman dan boikot semata. Justru hal ini semakin membuat mereka menggila. Satu-satunya yang bisa menghentika Israel adalah dikirimnya gabungan tentara-tentara muslim dari seluruh dunia untuk membela Palestina.
Sayangnya, persatuan tentara muslim di seluruh dunia hanya bisa terjadi di bawah komando Negara Islam yang tidak mengenal national state. Kehadiran Tentara Islam di bawah komando seorang khalifah sangat dinantikan. Penguasa negeri muslim dan umat harus bangkit dan bersatu untuk mengembalikan persatuan umat Islam di seluruh dunia. Karena dengan adanya Negara Islam, maka ia akan menjadi perisai umat dan membebaskan Palestina dari cengkeraman Zionis Israel.
Sepanjang sejarah Islam, Yahudi adalah kaum yang paling keras permusuhannya kepada kaum muslimin. Allah Swt. Telah menjelaskan dalam Q.S Al-Maidah ayat 82: “Sesungguhnya kamu dapati orang-orang yang paling keras permusuhannya terhadap orang-orang yang beriman ialah orang-orang Yahudi dan orang-orang musyrik”
Pemboikotan saja tidak akan menghasilkan kebebasan bagi Gaza. Hanya dengan adanya Negara Islam yang akan mampu melumpuhkan Israel dan membebaskan Gaza, Palestina dan seluruh manusia dari makar jahat kaum zionis Israel. Wallahualam bissawab.






Leave a Reply