Penurunan Prevalensi Stunting di Bandung

Oleh:
Ria Juwita Mua Syar’i

Terasjabar.co – Stunting, merupakan masalah kesehatan, yaitu kondisi dimana anak-anak memiliki tinggi badan yang lebih rendah dari standar normal. Stunting memengaruhi jutaan anak-anak di dunia, termasuk Indonesia. Hampir di setiap daerah terdapat permasalahan terkait stunting.

Prevalensi stunting di Kabupaten Bandung pada tahun ini dinyatakan menurun secara signifikan. Hasil Survei Status Gizi Indonesia (SSGI), menyebutkan bahwa prevalensi stunting bisa disebut sebagai sebuah alat ukur yang dipergunakan untuk mengamati masalah stunting.

Data ini mampu digunakan untuk standar pemerintah dalam menurunkan kebijakan, efektivitas program-program intervensi, evaluasi, dan pengalokasian sumber daya dalam penyelesaian problematika stunting.

Dikutip dalam jabaronline.com, “Kalau dilihat dari jumlah penduduk khususnya penderita stunting di Kabupaten Bandung, secara absolut penurunan angka stunting mencapai 5,1 persen ini merupakan penurunan yang signifikan,” tandas Yuli di Soreang, Selasa (27/5/2025).

Beberapa program telah di rancang untuk menurunkan stunting, salah satunya yaitu Program BEDAS (belajar bersama untuk sadar gizi). Adapun campur tangan antara pihak Lembaga Penjamin simpanan dan CARE Indonesia. Dalam rangka menekan angka stunting. Target penurunan stunting berhasil diturunkan secara signifikan.

Akan tetapi, permasalahan ini akan terus muncul jika akar permasalahannya tidak diselesaikan secara menyeluruh. Kemiskinan faktor gizi buruk yang akan terus melanda pada anak-anak di kalangan ekonomi bawah, padahal anak adalah amanah yang perlu dijamin kebutuhan hidupnya.

Indonesia, terkenal sebagai negara yang kaya akan potensi alam, namun justru sebagai negara darurat stunting. Bahkan kemiskinan dan ketimpangan menjadi permasalahan yang tidak ada ujungnya.

Adapun upaya dari pemerintah untuk mengurangi angka stunting yaitu dengan pemberian makanan tambahan untuk ibu hamil dan menyusui, program untuk balita dengan pemberian vaksinasi lengkap melalui imunisasi dan sanitasi infrastruktur air minum. Namun upaya ini tidak membuahkan hasil. Stunting hanya permasalahan cabang, lalu dimana akar permasalahanya?

Sistem yang diterapkan di negara ini adalah sistem kapitalis. Yakni sebuah sistem yang diadopsi dari negara sekuler Barat yang berasaskan demokrasi.

Dalam sistem ini penguasa terbatas dalam perannya untuk meriayah umat. Urusan umat diserahkan pada swasta, yang justru menyebabkan semakin terciptanya kemiskinan dan kesenjangan. Sebab, tata kelola urusan umat diatur berdasarkan kepentingan pribadi atau kelompok tertentu dan demi keuntungan materi.

Para pemilik modal menjadi orientasi utama, bukan kesejahteraan rakyat. Pemerintah hanya sebagai regulator dan dikuasai elit yang mendukung para oligarki. Hal ini tentunya jauh dari kepentingan rakyat. Semua kebijakan hanya untuk kepentingan mereka semata. Terbukti dalam sistem ini negara tidak mampu menjamin pemenuhan kebutuhan dasar rakyat.

Stunting mampu di cegah dengan penyelesaian yang multidimensional. Penyediaan infrastruktur kesehatan yang merata bagi seluruh rakyat, terutama balita dan ibu hamil.

Dalam sistem Islam, jaminan kesehatan merupakan hak semua rakyat secara cuma-cuma. Negara memenuhi hak dasar masyarakat yaitu pendidikan, sandang, pangan, dan papan. Para kepala keluarga mampu memenuhi kewajibannya, karena ketersediaan lapangan pekerjaan. Yang mana menjadikan keluarga terpenuhi nafkah dan tidak terjadinya kekurangan gizi baik itu anak ataupun ibu hamil.

Permasalahan stunting akan terselesaikan dengan peran negara yang berbasis syariat Islam. Negara melakukan evaluasi yang berkala terkait kebijakan yang telah dibuat, agar semua berjalan sesuai amanah.

Semua itu tentunya bisa di wujudkan dalam sistem yang mengikuti aturan sang pencipta yaitu ideologi Wallahualam bissawwab.

Bagikan :

Leave a Reply

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

1 + 3 =