Ketika Budaya Disapa, Arah Pun Dipertanyakan

Oleh:
Ummu Fahhala, S.Pd.
(Praktisi Pendidikan dan Pegiat Literasi)

Terasjabar.co – Sore itu, balai warga di sebuah kampung di Jawa Barat tampak hidup. Kursi bambu tersusun rapi. Anak-anak berlarian di sela tiang kayu. Di sudut ruangan, alat musik tradisional bersandar, menunggu disentuh. Seorang tokoh masyarakat berbisik pelan, “Katanya, tahun depan acara begini akan rutin digelar”.

Ia merujuk pada rencana Sapa Warga Berbasis Budaya yang akan berlangsung sepanjang 2026. Seorang legislator Jawa Barat menggagas agenda itu sebagai ikhtiar merawat identitas lokal di tengah derasnya modernisasi. Niatnya terdengar mulia. Budaya ingin dirawat. Warga ingin disapa.

Namun, seorang ibu paruh baya di barisan belakang bertanya lirih, seolah pada dirinya sendiri, “Kalau budaya sudah disapa, lalu hidup kami kapan diperbaiki?”

Pertanyaan itu tidak menggugat niat baik. Ia hanya mengetuk kesadaran.

Budaya yang Dirayakan, Kehidupan yang Berjalan

Jawa Barat memang sedang giat menghidupkan desa dan kampung wisata. Pemerintah daerah mendorong pariwisata berbasis masyarakat, kearifan lokal, dan potensi wilayah. Sejarah lokal pun diwacanakan masuk dalam Ranperda Pemajuan Kebudayaan. Semua bergerak rapi dalam bingkai kebijakan.

Seorang pemuda penggerak desa berkata dalam sebuah diskusi kecil, “Kami bangga dengan budaya kami. Tapi kami juga ingin anak-anak kami sekolah dengan layak dan orang tua kami hidup tenang.”

Kalimat itu sederhana, tetapi sarat makna. Budaya tidak pernah berdiri sendiri. Ia hidup bersama ekonomi, pendidikan, dan keadilan sosial. Ketika kebijakan terlalu fokus pada perayaan, ada risiko lupa pada fondasi.

Di titik inilah refleksi perlu hadir, bukan untuk menolak arah, tetapi untuk menyempurnakannya.

Dialog Sunyi tentang Akar Persoalan

Dalam sebuah obrolan malam, seorang akademisi kebudayaan berkata pelan, “Budaya bisa menjadi benteng. Tetapi ia rapuh jika sistem di sekelilingnya menekan.”

Ia tidak menyalahkan program budaya. Ia menunjuk akar yang lebih dalam. Kapitalisme global telah membentuk cara hidup yang menilai segalanya dengan angka. Pasar menjadi penentu. Untung menjadi ukuran. Manusia sering tersisih.

Budaya lokal lalu diposisikan sebagai komoditas. Ia tampil indah di panggung, tetapi terdesak di kehidupan sehari-hari. Desa menjadi tujuan wisata, tetapi warganya tetap berjuang dengan biaya hidup dan akses dasar.

Masalah utama bukan kurangnya festival budaya, melainkan sistem yang belum sepenuhnya berpihak pada keadilan sosial.

Seorang guru tua pernah berkata, “Budaya itu bukan sekadar tarian. Ia cara hidup. Ia cara memandang benar dan salah.”

Jika kebijakan hanya merawat bentuk, tetapi abai pada nilai, maka budaya tinggal simbol. Ia tidak lagi menjadi penuntun arah.

Kritik ini tidak menolak kebijakan. Ia mengajak berhenti sejenak, lalu bertanya: arah mana yang ingin dituju?

Islam dan Jalan Keadilan

Islam menawarkan cara pandang yang utuh. Ia tidak menolak budaya. Ia menyaringnya dengan nilai tauhid dan keadilan. Islam menempatkan manusia sebagai amanah, bukan alat produksi.

Allah Swt. berfirman, “Dan Kami tidak mengutus engkau (Muhammad), melainkan sebagai rahmat bagi seluruh alam.” (QS. Al-Anbiya: 107). Ayat ini memberi arah bahwa kebijakan, termasuk kebijakan budaya, harus menghadirkan rahmat. Rahmat itu terasa ketika rakyat terlindungi, kebutuhan dasar terpenuhi, dan martabat manusia dijaga.

Rasulullah saw. bersabda, “Setiap kalian adalah pemimpin, dan setiap kalian akan dimintai pertanggungjawaban atas yang dipimpinnya.”(HR. Bukhari dan Muslim)

Hadis ini menegaskan peran negara sebagai pengurus, bukan sekadar penyelenggara acara. Para Khulafaur Rasyidin mencontohkan kepemimpinan yang menjaga tradisi masyarakat, tetapi tetap memastikan keadilan ekonomi dan perlindungan sosial berjalan seiring. Budaya hidup subur ketika sistem adil menopangnya.

Kebijakan Moderasi Jabar berbasis Budaya layak diapresiasi sebagai niat menjaga identitas. Namun, ia akan lebih bermakna jika berjalan seiring dengan keberanian menyentuh akar persoalan. Budaya perlu dilindungi. Masyarakat juga perlu dimuliakan.

Seorang warga menutup diskusi sore itu dengan kalimat yang membekas, “Kami ingin budaya kami hidup. Tapi kami juga ingin hidup kami berbudaya.”

Kalimat itu bukan kritik keras. Ia doa. Ia harapan. Mungkin di situlah tugas bersama:menyapa budaya, sambil menata arah. Bukan untuk menolak kebijakan, tetapi untuk menyempurnakannya agar benar-benar berpihak pada manusia dan nilai.

Bagikan :

Leave a Reply

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

10 + 10 =

Pengalaman Pengguna Game Penghasil Saldo DANA Lebih Cepat Adaptif Dan Efisien Dibawa Oleh Inovasi Teknologi
Pergeseran Mutu Produksi Kosmetik Terdeteksi Lebih Akurat Berkat Aliran Data Langsung
Pengalaman Pengguna Semakin Responsif Adaptif Dan Efisien Berkat Perkembangan Teknologi Modern
Momentum Tetap Terarah Dan Terkendali Dipertahankan Melalui Taktik Mode Pemburu Sic Bo Live
Keputusan Tetap Terukur Dalam Game Online Dipertahankan Melalui Pengelolaan Modal Cerdas
Kapitalisasi Pasar Dan Inovasi Kasino Online Berubah Di Tengah Disrupsi Teknologi Modern
Strategi Baru Untuk Meningkatkan Keunggulan Kompetitif Dibuka Melalui Business Model Canvas Mahjong Ways
Kualitas Sistem Mahjongways Kasino Online Dipahami Melalui Identifikasi Nilai Pembayaran Game Penghasil Saldo DANA
Perspektif Baru Dalam Menganalisis Perkembangan Mahjong Ways Dibuka Melalui Modernisasi Strategi
Kasino Menjadi Studi Sistem Informasi Bagi Mahasiswa Melalui Pelatihan Enterprise Architecture
Mahjongways Kasino Online Dijadikan Acuan Strategi Marketing dalam Lingkungan Pemerintahan
Keamanan Informasi Jadi Fondasi Utama Layanan Konsultasi Kosmetik Berbasis Teknologi
Teknologi Pemantauan Membantu Mengukur Frekuensi Pembayaran secara Lebih Objektif dan Terukur
Kajian Statistik Pola RTP Menyoroti Perkembangan Teknologi Neural Sintetis Regulatoris
Simulasi Statistik Membuka Pendekatan Baru Memahami Mahjong Game Sungai Penuh secara Terukur
Statistik Objektif Membantu Membaca Pola Mahjong Game Sungai Penuh dengan Lebih Rasional
Strategi Mahjong Game Sungai Penuh Makin Terarah melalui Pendekatan Statistik Modern
Pendekatan Data Objektif Membantu Mengkaji Mahjong Game Saldo DANA Sungai Penuh secara Lebih Terstruktur
Mahjong Game Sungai Penuh Dikaji lewat Simulasi Statistik untuk Membaca Pola Aktivitas
Aturan Mahjong Digital dari Dua Kartu Awal hingga Penentuan Rentang Nilai Game Penghasil Saldo DANA
Pendekatan Adaptif MahjongWays Kasino Online Membantu Menjaga Keseimbangan Anggaran Hiburan
Kemunculan Simbol Unik MahjongWays Kasino Online Perlu Dibaca Secara Lebih Rasional
Mahjong Ways Menarik Minat Pemain di Tengah Ketatnya Persaingan Game Digital
Pengaturan Tempo MahjongWays Kasino Online Tidak Menentukan Munculnya Kombinasi Khusus
Starlight Princess Kembali Merebut Perhatian Pemain MBG Berkat Daya Tariknya
Membaca Pola Mahjong Ways dan Tren Permainan Lewat Data Saldo DANA Terbaru
Disiplin Mental MahjongWays Kasino Online Membantu Mencegah Keputusan Finansial yang Terlalu Impulsif
Mengenal Sweet Bonanza sebagai Game Digital Online dengan Tema Manis yang Menarik
Rotasi Awal MahjongWays Kasino Online Bukan Tolok Ukur Kemurahan Sistem Permainan
Menelusuri Strategi Terbaik dalam Bermain Game Penghasil Saldo DANA Secara Lebih Mendalam