Di Balik Foto Mewah: Dampak Psikologis Fenomena Flexing pada Generasi Digital
Oleh:
M. Zamzam R.
(Mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Pelita Bangsa)
Terasjabar.co – Media sosial hari ini bukan lagi sekadar tempat berbagi cerita, tetapi berubah menjadi panggung pencitraan. Banyak anak muda menunjukkan gaya hidup mewah di Instagram, TikTok maupun YouTube, fenomena ini dikenal sebagai flexing, yaitu kebiasaan memamerkan kekayaan untuk mendapat pengakuan (Kumparan News, 2024).
Flexing sering dianggap biasa dan bahkan menjadi kebanggaan. Namun di balik itu muncul tekanan sosial. Banyak remaja merasa harus terlihat “sukses” meski belum mapan secara finansial. Hal ini mendorong gaya hidup konsumtif dan citra palsu, seperti membeli barang bermerek palsu atau berutang demi terlihat kaya (Katadata.co.id, 2022).
Fenomena ini menunjukkan pergeseran nilai dalam masyarakat, di mana nilai diri diukur dari tampilan luar. Media sosial memperkuatnya melalui jumlah likes dan followers yang menjadi bentuk validasi sosial. Kondisi ini dapat memicu kecemasan, perasaan tidak berharga, hingga perbandingan sosial yang berlebihan (CNN Indonesia, 2023). Bahkan, beberapa selebgram dan figur publik tersandung kasus hukum setelah memamerkan kekayaan yang ternyata
bersumber dari tindak pidana. Dalam konteks ini, konten flexing dapat dikaitkan dengan UU No. 11 Tahun 2008 tentang ITE, terutama jika memicu keresahan publik (Kompas.com, 2024; UU ITE 2008).
Karena itu, diperlukan literasi digital untuk memahami bahwa tidak semua yang tampak di internet adalah kenyataan. Generasi muda perlu belajar bahwa kesuksesan tidak harus dipamerkan, dan kebahagiaan tidak harus dibuktikan melalui tampilan visual. Hidup apa adanya jauh lebih menenangkan daripada hidup demi kesan.






Leave a Reply