Suara dari Gaza, Percakapan Senyap di Tepi Dunia
Oleh:
Ummu Fahhala, S.Pd.
(Praktisi Pendidikan dan Pegiat Literasi)
Terasjabar.co – Angin malam berhembus pelan di reruntuhan Kota Gaza. Bau debu, darah, dan kepedihan masih menggantung di udara. Di antara puing-puing bangunan yang rata dengan tanah, seorang anak laki-laki bernama Yusuf berdiri memeluk Al-Qur’an miliknya yang tinggal setengah lembar. Umurnya baru sembilan tahun, tapi matanya telah menyimpan ribuan cerita pilu yang tak sanggup dituturkan orang dewasa.
Ibunya telah gugur dalam serangan udara beberapa pekan lalu. Ayahnya tak kunjung kembali sejak keluar mencari air bersih. Yusuf kini hanya ditemani langit yang merah, dan suara takbir yang masih menggema meski nyawa terus berguguran.
“Kami bukan takut mati,” bisik Yusuf, “kami hanya takut dunia tidak pernah mendengar suara kami.”
Di luar Gaza, dunia bergerak seperti biasa. Tapi di tanah para syuhada itu, waktu seakan berhenti. Tanggal 29 Juni 2025, data menunjukkan korban jiwa di Gaza telah menembus angka 56.412 orang (CNBC Indonesia). Namun, derita itu tak cukup kuat menggugah para penguasa negeri muslim untuk bergerak lebih dari sekadar mengutuk.
Di sebuah rumah sederhana di Indonesia, seorang ibu guru bernama Bu Hani menangis di depan televisi. Ia baru saja memutar video tentang pembantaian anak-anak di Gaza. Murid-muridnya yang duduk di ruang kelas, menatap layar itu dalam diam. Seorang siswa bertanya pelan, “Bu, kenapa kita tidak bantu mereka?”
Bu Hani menunduk, hatinya remuk. Ia ingin menjawab dengan lantang, tapi yang keluar hanya bisikan, “Karena dunia terlalu lama terlelap.”
Di layar, para pemimpin dunia berdiri rapi dalam perundingan damai. Mereka berbicara tentang gencatan senjata dan solusi dua negara. Tapi, menurut Dr. Ali Muhammad Ash-Shallabi, sejarawan Islam, tanah Palestina bukan barang dagangan. Ia adalah tanah wakaf umat yang tak boleh diberikan sejengkal pun kepada penjajah.
Seruan yang Tak Pernah Padam
Gencatan senjata, normalisasi, dan solusi dua negara hanya meninabobokan umat. Mereka melupakan satu hal: penjajah tak akan pernah berhenti sampai semua tanah dirampas. Dan umat Islam, jika masih setia pada sejarahnya, tak akan pernah ridha menyerahkan tanah para nabi.
“Kami tidak bisa menyerah,” kata seorang pejuang Palestina dalam sebuah rekaman video, “karena darah para syuhada ini telah menulis janji: Tanah ini milik umat, bukan milik perundingan.”
Bukan hanya suara mereka, tapi juga hati umat yang merasakan ketidakadilan ini. Semakin banyak yang sadar bahwa harapan kepada Barat dan sistem sekuler kapitalisme hanya memperpanjang penderitaan.
Harapan yang Tertulis dalam Sejarah Islam
Di masa Rasulullah Saw., umat tidak tinggal diam ketika tanah mereka dirampas. Ketika Rasul mengutus pasukan ke Tabuk, ia ingin memperlihatkan bahwa Islam tidak akan membiarkan penindasan berkuasa. Di masa Umar bin Khattab, Palestina dibebaskan tanpa tetesan darah yang sia-sia. Karena negara Islam berdiri dengan landasan keadilan, bukan kepentingan politik sesaat.
Allah berfirman: “Dan mengapa kamu tidak berperang di jalan Allah dan (membela) orang-orang yang lemah, baik laki-laki, perempuan, maupun anak-anak…” (QS. An-Nisa: 75)
Sistem Islam, yang dahulu menjadi pelindung umat di berbagai penjuru dunia, adalah sistem yang memayungi rakyat dengan adil. Di bawah kepemimpinan ini, tanah suci dan kehormatan umat selalu dijaga. Tidak ada normalisasi dengan penjajah. Tidak ada kompromi dengan penindas.
Fajar Itu Telah Menyingsing
Kisah Yusuf adalah satu dari ribuan kisah luka di Gaza. Tapi luka ini tidak boleh berakhir hanya dengan air mata. Ini harus menjadi awal dari kebangkitan besar. Kebangkitan umat Islam yang tidak lagi berharap pada solusi buatan penjajah. Tapi bangkit dengan keyakinan pada janji Allah dan warisan Rasul-Nya.
Umat Islam hari ini punya pilihan: terus terdiam dalam sistem yang tidak berpihak, atau bangkit menyambut fajar perubahan. Peradaban Islam yang gemilang bukan sekadar impian, tetapi peradaban yang telah nyata menjaga kehormatan umat. Dukung besar sangat diperlukan dalam perjuangan dakwah yang menyerukan solusi hakiki. Ini bukan sekadar perjuangan untuk Gaza. Ini perjuangan untuk seluruh umat.
Di antara reruntuhan Gaza, suara Yusuf menggema: “Jika dunia diam, aku akan tetap berbicara. Jika dunia lupa, aku akan terus mengingat. Karena aku tahu, ada umat besar yang akan bangkit. Dan aku percaya, fajar itu sudah dekat.”
Jangan biarkan Yusuf menunggu terlalu lama. Jangan biarkan darah yang tumpah sia-sia. kebangkitan umat adalah harapan terakhir bagi Palestina dan untuk dunia yang lebih adil.






Leave a Reply