BAHAGIA ITU MUDAH
Oleh:
Ganjar Kurnia
(Budayawan Sunda; Mantan Rektor Unpad Bandungg)
Terasjabar.co – Awalnya, ada yang mengirim video, 4 orang anak berdiri di pinggir rel, menunggu kereta api lewat. Ternyata masinisnya adalah bapak dari ke empat anak tersebut. Rupanya, setiap kali melintas rumahnya di pinggir rel tersebut, si bapak melemparkan bingkisan untuk anak-anaknya. Entah apa isinya, tapi anak-anak itu, berteriak kegirangan dan terlihat sangat bahagia.
Dari video sederhana tersebut ada kesimpulan kecil: bahagia itu sederhana dan mudah. Yang membuatnya sulit, karena manusia selalu ingin bahagianya melebihi kemampuan atau kebutuhan. Kebahagiaan juga dianggap belum sah sebelum diumumkan di media sosial dan mendapat seratus tanda jempol dari orang-orang yang sebenarnya mungkin tidak sedang bahagia juga.
Padahal, mengapa kita tidak bahagia, pagi-pagi, matahari sudah membagi cahaya gratis. Burung berkicau tanpa meminta honor. Angin masuk melalui jendela tanpa surat tugas. Secangkir kopi mengeluarkan uap seperti doa yang sedang mencari alamat Tuhan. Namun kita seringkali tetap murung. Malah duduk di teras sambil memikirkan tetangganya yang baru membeli mobil. Padahal tetangganya juga mungkin sedang memikirkan cicilan.
Manusia memang sering keliru menghitung kebahagiaan. Ia mengira bahagia adalah memiliki lebih banyak. Padahal semakin banyak yang dimiliki, semakin banyak pula yang harus dipikirkan. Punya satu rumah, takut bocor. Punya dua rumah, takut kosong. Punya tiga rumah, bingung tidur di mana. Akhirnya menginap di hotel untuk mencari ketenangan. Di hotelpun, tidak bisa tidur karena memikirkan tiga rumahnya.
Seperti cerita video di atas, kebahagiaan sesungguhnya sering datang dengan sederhana. Kadang berupa nasi hangat dan sambal. Kadang berbentuk percakapan dengan sahabat lama. Kadang hanya suara hujan di genting yang mengingatkan kita, bahwa langit pun sesekali perlu menumpahkan perasaan.
Seorang anak kecil bisa tertawa hanya karena melihat kucing dilempar sandal. Seorang dewasa tidak bisa tertawa sebelum mengetahui sandal itu merek apa, harganya berapa, dan apakah bisa dibayar dengan cicilan nol persen?.
Waktu kecil, bahagia berarti mendapat es lilin. Ketika remaja, bahagia berarti dicintai seseorang. Setelah menikah, bahagia berarti mertua tidak ikut-ikutan ngatur. Ketika tua, bahagia berarti buang air berlangsung lancar.
Pada akhirnya, bahagia mengembalikan manusia kepada hal-hal mendasar. Kekayaan boleh bertambah, gelar boleh memanjang, jabatan boleh meninggi, tetapi perut tetap hanya meminta makan secukupnya. Mata hanya membutuhkan tidur. Hati hanya ingin didengarkan dan lutut, tidak berbunyi ketika lutut masih bisa diajak berdamai ketika diajak naik tangga.
Kebahagiaan mungkin tidak cocok dengan industri. Orang bahagia jarang berbelanja karena panik. Ia tidak mudah diyakinkan bahwa wajahnya bermasalah, bajunya ketinggalan zaman, rumahnya kurang harum, atau hidupnya gagal hanya karena belum berlibur ke luar negeri.
Orang bahagia bisa duduk di bawah pohon mangga sambil minum teh. Ini tentu berbahaya bagi pertumbuhan ekonomi, maka ia harus segera diberi iklan bahwa tehnya kurang premium, gelasnya tidak estetik, pohonnya belum bersertifikat, dan mangganya kalah manis dari mangga impor. Setelah menonton iklan, biasanya mulai gelisah. Kegelisahan adalah pintu utama pusat perbelanjaan. Padahal bahagia sering hanya membutuhkan keberanian untuk berkata: cukup. Cukup bukan berarti berhenti berusaha. Cukup adalah mengetahui kapan usaha tidak lagi menambah kehidupan, tetapi justru menghabiskannya. Cukup adalah menikmati nasi di piring sendiri tanpa memikirkan lauk di piring orang kaya.
Bahagia itu mudah: masih diberi napas, menemukan nasi di meja, mendengar suara orang yang disayangi, dan mampu menertawakan diri sendiri ketika hidup berjalan tidak sesuai proposal.
Mungkin hidup bukan tentang siapa yang paling dahulu sampai, melainkan siapa yang masih sempat melihat bunga liar di tepi jalan. Bunga itu tidak punya rekening, jabatan, atau sertifikat pelatihan motivasi. Namun ia tetap mekar, tanpa seminar, tanpa panitia, tanpa sambutan. Di situlah mungkin rahasianya: bahagia bukan sesuatu yang harus dikejar sampai kehabisan napas. Kadang-kadang ia sudah duduk di samping kita, menyeruput kopi yang mulai dingin, sambil terbahak melihat kita sibuk mencarinya ke mana-mana.





Leave a Reply