Filosofi “Senyap”: Membaca Karakter Pa Noersjaf, Salah Seorang Pendiri PII (Ketua Umum PB PII,1947-1948)
Oleh:
Nunu A. Hamijaya
(Sejarawan Publik)
Terasjabar.co – Ada manusia yang hadir dalam sejarah melalui gemuruh namanya. Ada yang dikenang karena pidato-pidatonya, jabatan yang pernah didudukinya, foto-foto yang menghiasi halaman sejarah, atau penghormatan yang datang setelah ia tiada. Namun, ada pula manusia yang bekerja dengan cara yang berbeda: tidak banyak berbicara tentang dirinya, tidak sibuk mengukir nama, tetapi meninggalkan sesuatu yang jauh lebih panjang daripada usia hidupnya.
Pa Noersjaf, salah seorang pendiri Pelajar Islam Indonesia (PII), layak dibaca melalui kategori yang terakhir ini.Karakter beliau dapat diringkas dalam satu kata: senyap.
Tetapi senyap di sini bukanlah diam. Senyap bukan pula ketidakmampuan untuk bersuara. Senyap adalah cara berada. Ia merupakan pilihan moral untuk menempatkan karya di depan nama, perjuangan di atas popularitas, dan keberlanjutan generasi di atas kepentingan diri sendiri.
Karena itu, “Senyap” bagi Pa Noersjaf bukan sekadar sifat personal. Ia dapat dibaca sebagai sebuah filosofi perjuangan.
Senyap Bukan Diam
Dalam pengertian sehari-hari, senyap sering diasosiasikan dengan keadaan tanpa suara. Sesuatu yang senyap dianggap tidak terdengar, tidak terlihat, bahkan mungkin tidak hadir.Namun dalam kehidupan seorang pejuang, senyap mempunyai makna yang jauh lebih dalam.
Senyap adalah keadaan ketika seseorang tidak membutuhkan kebisingan untuk membuktikan keberadaannya. Ia tidak harus selalu tampil agar perjuangannya dianggap penting. Ia tidak perlu selalu disebut untuk memastikan bahwa gagasannya hidup. Ia bahkan dapat menerima kemungkinan bahwa generasi setelahnya mungkin menikmati hasil perjuangannya tanpa mengetahui secara utuh siapa yang dahulu menanam benihnya.
Di situlah letak kedalaman karakter.Orang yang senyap tidak berarti tidak memiliki gagasan. Justru sebaliknya: ia memiliki keyakinan yang cukup kuat sehingga tidak memerlukan sorotan untuk membuatnya tetap berdiri.
Senyap adalah keteguhan yang tidak berisik.Dan barangkali inilah salah satu cara terbaik untuk memahami karakter Pa Noersjaf.
Senyap sebagai Etika Kerendahan Hati
Dalam kehidupan organisasi, terutama organisasi yang memiliki sejarah panjang, ada godaan besar untuk menghubungkan perjuangan dengan nama pribadi.
Pendiri dapat merasa bahwa organisasi adalah perpanjangan dirinya. Tokoh dapat merasa bahwa keberhasilan organisasi adalah bukti kebesarannya. Bahkan sebuah perjuangan yang semula dibangun untuk kepentingan umat dapat bergeser menjadi panggung bagi ego individu.Pa Noersjaf justru dapat dikenang melalui arah yang berbeda.
Senyap adalah etika untuk tidak menempatkan diri sebagai pusat. Ia bekerja, tetapi tidak menjadikan dirinya sebagai ukuran dari pekerjaan itu. Ia menanam, tetapi tidak harus berdiri di samping pohon untuk memastikan orang tahu siapa penanamnya.Dalam perspektif ini, kerendahan hati bukan sekadar sopan santun pribadi. Ia merupakan disiplin batin.
Seseorang yang rendah hati menyadari bahwa sejarah tidak pernah dibangun oleh satu orang. Setiap generasi menerima warisan dari generasi sebelumnya dan pada gilirannya wajib mewariskan sesuatu kepada generasi berikutnya.
Maka seorang pendiri yang sejati bukanlah orang yang ingin selamanya menjadi pusat.Pendiri yang sejati justru mampu membuat sesuatu yang dapat berjalan tanpa dirinya.Di situlah senyap memperoleh makna yang sangat dalam.
Senyap adalah Seni Menanam
Ada perbedaan mendasar antara menanam dan memanen.Orang yang memanen menikmati hasil yang segera terlihat. Orang yang menanam bekerja dalam ketidakpastian. Ia memasukkan benih ke dalam tanah, kemudian menunggu. Ia bahkan mungkin tidak sempat melihat pohon itu tumbuh besar.Karena itu, menanam membutuhkan jenis kesabaran yang berbeda.
Pa Noersjaf dan generasi awal PII berada dalam posisi sebagai penanam. Mereka tidak bekerja dengan kepastian bahwa apa yang mereka bangun akan segera menjadi besar. Mereka menanam gagasan, kader, nilai, dan semangat keislaman dalam dunia pelajar.
Menanam adalah pekerjaan yang sebagian besar berlangsung di bawah permukaan.Akar tumbuh dalam gelap. Tidak terlihat, tetapi menentukan tegaknya pohon.Demikian pula kaderisasi.
Seorang pembina mungkin tidak melihat langsung hasil dari nasihat yang diberikannya. Seorang guru mungkin tidak mengetahui kapan nilai yang ditanamkannya akan berbuah. Seorang pendiri mungkin tidak pernah menyaksikan seluruh generasi yang kelak meneruskan cita-citanya. Namun pekerjaan itu tidak sia-sia. Sebab yang senyap di bawah tanah dapat menjadi kekuatan yang paling menentukan di atas permukaan.Inilah filosofi penting dari sosok Pa Noersjaf: bekerja pada akar, bukan sibuk memperindah daun.
Senyap dan Kaderisasi
Dalam organisasi pelajar, keberhasilan yang paling penting bukanlah berapa lama seorang tokoh dapat bertahan menjadi pemimpin. Keberhasilan yang lebih hakiki adalah: berapa banyak manusia yang berhasil disiapkan untuk melanjutkan perjuangan.
Kaderisasi pada dasarnya adalah tindakan melepaskan diri dari ego personal.Seorang kaderisator yang baik tidak ingin para kadernya menjadi pengikut dirinya selamanya. Ia justru berharap mereka tumbuh menjadi manusia merdeka yang mampu berpikir, mengambil keputusan, memikul tanggung jawab, bahkan mungkin suatu hari melampaui gurunya.
Di sini “senyap” menjadi sebuah filosofi pedagogis. Pa Noersjaf tidak harus selalu berada di depan. Bisa jadi peran yang lebih penting justru berada di belakang: mendorong, membimbing, menguatkan, lalu memberi ruang kepada generasi berikutnya untuk berdiri.
Ada kebijaksanaan tertentu dalam posisi seperti itu. Tidak semua orang mampu berdiri di belakang ketika sebenarnya ia bisa meminta tempat di depan. Tidak semua orang mampu melihat orang lain tumbuh tanpa merasa dirinya berkurang. Padahal dalam dunia pendidikan dan kaderisasi, ketika murid tumbuh, guru tidak menjadi lebih kecil; justru di situlah kebesaran seorang guru dibuktikan.
Senyap sebagai Perlawanan terhadap Kultus Individu
Ada paradoks dalam sejarah.Orang yang mengejar nama sering kali justru cepat dilupakan, sementara orang yang mengabdikan diri kepada sebuah nilai dapat dikenang jauh lebih lama.
Mengapa? Karena nama pribadi memiliki batas, sedangkan nilai dapat diwariskan.Senyap adalah salah satu bentuk perlawanan terhadap kecenderungan menjadikan manusia sebagai pusat sejarah.
Pa Noersjaf dapat ditempatkan bukan sebagai tokoh yang harus terus-menerus dipuja, melainkan sebagai salah satu sumber mata air nilai yang kemudian mengalir melalui generasi PII. Perbedaan ini penting.
Menghormati pendiri bukan berarti membekukan pendiri dalam patung sejarah. Menghormati pendiri justru berarti menghidupkan nilai yang dahulu diperjuangkannya.Sebab sebuah perjuangan akan kehilangan maknanya jika generasi berikutnya hanya sibuk mengingat siapa yang memulai, tetapi lupa meneruskan apa yang dimulai.
Dengan demikian, senyap bukanlah penghapusan sejarah.Sebaliknya, senyap adalah cara agar sejarah tidak berhenti pada tokoh.
Senyap dan Keabadian Jejak
Manusia pada akhirnya akan pergi.Tubuh memiliki batas. Suara akan berhenti. Nama dapat memudar dari ingatan.Namun karya yang ditanamkan ke dalam manusia memiliki kemungkinan hidup yang jauh lebih panjang.
Seorang pendiri mungkin hanya hidup dalam satu zaman, tetapi nilai yang ia tanam dapat hidup dalam puluhan generasi.Di sinilah kita dapat memahami makna filosofis dari istilah jejak senyap.
Jejak senyap adalah jejak yang tidak selalu menunjuk kepada siapa yang membuatnya. Ia hadir dalam karakter seorang kader. Dalam keberanian seorang pelajar. Dalam tradisi intelektual sebuah organisasi. Dalam kesediaan seorang anak muda untuk mengabdi. Dalam keberanian generasi berikutnya untuk mempertahankan cita-cita yang lebih besar daripada kepentingan dirinya.
Boleh jadi mereka tidak mengenal seluruh kisah tentang siapa yang pertama menanam benih itu. Tetapi benih tersebut tetap hidup. Dan justru di situlah keabadian seorang penanam. Ia tidak harus hadir dalam nama, ia hadir dalam akibat.
Senyap sebagai Jalan Spiritual
Pada lapisan yang lebih dalam, senyap juga mempunyai dimensi spiritual.Dalam tradisi keagamaan, amal yang paling bernilai tidak selalu merupakan amal yang paling terlihat. Ada ruang bagi keikhlasan yang justru tumbuh ketika manusia tidak membutuhkan kesaksian publik.
Senyap dengan demikian dapat menjadi bentuk latihan jiwa: melakukan sesuatu karena meyakini bahwa pekerjaan itu benar, bukan karena pekerjaan itu akan membuat dirinya terkenal.
Ada perbedaan besar antara berbuat baik agar dilihat dan berbuat baik karena merasa wajib melakukannya.Yang pertama bergantung pada mata manusia. Yang kedua bertumpu pada kesadaran batin.Karena itu, senyap bukan sekadar strategi sosial. Ia dapat menjadi bentuk keikhlasan eksistensial: kesediaan untuk bekerja tanpa harus selalu memperoleh tepuk tangan.
Dalam konteks inilah karakter Pa Noersjaf menjadi menarik untuk direnungkan.Seorang pendiri yang bekerja dalam kesenyapan seolah mengatakan kepada generasi sesudahnya: Jangan ukur perjuangan dari seberapa keras suaramu terdengar. Ukurlah dari seberapa jauh nilai yang kau tanam terus hidup setelah suaramu berhenti. Senyap yang Melahirkan Riuh.Pada akhirnya terdapat paradoks yang indah.
Senyap tidak selalu menghasilkan kesunyian.Kadang-kadang justru dari kesenyapan lahir riuh yang panjang.Satu orang yang bekerja dalam diam dapat melahirkan ratusan orang yang bergerak. Satu gagasan yang ditanam dengan sabar dapat melahirkan tradisi. Satu kelompok kecil pelajar dapat berkembang menjadi jaringan generasi yang luas.
Yang senyap pada awalnya dapat menjadi gema yang panjang dalam sejarah.Barangkali karena itu, kita tidak perlu mempertentangkan senyap dengan perjuangan.Senyap adalah salah satu bentuk perjuangan yang paling matang.
Ia tidak berteriak, tetapi bekerja.
Ia tidak menuntut tempat, tetapi memberi tempat.
Ia tidak mengejar nama, tetapi melahirkan nama-nama baru.
Ia tidak sibuk bertanya, “Apa yang akan dikenang dari saya?”
Sebaliknya, ia bertanya:“Apa yang akan tetap hidup setelah saya tidak ada?”
Pertanyaan kedua jauh lebih penting bagi seorang pendiri.
Pa Noersjaf dan Filosofi Sang Senyap
Mengenang Pa Noersjaf sebagai “Sang Senyap” bukan berarti mengerdilkan perannya menjadi sosok yang diam dan berada di belakang layar.
Justru sebaliknya.“Sang Senyap” adalah sebuah penghormatan kepada karakter yang tidak menjadikan kebisingan sebagai ukuran keberhasilan.
Ia adalah metafora bagi seorang penanam.Seorang pembangun akar.Seorang pendidik yang memahami bahwa generasi muda harus diberi ruang untuk tumbuh.
Seorang pendiri yang mengerti bahwa organisasi tidak boleh menjadi monumen bagi dirinya sendiri.Dan seorang pejuang yang menyadari bahwa perjuangan terbesar bukanlah memastikan dirinya dikenang, melainkan memastikan cita-cita yang diperjuangkannya tidak mati bersama dirinya.
Karena itu, ketika kita melihat perjalanan panjang PII dan menemukan tunas-tunas yang terus tumbuh dari generasi ke generasi, kita sesungguhnya sedang melihat sesuatu yang pernah dikerjakan dalam kesenyapan.
Mungkin tidak semuanya mengenal suara Pa Noersjaf.Mungkin tidak semuanya mengetahui detail langkahnya.Tetapi selama nilai yang dahulu ia tanam masih tumbuh dalam diri para pelajar dan kader, kesenyapan itu sebenarnya belum pernah berhenti berbicara.
Ia berbicara melalui karakter.
Ia berbicara melalui pengabdian.
Ia berbicara melalui kaderisasi.
Ia berbicara melalui keberanian generasi muda untuk meneruskan perjuangan.
Dan ia berbicara melalui sejarah yang terus bergerak.Maka, Sang Senyap bukanlah manusia tanpa suara. Ia adalah manusia yang suaranya telah berpindah tempat:
dari mulut ke tindakan,
dari tindakan ke nilai,
dari nilai ke kader,
dari kader ke generasi,
dan dari generasi ke sejarah.
Pada akhirnya, mungkin itulah bentuk keabadian yang paling layak bagi seorang pendiri:tidak selalu hadir dalam riuh nama, tetapi terus hidup dalam senyap jejak yang ditinggalkannya.






Leave a Reply