Jumlah Penderita Gizi Buruk dan Gizi Kurang di Jabar Menurun, Tapi Penderita Stunting Meningkat
Terasjabar.co – Jumlah penderita gizi buruk dan gizi kurang di Jawa Barat menurun. Hal itu disampaikan Kepala Dinas Kesehatan Jawa Barat, Dodo Suhendar, ketika di Rumah Sakit Boromeus, Bandung, Minggu (28/1/2019).
“Gizi buruk menurun, gizi kurang berkurang. Sekarang yang meningkat Stunting,” ujarnya.
Sebagai informasi gizi kurang dihitung berdasarkan indeks berat badan menurut umur. Sedangkan stunting dihitung berdasarkan tinggi badan menurut umur.
Berdasarkan data dari Dinkes Jabar, jumlah penderita gizi kurang di Jawa Barat mencapai 15,1%. Sedangkan jumlah penderita stunting mencapai 29,2%.
“Padahal tahun sebelumnya (stunting) 25,1%. Ada kenaikan empat poin,” kata Dodo Suhendar.
Menurut Dodo, tingginya angka stunting di Jawa Barat dikarenakan kurangnya pengetahuan masyarakat akan gizi yang harus dikonsumsi anak.
Sehingga, banyak juga orang dari kalangan ekonomi mampu, tetapi memiliki anak stunting karena kurangnya wawasan soal gizi baik untuk anak.
Sebenarnya, pemerintah pusat juga memiliki program untuk penyelesaian masalah stunting. Satu di antaranya melalui Program Keluarga Harapan (PKH) dari Kementrian Sosial.
“Untuk yang miskin, pemerintah punya PKH, di Kemensos. Untuk ibu hamil dapat dana Rp 2,4 juta. Untuk membeli ada, tetapi kalau enggak tahu apa yang harus dibeli, bisa salah beli atau salah sasaran,” ujarnya.
Sehingga pemerintah harus mengintervensi wawasan masyarakat mengenai gizi ibu hamil dan anak bayi.
Caranya, kata Dodo, dengan terjun langsung ke desa yang rawan potensi stunting. Di sana, pemerintah akan mengarahkan warga, terutama ibu hamil untuk membeli makanan jenis tertentu yang sesuai standar gizi yang baik.
“Dari 14 kabupaten kota (di Jawa Barat), setiap kabupaten, ada 10 desa yang diintervensi model,” ujarnya.






Leave a Reply