MENDINGAN DIKUNYAH SAJA
Oleh:
Ganjar Kurnia
Terasjabar.co – Seperti kerah baju pejabat, yang hendak difoto untuk “name tag”, di sebuah negeri entah dimana, ada cerita tentang hukum yang tidak lagi ditegakkan, tapi seperti ditegak-tegakkan.
Negeri itu memiliki banyak penegak hukum. Ada penegak hukum berseragam cokelat, penegak hukum berjubah hitam, penegak hukum berdasi, penegak hukum yang membawa map merah, biru, kuning, dan warna lainnya, sesuai dengan jumlah partey peserta Pemilu.
Semuanya mengaku paling tegak. “Lembaga kami berdiri paling lurus,” kata Kepala Lembaga A dalam konferensi pers. “Keliru,” jawab Kepala Lembaga B. “Menurut hasil pengukuran kami, lembaga Anda miring hampir tujuh puluh derajat ke arah kepentingan.” Lembaga C tidak mau kalah. Mereka mendatangkan tukang bangunan untuk mengukur ketegakan kedua lembaga itu dengan waterpas. Hasilnya mengejutkan. Semua lembaga ternyata miring. Tetapi konferensi pers menyimpulkan, bahwa yang miring adalah kamera wartawan.
Perseteruan bermula dari seekor kambing. Kambing itu ditemukan sedang memakan dokumen penting di halaman sebuah kantor penegak hukum. Dokumen tersebut konon berisi daftar nama besar, nama kecil, nama samaran, nama panggilan, serta beberapa nama yang tidak tercatat di kartu keluarga.
Lembaga A mengatakan kambing adalah saksi kunci.
Lembaga B menyebutnya barang bukti.
Lembaga C menegaskan bahwa kambing tersebut Adalah tersangka utama, karena telah menghilangkan dokumen negara dengan cara dikunyah.
Pengacara kambing membantah:
“Klien kami hanya menjalankan naluri herbivora”. “Tidak ada unsur kesengajaan. Lagi pula, dokumennya memang berbau rumput.” katanya.
Sejak itulah ketiga lembaga saling serang. Lembaga A menangkap pegawai Lembaga B; Lembaga B memeriksa penyidik Lembaga A; Lembaga C memanggil pimpinan keduanya;
Lembaga D, yang sebenarnya tidak tahu apa-apa, ikut mengadakan konferensi pers agar tidak dianggap kehilangan perhatian.
Setiap hari, rakyat menyaksikan tontonan baru. Hari Senin, seorang pejabat diborgol; Hari Selasa, pemborgolnya diperiksa; Hari Rabu, pemeriksanya dilaporkan; Hari Kamis, pelapornya ditetapkan sebagai pihak yang perlu dimintai keterangan; Hari Jumat, semua pihak salat berjamaah di barisan paling depan.
Setelah itu mereka kembali saling menggeledah. Penggeledahan bahkan seperti pertandingan olahraga nasional. Ada geledah cepat, geledah tepat, geledah artistik, dan geledah estafet. Dalam geledah estafet, satu lembaga menggeledah kantor lembaga lain, lalu lembaga yang digeledah membalas dengan menggeledah rumah dinas pihak pertama. Barang yang disita bermacam-macam: telepon genggam, laptop, flashdisk, kuitansi, buku tabungan, gunting kuku, minyak kayu putih, dua biji jeruk, dan sebuah kalender tahun lalu. Kalender itu dianggap penting karena terdapat tanggal yang dilingkari.
“Ini petunjuk kuat,” kata penyidik.
“Tanggal ulang tahun istri ke dua saya, Pak” jawab pemilik rumah.
“Justru itu,” kata penyidik. “Mengapa ulang tahun isteri kedua harus dirayakan dan diberi kado mobil mewah?”
Rakyat mulai bingung. Mereka tidak tahu siapa menangkap siapa, siapa menyidik siapa, dan yang paling memusingkan, siapa yang sebenarnya sedang membela hukum.
Di warung kopi, seorang pensiunan guru berkata, “Mungkin hukum sedang masuk angin.” Pemilik warung mengangguk. “Pantas pada saling kerokan.”
Di televisi, para pengamat hukum bermunculan. Mereka duduk melingkar seperti peserta arisan konstitusi. Seorang pengamat berkata bahwa konflik antar lembaga merupakan dinamika biasa. Pengamat kedua mengatakan ini bukan dinamika, melainkan disharmoni kelembagaan. Pengamat ketiga menyebutnya turbulensi yuridis. Pengamat keempat menyebutnya perang bintang. Pengamat kelima tidak sempat berbicara karena waktu acara habis untuk iklan obat sakit kepala.
Malam berikutnya, debat dilanjutkan. Moderator bertanya, “Apakah ini bentuk pelemahan hukum?” Semua narasumber menjawab, masing-masing selama tujuh belas menit. Tidak ada yang dapat dipahami, tetapi rating acara meningkat.
Sementara itu, di Istana, dibentuklah Tim Khusus untuk Menyelidiki Tim Khusus yang sebelumnya dibentuk untuk mengawasi Tim Gabungan. Tim itu terdiri atas tokoh independen.
Rapat pertama berlangsung di hotel berbintang. Agendanya menentukan warna map.
Sebagian memilih merah sebagai simbol keberanian. Sebagian memilih putih sebagai simbol kesucian. Sebagian mengusulkan transparan sebagai simbol keterbukaan. Akhirnya dipilih map hitam karena tidak mudah terlihat kotor.
Di luar ruang rapat, wartawan menunggu kesimpulan. Ketua tim berkata, “Kami sepakat bahwa persoalan ini harus diselesaikan secara komprehensif, objektif, transparan, akuntabel, dan berkeadilan.” Wartawan bertanya, “Maksud konkretnya apa?” Ketua tim menatap langit-langit. “Itulah yang akan kami rumuskan pada rapat berikutnya.”
Di tengah keributan itu, hukum sendiri akhirnya menghilang. Ia terakhir terlihat, duduk sendirian di halte, membawa koper kecil dan mengenakan kacamata hitam.
Seorang tukang ojek bertanya,
“Mau ke mana, Pak Hukum?” “
Pergi sebentar,” jawab hukum.
“Kenapa?”
“Saya lelah dijadikan alasan oleh orang-orang yang tidak pernah bertanya bagaimana keadaan saya.”
“Tidak takut dianggap melarikan diri?” Hukum tersenyum pahit.
“Yang melarikan diri biasanya bukan saya. Saya malah yang sering ditinggalkan.”
Keesokan harinya, semua lembaga mengumumkan sedang mencari hukum. Foto hukum disebarkan ke seluruh negeri. Namun gambarnya berbeda-beda.
Bagi lembaga A, hukum tampak tegas dan berkumis.
Bagi lembaga B, hukum memakai toga.
Bagi lembaga C, hukum membawa timbangan.
Bagi rakyat kecil, hukum hanya tampak seperti pintu tinggi dengan biaya masuk.
Pencarian berlangsung berbulan-bulan. Akhirnya, hukum ditemukan di sebuah kampung terpencil. Ia sedang membantu seorang nenek menyelesaikan sengketa batas kebun tanpa konferensi pers, tanpa kamera, dan tanpa rompi khusus.
Ketika rombongan pejabat datang, hukum langsung bersembunyi di balik pohon pisang.
“Mengapa Anda menghindar?” teriak seorang pejabat. Hukum menjawab dari balik daun:
“Karena setiap kali kalian menemukan saya, kalian segera memperebutkan siapa yang paling berhak memiliki saya.”
Semua terdiam. Hanya kambing saksi kunci yang terus mengunyah. Kali ini, yang dikunyahnya adalah naskah pidato berjudul Sinergitas Antar-Penegak Hukum demi Keadilan dan Kepastian Hukum. Tidak seorang pun mencoba menghentikan kunyahannya. Mungkin mereka sadar, naskah pidato itu memang lebih bergizi bila dimakan kambing daripada disampaikan kepada rakyat.






Leave a Reply