Luka Tak Bertepi, Islam Hadirkan Musim Semi
Oleh:
Putri Efhira Farhatunnisa
(Pegiat Literasi di Majalengka)
Terasjabar.co – Dunia merayakan hari raya Idul Adha, namun Palestina masih bergelung luka. Serangan udara dan tembakan militer Israel yang terus-menerus telah menyebabkan ratusan korban jiwa dan ribuan orang terluka. Jalur Gaza yang sudah lama terisolasi dan terkepung kini semakin terpuruk dalam krisis kemanusiaan yang parah. Apakah dunia masih akan diam dan membiarkan tragedi ini terus berlanjut?
Serangan Israel di Jalur Gaza pada hari kedua Idul Adha menyebabkan sedikitnya 17 warga Palestina meninggal dunia dan lebih dari 40 orang lainnya mengalami luka-luka. Sejak 27 Mei 2025, total korban tewas akibat tembakan tentara Israel telah mencapai 115 orang, dengan lebih dari 580 warga Gaza mengalami luka-luka. Menurut laporan Amnesty International, Israel telah melakukan kejahatan genosida terhadap warga Palestina di Jalur Gaza, dengan membunuh lebih dari 42.000 warga Palestina, termasuk 13.300 anak kecil, dan melukai lebih dari 97.000 lainnya (beritasatu.com, 7/6/2025).
Penderitaan yang Tak Berujung
Palestina, tanah air yang terus mengeluarkan darah. Bayi-bayi yang masih merah, tak memiliki dosa, namun menjadi sasaran empuk penjajah Zionis Yahudi. Mereka dibunuh dengan kejam, tanpa belas kasihan. Bahkan, di hari raya pun, serangan tidak berkurang. Kondisi ini telah berlangsung selama bertahun-tahun, dan tidak ada tanda-tanda bahwa kekejaman ini akan berhenti. Satu-satunya ‘dosa’ mereka hanyalah karena mereka Muslim dan keturunan Palestina.
Zionis tidak hanya membunuh dengan senjata, namun juga menggunakan kelaparan sebagai senjata untuk membunuh secara pelan-pelan generasi Palestina. Mereka tidak memiliki belas kasihan, tidak memiliki rasa kemanusiaan. Mereka hanya memiliki satu tujuan, yaitu menghancurkan Palestina dan umat Islam. Kekejaman ini telah menyebabkan ratusan ribu orang Palestina menjadi pengungsi, kehilangan rumah dan tanah air mereka.
Kapitalisme Membungkam Suara untuk Palestina
Namun, yang lebih miris adalah diamnya dunia. Negara-negara besar dunia, bahkan penguasa Muslim, hanya sibuk dengan retorika tanpa tindakan nyata. Mereka tidak mengirimkan pasukan untuk mengusir penjajah, tidak melakukan apa-apa untuk membantu Palestina. Diamnya dunia ini telah memperburuk kondisi Palestina dan umat Islam.
Sebuah pemandangan yang mengecewakan dan menyayat hati di mana pasukan militer Mesir menahan aktivis “Global March to Gaza” dan mendeportasi puluhan warga asing yang mengikuti aksi tersebut. Bahkan tak sedikit yang harus mengalami luka-luka atas serangan yang diterima para aktivis. Entah kepada siapa Mesir berpihak, padahal jelas yang tertindas adalah saudara muslim sendiri.
Para aktivis yang mencoba memenuhi panggilan rakyat Palestina ditahan. Penyiar Mesir Ahmed Moussa, pendukung vokal rezim mengatakan bahwa aksi ini dimaksudkan untuk mempermalukan Mesir. Jelas seharusnya para pemimpin negara-negara muslim merasa malu atas adanya aksi ini yang menunjukkan ketidakberdayaan mereka, sampai harus aktivis yang turun tangan membantu Palestina. Sepantasnya, pemimpin negeri muslim lah yang harus memenuhi seruan rakyat Palestina.
Matinya rasa kemanusiaan sesungguhnya menunjukkan matinya sifat dasar manusia. Ini adalah buah kapitalisme yang mengagungkan nilai materi dan rasa superior, disertai dengan kebencian atas manusia lainnya. Kekejaman yang begitu rupa tidak mengusik nurani para pemimpin Muslim. Mereka lebih mementingkan kekuasaan dan kepentingan pribadi daripada memperjuangkan hak-hak umat Islam.
Nampaknya belenggu negara adidaya telah menahan mereka untuk meraih tangan kecil anak Palestina. Kenyamanan telah melenakan, menutup mata dan hati dari penderitaan pejuang tanah suci. Telinga mereka telah tuli dari jeritan wanita-wanita Gaza yang kehilangan anaknya. Mereka hanya pengecut yang diam dibalik selimut, menolak kenyataan yang ada. Kapitalisme telah mengikat mereka, membunuh nurani dan mebuat lupa pada hari penghakiman nanti.
Jihad dan Sistem Islam
Jihad tidak mungkin terwujud tanpa adanya seruan negara. Namun, model negara hari ini tidak mungkin menyerukan jihad, bahkan mereka justru bergandengan tangan dengan penjajah Yahudi. Seruan jihad hanya mungkin dikumandangkan oleh Sistem Islam yang berbasis pada Al-Qur’an dan As-Sunnah. Oleh karena itu, umat harus berjuang menegakkan Sistem Islam.
Tegaknya Sistem Islam tidak mungkin terwujud ketika umat masih hidup dalam naungan kapitalisme sekuler. Umat harus sadar bahwa Sistem Islam adalah satu-satunya jalan untuk menyelamatkan Palestina dan umat Islam. Umat harus berjuang bersama untuk menegakkan Sistem Islam dan membebaskan Palestina dari cengkeraman penjajah Zionis Yahudi. Sistem Islam akan membawa keadilan, kesetaraan, dan keamanan bagi umat Islam dan seluruh manusia.
Upaya menegakkan Sistem Islam membutuhkan kepemimpinan jamaah dakwah ideologis yang konsisten menyerukan tegaknya Sistem Islam. Jamaah ini akan membangun kesadaran umat dan menunjukkan jalan kemuliaan bagi umat. Umat sudah seharusnya menjawab seruan jamaah dakwah ini dan berjuang bersama untuk menegakkan Sistem Islam dan membebaskan Palestina.
Wallahua’lam bishawab.






Leave a Reply