Krisis Kejiwaan Remaja, Buah Pendidikan Sekuler
Oleh:
Aas K
(Aktivis Muslim)
Terasjabar.co – Dalam sepekan terakhir, dua anak ditemukan meninggal dunia diduga akibat bunuh diri di Kabupaten Cianjur dan Sukabumi, Jawa Barat. Dilansir media online REPUBLIKA.com pada hari Jum’at (31/10/2025), Kasus ini menambah panjang daftar tragedi serupa yang melibatkan remaja. Fenomena ini bukan sekadar masalah individu, tetapi mencerminkan krisis mendasar dalam sistem pendidikan dan pola asuh generasi hari ini.
Meningkatnya angka bunuh diri di kalangan pelajar tidak bisa hanya disimpulkan sebagai dampak bullying. Lebih dalam dari itu, ia menunjukkan adanya kerapuhan kepribadian anak dan lemahnya fondasi akidah.
Sistem pendidikan sekuler yang dijalankan saat ini lebih menitikberatkan pada capaian akademik dan prestasi duniawi. Namun, melupakan pembentukan keimanan dan karakter yang kuat. Agama sering kali diajarkan hanya sebagai teori, tanpa menumbuhkan pengaruh spiritual yang nyata dalam diri anak.
Paradigma pendidikan modern juga memandang kedewasaan dari batas usia, bukan dari kematangan akal dan tanggung jawab. Akibatnya, banyak anak yang telah balig secara biologis, tetapi tidak diarahkan untuk menjadi pribadi yang aqil, yakni mampu berpikir dan bertindak sesuai nilai-nilai kebenaran. Kondisi ini menjadikan mereka rentan terhadap tekanan hidup, mudah cemas, dan kehilangan makna hidup.
Gangguan mental yang berujung pada bunuh diri sejatinya adalah puncak dari berbagai persoalan sosial yang lahir dari sistem kapitalis kesenjangan ekonomi, disfungsi keluarga, gaya hidup konsumtif, hingga paparan media sosial yang tak terbendung. Kapitalisme menanamkan nilai kebebasan tanpa batas, sementara beban hidup dan ekspektasi sosial terus meningkat kombinasi yang mematikan bagi kejiwaan generasi muda.
Islam memiliki pandangan yang sangat berbeda. Dalam sistem Islam, pendidikan berakar pada akidah, baik di lingkungan keluarga, sekolah, maupun masyarakat. Tujuan utamanya adalah membentuk pola pikir dan pola sikap Islam, sehingga anak tumbuh dengan kepribadian Islam yang kokoh. Sejak kecil, anak dididik bukan hanya untuk tahu, tapi untuk paham dan mengamalkan ajaran Islam secara kaffah.
Ketika anak mencapai usia balig, Islam mengarahkannya agar menjadi aqil, matang secara nalar dan tanggung jawab. Proses pendidikan sebelum balig diarahkan untuk mematangkan kepribadian dan kesiapan hidupnya sebagai khalifah di bumi. Dengan fondasi ini, anak memiliki ketahanan spiritual dan emosional menghadapi setiap ujian hidup.
Lebih jauh, penerapan sistem Islam secara menyeluruh menjamin terpenuhinya kebutuhan dasar, keharmonisan keluarga, serta orientasi hidup yang jelas semua aspek non klinis yang selama ini menjadi pemicu gangguan mental. Kurikulum pendidikan dalam sistem khilafah memadukan penguatan kepribadian islami dengan penguasaan ilmu pengetahuan, sehingga peserta didik siap menghadapi realitas kehidupan dengan solusi syar’i.
Tragedi demi tragedi yang menimpa remaja kita seharusnya menjadi alarm keras. Bukan hanya untuk berduka, tapi untuk meninjau ulang sistem yang melahirkan generasi rapuh. Sudah saatnya pendidikan diarahkan kembali pada fitrahnya membentuk insan beriman, cerdas, dan tangguh dengan menjadikan Islam sebagai landasan utama kehidupan.
Wallahualam bissawab






Leave a Reply