Dajjal, Zionis dan Negara Israel
Oleh
Nunu A. Hamijaya
(Sejarawan Publik-Pusat Studi Sunda)
Terasjabar.co – Tahun 2026, adalah tahun paling fenomenal di awal Abad ke-21, dipandang dari perspektif tentang “Masih ad Dajjal’ (Dajjal Sang Pendusta) yang merupakan ciri-ciri Kiamat. Hal ini dipicu oleh peristiwa perang antara Republik Islam Iran vs Amerika/Israel. Dilihat dari sumber otentik khazanah al Quran dan al Hadits, maka terjadi dua pandangan yang masih. Di kalangan ulama klasik bahwa Dajjal belumlah muncul; sedangkan ulama kontemporer justru memiliki perspektif bahwa dajjal, bukan hanya sebagai ‘wujud fisik manusia seseorang’ akan tetapi karakter simbolik tentang ‘bangsa tertentu’, yaitu Yahudi dan suatu kondisi zaman yang ditimbulkan oleh mereka.
Untuk membedakannya dengan Bani Israel adalah sebutan bagi keturunan Nabi Ya’kub yang mempunyai 12 anak yang berasal dari istri keempatnya. Mereka adalah Ruben, Simeon, Lewi, Yehuda, Dan, Naftali, Gad, Asyer, Isakhar, Zebulon, Yusuf, dan Benyamin. Adapun Yehuda atau Yahudi dinisbahkan kepada bangsa Yahudi saat ini. Yehuda adalah putra keempat Nabi Yakub dari istrinya yang bernama Lea.Dalam bahasa Ibrani, nama Yehuda (Yehudah) berarti “pujian” atau “bersyukur kepada Tuhan”. Keturunan Yehuda berkembang menjadi Suku Yehuda (Tribal of Judah), salah satu dari 12 Suku Israel yang paling dominan, kuat, dan besar.
Abu Hurairah berkata: Nabi bersabda: “Kiamat tidak akan terjadi sebelum dua kelompok berperang sehingga diantara keduanya terjadi pembantaian yang besar, walaupun seruan mereka satu. Dan kiamat tidak akan terjadi sampai Dajjâl-Dajjâl pendusta yang berjumlah sekitar tiga puluh orang yang semuanya mengaku sebagai utusan Allah
Kisah mengenai Dajjāl ini, yang kemunculannya tergolong singkat sebelum hari Kiamat menggambarkan akhir dari permusuhan sengit antar para pengikut tiga agama (Islam, Kristen dan Yahudi). Kaum Yahudi dibawah pimpinan al-Masih (Dajjāl) mereka, berusaha keras merebut kekuasaan atas dunia seluruhnya. Sementara kaum kristen tetap berpegang teguh pada trinitas, salib dan berbagai tradisi agama mereka, dan membantu kaum Yahudi melawan bangsa Arab-Muslim. Sedangkan dikalangan kaum Muslimin terdapat dua kelompok besar, yaitu orang-orang baik yang berjuang mati-matian mempertahankan diri; dan orang-orang yang kebingungan, tak tahu apa yang harus dilakukan. Pada saat pertikaian semakin memuncak, datanglah serbuan tentara “merah” dari arah timur. Dan tak ada yang bisa menghalangi langkah pasukan yang datang bergelombang-gelombang ini. Di tengah puncak kekacauan tersebut, Nabi Isa a.s. turun kembali ke bumi untuk memperkuat akidah tauhid, membenarkan kenabian yang terakhir (Muhammad saw.) dan membinasakan sesembahan kaum Yahudi. Kaum Muslim akan menghadapi serbuan tentara “merah” itu, yakni Ya’juj dan Ma’juj, dengan susah payah sampai akhirnya berhasil memusnahkan mereka dengan kuasa Allah Swt.

Kata Dajjāl sendiri tidak ditemukan di dalam al-Qur’an, akan tetapi jika merujuk pada pendapat ulama yang mengartikan kata Dajjāl sebagai pendusta atau ككذب) kadzdzab). M. Syuhudi Ismail M. Syuhudi Ismail, Hadits Nabi Yang Tekstual dan Kontekstual (Jakarta: Bulan Bintang, 1994) .mengartikan Dajjâl sebagai simbolik, menurutnya. yang dimaksud dengan Dajjâl ialah keadaan yang penuh dengan ketimpangan seperti keadaan penguasa yang dzalim, kaum dhuafa yang tidak terurus, berbagai amanah tidak dijalankan dan merebaknya kemaksiatan di tengah-tengah masyarakat.16 Senada dengan pernyataan Ahmad Thomson dalam bukunya yang cenderung mendefinisikan Dajjâl sebagai suatu fenomena sosial yang bersifat global yang sedang menuju pada titik kehancuran.
Salah-satu pandangan berbeda tentang Dajjal, dikemukan Syeikh Muhammad al-Ghazāli dalam Kitab al-Sunnah al- Nabawiyyah bain Ahl al-Fiqh wa Ahl al-Hadits (terjemahan: Syaikh Muhammad al-Ghazali, Studi Kritik Atas Hadis Nabi SAW. Antara Pemahaman Tekstual dan Kontekstual. Terj. Muhammad Al-Baqir, Bandung: Mizan, 1989, h. 1. Menurut Syaikh Muhammad al-Ghazali Dajjāl adalah seorang pemimpin Yahudi, mungkin salah satu ulama besar mereka, sosoknya adalah perwujudan jiwa kaum Yahudi yang terputus hubungan dengan Allah, bahkan memusuhi-Nya.Diantara puluhan karyanya yang terkenal adalah: Kaifa Nata’amal Ma’a Al-Quran (Berdialog dengan Al-Qur’an).
Mohammed al-Ghazali menyebutkan bahwa Dajjal bertindak layaknya pemimpin Yahudi dan barangkali menjelma sebagai salah satu teolog atau pemikir terbesar mereka. Ia memiliki kecerdasan luar biasa, sangat fasih menggunakan narasi kitab suci, dan mampu memanipulasi hukum-hukum agama untuk menjustifikasi misinya. Di mata pengikutnya, ia akan terlihat seperti rabi atau ulama paling agung yang membawa kebenaran mutlak.
Menurut al Ghazali, bahwa sifat-i Dajjal itu terdapat pada karakteristik rabbi/ulama Yahudi (mekspun tidak semua), sebagaimana dijelaskan dalam al Quran “ … Yaitu orang-orang Yahudi, mereka mengubah perkataan dari tempat-tempatnya. mereka Berkata : “Kami mendengar”, tetapi kami tidak mau menurutinya…… :. (T.Q.S. An-Nisa’[4] : 46).
“Messiah yang Dijanjikan (al Masih)” dan “Dajjal : Al Masih Sang Pendusta”
Nama populernya adalah al-Masih ad-Dajjāl. Lafaz al-Masih mengandung dua makna kontradiktif. Al-Masih dapat berarti ash-shiddiq (yang benar/suka kepada kebenaran) dan ad-dhalil al-kadzdzab (yang sesat lagi pendusta). Maka Isa al-Masih adalah siddiq, sementara al-Masih ad-Dajjāl adalah ad-dhalil alkazzab.
Dalam kitab nihayah fī ghāribi al-atsar dijelaskan bahwa, ad-Dajjāl disebut dengan nama al-Masih salah satunya adalah disebutkan ia memiliki satu mata yang hilang (mamsuhah).
Secara eskatologis, kaum Yahudi menolak Nabi Isa AS (Yesus) sebagai Mesias. Hingga hari ini, mereka masih menantikan kedatangan sosok Mesias sejati (Mashiach) yang mereka yakini akan memimpin bangsa Yahudi menuju zaman keemasan (Golden Age), mendirikan kembali Bait Suci, dan menguasai dunia.
Ketika Dajjal muncul dengan segala keajaiban materi dan tipu dayanya, kaum Yahudi akan langsung mengangkatnya sebagai pemimpin tertinggi mereka karena mengira ia adalah Mesias yang selama ini dijanjikan. Oleh karena itu, di dalam Islam ia disebut Al-Masih ad-Dajjal (Mesias Palsu). Melalui otoritas kepemimpinannya, Dajjal akan mengontrol sistem dunia, mengendalikan pasokan makanan, dan mengatur cuaca melalui sihir atau manipulasi sains, sehingga memperkuat posisinya sebagai “pemimpin suci” di mata orang-orang yang tidak beriman.
Mashiach: al Masih yang Dijanjikan versi Kitab Yahudi
Bagi umat Yahudi, Mashiach bukanlah makhluk supranatural, bukan anak Tuhan, dan bukan pula nabi yang membawa agama baru.Menurut hukum dan literatur Yahudi, Mashiach adalah seorang manusia biasa yang lahir secara normal dari rahim seorang wanita. Hanya saja, Ia memiliki karakteristik sebagai berikut:Keturunan Raja Daud, Pemimpin yang Hebat: Ia adalah seorang pemimpin politik, militer, dan hakim yang sangat karismatik serta berani. Sangat Alim dan Saleh: Ia adalah seorang ahli Taurat yang menguasai hukum-hukum agama (Halakha) dan taat sepenuhnya kepada perintah Tuhan. Manusia Fana: Ia akan menua dan wafat seperti manusia biasa, lalu kepemimpinannya akan diteruskan oleh anak-cucunya.
Seorang tokoh baru bisa diakui secara sah sebagai Mashiach jika ia berhasil menyelesaikan misi-misi nyata di dunia fisik (bukan dunia spiritual). Misi tersebut meliputi: (a) Mengumpulkan Kembali Bangsa Yahudi: Ia akan membawa seluruh orang Yahudi dari pengasingan di seluruh penjuru dunia untuk kembali ke Tanah Israel (Aliyah). (b) Membangun Kembali Bait Suci (Third Temple): Ia akan mendirikan kembali Bait Allah yang ketiga di Yerusalem, di tempat yang sama di mana Bait Suci pertama dan kedua pernah berdiri. (c) Menegakkan Hukum Taurat: Ia akan mengembalikan sistem hukum Taurat dan pengadilan Sanhedrin sebagai hukum tertinggi di Israel. (d) Membawa Perdamaian Global: Ia akan mengakhiri semua perang, kebencian, dan kelaparan di dunia. Seluruh bangsa di bumi akan hidup berdampingan secara damai dan mengakui satu Tuhan yang Esa.
Rabi legendaris abad ke-12, Maimonides, menyusun kriteria ketat dalam kitabnya Mishneh Torah (Hilchot Melachim) untuk menyaring siapa yang berhak disebut Mashiach, yaitu: Mashiach Potensial (B’chezkath Mashiach): Jika ada seorang raja dari keturunan Daud yang tekun belajar Taurat, melaksanakan perintah agama, dan “memaksa” bangsa Israel untuk berjalan di jalan Tuhan, maka ia berpotensi menjadi Mesias. Kedua, Mashiach Pasti (Mashiach Vadai): Jika orang tersebut kemudian berhasil membangun Bait Suci di tempatnya dan mengumpulkan semua orang Yahudi yang tercerai-berai, barulah ia sah dan pasti merupakan Mashiach. Jika ia gagal atau terbunuh sebelum tugas ini selesai, maka ia dipastikan bukan Mashiach.
Sepanjang sejarahnya, bangsa Yahudi telah mengalami banyak masa penindasan, pengasingan, dan penderitaan. Di tengah situasi krisis tersebut, harapan akan datangnya sosok Mashiach (Mesias) sering kali memuncak. Hal ini memicu munculnya sejumlah tokoh yang mengklaim diri atau diklaim oleh pengikutnya sebagai Mesias.
Ketika gerakan mereka gagal dan terbukti tidak memenuhi kriteria Taurat, sejarah Yahudi mencatat mereka sebagai Mashiach Palsu (Pseudo-Messiahs). Dalam sejarah Yahudi, beberapa tokoh paling terkenal yang tercatat dalam sejarah, seperti:Simon bar Kokhba (Abad ke-2 M); Sabbatai Zevi (Abad ke-17 M); dan Jacob Frank (Abad ke-18 M).
Selama abad ke-8 hingga ke-12 M, di bawah kekhalifahan Islam, beberapa tokoh Yahudi juga muncul mengklaim sebagai Mesias karena terpengaruh dinamika politik Timur Tengah, seperti Abu Isa al-Isfahani (Abad ke-8 M): Muncul di Isfahan, Persia (Iran); dan David Alroy (Abad ke-12 M): Seorang rabi muda dari Kurdistan.
Zionisme Modern: Mesias Palsu” Sekuler
Gerakan Zionisme modern yang diinisiasi oleh Theodor Herzl pada akhir abad ke-19 memicu perdebatan teologis yang sangat sengit di kalangan Yahudi Orthodox. Bagi sebagian rabi Orthodox—khususnya kelompok Haredi (Ultra-Orthodox)—Zionisme sekuler dianggap sebagai bentuk penjelmaan modern dari “Mesias Palsu”.
Mereka tidak melihat Zionisme sebagai gerakan pembebasan, melainkan sebagai sebuah pembangkangan teologis terbesar terhadap kehendak Tuhan. Sebagian rabi Orthodox memandang Zionisme modern sebagai “Mesias Palsu” sekuler karena telah Merampas Otoritas Mashiach (Mesias). Tokoh-tokoh Zionisme awal mayoritas adalah orang-orang sekuler, sosialis, dan bahkan agnostik/ateis yang tidak taat hukum Taurat. Ketika gerakan sekuler ini mendirikan Negara Israel melalui jalur politik dan militer manusia, para rabi Orthodox melihatnya sebagai tindakan merampas tugas suci Mesias. Gerakan ini dianggap “memaksakan kehendak” tanpa menunggu waktu yang ditetapkan Tuhan.
Argumen teologis paling kuat yang digunakan oleh para rabi penentang Zionisme bersumber dari Talmud (Ketubot 111a), yang mencatat tiga sumpah suci antara Tuhan, bangsa Israel, dan bangsa-bangsa dunia selama masa pengasingan:
- Bangsa Israel bersumpah tidak akan merebut kembali Tanah Suci secara massal dengan kekuatan militer (“walling in the wall“).
- Bangsa Israel bersumpah tidak akan memberontak melawan bangsa-bangsa non-Yahudi yang menguasai mereka selama di pengasingan.
- Tuhan bersumpah kepada bangsa-bangsa dunia agar mereka tidak menindas bangsa Israel secara berlebihan.
Zionisme modern dinilai telah melanggar sumpah pertama dan kedua. Bagi para rabi, mendirikan negara dengan kekuatan politik manusia sebelum waktunya adalah dosa besar yang justru akan mendatangkan malapetaka.
Mengganti Agama dengan Nasionalisme
Para rabi Orthodox memandang bahwa esensi utama dari identitas Yahudi adalah Taurat dan spiritualitas, bukan tanah air atau batas negara fisik. Zionisme sekuler dianggap mengubah definisi Yudaisme: dari sebuah komunitas iman yang terikat hukum Tuhan, menjadi sekadar sebuah nasionalisme sekuler (bangsa modern seperti Prancis atau Inggris). Penggeseran fokus dari “Tuhan” ke “Negara” ini dinilai sebagai bentuk penyembahan berhala modern (idolatry).
Penolakan ini melahirkan beberapa faksi besar dalam Yahudi Ultra-Orthodox yang sangat anti-Zionis:, yaitu Sekte Satmar Hasidut: Didirikan oleh Rabi Joel Teitelbaum (penulis kitab Vayoel Moshe). Beliau secara ekstrem menyatakan bahwa pendirian Negara Israel adalah konspirasi setan dan menganggap Holocaust terjadi sebagai hukuman Tuhan karena bangsa Yahudi mulai tergiur dengan ide-ide Zionisme sebelum Perang Dunia II. Kedua, Neturei Karta: Kelompok kecil Orthodox di Yerusalem yang secara aktif melakukan protes internasional menolak eksistensi Negara Israel. Mereka menolak menggunakan mata uang Shekel, tidak mau membayar pajak ke pemerintah Israel, dan mendukung kedaulatan Palestina karena meyakini bahwa kedaulatan Yahudi di tanah tersebut ilegal sebelum kedatangan Mesias.
Kitab Vayoel Moshe (diterbitkan pada tahun 1961) adalah karya monumental Rabi Joel Teitelbaum, pemimpin tertinggi (Rebbe) dari dinasti Hasidut Satmar. Kitab berbahasa Ibrani ini merupakan manifesto teologis paling otoritatif, sistematis, dan radikal yang digunakan oleh kaum Yahudi Ultra-Orthodox (Haredi) untuk menolak eksistensi Negara Israel dan ideologi Zionisme.
Rabi Joel Teitelbaum menulis kitab ini pasca-Holocaust dan pendirian Negara Israel untuk memberikan argumen hukum Yahudi (Halakha) bahwa Zionisme adalah dosa terbesar dalam sejarah Yahudi.Rabi Teitelbaum menyerang pemikiran kaum Zionis Religius yang menganggap berdirinya Israel adalah Atchalta De’geulah (awal dari proses penebusan Mesias). Menurut kitab ini, penebusan dosa dan kembalinya bangsa Yahudi ke Tanah Suci harus bersifat supranatural, ajaib, dan dipimpin oleh Mashiach yang saleh atas perintah langsung dari Tuhan.Kedua, Mendirikan negara melalui badan sekuler seperti PBB dan dipimpin oleh politisi yang tidak taat hukum Taurat (seperti David Ben-Gurion) dinilai sebagai penghinaan terhadap Tuhan. Beliau menyebut Negara Israel sebagai “Pekerjaan Setan” (Ma’aseh Satan) yang dirancang untuk menjauhkan umat Yahudi dari agama.
Kitab ini memberikan panduan praktis (fatwa hukum) bagi umat Yahudi yang tinggal di Tanah Suci untuk melakukan pemisahan total dari sistem negara:Haram Ikut Pemilu: Pengikut Satmar dilarang keras ikut memilih (voting) dalam pemilu Knesset (Parlemen Israel).Menolak Dana Pemerintah: Lembaga pendidikan (Yeshiva) dan sekolah Satmar dilarang menerima bantuan dana atau subsidi sepeser pun dari pemerintah Israel agar tidak terkena “najis” dari uang negara sekuler. Menolak Wajib Militer: Anggota komunitas diharamkan bergabung dengan militer Israel (IDF).
Melalui Vayoel Moshe, Rabi Satmar berhasil membangun doktrin bahwa menentang Negara Israel adalah kewajiban agama yang paling tinggi demi menjaga kemurnian iman Yahudi. Kitab ini menjadi alasan mengapa hingga saat ini, puluhan ribu pengikut Hasidut Satmar di Williamsburg (New York) dan lingkungan Mea Shearim (Yerusalem) hidup mengisolasi diri dan secara konsisten menolak mengakui kedaulatan Israel.
Berdasarkan sintesis referensi tentang Dajjal menurut versi Islam dan Yahudi sendiri dapat kita simpulan bahwa fenomena sosok Dajjal Sang Pembohong sejatinya sudah hadir hari ini, terutama dengan kehadiran Negara Zionisme Israel yang didukung AS untuk menguasai dunia. Bukan itu saja, karena didalam hadits disebutkan bahwa dajjal-dajjal dan pengikutnya ini banyak jumlahnya berarti bukan hanya ada di Amerika, Eropa, dan Asia, yang juga termasuk di Indonesia dengan perwujudan elit pemimpin dan konsep nasionalisme sekulernya.






Leave a Reply