Ketika Kelahiran Menutupi Risalah, Apakah Yang Harus Dihidupkan?
Oleh:
Nunu A. Hamijaya
(Sejarawan Publik)
Terasjabar.co – Rabiulawal tiba, umat Islam kembali mengenang kelahiran Nabi Muhammad saw. Masjid dan majelis taklim ramai. Shalawat dikumandangkan. Kisah kehidupan Rasulullah diceritakan. Berbagai bentuk peringatan Maulid diselenggarakan di banyak tempat.
Semua itu berangkat dari satu hal yang sangat manusiawi: cinta kepada Rasulullah.Namun, justru karena kita mencintai Rasulullah, ada sebuah pertanyaan yang layak diajukan secara jernih: Apa sebenarnya yang hendak kita hidupkan melalui Maulid? Apakah kita sedang sekadar mengenang kelahiran seorang manusia bernama Muhammad bin Abdullah? Ataukah kita hendak menghidupkan kembali risalah Muhammad sebagai Rasulullah?
Jika merujuk al Quran dan al Hadits, sejujurnya tidak akan kita temukan isyarat untuk merayakan tradisi maulid Nabi Muhammad SAW. Bahkan, dari frasa ‘maulid Nabi’ saja sudah mengandung anakronisme sejarah. Muhammad bin Abdullah saat lahir bukanlah seorang nabi atau rosul. Ini berbeda dengan Isa yang sejak lahirnya disebut sebagai nabi dan rosul. ( QS Maryam ayat 30). Anakronisme sejarah secara bahasa berasal dari kata Yunani, yaitu ana (ke belakang/terbalik) dan chronos (waktu). Sederhananya, anakronisme adalah kesalahan kronologis di mana sesuatu dari masa depan “terselip” atau dilekatkan pada masa lalu, atau sebaliknya.
Dengan demikian, kritik terhadap anakronisme tidak harus berarti kritik terhadap setiap orang yang menghadiri Maulid.Yang dikritik adalah cara memahami sejarah.Kita boleh mempunyai tradisi. Semua memiliki tempat dalam sejarah. Tetapi tidak semuanya berasal dari zaman yang sama. Namun, tulisan ini buka hendak berargumentasi soal kekeliruan ini. Yang ingin dipersoalkan adalah sesuatu yang berbeda.
Ada satu fakta sejarah yang perlu dibedakan secara tegas. Tidak terdapat bukti bahwa generasi sahabat melakukan tradisi Maulid. Tradisi ini dilakukan sekitar abad ke 10 Masehi. Karena itu, kita harus membedakan dua hal: Muhammad sebagai Rasul dan risalahnya adalah bagian dari fondasi Islam.
Sedangkan Maulid sebagai tradisi peringatan tahunan merupakan perkembangan sejarah umat Islam. Membedakan keduanya bukan berarti merendahkan Maulid. Justru itu merupakan cara membaca sejarah secara jujur. Sebuah tradisi boleh saja mempunyai sejarah panjang. Tetapi sejarah panjang tidak berarti bahwa tradisi tersebut otomatis berasal dari zaman Nabi.
Muhammad: Manusia yang Diutus Menjadi Rasul
Al-Qur’an menyebut Muhammad dengan namanya. Tetapi Al-Qur’an tidak berhenti pada identitas personalnya. QS Al-Fath ayat 29 menegaskan: “Muhammad itu adalah utusan Allah.”
Penegasan serupa juga terdapat dalam QS Al-Ahzab ayat 40, yang menyebut Muhammad sebagai Rasulullah dan penutup para nabi. Ini penting. Sebab Muhammad sebagai manusia dan Muhammad sebagai Rasul bukanlah dua sosok yang berbeda. Muhammad bin Abdullah adalah manusia yang lahir, tumbuh, menikah, berkeluarga, mengalami suka dan duka, kemudian wafat. Tetapi bagi umat Islam, makna terbesar dirinya terletak pada sesuatu yang melampaui fakta biologis kelahiran itu: ia diangkat Allah sebagai Nabi dan Rasul. Dengan kerasulan itu datang wahyu. Dengan wahyu datang risalah. Dengan risalah lahir tugas. Dengan tugas lahir perjuangan.
Karena itu, ketika umat Islam berbicara tentang Nabi Muhammad, perhatian kita tidak semestinya berhenti pada pertanyaan tentang kapan beliau lahir, tetapi bergerak kepada pertanyaan yang lebih mendasar: Apa yang beliau bawa kepada manusia?
Ahmad: Rasul yang Telah Dikabarkan
Al-Qur’an memberikan perspektif yang menarik tentang kedatangan Muhammad. Dalam QS Ash-Shaff ayat 6, Nabi Isa a.s. menyampaikan kabar kepada Bani Israil tentang seorang rasul yang akan datang sesudahnya: “…dan memberi kabar gembira dengan seorang rasul yang akan datang setelahku, yang namanya Ahmad”.
Perhatikan konstruksi ayat tersebut. Yang diberitakan adalah kedatangan seorang rasul. Bukan sekadar kelahiran seorang bayi. Ada misi yang menunggu. Ada kerasulan yang akan dijalankan. Ada risalah yang akan disampaikan. Dengan perspektif seperti ini, kelahiran Muhammad memperoleh makna agung karena ia menjadi awal perjalanan manusia yang kelak menerima amanah kerasulan.
Maka pertanyaan tentang Muhammad tidak seharusnya berhenti pada: “Kapan beliau lahir?” Tetapi harus dilanjutkan: “Untuk apa beliau diutus?”
Uswatun Hasanah: Rasul sebagai Teladan
Di sinilah QS Al-Ahzab ayat 21 memberikan landasan yang sangat kuat:
لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ
“Sungguh, telah ada pada diri Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu…”
Al-Qur’an menggunakan istilah Rasulullah.
Karena itu, keteladanan yang diperintahkan kepada kita bukan sekadar kekaguman terhadap seorang tokoh sejarah, melainkan mengikuti kehidupan Rasulullah dalam menjalankan amanah yang diberikan Allah kepadanya.
Bagaimana beliau menerima wahyu. Bagaimana beliau menyampaikan kebenaran. Bagaimana beliau mendidik manusia. Bagaimana beliau menghadapi penolakan. Bagaimana beliau bersabar dalam menghadapi tekanan. Bagaimana beliau berhijrah. Bagaimana beliau membangun masyarakat. Bagaimana beliau menjalankan amanah. Bagaimana beliau menghadapi konflik. Dan bagaimana beliau menyelesaikan tugas kerasulannya.
Di situlah uswatun hasanah memperoleh maknanya. Keteladanan Rasulullah bukan sekadar untuk dikenang. Ia untuk diikuti.
Tradisi Bukan Otomatis Sunnah
Di sinilah diperlukan kejernihan istilah. Sebuah praktik yang menjadi tradisi masyarakat Muslim tidak otomatis merupakan sunnah Nabi. Tetapi sebaliknya, tidak semua tradisi yang tidak dilakukan Nabi otomatis dapat dihukumi haram tanpa mempertimbangkan isi, tujuan, bentuk, dan kaidah fikih yang digunakan.
Karena itu, perdebatan mengenai Maulid tidak sesederhana: “Nabi tidak melakukan, maka pasti haram”. Tetapi juga tidak cukup dengan: “Isinya baik, maka pasti merupakan sunnah Nabi”.
Kedua cara berpikir itu sama-sama berpotensi menyederhanakan persoalan. Di sinilah ilmu diperlukan. Sejarah harus dibaca sebagai sejarah. Hadis harus dibaca sebagai hadis. Fikih harus dibaca sebagai fikih. Tradisi harus dikenali sebagai tradisi. Dan semuanya tidak boleh dicampuradukkan.
Yang Lebih Penting daripada Perdebatan Maulid
Namun setelah semua perdebatan itu selesai, ada pertanyaan yang jauh lebih penting: Apa yang terjadi pada diri kita setelah memperingati Maulid? Kita dapat berkumpul. Kita dapat membaca shalawat. Kita dapat mendengarkan kisah Rasulullah. Kita dapat mengingat perjuangan beliau.
Tetapi setelah acara selesai, apakah kita menjadi manusia yang lebih jujur? Lebih amanah? Lebih adil? Lebih berilmu? Lebih peduli kepada orang yang lemah? Lebih santun kepada orang yang berbeda? Lebih bersungguh-sungguh menjalankan perintah Allah?
Jika jawabannya ya, maka peringatan itu telah menghasilkan sesuatu yang bernilai.Tetapi jika Maulid hanya menjadi agenda tahunan—meriah ketika berlangsung, lalu dilupakan setelah selesai—maka kita patut bertanya: Apa yang sesungguhnya sedang kita peringati?
Kelahiran? Ataukah risalah?
Jangan Sampai Kelahiran Menutupi Kerasulan
Ada bahaya lain yang lebih halus. Kita dapat terlalu larut dalam romantisme kisah kelahiran sehingga lupa kepada perjalanan kerasulan. Padahal Muhammad tidak diutus hanya untuk dilahirkan. Ia diutus untuk membawa wahyu. Ia diutus untuk menyampaikan kebenaran. Ia diutus untuk membentuk manusia. Ia diutus untuk membangun masyarakat. Ia diutus untuk menghadirkan nilai keadilan dan tauhid. Ia menghadapi penolakan. Ia menghadapi tekanan. Ia berhijrah. Ia membangun Madinah. Ia menghadapi berbagai persoalan masyarakat. Ia kembali ke Makkah.Ia menunaikan Haji Wada. Dan ia menyelesaikan amanah kerasulannya.
Itulah perjalanan yang mengubah sejarah manusia. Maka jika kita ingin benar-benar mencintai Rasulullah, mengapa perjalanan kerasulan itu tidak menjadi pusat perhatian kita?
Dari Iqra hingga Fathu Makkah
Risalah Nabi Muhammad dapat dibaca sebagai sebuah perjalanan panjang. Ia dimulai dengan wahyu. Iqra. Bacalah. Kemudian datang dakwah. Pendidikan. Pembentukan manusia. Kesabaran. Perjuangan. Hijrah. Pembentukan masyarakat. Perjanjian. Pertahanan. Diplomasi. Pembebasan Makkah. Haji Wada. Dan penyempurnaan amanah kerasulan.
Di sepanjang perjalanan itu, Nabi tidak hanya berbicara tentang agama dalam ruang ritual. Beliau membangun manusia. Membangun keluarga. Membangun masyarakat. Membangun peradaban.Karena itu, risalah Nabi adalah sejarah yang bergerak. Bukan sekadar kisah yang dibacakan.
Maulid yang Mengubah Orientasi
Karena itu, mungkin yang kita perlukan bukan sekadar memperdebatkan ada atau tidak adanya Maulid.Kita membutuhkan Maulid yang mengubah orientasi.
Jika kita berkumpul untuk mengenang Rasulullah, jadikanlah pertemuan itu sebagai kesempatan mempelajari risalahnya.Jika kita membaca kisah kelahirannya, lanjutkan dengan mempelajari perjalanan kerasulannya. Jika kita bershalawat, hadirkan pula komitmen untuk mengikuti teladannya. Jika kita mengagungkan namanya, pahami pula amanah yang dibawanya. Dengan demikian, peringatan tidak berhenti sebagai seremoni. Ia menjadi pendidikan. Ia menjadi refleksi. Ia menjadi jalan menuju perubahan.
Kembali kepada Muhammad Rasulullah
Mungkin inilah titik yang paling penting. Kita tidak perlu menghapus sejarah. Kita tidak perlu memusuhi tradisi. Kita juga tidak perlu menganggap semua perbedaan pandangan sebagai permusuhan. Yang perlu kita lakukan adalah mengembalikan pusat perhatian kepada Rasulullah sebagai pembawa risalah. Al-Qur’an telah memberikan arah: “Sungguh, telah ada pada diri Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu.”
Maka ukuran kecintaan kepada Nabi tidak cukup pada seberapa sering kita menyebut namanya. Tidak cukup pada seberapa meriah kita memperingati kelahirannya. Tidak cukup pada seberapa indah kita menceritakan kehidupannya. Pertanyaan yang lebih mendalam adalah: Seberapa jauh kita mengikuti risalahnya?
Jangan Hanya Mengingat Kelahiran
Muhammad bin Abdullah adalah manusia yang lahir dalam sejarah. Tetapi Muhammad Rasulullah adalah pembawa risalah yang mengubah sejarah. Kelahiran adalah titik awal. Kerasulan adalah misi. Risalah adalah amanah. Keteladanan adalah jalan. Dan pengamalan adalah ukuran
Karena itu, ketika Rabiulawal datang, mungkin kita perlu menggeser sedikit pertanyaan kita.Bukan hanya: “Sudahkah kita memperingati kelahiran Nabi?” Tetapi: “Sudahkah kita mempelajari risalah Nabi?”
Bukan hanya: “Sudahkah kita bershalawat?” Tetapi: “Sudahkah kita meneladani akhlaknya?” Bukan hanya: “Sudahkah kita menceritakan sejarahnya? Tetapi: “Sudahkah sejarah perjuangannya mengubah cara kita menjalani kehidupan?”
Kelahiran Adalah Peristiwa, Risalah Adalah Amanah
Pada akhirnya, kita mungkin tidak harus sepakat dalam seluruh persoalan mengenai Maulid. Perbedaan pandangan dalam masalah ini telah menjadi bagian dari sejarah pemikiran Islam. Tetapi kita seharusnya dapat sepakat pada satu hal: Rasulullah harus lebih besar daripada seremoni tentang Rasulullah.
Risalah harus lebih penting daripada romantisme. Keteladanan harus lebih kuat daripada sekadar kekaguman.Dan pengamalan harus menjadi tujuan akhir dari kecintaan. Sebab kita tidak hanya mengenang seorang bayi yang lahir di Makkah.Kita sedang berbicara tentang manusia yang kemudian menerima wahyu, diangkat menjadi Rasul, membawa risalah tauhid, membentuk umat, dan mengubah perjalanan sejarah.
Maka Rabiulawal seharusnya bukan hanya menjadi bulan untuk mengingat bahwa Muhammad pernah lahir.Ia semestinya menjadi kesempatan untuk bertanya: Apa yang telah kita lakukan dengan risalah Muhammad?
Penutup
Kita tidak perlu menghapus tradisi untuk mencintai Rasulullah. Tetapi kita perlu menghindari anakronisme agar sejarah Rasulullah tidak tertutup oleh tradisi yang lahir sesudahnya. Kita boleh mengenang kelahirannya. Kita boleh membaca sirahnya. Kita boleh memperbanyak shalawat. Kita boleh berbeda pandangan tentang bentuk peringatan. Tetapi jangan sampai semuanya berhenti di sana. Sebab kelahiran Muhammad adalah sebuah peristiwa sejarah.
Kerasulan Muhammad adalah amanah ilahiah.Risalah Muhammad adalah warisan peradaban. Dan keteladanan Muhammad adalah jalan yang harus ditempuh. Karena itu, pertanyaan paling penting pada setiap Rabiulawal mungkin bukan: “Sudahkah kita merayakan Maulid?” Melainkan: “Sudahkah kita menghidupkan risalah Rasulullah?”
Sebab Rasulullah tidak diutus agar kita hanya mengingat kapan beliau lahir.Beliau diutus agar manusia mengetahui kepada siapa mereka harus menyembah, bagaimana mereka harus hidup, dan untuk apa mereka membangun kehidupan.Itulah Maulid yang semestinya kita cari: bukan sekadar mengulang seremoni kelahiran, tetapi menghidupkan kembali kesadaran tentang kerasulan dan risalah Muhammad.






Leave a Reply