Muharram Datang, Tapi Mengapa Hati Masih Sepi?
Oleh:
Ummu Fahhala, S.Pd.
(Praktisi Pendidikan dan Pegiat Literasi)
Terasjabar.co – Pagi itu, suara adzan Subuh menggema lembut dari surau kecil di sudut kampung. Angin pagi membawa aroma embun dan suara lantunan doa. Di sudut masjid, Pak Harun duduk bersandar. Ia baru selesai shalat dan tengah memandang kalender hijriah di dinding. Tertulis jelas, “1 Muharram 1447 H”.
Tahun Baru Islam telah datang. Tapi di hati Pak Harun, tak ada semarak, tak ada haru. Justru yang muncul adalah tanya yang dalam. “Apa yang berubah dari tahun ke tahun? Mengapa umat ini seperti tak pernah beranjak dari luka?”
Dari berita yang ia baca semalam, genosida di Palestina belum berhenti. Tangis anak-anak, runtuhnya rumah, dan jerit ibu-ibu masih terdengar, hanya saja dari layar kaca.
Di sisi lain, banyak pemimpin dunia Islam terdiam. Sebagian bahkan memilih berdamai dengan penjajah. Pak Harun menghela napas panjang. Ia merasa umat Islam kehilangan arah.
Tahun Baru yang Menyentil Nurani
Di hari-hari seperti inilah, Pak Harun teringat kisah hijrah Rasulullah Saw. betapa besar pengorbanan kaum Muslimin saat itu. Mereka tinggalkan rumah, harta, dan tanah kelahiran. Semua demi menyelamatkan akidah dan membangun peradaban baru di Madinah.
Dari hijrah itulah berdiri Daulah Islam pertama. Sebuah negara yang bukan hanya melindungi, tapi juga memuliakan umat. Di bawah naungan Islam, umat bersatu. Mereka tidak hanya hidup damai, tapi juga menyebarkan rahmat ke seluruh penjuru dunia.
Pak Harun bertanya dalam hati, “Apa yang membuat umat saat itu kuat? Mengapa kita hari ini tampak lemah dan tercerai-berai?”
Umat Terpuruk Karena Jauh dari Ajaran Islam
Ia lalu membuka Al-Qur’an, tepat di Surah Thaha ayat 124. “Dan barang siapa berpaling dari peringatan-Ku, maka sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit.” Air matanya jatuh perlahan. Ia sadar, umat hari ini bukan kekurangan jumlah, tapi kehilangan arah.
Pak Harun yakin, yang hilang dari kehidupan umat bukan semangat, tapi sistem hidup yang benar. Umat saat ini hidup dengan aturan buatan manusia. Banyak yang menjauh dari ajaran Allah. Akibatnya, Islam hanya menjadi simbol, bukan pedoman.
Ia pun merenung, bahwa umat Islam harus kembali pada akarnya. Menjadikan Al-Qur’an dan sunah sebagai landasan hidup, bukan sekadar bacaan.
Kembali ke Jalan Lurus untuk Bangkit Kembali
Pak Harun teringat khutbah Ustaz Miftah minggu lalu. Sang ustaz menjelaskan bahwa Islam tak hanya mengatur ibadah. Islam juga memiliki sistem yang lengkap untuk kehidupan, termasuk ekonomi, pendidikan, dan pemerintahan.
Rasulullah Saw. dan para sahabat telah mencontohkan bagaimana membangun masyarakat Islam yang adil dan sejahtera. Penerapan sistem Islam bukan hanya sejarah. Ia adalah sistem peradaban yang pernah menjadi pelindung umat. Sebuah perisai (junnah) yang menjaga akidah, kehormatan, dan kehidupan rakyat.
Namun, Pak Harun tidak serta merta menyalahkan pemerintah saat ini. Ia sadar, dunia hari ini kompleks. Banyak tantangan dan tekanan global yang dihadapi para pemimpin. Tapi ia percaya, kesadaran umatlah yang menjadi kunci perubahan.
Perubahan Butuh Dakwah yang Konsisten dan Ikhlas
Pak Harun tahu, umat tidak bisa bangkit sendiri. Butuh orang-orang yang terus mengingatkan, membimbing, dan menyadarkan dengan sabar. Ia bersyukur, masih ada jamaah dakwah yang konsisten. Mereka tidak hanya mengkritik, tapi juga menawarkan solusi. Mereka menyuarakan pentingnya kembali kepada aturan Allah secara kaffah.
Di pengajian malam itu, Pak Harun berdiri lebih lama dari biasa. Ia berbicara dengan suara lirih tapi tegas, “Mari jadikan Muharram ini awal hijrah kita. Bukan hijrah fisik, tapi hijrah pemikiran. Dari sekadar rutinitas menjadi umat yang sadar dan siap bangkit.”






Leave a Reply