Air Mengalir Sampai Jauh
Oleh:
Ganjar Kurnia
Terasjabar.co – Di negeri syahdan yang suka kaget sebentar — lalu lupa panjang, terdengar kabar ada orang menerima setoran satu miliar rupiah per hari. Saya tidak tahu setoran itu, apakah datang pagi-pagi seperti tukang sayur, atau malam-malam seperti aktifis yang baru membaca undang-undang. Tapi yang jelas, angka itu membuat kalkulator rumah tangga “gigideug” (menggoyang kepala) lalu minta diruqyah.
Satu miliar sehari, bila sebulan, sekitar tiga puluh miliar. Bila setahun, tiga ratus enam puluh lima miliar. Itu belum termasuk hari libur nasional, cuti bersama, dan tanggal merah keagamaan yang rupanya tidak berlaku bagi arus uang gelap. Dalam keadaan seperti ini, malaikat pencatat amal dan dosa, jangan-jangan terpaksa harus mengganti bolpoin, karena tintanya habis sebelum azan zuhur.
Saya membayangkan uang itu berjalan. Mula-mula ia berupa niat di hatim pindah ke otak, lalu menjadi angka di layar, berubah menjadi amplop, koper, rekening, proyek, ucapan terima kasih, dana taktis, dana nonteknis, dana teknis yang terlalu nonteknis, atau sekadar “titipan”. Di negeri tersebut, kata “titipan” sering punya nasib yang aneh. Anak titipan bisa masuk sekolah. Barang titipan bisa lewat pemeriksaan. Uang titipan bisa kehilangan silsilah, tidak punya bapak, tidak punya ibu, tetapi tiba-tiba punya rumah mewah.
Tentu saja, menjadi kaya bukanlah dosa. Uang halal adalah keringat yang menemukan bentuk rupiah. Pengusaha sukses, pedagang tekun, petani cerdas, inovator tangguh, silakan menikmati hasilnya. Tetapi kalau uang datang sebagai “setoran”, kita perlu bertanya, sambil memegang dompet rakyat: ini setoran apa? Dari siapa? Untuk siapa? Apakah dicatat? Apakah dibayar pajaknya? Apakah ia lahir dari kerja, ataukah hasil dari jabatan yang diam-diam disewakan seperti kamar kos-kosan?
Kata “setoran” memang lembut. Ia tidak sekasar “suap”, tidak seprimitif “upeti”, tidak setelanjang “jatah”. Ia memakai parfum birokrasi. Masuk ke ruangan ber-AC, duduk sopan, tersenyum, lalu berkata: “Ini hanya bentuk apresiasi.” Padahal apresiasi yang terlalu besar biasanya bukan lagi apresiasi, melainkan cara halus untuk membeli pintu, jendela, kunci, berikut penjaga malamnya.
Hal lain yang menyedihkan, bukanlah hanya karena jumlahnya, tetapi cara kita mendengarnya. Dulu orang mendengar korupsi satu miliar seperti mendengar suara petir di siang bolong. Sekarang, kadang-kadang, kita hanya mengangkat alis, menyeruput kopi, lalu berkata, “Ah, sudah terjadi lagi.” Di situlah negeri syahdan mulai batuk. Korupsi paling berbahaya bukan ketika malingnya pintar, tetapi ketika penontonnya mulai kehilangan rasa heran.
Di desa, petani menunggu harga gabah naik seratus rupiah dengan harapan yang kurus. Di kota, guru honorer menghitung uang untuk bensin, sambil membaca ayat kesabaran. Pedagang kecil bangun sebelum subuh, menata dagangan, lalu sore hari pulang membawa untung yang kadang lebih tipis daripada kulit bawang. Sementara itu, di sebuah lorong kekuasaan, satu miliar rupiah mengalir setiap hari, seperti sungai mengalir menuju laut besar bernama rekening.
Rakyat kecil kalau menerima bantuan harus membawa KTP, KK, surat miskin, foto rumah, foto dapur, kadang harus membawa surat keterangan kesedihannya dalam map kumal. Tetapi uang gelap bisa berjalan, tanpa perlu nomor antrian, tidak perlu tanda tangan RT, tidak perlu surat keterangan sudah kaya. Ia cukup membawa kartu sakti yang dibuat sendiri: “kebijakan” .
Di negeri syahdan, korupsi sering punya bakat seni akting. Ia bisa menyamar menjadi proposal, menjadi fee, menjadi komitmen, menjadi biaya koordinasi bahkan bisa menyamar menjadi doa bersama. Kadang uang haram masuk melalui pintu belakang, lalu keluar dari pintu depan memakai batik, peci, dan senyum yang sangat nasionalis.
Setoran satu miliar sehari adalah cermin. Di depannya kita tidak hanya melihat wajah orang yang menerima. Kita juga melihat wajah sistem yang membiarkan, aparat yang terlambat terkejut, aturan yang dibuat seperti jaring tetapi bolongnya sebesar garasi, dan masyarakat yang kelelahan menertawakan luka sendiri. Mungkin karena itu, yang paling mahal di negeri tersebut bukan lagi tanah, emas, atau jabatan, tapi rasa malu. Sebab kalau rasa malu sudah hilang, uang haram bisa merasa menjadi halal hanya karena dibagi-bagi sedikit untuk kegiatan sosial atau (dan juga) keagamaan. Mungkin dalam pikirannya, dosa bisa dicuci dengan spanduk santunan, foto bersama anak yatim dan tentunya umroh atau naik haji.
Satu miliar sehari, angka itu terlalu besar untuk disebut rezeki biasa, terlalu rapi untuk disebut kebetulan, dan terlalu bau untuk terus diberi parfum. Ia harus diperiksa, dibuka, ditelusuri, bukan hanya dijadikan bahan obrolan sesaat, sampai kemudian muncul skandal baru yang lebih menggelegar.
Setoran satu miliar per hari bukan hanya persoalan hukum. Pantasnya sejak awal memprediksi pula rasa malu kalau tertangkap. Bukan hanya malu pribadi karena akan memakai baju oranye sambil diborgol, tetapi harusnya membayangkan pula, betapa malunya istri, anak, cucu, keluarga, (walau kecipratan menikmati), almamater, asal daerah dsb.
Pertanyaan lainnya, kalaulah satu milyar perhari itu kerakusan masa segitunya. Emangnya kapasitas perut sebesar apa, ingin punya rumah sebesar apa, ingin punya mobil berapa dan dengan harga berapa?
Sebagai bangsa yang masih berakal sehat, akan tersinggung ketika uang publik diperlakukan seperti warisan pribadi. Bangsa yang masih punya nurani akan bertanya: mengapa ada orang bisa menjadi terminal uang sebesar itu, sementara rumah sakit masih antre, sekolah masih bocor, jalan desa masih berlubang, dan rakyat masih diminta sabar, solah-olah kesabaran itu adalah program pembangunan nasional.
Satu miliar sehari kelihatannya bukan hanya urusan satu orang. Uang sebesar itu tidak mungkin kesasar sendirian. Ia pasti punya sopir, peta, pengawal, dan imam perjalanan. Ada penyetor, penerima, penghubung, pelindung, penghapus jejak, dan para penonton yang mendadak rabun. Kalau uang itu untuk “dimakan” pribadi dan keluarganya, teori Pak Maslow akan jadi berantakan.
Korupsi besar itu, tidak seperti pencuri sandal di masjid. Ia pasti datang seperti rombongan hajatan: ada tenda, ada konsumsi, ada pembawa acara, ada dokumentasi, tetapi ketika ditanya siapa yang punya acara dan bertanggung jawab, semua menunjuk ke langit-langit. Usut semua donk!. Bisa-bisa setoran sehari satu milyar itu, seperti salah satu lirik lagu Bengawan Solo: “Air mengalir sampai jauh…………………………”






Leave a Reply