Cinta Ditolak Berujung Kalap, Islam Memberi Solusi Mujarab
Oleh:
Ummu Fahhala, S.Pd.
(Praktisi Pendidikan dan Pegiat Literasi)
Terasjabar.co – Geger, sesosok jasad perempuan ditemukan membusuk di sebuah warung kopi yang sudah lama tutup, pada Rabu (15/1/2025) oleh warga Perumahan Made Great Residence, Desa Made, Lamongan. Kapolres menyatakan bahwa motif pembunuhan itu ternyata berawal dari penolakan cinta.
Emosi pelaku (inisial VPR, remaja laki-laki 16 tahun) yang meluap-luap menyebabkan korban (inisial AI, remaja perempuan 16 tahun) dipukuli hingga kepala korban dibenturkan ke tembok warung. Setelah dipastikan meninggal, korban ditinggalkan begitu saja di dalam warung selama lima hari sebelum akhirnya ditemukan, dilansir kompas.com, JUmat (17/01/2025).
Banyak faktor yang menjadi sebab terjadinya luapan emosi yang berimbas pada pembunuhan oleh remaja tersebut, diantaranya kurang bisa mengontrol emosi, minimnya pendidikan moral dan agama, serta abai terhadap kesehatan mental di kalangan remaja.
Lingkungan sosial berkontribusi memperburuk kondisi ini. Demikian juga tontonan, khususnya media sosial yang hari ini banyak mempertontonkan kekerasan mempengaruhi generasi. Berbagai kondisi ini merupakan buah pahit dari kehidupan yang diatur dengan sistem sekuler kapitalisme.
Sekulerisme mejadikan kehidupan jauh dari agama, sehingga halal dan haram bukan standar kehidupan. Sementara ukuran kebahagiaan dalam sistem kapitalisme hanya memuaskan kesenangan materi dan hawa nafsu.
Ide sekulerisme sendiri telah menjadikan manusia tidak memahami agama dan aturannya. Penerapan sistem kapitalisme berhasil menjadikan kesenangan dunia disandarkan pada pencapaian materi semata. Alhasil terbentuk remaja yang kurang memiliki pemahaman agama, kontrol diri yang lemah. Mereka hanya mengedepankan emosi demi mendapatkan kepuasan pribadi.
Sistem pendidikan sekuler tidak mampu melahirkan generasi yang berkepribadian Islam. Pendidikan saat ini justru mengedepankan prestasi bernilai materil akademik saja demi meraih eksistensi diri. Generasi yang hanya mengejar kepuasan duniawi, termasuk kepuasan dalam meluapkan emosi dengan kekerasan.
Solusi Islam
Berbagai persoalan generasi saat ini membutuhkan sistem mujarab, yang mampu memberikan solusi komprehensif dan sesuai fitrah manusia. Sistem ini adalah sistem Islam.
Pendidikan Islam membentuk output yang berkepribadian Islam. Handal dalam aspek materi akademis disertai keimanan dan ketakwaan serta akhlak yang mulia. Sehingga mampu mengendalikan diri dan emosi serta memiliki pemahaman yang benar dalam menjaga hubungan dengan sesama manusia lainnya.
Secara umum, hubungan laki-laki dan perempuan terpisah, kecuali dalam urusan yang dibolehkan oleh hukum syara, seperti dalam pendidikan, kesehatan, jual beli dan sejenisnya.
Islam juga memiliki aturan yang lengkap terkait pergaulan laki-laki dan perempuan. Diantaranya, kewajiban menahan pandangan, kewajiban menutup aurat, haram berkhalwat dan ikhtilat, dan sebagainya. Sehingga mencegah terjadinya hubungan yang memicu konflik emosional, merusak moral atau cenderung pada dosa dan maksiat.
Dalam Islam, masyarakat senantiasa disuasanakan dalam keimanan dan keta’atan termasuk adanya budaya amar ma’ruf nahi munkar dalam menjalankan perannya masing-masing.
Ketika ada sepasang remaja yang berkhalwat (berdua-duaan) maka masyarakat akan mengingatkan mereka untuk menjauhi khalwat. Berkhalwat diharamkan berdasarkan HR. Ahmad 1/18, Ibnu Hibban [lihat Shahih Ibnu Hibban 1/436], At-Thabrani dalam Al-Mu’jam Al-Awshoth 2/184, dan Al-Baihaqi dalam sunannya 7/91. Dishahihkan oleh Syaikh Al-Albani dalam As-Shahihah 1/792 no. 430, bahwa Rasulullah Saw. bersabda: “Janganlah kalian berkhalwat dengan seorang wanita, karena sesungguhnya orang ketiga diantara kalian berdua adalah syaitan.”
Selain itu dalam sistem Islam juga ada qadhi hisbah yang ditugaskan untuk melakukan kontrol sosial dan menindak setiap orang yang melakukan kemaksiatan. Hanya dengan penerapan Islam kafah (menyeluruh), maka para remaja dapat mengoptimalkan potensinya untuk amal shalih dan kebaikan, sehingga menjadi generasi hebat dan ta’at syariat. Segala kasus tragis pun dapat dicegah dan diberi hukuman adil serta bersifat menjerakan.






Leave a Reply