Gubernur Bukan Raja: Atavisme Birokrasi dan Bahaya Kultus Individu di Jawa Barat

Oleh:
Nunu A. Hamijaya
(Sejarawan publik/ Alumni IKIP Bdg/Anggota MPUII/Pusat Studi Sunda-PSS Bandung)

Di tengah tuntutan modernisasi pemerintahan dan akuntabilitas publik, Jawa Barat justru mengalami kemunduran simbolik dalam praktik politik kekuasaan. Fenomena ini tercermin dari gaya kepemimpinan Gubernur Jawa Barat, KDM, yang secara konsisten mencitrakan dirinya sebagai figur tunggal penggerak perubahan, seolah-olah ia adalah Raja Siliwangi modern.

Melalui video-video harian yang diunggah dan disebarluaskan, sosok KDM tidak tampil sebagai pemimpin birokratik yang bekerja berdasarkan sistem dan tata kelola kelembagaan, melainkan sebagai figur karismatik yang bertindak “atas kehendaknya sendiri”, melampaui fungsi dan peran lembaga-lembaga formal seperti Bappeda, DPRD, serta dinas-dinas teknis yang seharusnya menjadi ujung tombak pembangunan berbasis data, partisipasi publik, dan kepastian hukum.

Atavisme Birokrasi: Menghidupkan Masa Silam di Era Modern

Atavisme adalah kembalinya pola-pola lama yang seharusnya telah ditinggalkan dalam evolusi sosial. Dalam konteks ini, gaya pemerintahan KDM mencerminkan bentuk “atavisme birokrasi”, yaitu regresi pada model pemerintahan feodalistik, personalistik, dan berpusat pada sosok tunggal pemimpin, alih-alih kolektif kelembagaan modern.

Dalam sejarah feodalisme Nusantara, termasuk narasi-narasi mitologis tentang Prabu Siliwangi, pemimpin dianggap sebagai titisan kebesaran, penguasa mutlak yang menjadi pusat kebenaran dan sumber hukum. Sayangnya, semangat ini seolah dihidupkan kembali oleh KDM dalam cara ia menampilkan dirinya di media sosial, dalam pengambilan keputusan, dan dalam pembangunan simbolik yang tidak melibatkan proses demokratis secara substantif.

Padahal, dalam sistem demokrasi modern, pemerintahan seharusnya bersandar pada prinsip checks and balances, tata kelola transparan, dan kolaborasi antara lembaga. KDM seolah melebur institusi negara ke dalam tubuhnya sendiri, sebagaimana Louis XIV pernah menyatakan, “L’État, c’est moi” — “Negara adalah saya.” Ungkapan ini justru merupakan antitesis dari semangat Revolusi Prancis yang ingin membebaskan rakyat dari absolutisme.

Bahaya Kultus Individu dalam Demokrasi Lokal

Apa yang sedang terjadi di Jawa Barat bukan sekadar gaya komunikasi, tetapi merupakan pembentukan kultus individu yang berbahaya bagi demokrasi lokal. Ketika seorang kepala daerah menjadi pusat segala keputusan, dan rakyat diarahkan untuk mencintai sosoknya alih-alih sistemnya, maka kita sedang berjalan mundur.

Kultus individu mengaburkan batas antara pemimpin dan institusi. Rakyat menjadi pengikut, bukan warga negara. Aparatur menjadi pelayan pribadi, bukan pelaksana kebijakan publik. Proses pembangunan kehilangan orientasi objektif dan menjadi sekadar panggung citra.

Gubernur bukanlah raja, melainkan pelayan rakyat. Bukan simbol absolutisme, tetapi pengelola sistem demokrasi yang berbasis hukum, data, dan musyawarah.

Pemantik Revolusi Sosial Baru di Jawa Barat?

Gaya pemerintahan yang personalistik ini bisa menjadi pemantik lahirnya kesadaran baru di tengah masyarakat Jawa Barat. Ketika rakyat mulai melihat bahwa sistem disubordinasi oleh figur, bahwa aspirasi dikalahkan oleh narasi personal, maka bibit perlawanan sosial akan tumbuh.

Dalam kerangka Revolusi Prancis, absolutisme seperti yang diklaim Louis XIV justru melahirkan badai revolusi. Rakyat menggugat dominasi individu atas negara. Jika pola serupa terus terjadi di Jawa Barat, maka kita bisa menyaksikan gelombang protes sosial dan tuntutan perubahan struktural dalam waktu dekat.

Modernisasi pemerintahan tidak bisa dibangun di atas puing-puing feodalisme baru. Masyarakat Jawa Barat membutuhkan pemimpin yang tidak hanya karismatik, tetapi juga sadar akan batas-batas konstitusionalnya. Butuh sistem, bukan hanya simbol.

Membangun Jawa Barat, Bukan Memuja Pemimpinnya

Sudah saatnya kita memisahkan antara pencitraan dan pemerintahan. Antara sosok pemimpin dan sistem yang menopangnya. Antara narasi mitologis dan realitas pembangunan.

Jawa Barat bukan kerajaan. Gubernurnya bukan Prabu. Dan rakyatnya bukan pengikut yang harus bersujud pada narasi personal. Kita adalah warga negara yang berhak mendapatkan tata kelola yang rasional, partisipatif, dan akuntabel.

Jika kita membiarkan atavisme birokrasi tumbuh tanpa kritik, maka masa depan demokrasi lokal kita akan dikuasai oleh romantisme masa silam, bukan harapan masa depan.

Bagikan :

Leave a Reply

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

10 + 13 =

Pengalaman Pengguna Game Penghasil Saldo DANA Lebih Cepat Adaptif Dan Efisien Dibawa Oleh Inovasi Teknologi
Pergeseran Mutu Produksi Kosmetik Terdeteksi Lebih Akurat Berkat Aliran Data Langsung
Pengalaman Pengguna Semakin Responsif Adaptif Dan Efisien Berkat Perkembangan Teknologi Modern
Momentum Tetap Terarah Dan Terkendali Dipertahankan Melalui Taktik Mode Pemburu Sic Bo Live
Keputusan Tetap Terukur Dalam Game Online Dipertahankan Melalui Pengelolaan Modal Cerdas
Kapitalisasi Pasar Dan Inovasi Kasino Online Berubah Di Tengah Disrupsi Teknologi Modern
Strategi Baru Untuk Meningkatkan Keunggulan Kompetitif Dibuka Melalui Business Model Canvas Mahjong Ways
Kualitas Sistem Mahjongways Kasino Online Dipahami Melalui Identifikasi Nilai Pembayaran Game Penghasil Saldo DANA
Perspektif Baru Dalam Menganalisis Perkembangan Mahjong Ways Dibuka Melalui Modernisasi Strategi
Kasino Menjadi Studi Sistem Informasi Bagi Mahasiswa Melalui Pelatihan Enterprise Architecture
Mahjongways Kasino Online Dijadikan Acuan Strategi Marketing dalam Lingkungan Pemerintahan
Keamanan Informasi Jadi Fondasi Utama Layanan Konsultasi Kosmetik Berbasis Teknologi
Teknologi Pemantauan Membantu Mengukur Frekuensi Pembayaran secara Lebih Objektif dan Terukur
Kajian Statistik Pola RTP Menyoroti Perkembangan Teknologi Neural Sintetis Regulatoris
Simulasi Statistik Membuka Pendekatan Baru Memahami Mahjong Game Sungai Penuh secara Terukur
Statistik Objektif Membantu Membaca Pola Mahjong Game Sungai Penuh dengan Lebih Rasional
Strategi Mahjong Game Sungai Penuh Makin Terarah melalui Pendekatan Statistik Modern
Pendekatan Data Objektif Membantu Mengkaji Mahjong Game Saldo DANA Sungai Penuh secara Lebih Terstruktur
Mahjong Game Sungai Penuh Dikaji lewat Simulasi Statistik untuk Membaca Pola Aktivitas
Aturan Mahjong Digital dari Dua Kartu Awal hingga Penentuan Rentang Nilai Game Penghasil Saldo DANA
Pendekatan Adaptif MahjongWays Kasino Online Membantu Menjaga Keseimbangan Anggaran Hiburan
Kemunculan Simbol Unik MahjongWays Kasino Online Perlu Dibaca Secara Lebih Rasional
Mahjong Ways Menarik Minat Pemain di Tengah Ketatnya Persaingan Game Digital
Pengaturan Tempo MahjongWays Kasino Online Tidak Menentukan Munculnya Kombinasi Khusus
Starlight Princess Kembali Merebut Perhatian Pemain MBG Berkat Daya Tariknya
Membaca Pola Mahjong Ways dan Tren Permainan Lewat Data Saldo DANA Terbaru
Disiplin Mental MahjongWays Kasino Online Membantu Mencegah Keputusan Finansial yang Terlalu Impulsif
Mengenal Sweet Bonanza sebagai Game Digital Online dengan Tema Manis yang Menarik
Rotasi Awal MahjongWays Kasino Online Bukan Tolok Ukur Kemurahan Sistem Permainan
Menelusuri Strategi Terbaik dalam Bermain Game Penghasil Saldo DANA Secara Lebih Mendalam