Digital Marketing dan Ekonomi Sirkular Jadi Kunci Daya Saing UMKM Global: Akademisi Indonesia, Malaysia, dan Oman Dorong Kolaborasi Internasional Menuju UMKM Berkelanjutan di Era Kecerdasan Buatan
Terasjabar.co – Transformasi digital tidak lagi sekadar menjadi pilihan, melainkan kebutuhan strategis bagi Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) agar mampu bertahan dan bersaing di pasar global. Pesan tersebut mengemukakan dalam International Webinar bertajuk “Digital Marketing for a Circular Economy: Empowering Local Business for Global Sustainability” yang diselenggarakan oleh International Association of Economic and Business (IAEB) bekerja sama dengan berbagai perguruan tinggi dari Indonesia, Malaysia, dan Oman.
Webinar internasional ini menghadirkan akademisi dan praktisi dari tiga negara sebagai wadah berbagi gagasan mengenai strategi pengembangan UMKM berbasis pemasaran digital, ekonomi sirkular, dan pemanfaatan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) untuk menciptakan bisnis yang lebih inklusif, inovatif, dan berkelanjutan.
Salah satu pembicara utama dari Indonesia, Prof. Dr. Hj. Lilis Sulastri, M.M., Guru Besar Ilmu Manajemen sekaligus Ketua Program Studi Manajemen UIN Sunan Gunung Djati Bandung, memaparkan materi bertajuk “Strategic Digital Marketing for Circular Economy-Based MSMEs: Building Sustainable Competitive Advantage in the AI Era”.
Dalam paparannya, beliau menegaskan bahwa dunia usaha saat ini menghadapi tantangan besar berupa perubahan iklim, keterbatasan sumber daya, ketidakpastian ekonomi, disrupsi digital, serta tuntutan pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs).

Menurut Prof. Lilis, perubahan tersebut menuntut UMKM untuk meninggalkan pola bisnis linear yang menghasilkan limbah menuju model ekonomi sirkular, yaitu sistem yang mengedepankan prinsip reduce, reuse, recycle, dan regenerate sehingga nilai produk dapat dimanfaatkan lebih lama dan dampak lingkungan dapat ditekan. Konsep ini menjadi fondasi penting dalam membangun daya saing usaha yang berorientasi pada keberlanjutan.
Beliau juga menjelaskan bahwa lebih dari 90 persen pelaku usaha di dunia merupakan UMKM yang berperan sebagai penyerap tenaga kerja terbesar, penggerak ekonomi lokal, serta instrumen penting dalam meningkatkan inklusi ekonomi masyarakat. Oleh karena itu, peningkatan kapasitas UMKM memiliki dampak strategis terhadap pertumbuhan ekonomi nasional maupun global.
Dalam sesi mengenai transformasi digital, Prof. Lilis menguraikan berbagai tren yang diperkirakan semakin dominan pada tahun 2026, antara lain pemanfaatan Artificial Intelligence (AI) dalam pemasaran, analisis big data, social commerce, marketplace ecosystem, hingga meningkatnya preferensi konsumen terhadap produk ramah lingkungan. Menurutnya, perkembangan teknologi digital harus dimanfaatkan untuk memperluas akses pasar sekaligus meningkatkan efisiensi operasional UMKM.
Beliau menambahkan bahwa keberhasilan transformasi digital tidak hanya bergantung pada teknologi, tetapi juga pada kualitas sumber daya manusia. Penguatan digital skills, kepemimpinan hijau (green leadership), budaya inovasi, dan pembelajaran berkelanjutan menjadi faktor utama yang menentukan keberhasilan organisasi menghadapi perubahan global.
Dalam kerangka strategis yang dipaparkan, Prof. Lilis memperkenalkan empat pilar utama pembangunan daya saing berkelanjutan, yaitu digital capability, human capital, circular innovation, dan market access. Keempat faktor tersebut diyakini mampu menghasilkan sustainable competitiveness, yakni keunggulan bersaing yang tidak hanya menguntungkan secara ekonomi tetapi juga memberikan manfaat sosial dan lingkungan.

Paparan tersebut turut diperkuat dengan berbagai studi kasus dari Indonesia, Malaysia, dan Oman yang menunjukkan bahwa praktik ekonomi sirkular telah berhasil meningkatkan nilai tambah usaha melalui pengelolaan limbah, inovasi produk, serta ekspansi pasar internasional. Hal ini membuktikan bahwa keberlanjutan bukan lagi sekadar isu lingkungan, melainkan telah menjadi strategi bisnis yang mampu meningkatkan nilai ekonomi perusahaan.
Sebagai rekomendasi, Prof. Lilis mengajak seluruh pemangku kepentingan untuk mempercepat transformasi UMKM melalui lima langkah strategis, yaitu meningkatkan kompetensi digital pelaku usaha, mengadopsi teknologi AI, mengembangkan inovasi bisnis berbasis ekonomi sirkular, memperluas kolaborasi lintas negara, serta membangun branding yang berorientasi pada keberlanjutan. Langkah tersebut dinilai mampu memperkuat posisi UMKM sebagai pemain penting dalam rantai nilai global.
Webinar internasional ini juga menghadirkan narasumber dari University of Technology and Applied Sciences Oman, Universiti Teknologi MARA (UiTM) Malaysia, serta perwakilan IAEB Oman, yang bersama-sama menekankan pentingnya kolaborasi akademik, riset, dan pertukaran pengalaman antarnegara dalam mendukung pengembangan UMKM di era ekonomi digital.
Melalui forum ini, para peserta memperoleh pemahaman bahwa masa depan UMKM bukan hanya ditentukan oleh kemampuan memasarkan produk secara digital, tetapi juga oleh kemampuan membangun model bisnis yang berkelanjutan, inovatif, adaptif terhadap teknologi, dan mampu menciptakan nilai ekonomi, sosial, serta lingkungan secara bersamaan.
Sebagaimana ditegaskan Prof. Dr. Hj. Lilis Sulastri pada penutupan presentasinya, “Sustainability is no longer an option; it is a competitive strategy for the future.” Pesan tersebut menjadi pengingat bahwa keberlanjutan kini merupakan fondasi utama dalam membangun daya saing UMKM di tingkat global.






Leave a Reply