Tangkal Stunting Untuk Menyehatkan Generasi dalam Sistem Islam
Oleh:
Rena Malinda
(Aktivis Dakwah)
Terasjabar.co – Stunting merupakan permasalahan utama dalam pertumbuhan dan perkembangan anak. Permasalahan stunting selalu identik dengan masalah kesehatan pada anak.
Di Indonesia, stunting masih banyak terjadi dan berdampak pada menurunnya kualitas sumber daya manusia (SDM). Akibatnya, produktivitas menurun dan hal ini bisa membuat beberapa keluarga sulit untuk hidup sejahtera.
Penurunan angka stunting di Indonesia dalam satu tahun terakhir menjadi angin segar bagi masa depan generasi bangsa. Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Bandung Yuli Irnawaty Mosjasari menyatakan, penurunan prevalensi stunting di Kabupaten Bandung yang signifikan hingga mencapai 5,1 pesen pada tahun 2024 berkat kolaborasi pentahelix. Hal itu disampaikannya menanggapi hasil Survei Status Gizi Indonesia (SSGI) 2024 yang dirilis Kementerian Kesehatan baru-baru ini di mana prevalensi stunting Kabupaten Bandung turun dari 29,2 persen pada 2023, menjadi 24,1 persen pada 2024.
Walaupun prevalensi stunting mulai menurun, tetap saja angka stunting masih dikatakan tinggi. Salah satu penyebab yang utama adalah kurangnya asupan gizi yang baik karena banyak masyarakat hidup dalam kemiskinan. Stunting dan kemiskinan adalah dua masalah besar yang masih menjadi perhatian, terutama di negara berkembang seperti Indonesia. Stunting menunjukkan pertumbuhan anak yang terhambat, sementara kemiskinan membuat keluarga sulit memenuhi kebutuhan pokok. Kedua masalah ini saling berkaitan dan berdampak pada kehidupan banyak keluarga di berbagai wilayah.
Indonesia dikenal sebagai negeri yang kaya akan sumber daya alam, seperti hutan, tambang, laut, dan hasil pertanian. Tetapi mengapa masih banyak anak yang kekurangan gizi? Jawabannya jelas karena kekayaan negeri ini tidak dikelola untuk kesejahteraan rakyat, melainkan untuk kepentingan segelintir elit dan korporasi. Sistem sekuler kapitalis memandang negara hanya sebagai regulator yang mengatur hubungan antar pelaku pasar, bukan sebagai pelayan rakyat.
Sistem sekuler kapitalis memisahkan agama dari kehidupan. Akibatnya, kebijakan publik tidak dibangun atas dasar agama, melainkan demi keuntungan dan kekuasaan. Dalam sistem sekuler, rakyat miskin dibiarkan berjuang sendiri. Pelayanan kesehatan yang mahal, pendidikan yang sulit dijangkau, dan kesenjangan sosial yang semakin melebar adalah buah dari sistem ini. Karena itu, wajar jika stunting bukan hanya menjadi masalah kesehatan semata, tetapi tanda dari masalah yang jauh lebih dalam.
Islam tidak memandang stunting sebagai persoalan kesehatan semata, tetapi sebagai bentuk ketidak adilan dari sistem yang harus diselesaikan dengan perubahan secara menyeluruh. Negara dalam sistem Islam wajib menyediakan makanan bergizi, pelayanan kesehatan gratis dan berkualitas, serta menjamin kesejahteraan ekonomi keluarga. Selain itu, sumber daya alam harus dikelola oleh negara untuk kepentingan rakyat, bukan diberikan kepada pihak swasta atau asing.
Berbagai program penanggulangan stunting yang digaungkan pemerintah hari ini bersifat tambal sulam, seperti kampanye makanan sehat, pemberian vitamin, dan bantuan sosial yang hanya bersifat sementara. Semuanya belum menyelesaikan masalah utama dari stunting. Akar masalahnya sudah jelas yaitu akibat dari penerapan sistem sekuler kapitalis.
Dalam sistem Islam terdapat mekanisme ekonomi dan sosial yang kuat untuk mencegah terjadinya stunting. Misalnya, pengelolaan zakat, infak, dan sedekah untuk menjamin kebutuhan masyarakat miskin, distribusi kekayaan yang adil, dan pelayanan kesehatan tanpa biaya. Dengan sistem Islam, negara tidak berperan sebagai regulator semata, tetapi sebagai pelayan umat.
Islam menempatkan negara sebagai penanggung jawab utama atas kebutuhan dasar rakyatnya. Negara harus memastikan bahwa setiap rakyatnya mendapatkan makanan yang cukup, tempat tinggal yang layak, serta akses terhadap pelayanan kesehatan dan pendidikan yang berkualitas. Dalam sistem Islam, kekayaan alam tidak boleh dikuasai oleh swasta atau asing. Sumber daya dikelola negara untuk kemaslahatan umat, bukan untuk keuntungan semata.
Sudah saatnya umat menyadari bahwa stunting bukanlah sekadar akibat kekurangan gizi, tetapi akibat dari diterapkannya sistem yang salah dan zalim. Sistem sekuler kapitalis telah gagal menjamin kehidupan yang layak bagi rakyat. Islam datang tidak hanya sebagai agama spiritual, tapi juga sistem kehidupan yang mampu menjamin kesejahteraan umat secara menyeluruh, termasuk mencegah dan mengatasi stunting dari akarnya sehingga zero stunting dalam Islam sangat mudah dicapai.
Jika kita ingin menyelamatkan generasi masa depan dari bencana stunting dan berbagai masalah yang lainnya, maka kita perlu mengganti sistem yang rusak ini dengan sistem Islam yang menyeluruh dalam setiap aspek kehidupan.
Wallahu a’lam bishawab.






Leave a Reply