Jangan Korbankan Ibadah Wajib Demi Mengejar Amalan Sunnah: Refleksi Jelang Fase Puncak Haji 2025
Oleh:
Erwinsyah Erick Blue
(PPIH 2025 – Daker Makkah)
Terasjabar.co – Menunaikan ibadah haji adalah cita-cita dan kebanggaan setiap Muslim. Namun, di balik semangat dan kekhusyukan para jemaah, terselip satu tantangan klasik yang hampir selalu terulang setiap tahun: memaksakan diri untuk mengejar amalan sunnah seperti mencium Hajar Aswad atau melakukan umrah sunnah berkali-kali, tanpa mempertimbangkan kondisi fisik dan kesiapan mental menjelang fase puncak haji — Arafah, Muzdalifah, dan Mina (ARMUZNA).
Banyak jemaah merasa bahwa tanpa mencium Hajar Aswad, hajinya terasa kurang sempurna. Akibatnya, mereka rela berdesakan, berjuang menerobos kerumunan, bahkan harus menerima risiko tertimpa, terinjak, atau mengalami kelelahan hebat demi menyentuh batu hitam itu. Padahal, mencium Hajar Aswad bukanlah rukun atau wajib dalam haji. Ia hanyalah sunnah yang jika tidak memungkinkan, cukup diganti dengan isyarat dari kejauhan.
Hal serupa juga terjadi pada umrah sunnah. Ada jemaah yang semangatnya luar biasa hingga mampu menyelesaikan 10 kali lebih umrah sunnah sebelum fase ARMUZNA dimulai. Namun yang menjadi kekhawatiran adalah stamina yang terkuras justru saat dibutuhkan untuk menjalankan ibadah yang utama dan wajib. Kita tentu tidak ingin, karena terlalu memaksakan diri di awal, jemaah malah tidak maksimal ketika wukuf di Arafah — momen puncak dari seluruh rangkaian ibadah haji.
Pemerintah Arab Saudi sebenarnya telah membuat sejumlah langkah antisipatif. Saat ini, area tawaf di sekitar Ka’bah hanya dibuka bagi jemaah yang sedang ber-ihram, dan akses ke Hajar Aswad pun dibatasi. Ini adalah bentuk perlindungan agar ibadah berlangsung aman, tertib, dan terhindar dari potensi bahaya.
Hari ini, Jumat terakhir sebelum memasuki ARMUZNA, hendaknya menjadi refleksi bagi kita semua. Petugas dan pendamping jemaah diimbau untuk mengedukasi jemaah agar tidak memaksakan diri ke Masjidil Haram, terlebih setelah pukul 10 pagi waktu setempat. Shalat Jumat di masjid sekitar hotel adalah pilihan bijak, apalagi mengingat padatnya lalu lintas jemaah dan kondisi cuaca yang semakin panas.
Selain itu, penting untuk selalu menyiapkan alat pelindung diri (APD), membawa botol minum, serta perlengkapan pribadi lainnya untuk menunjang keamanan dan kenyamanan selama beribadah.
Kami juga mengajak para petugas kesehatan (TKHI) dan pembimbing ibadah kloter untuk terus aktif memberikan edukasi. Jangan bosan mengingatkan bahwa menjaga kesehatan bukan berarti mengurangi pahala, justru itulah bagian dari kesempurnaan ibadah.
Jangan sampai karena mengejar sunnah, ibadah wajib jadi terganggu. Haji adalah ibadah fisik dan spiritual. Bijak dalam mengatur tenaga adalah kunci agar semua rangkaian ibadah dapat dijalani dengan khusyuk dan tuntas.
Mari kita saling mengingatkan. Semoga setiap langkah jemaah mendapat ridha Allah SWT dan kembali ke tanah air sebagai haji yang mabrur.





Leave a Reply