Politik Historiografi, Psikologi Sosial Postmodernisme dan PERSIB
Oleh:
Nunu A. Hamijaya
(Sejarawan Publik-Pusat Studi Sunda)
Terasjabar.co – Saya masih suka nonton PERSIB saat Robi Darwis, Ajat Sudrajat dan Sutiono berlaga di rumput hijau. Setelah itu absen, sesekali saja membaca beritanya termasuk saat ini jadi juara 2026. Tidak anti sepakbola sebagai olahraga tapi rupanya perkembangan sudah sangat jauh, bukan saja sebagai industri terbesar yang paling populis dengan aliran dana triliunan rupiah/dolar.Dalam duapuluh lima tahun terakhir, sudah menjadi trend ‘agama baru’ yang membuat fanatismenya bahkan melebihi fanatisme yang ekstrem dan salah seperti terorisme yang juga framing Barat Islamphobia itu.
Sebelum jauh, kita setback untuk membaca sepakbola dalam konteks sejarahnya. Sejarah sepakbola modern dimulai dari Inggris tahun 1863, lalu sepakbola dibawa penjajah Belanda ke negeri ini tahun 1914 berbarengan dengan kebijakan politik etis yg dikembangkan untuk melakukan kaderisasi sekularisme bangsa Hindia Timur (Indonesia), ditandai dgn berdirinya sekolah-sekolah Belanda, HIS, MULO, AMS dan OSVIA.
Persib Bandung lahir pada 14 Maret 1933 melalui semangat nasionalisme kaum pribumi untuk menyaingi hegemoni klub-klub sepak bola milik orang-orang Eropa di era kolonial Hindia Belanda. Berawal dari perkumpulan BIVB, kehadiran Persib menjadi simbol perlawanan dan kebanggaan masyarakat Sunda
Koran lama Hindia Belanda bernama Algemeen Indisch dagblad: de Preangerbode, edisi 5 September 1950.
“Dalam rangka kongres Persatuan Sepakraga Seluruh Indonesia (PSSI) yang diadakan di Semarang tahun lalu, di sana berlangsung pertandingan sepak bola antarkota yang mempertemukan tim gabungan Soerabaja (Persibaja) dan Semarang (PSIS), lanjut Djakarta (Persidja) dan Bandoeng (Persib),” tulis Algemeen Indisch dagblad: de Preangerbode seperti dikutip detikJabar, Jumat (24/3/2023).
Koran Hindia Belanda Algemeen Indisch dagblad: de Preangerbode memuji keberanian Persib saat melawan Persebaya pada laga final. Terlebih lagi, Persib mampu mencetak dua gol ke gawang Persebaya yang kala itu merupakan juara kompetisi VUVSI/ISNIS 1950.
Koran itu juga menulis, “Sebuah kata penghargaan untuk tim Persib yang berani. yang bisa menyebut dirinya juara Jawa dengan ini, tentu cocok di sini. Koran Hindia Belanda Algemeen Indisch dagblad: de Preangerbode memuji keberanian Persib saat melawan Persebaya pada laga final. Terlebih lagi, Persib mampu mencetak dua gol ke gawang Persebaya yang kala itu merupakan juara kompetisi VUVSI/ISNIS 1950.
Sepakbola di Barat: Fanatisme dan The New Religion
Fenomena sepak bola sebagai “agama baru” di dunia Barat merupakan analogi sosiologis yang nyata. Di tengah tren sekularisasi, masyarakat Barat banyak yang meninggalkan institusi keagamaan tradisional dan mengalihkan kebutuhan spiritual, identitas kelompok, serta ritual komunal mereka ke dalam stadion sepak bola.
Di Barat fanatisme sepakbola sudah menjadi “agama baru” (implicit religion atau pseudo-religion) karena runtuhnya narasi besar (grand narratives) di era modern, yang membuat manusia mencari makna, identitas, dan sakralitas baru melalui sepakbola. Psikologi postmodern, yang berakar dari pemikiran tokoh seperti Jean-François Lyotard, melihat adanya kematian narasi besar (seperti agama tradisional atau ideologi politik besar). Kondisinya, manusia postmodern Barat mengalami kekosongan eksistensial.Sepakbola hadir mengisi kekosongan tersebut dengan menawarkan struktur yang mirip dengan agama. Stadion berubah menjadi “tempat ibadah”, pertandingan menjadi “ritual”, dan lagu kebangsaan klub (hymn) menjadi “puji-pujian”.
Batas antara kenyataan dan fantasi menjadi kabur. Fenomena ini disebut hiperrealitas.Simbol Lebih Nyata: Logo klub, jersey, dan warna tim bukan lagi sekadar identitas visual, melainkan simbol sakral.Pemujaan Tokoh: Pemain bintang (seperti Maradona atau Messi) tidak lagi dilihat sebagai manusia biasa, melainkan disimulasikan sebagai “Dewa” atau “Nabi” (contoh ekstrem: Iglesia Maradoniana atau Gereja Maradona di Argentina).
Sosiolog postmodern Michel Maffesoli, misalnya mengenalkan konsep neo-tribalism, di mana manusia postmodern yang terisolasi secara sosial cenderung membentuk “suku-suku baru” yang cair berbasis minat.Peleburan Ego: Di dalam stadion, identitas pribadi (pekerjaan, kelas sosial, ras) melebur.Komunitas Sakral: Fanatisme sepakbola memberikan rasa memiliki (belonging) yang intim, mirip dengan ikatan persaudaraan keagamaan (simpatisan iman).
Ritualisme dan katarsis emosional dalam agama rupanya ditiru Sepakbola secara sempurna: Kolektivitas: Koreografi penonton, yel-yel yang serempak, dan ketegangan bersama menciptakan apa yang disebut sosiolog Émile Durkheim sebagai collective effervescence (gairah kolektif).Katarsis: Pertandingan menjadi ruang sakral untuk meluapkan emosi ekstrem, kegembiraan surgawi saat menang, dan duka mendalam saat kalah, yang sulit didapatkan di kehidupan sehari-hari yang monoton.kacamata psikologi postmodern, fanatisme sepakbola bukanlah sekadar hobi atau hiburan murni. Ia adalah sebuah manifestasi psikologis dari manusia modern yang haus akan komunitas, spiritualitas, dan pelarian dari realitas, menjadikannya agama sekuler yang sangat kuat di abad ini.
Dampak Psikologis Negatif & Radikalisme (Hooliganisme)
Ketika sepakbola diadopsi sebagai “agama baru”, fanatisme ekstrem memicu distorsi psikologis berbahaya. Muncuknya gejala akut yang disebut Deindividuasi (Kehilangan Jati Diri): Saat berada di dalam kelompok (tribal), kesadaran moral personal individu sering kali melebur ke dalam identitas kolektif. Seseorang yang sehari-harinya tenang bisa berubah menjadi brutal karena merasa “anonim” dan terlindungi oleh massa penonton lain.
Menguat menjadi,Kultus Eksklusivisme (In-Group vs Out-Group Bias): Seperti halnya radikalisme agama yang membagi dunia menjadi “kami yang selamat” dan “mereka yang sesat”, hooliganisme memandang kelompok lawan sebagai musuh eksistensial. Menyerang kelompok lawan tidak lagi dianggap sebagai kriminalitas, melainkan sebuah “perang suci” demi membela kehormatan klub. Ketiga, berkembang sebagai bentuk Anomi dan Kompensasi Eksistensial: Banyak pelaku hooliganisme berasal dari kelas sosial yang terpinggirkan secara ekonomi atau sosial. Bagi mereka, sepakbola adalah satu-satunya ruang di mana mereka merasa memiliki kuasa, harga diri, dan arti hidup. Kemenangan klub menjadi kompensasi atas kegagalan hidup pribadi mereka.
Pada akhirnya, terjadilah Eksploitasi Katarsis Mediatik: Dalam dunia postmodern yang serba digital, kekerasan hooligan sering kali sengaja diproduksi dan disebarkan di media sosial untuk mendapatkan pengakuan (simulakra kekuasaan). Kekerasan bukan lagi dampak sampingan, melainkan “ritual utama” untuk menunjukkan superioritas iman mereka terhadap klub.
Bobotoh Persib dalam studi Psikologi Post-Modernisme
Hingga saat ini, sejauh yang oenulis tahu (mohon dikoreksi) belum ada disertasi yang secara khusus membahas tentang fenomena Bobotoh Persib dalam perspektif psikologi sosial. Beberapa tesis sudah ditulis, seperti tesis UPI, Arya Destian. Penelitian ini berfokus pada “Pembentukan Identitas Sosial Bobotoh Persib Bandung Melalui Keterlibatan Sosial Dan Politik”. Menggunakan sudut pandang bagaimana psikologi kelompok (komunitarianisme) membentuk kesadaran individu di dalam jaringan suporter. Tesis Monash University (Australia): Ditulis oleh peneliti Indonesia mengenai “Globalised football fandom: identity of Viking, Persib Bandung supporters”. Tesis ini membedah bagaimana identitas massa Bobotoh (khususnya Viking) bergeser dari sekadar kelompok kumpul informal menjadi gerakan kultural dan komersial global.
Beberapa artikel jurnal ilmiah, misalnya pada Jurnal Ilmu Psikologi Dan Kesehatan) yang meneliti “Hubungan Antara Fanatisme Dengan Agresivitas Pada Suporter Sepak Bola Persib Bandung”. Penelitian sejenis menggunakan instrumen psikologi seperti Buss-Perry Aggression Questionnaire untuk melihat bagaimana identitas kelompok memicu perilaku menyerang. Riset di Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Gunung Djati Bandung meneliti “Hubungan Kontrol Diri dan Agresivitas pada Suporter Persib Bandung”. Studi psikologi massa ini membuktikan secara statistik bahwa peleburan individu ke dalam massa Bobotoh menurunkan kontrol diri dan menaikkan potensi amuk massa (deindividuasi)
Dalam kacamata Psikologi Postmodern, Bobotoh sebagai potret manusia modern akhir yang mengalami krisis identitas, lalu membentuk ekosistem spiritual baru berbasis budaya populer. Persib tidak lagi sekadar klub sepakbola, melainkan sebuah instrumen teologis, ruang pelarian, dan produsen makna hidup.
Dalam masyarakat postmodern, terjadi apa yang disebut sekularisasi agama tradisional, tetapi di saat yang sama terjadi “sakralisasi” hal-hal sekuler.
- Sistem Kepercayaan: Bagi seorang Bobotoh, frasa “Persib Jiwa Raga Kami” bukan sekadar slogan, melainkan syahadat kultural.
- Doktrinasi Sejak Dini: Anak-anak di Jawa Barat sering kali mengalami “baptisan budaya” menjadi Bobotoh oleh orang tua mereka jauh sebelum mereka memahami taktik sepakbola. Bobotoh menjadi identitas bawaan (given identity), mirip dengan bagaimana seseorang lahir ke dalam sebuah agama.
- Dosa dan Kemurtadan: Mendukung klub rival (seperti Persija) di tanah Pasundan dipandang sebagai tindakan heresi (kesesatan) atau murtad kultural yang berujung pada sanksi sosial yang berat.
Postmodernisme menekankan bahwa manusia saat ini lebih menyembah “simbol” ketimbang realitas itu sendiri. - Simbol Lebih Nyata dari Realita: Warna biru, logo Persib, dan atribut Viking/Bomber bertransformasi menjadi objek sakral (totem). Saat Bobotoh memakai jersey Persib, psikologi mereka mengalami perubahan: mereka merasa sedang memakai “baju zirah” yang membawa nama besar harga diri seluruh orang Sunda.
- Dunia Digital sebagai Medan Perang: Di era postmodern, perseteruan antarsuporter (misal: di platform X atau Instagram) sering kali jauh lebih intens dan emosional daripada pertandingan 90 menit di lapangan. Realitas buatan di media sosial (meme, saling ejek, perang narasi) dianggap sebagai realitas mutlak yang menggerakkan emosi massa di dunia nyata.
Psikologi modern mengotak-ngotakkan manusia berdasarkan kelas ekonomi, pendidikan, atau jabatan. Postmodernisme menolak itu dan mengenalkan konsep neo-tribalism (suku-suku baru yang cair).
- Peleburan Kelas Sosial: Di dalam tribun stadion (GBLA atau Si Jalak Harupat), status sosial seorang Bobotoh runtuh. Seorang direktur perusahaan, mahasiswa, buruh pabrik, hingga pengangguran melebur menjadi satu suku (tribe).
- Solidaritas Cair: Ikatan ini sangat emosional tetapi cair. Mereka bisa tidak saling kenal nama, tetapi psikologi kolektif mereka terikat sangat kuat oleh satu ritus: mendukung Persib.
Kehidupan manusia urban postmodern penuh dengan tekanan ekonomi, kejenuhan kerja, dan alienasi (keterasingan) sosial. Stadion Persib berfungsi sebagai ruang terapi masal. - Kondisi Trans (Trance): Melalui koreografi searah, nyanyian chant yang diulang-ulang selama 90 menit, dan tabuhan drum, ego individu Bobotoh larut.
- Katarsis Kolektif: Kondisi ini menghasilkan letupan emosi suci (collective effervescence). Stadion menjadi satu-satunya tempat sah di mana mereka boleh menangis berpelukan dengan orang asing, berteriak histeris, dan meluapkan seluruh represi psikologis yang mereka pendam dalam kehidupan sehari-hari.
Jika psikologi modern melihat Bobotoh sebagai satu massa yang seragam, psikologi post-modern melihat adanya fragmentasi (perpecahan internal yang kreatif).
- Di dalam tubuh Bobotoh sendiri lahir sub-kultur baru yang saling mengadopsi budaya global, seperti kelompok Casuals (mengadopsi gaya suporter Inggris/Eropa utara yang necis tanpa atribut mencolok) atau Ultras (gaya Italia dengan koreografi megah).
- Ini menunjukkan bahwa manusia postmodern menggunakan Persib sebagai kanvas putih untuk mengekspresikan pencarian identitas psikologis dan estetika global mereka sendiri.
Dengan demikian, dalam perspektif Postmodern, Bobotoh Persib bukanlah sekadar fanatisme buta yang irasional. Ia adalah mekanisme pertahanan psikologis masyarakat Jawa Barat dalam menghadapi gempuran modernisasi global. Dengan menjadi Bobotoh, mereka berhasil mempertahankan akar kebudayaan lokal (local wisdom) yang dibungkus secara modern, sekaligus mendapatkan pasokan makna hidup dan spiritualitas baru yang tidak mereka temukan di tempat lain.
Refleksi dan Introspeksi
Hobi, fanatisme, kesenangan, euforia manusia yang merupakan gharizah/insting adalah celah yang bisa dimasukkan oleh penjajah salibis zionis sejak Abad ke- 19 agar generasi Islam jauh dari fanatisme kepada Islam dan tidak ada greget untuk memenangkan Islam. Pada gilirannya era produktivitas generasi muda habis oleh hal-hal yang bersifat semu dan tidak bernilai apapun dihadapan Allah.
Sayang sekali memang waktu muda, potensi muda, tenaga/fikiran/semangat/keberanian/harta kaum muda muslim yang harusnya diprioritaskan untuk kemenangan Islam, tapi dialokasikan untuk kemenangan klub kebanggaan.
Inilah kecanggihan penjajah salibis Eropa Barat dalam mengacaukan pikiran dan jiwa kaum muslimin, mereka telah hengkang dari negeri ini secara fisik, tapi secara ideologi, sistem, hukum, budaya penjajahan mereka masih menancap kuat atas negeri ini. Sihir Football yang dibawa (penjajah) barat pada abad 19 Masehi telah berhasil melenakan Pemuda muslim dari tugas fungsi perannya. Fanatisme kepada Islam (Qs 3:19) sudah luntur digantikan fanatisme bendera/klub/suku/bangsa (Qs 30:32).
Izzah Islam wal muslimin (kebanggaan harga diri martabat Islam dan kaum muslimin digantikan dengan Izzah (kebanggaan harga diri martabat bendera/klub/suku/bangsa).
Hiruk pikuk pesta pora eforia kemenangan karena Izzah kebanggaan suku begitu bergema, ditengah-tengah aktifitas para pemuda yang asing/sepi/aneh/tidak dikenal dalam ikhtiar menegakkan kembali Izzah Islam wal muslimin.
“Islam datang dalam keadaan yang asing, akan kembali pula dalam keadaan asing. Sungguh beruntunglah orang yang asing” (HR. Muslim no. 145).






Leave a Reply