BEGAL
Oleh:
Ganjar Kurnia
Terasjabar.co – Malam turun ke jalan raya seperti pegawai kantor yang baru saja menerima surat pemotongan tunjangan: murung, lesu, dan menyimpan dendam kepada lampu-lampu kota. Bulan menggantung pucat di atas tiang listrik. Wajahnya seperti saksi kejahatan yang sudah tiga kali dipanggil polisi, tetapi selalu lupa nomor kendaraan pelaku. Bintang-bintang bersembunyi di balik awan. Mereka tahu, ada satu negeri, yang kalau menjadi saksi kadang lebih merepotkan daripada menjadi tersangka.
Di sebuah tikungan yang tidak masuk dalam anggaran penerangan jalan, seorang pengendara melaju sendirian. Motornya batuk-batuk. Knalpotnya mengeluarkan suara seperti anggota parlemen sedang interupsi: keras, panjang, tetapi tidak jelas maksudnya.
Ia baru pulang bekerja. Di dalam dompetnya hanya ada uang tiga puluh tujuh ribu rupiah, kartu identitas, kartu ATM yang saldonya tinggal cukup untuk melihat saldo, dan foto keluarga yang sudah agak pudar. Ia tidak membawa kekayaan. Ia hanya membawa kelelahan. Namun bagi begal, kelelahan tetap memiliki harga jual.
Dari balik kegelapan, dua sepeda motor muncul seperti tanda baca yang salah tempat. Empat orang berboncengan, wajah ditutup, tangan menggenggam sesuatu yang berkilat. Entah golok, entah pedang, entah alat pemotong masa depan.
“Berhenti!” Suara itu menghantam malam.
Pengendara berhenti. Bukan karena patuh, melainkan karena takut, merupakan rem paling pakem yang pernah diciptakan manusia.
“Serahkan motor!”
Pengendara menatap motornya. Motor tua itu dibelinya secara kredit selama tiga tahun. Motor itu bukan sekadar kendaraan. Ia adalah hasil perundingan panjang antara pendapatan, kebutuhan makan, sekolah anak, tagihan listrik, dan biaya pulsa.
“Motor ini masih kredit, Bang,” katanya gemetar.
Begal itu terdiam. Barangkali ia sedang menghitung apakah cicilannya dapat dialihkan.
“Berapa bulan lagi?”
“Sebelas bulan.”
Begal menggaruk kepala di balik helm. Suasana seperti kantor leasing. Begal kedua memeriksa kondisi motor. Lampu sein kanan mati. Spion kiri retak. Jok belakang sobek. Ban depan mulai botak. Pajaknya terlambat dua tahun.
Degan rasa kecewa, ia berkata pada temannya: “Motor begini mau dibegal?”
Pengendara merasa sedikit tersinggung. Ia memang takut kehilangan motor, tetapi ia juga tidak rela moton cicilannya dihina.
Begal menyalakan mesin. Motor itu batuk tiga kali, lalu mati. Begal pertama menendang ban: “Dompet!”
Dompet diserahkan. Isinya, tiga puluh tujuh ribu rupiah.
Begal memandang uang itu seperti pejabat memandang anggaran kebudayaan: terlalu kecil untuk diperhatikan.
“Hanya segini?”
“Tanggal tua, Bang.”
Begal mengangguk. Ia memahami tanggal tua adalah bahasa universal yang dimengerti penjahat, pegawai, pedagang, mahasiswa, kecuali para menteri, konglomerat, sultan dan mungkin anggota dewan.
Di kejauhan terdengar sirene. Begal panik. Mereka segera melesat meninggalkan pengendara, membawa dompet tiga puluh tujuh ribu rupiah serta rasa kesal. Namun sirene itu ternyata bukan mobil polisi. Itu mobil ambulans yang membawa korban begal dari jalan lain.
Malam kembali terdiam. Di kota itu, begal berkembang seperti usaha rintisan. Mereka tidak memiliki kantor, tidak membayar pajak, tidak mengadakan rapat tahunan, tetapi mempunyai target, pembagian wilayah, strategi operasi, dan sistem kerja malam. Bedanya dengan perusahaan resmi, hanyalah tidak memasang lowongan pekerjaan di internet. Tapi, mungkin suatu hari akan muncul iklan:
Dibutuhkan segera: tenaga begal muda, agresif, mampu bekerja dalam tekanan, memiliki kendaraan sendiri, bersedia ditempatkan di tikungan gelap. Pengalaman merampas menjadi nilai tambah.
Pelamar diminta membawa fotokopi ijazah, surat keterangan sehat, dan golok pribadi.
Di negeri yang lapangan kerjanya sempit, kejahatan sering membuka cabang. Anak-anak yang tumbuh di gang-gang sempit melihat dunia dari layar telepon genggam. Di layar itu, orang-orang memamerkan sepatu mahal, motor besar, liburan ke luar negeri, dan makan malam yang harganya cukup untuk membeli beras satu keluarga selama sebulan.
Ketika kemewahan menari di depan kemiskinan, jarak antara ingin dan mampu semakin lebar, maka di antara keduanya, begal bisa lahir dan menyebar.
Selain begal jalanan sesungguhnya ada jenis begal lain, yaitu begal uang negara. Mereka bekerja tidak berdiri di tikungan gelap, tapi bisa berjama’ah di ruangan terang, berpendingin udara, ada lambang negara, dan lukisan pahlawan. Mereka tidak membawa golok, tidak memakai penutup wajah. Wajahnya justru dicetak di kalender, dipasang di spanduk, ditampilkan dalam seminar, dan diberi pencahayaan yang membuat pori-porinya tampak nasionalis.
Sebelum membegal uang rakyat, mereka mungkin lebih dahulu berbicara tentang integritas, menjadi di seminar antikorupsi.
Begal jalanan membuat satu keluarga kehilangan motor. Tapi begal negara membuat berjuta rakyat bergulat dalam kemiskinan dan satu generasi kehilangan kesempatan. Begal jalanan melakukannya demi kelangsungan hidup sehari-hari anak isteri dengan jumlah yang tidak seberapa, sementara begal negara tidak jelas, demi keserakahan apa saja dan dengan jumlah uang, yang membuat kalkulator vertigo yang ahirnya nge”hang”.
Menurut Polda Jabar, begal jalanan boleh diselesaikan oleh masyarakat. Masyarakat dipersilakan untuk memberikan tindakan tegas dan terukur kepada para pelaku kejahatan jalanan tersebut (Pikiran Rakyat, 22 Juli 2026). Pertanyaannya, andai begal uang negara boleh diselesaikan juga oleh Masyarakat, enaknya dibagaimankan ya?






Leave a Reply