Delapan Dekade Merdeka, Pendidikan dan Kesehatan Masih Jauh dari Harapan
Oleh:
D. Budiarti Saputri
(Tenaga Kesehatan)
Terasjabar.co – Indonesia baru saja memperingati hari kemerdekaan yang ke-80 tahun. Seperti biasa momen yang biasa disebut agustusan ini dirayakan dengan meriah oleh banyak kalangan. Sayanganya, delapan dekade kemerdekaan, negeri ini masih saja belum lepas dari jerat ketimpangan dan kemiskinan, serta tidak meratanya fasilitas negara untuk rakyatnya. Salah satunya fasilitas pendidikan dan kesehatan yang masih jauh dari harapan.
Seperti yang terjadi di Seko, Luwu utara. Sarana pendidikan yakni sekolah-sekolah di sana masih belum memadai. Mulai dari bangunan yang bisa dikatakan tidak layak, sampai ketersediaan guru yang terbatas. Dikutip dari kompas.com (16/8/25)
Akses untuk bisa menempuh ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi juga masih kurang. Berdasarkan data BPS 2024, Lalu menyebut angka partisipasi sekolah (APS) untuk jenjang SD mencapai lebih dari 99 persen. APS jenjang SMP masih tinggi, namun di SMA menurun signifikan ke kisaran 70-85 persen, lalu kembali merosot tajam di pendidikan tinggi. Secara nasional, Lalu mengungkapkan, rata-rata lama sekolah penduduk di usia 15 tahun ke atas hanya 9,22 tahun atau setara tamat SMP. Hal ini terjadi bukan semata-mata karena Indonesia sedang mengalami learningloss tetapi juga karena lemahnya kemampuan masyarakat Indonesia untuk menyekolahkan anaknya ke tingkat yang lebih tinggi. Dikutip dari cnnindonesia.com (14/8/2025).
Tidak hanya di bidang pendidikan, di bidang layanan kesehatan pun belum merata. Salah satunya adalah masalah stanting yang masih menghantui generasi di negeri ini. Selain itu, fasilitas kesehatan juga masih belum merata, seperti diungkapkan pihak IDAI, bahwasanya pada tahun 2023 Indonesia memiliki sekitar 10 ribu puskesmas. Sedangkan, rumah sakit umum berjumlah 2.636 unit. Terlihat banyak memang, tapi nyatanya ini belum sampai menjangkau seluruh lapisan masyarakat terutama kelompok rentan. Ditambah semrawutnya pengelolaan BPJS dan masih banyak lagi masalah di dunia kesehatan. Dikutip dari rri.co.id (30/7/25).
Nyatanya setelah delapan dekade kemerdekaan ini, Indonesia masih harus banyak berbenah. Jika ditilik lagi, rasanya kemerdekaan itu masih jauh dari kenyataan. Hal ini tidak lain karena penerapan sistem Kapitalis yang meniscayakan pendidikan berkualitas dan kesehatan tidak merata, karena pelayanan diserah pengelolaannya kepada pihak swasta, sedangkan negara hanya berperan sebagai regulator. Kapitalisme hanya mengutamakan daerah yang dianggap bernilai ekonomi, sementara daerah terpencil terabaikan.
Pendidikan dan kesehatan diperlakukan sebagai komoditas. Kapitalisasi pendidikan dan kesehatan, merupakan satu keniscayaan sebagai buah penerapan sistem kapitalis. Kualitas sekolah dan layanan kesehatan yang didapat ditentukan kemampuan finansial, sehingga terjadi diskriminasi pelayanan kesehatan.
Hal ini jelas berbeda dengan sistem Islam. Islam menetapkan negara sebagai rain, sehingga melayani kebutuhan dasar rakyat, termasuk pendidikan dan kesehatan. Islam memosisikan pendidikan dan kesehatan sebagai hak publik, sehingga pemenuhan pendidikan dan kesehatan yang layak akan menjadi tanggung jawab negara. Pengelolaannya tidak akan diserahkan pada swasta. Negara akan membiayai secara maksimal, terkait pendidikan dan kesehatan. Negara Islam menjamin pendidikan dan kesehatan secara gratis, merata, dan berkualitas bagi semua warga tanpa diskriminasi. Sarana prasarana publik (jalan, jembatan, transportasi) dibangun negara demi mendukung akses pendidikan dan layanan kesehatan.
Untuk membiayai itu semua negara Islam memiliki sumber dana sangat berlimpah, karena bersumber dari pengelolaan kekayaan alam oleh negara melalui Baitul Maal, yang dikelola sesuai syariat Islam. Pengelolaannya tidak diserahkan pada , apalagi asing. Hasil dari pengelolaan sumber daya alam yang sesuai syariat ini akan mampu membiayai kebutuhan dasar seluruh warga negara.
Maka, delapan puluh tahun kemerdekaan saat ini seakan tidak ada artinya, karena pada nyatanya kemerdekaan itu masih jauh dari harapan. Sudah saatnya kita kembali kepada sistem Islam, di mana sistem inilah yang akan memberikan kemerdekaan hakiki. Wallahualam bissawab.






Leave a Reply