Bagaimana Sistem Ekonomi Islam Direalisasikan Ditengah Hegemoni Kapitalisme Yang Mengakar?
Oleh:
Budianto Slamet
(Mahasiswa S2 Akuntansi)
Terasjabar.co – Perkembangan ekonomi telah menghasilkan kemajuan yang luar biasa. Perkembangan teknologi, perdagangan internasional, industri keuangan, dan inovasi bisnis telah meningkatkan produktivitas serta menciptakan berbagai kemudahan dalam kehidupan manusia. Namun, berbagai persoalan ekonomi yang terus muncul: kesenjangan kekayaan, kemiskinan, pengangguran, utang, krisis keuangan, eksploitasi sumber daya alam, hingga budaya konsumtif yang semakin kuat.
Kapitalisme sebagai salah satu sistem ekonomi yang dominan di dunia saat ini memiliki persoalan ketika mekanisme pasar dan pencarian keuntungan ditempatkan terlalu dominan dalam kehidupan ekonomi. Di sinilah ekonomi Islam layak untuk kembali diperbincangkan, bukan semata-mata sebagai sistem ekonomi alternatif yang bersifat eksklusif bagi umat Islam, tetapi sebagai sebuah paradigma yang menawarkan cara pandang berbeda mengenai untuk apa ekonomi dibangun? bagaimana kekayaan diperoleh? bagaimana kekayaan didistribusikan? dan kepada siapa aktivitas ekonomi harus dipertanggungjawabkan?.
Dengan demikian, membandingkan ekonomi Islam dengan kapitalisme bukan sekadar membandingkan dua teori ekonomi. Lebih jauh, perbandingan tersebut merupakan upaya menjawab pertanyaan fundamental: apakah ekonomi seharusnya hanya mengejar pertumbuhan dan keuntungan, atau harus diarahkan untuk menciptakan keadilan dan kesejahteraan manusia secara menyeluruh?
Dalam sistem kapitalisme masalah muncul ketika keuntungan berubah dari alat menjadi tujuan utama. Ketika keberhasilan perusahaan hanya diukur dari besarnya laba, pertumbuhan aset, harga saham, dan return kepada pemilik modal, terdapat risiko bahwa aspek lain seperti kesejahteraan pekerja, lingkungan, konsumen, dan masyarakat menjadi sekunder. Pasar memang memiliki kemampuan mengalokasikan sumber daya melalui mekanisme harga, namun pasar tidak selalu identik dengan keadilan. Seseorang yang memiliki modal besar memiliki kemampuan ekonomi yang jauh lebih besar dibandingkan seseorang yang tidak memiliki modal. Akibatnya, kekayaan berpotensi semakin terkonsentrasi pada kelompok tertentu.
Ekonomi Islam: Ekonomi yang Berorientasi pada Kemaslahatan
Ekonomi Islam berangkat dari paradigma yang berbeda, dalam perspektif Islam, aktivitas ekonomi tidak berdiri sendiri dari nilai Akhlak dan spiritual. Manusia diberikan kebebasan untuk memiliki harta dan melakukan aktivitas bisnis, tetapi kebebasan tersebut disertai tanggung jawab. Harta dalam Islam bukan sekadar milik absolut manusia. Manusia dipandang sebagai pihak yang menerima amanah untuk mengelola kekayaan tersebut dengan cara yang benar. Karena itu, Islam tidak mengharamkan keuntungan. Islam justru mengakui perdagangan, kepemilikan pribadi, investasi, dan aktivitas bisnis. Yang menjadi perhatian adalah bagaimana keuntungan tersebut diperoleh dan digunakan.
Keuntungan yang diperoleh melalui perdagangan yang halal, transparan, dan saling ridha merupakan sesuatu yang dibenarkan. Sebaliknya, aktivitas ekonomi yang mengandung riba, gharar yang berlebihan, maysir, penipuan, manipulasi, eksploitasi, dan ketidakadilan mendapatkan batasan. Dengan demikian, ekonomi Islam tidak menolak pasar, tetapi memberikan moralitas dan batasan terhadap pasar.
Perbedaan Paradigma: Dari “Profit” Menuju “Maslahah”
Perbedaan paling mendasar antara ekonomi Islam dan kapitalisme terletak pada orientasi dan batasan aktivitas ekonomi. Kapitalisme cenderung menempatkan kepentingan individu, kebebasan ekonomi, kepemilikan pribadi, dan mekanisme pasar sebagai fondasi utama. Sementara ekonomi Islam menempatkan aktivitas ekonomi dalam kerangka tauhid, amanah, keadilan, dan kemaslahatan serta bersumber kepada apa yang Allah turunkan.
Dalam ekonomi Islam, keuntungan bukan sesuatu yang harus dihilangkan. Keuntungan harus ditempatkan pada posisi yang tepat. Perusahaan boleh mencari laba, pengusaha boleh menjadi kaya, Investor boleh memperoleh return. Namun, semuanya memiliki batas, jangan sampai keuntungan diperoleh dengan merugikan pihak lain.
Distribusi Kekayaan: Tidak Hanya Bagaimana Kekayaan Diciptakan, tetapi Bagaimana Kekayaan Didistribusikan
Salah satu persoalan ekonomi yang penting bukan hanya bagaimana menciptakan kekayaan, tetapi bagaimana kekayaan tersebut didistribusikan. Kapitalisme memiliki mekanisme distribusi melalui pasar. Mereka yang memiliki aset, modal, keterampilan, dan kemampuan produksi yang lebih besar memiliki peluang mendapatkan pendapatan yang lebih besar. Masalah muncul ketika distribusi melalui mekanisme pasar tidak mampu mencegah kesenjangan yang ekstrem.
Islam menawarkan instrumen distribusi yang lebih eksplisit. Zakat merupakan salah satu instrumen penting. Selain itu terdapat wakaf, infak, sedekah, serta berbagai mekanisme sosial lainnya. Dengan demikian, Islam tidak hanya berbicara mengenai wealth creation, tetapi juga wealth distribution.
Riba dan Dominasi Utang
Salah satu kritik penting ekonomi Islam terhadap sistem ekonomi kapitalis adalah persoalan riba. Dalam kehidupan kapitalis, utang telah menjadi bagian yang sangat dominan dalam aktivitas ekonomi. Negara berutang, perusahaan berutang, masyarakat berutang, bahkan konsumsi rumah tangga dapat dibiayai dengan utang.
Utang pada dasarnya bukan sesuatu yang selalu buruk. Masalah muncul ketika sistem ekonomi membuat masyarakat semakin bergantung pada utang berbunga sehingga kewajiban pembayaran berkembang jauh lebih cepat dari pada kemampuan ekonominya. Islam memberikan batasan yang tegas terhadap riba sekaligus mendorong mekanisme transaksi yang lebih berbasis pada perdagangan, kemitraan, pembagian risiko, dan aktivitas ekonomi riil. Prinsip ini mengandung pesan penting: uang seharusnya tidak hanya menghasilkan uang tanpa keterkaitan yang sehat dengan aktivitas ekonomi riil.
Apakah Islam Adalah Solusi?
Apakah ekonomi Islam benar-benar dapat menjadi solusi atas berbagai persoalan kapitalisme? Jawabannya tidak cukup dengan mengatakan bahwa “Islam adalah solusi” tanpa menjelaskan bagaimana solusi tersebut bekerja. Islam dapat menjadi solusi apabila prinsip-prinsip ekonominya diterjemahkan ke dalam institusi negara dan regulasi serta praktik ekonomi yang nyata.
Keadilan tidak cukup menjadi slogan. Ia harus diwujudkan dalam kebijakan. Amanah tidak cukup menjadi konsep moral. Ia harus diterapkan dalam tata kelola negara. Zakat tidak cukup hanya dikumpulkan. Ia harus dikelola secara produktif dan akuntabel. Wakaf tidak cukup hanya menjadi aset yang tidak bergerak. Ia dapat dikembangkan menjadi aset produktif. Bisnis syariah tidak cukup hanya mengganti nama akad. Substansi transaksi, tata kelola, transparansi, dan dampaknya terhadap masyarakat juga harus sesuai dengan prinsip syariah.
Dengan kata lain, Islam tidak akan menjadi solusi hanya karena labelnya Islam. Islam menjadi solusi ketika nilai-nilai Islam benar-benar hadir dalam praktik negara dibidang ekonomi, karena selama masih dikendalikan oleh segelintir orang maka tidak ada harapan sistem ekonomi akan menjawab krisis global.
Paradigma kapitalisme yang perlu dikritisi adalah ketika kebebasan ekonomi tidak disertai tanggung jawab sosial dan moral. Ekonomi Islam dapat menawarkan sebuah pendekatan yang berbeda: Pasar tetap ada, tetapi pasar memiliki batas; keuntungan tetap ada, tetapi keuntungan harus halal dan adil; kepemilikan pribadi tetap ada, tetapi kepemilikan mengandung amanah; pertumbuhan ekonomi tetap penting, tetapi pertumbuhan harus menghasilkan kemaslahatan; kekayaan boleh dikumpulkan, tetapi tidak boleh berputar hanya di antara kelompok tertentu. Dengan perspektif tersebut, ekonomi Islam bukan anti-pasar dan bukan anti-keuntungan.
Penutup: Ekonomi yang Menguntungkan Sekaligus Menyejahterakan
Pada akhirnya, ekonomi yang ideal bukanlah ekonomi yang membuat sebagian manusia menjadi sangat kaya sementara sebagian lainnya semakin tertinggal, Ekonomi yang ideal adalah ekonomi yang bersumber pada apa yang Allah turunkan serta direalisasikan dalam institusi negara. bukan sekadar sistem untuk menghasilkan kekayaan, tetapi paradigma untuk memastikan bahwa kekayaan tersebut digunakan bagi kemaslahatan manusia serta didistribusikan secara merata.





Leave a Reply