Memutus Belenggu Hegemoni, Menggagas Kembali Format Madinah di Tengah Labirin Ideologi Modern
Oleh:
Nunu A. Hamijaya
(Sejarawan Publik & Pusat Studi Sunda-Bandung)
Terasjabar.co – Umat Islam saat ini berada dalam jebakan paradoks kemerdekaan. Secara administratif kita merdeka, namun secara sistemik masih terjajah.
Kita pun menyadari, bahwa kondisi umat Islam di Indonesia berada di tengah pusaran persimpangan sejarah yang amat krusial. Lebih dari 7 dekade , kita menyaksikan teater politik di mana kedaulatan sering kali hanyalah jargon di atas mimbar di tengah kepentingan global yang terus mendikte kebijakan negara.
Dunia hari ini tidak sedang membutuhkan pemanis buatan untuk sistem yang sudah membusuk, dan umat Islam di Indonesia harus berhenti memosisikan agamanya hanya sebagai suplemen bagi negara yang nyata-nyata kapitalistik. Selama ini, kita terjebak dalam delusi bahwa nilai-nilai Islam cukup dihadirkan sebagai penawar rasa sakit atau sekadar pelengkap moral bagi sistem ekonomi dan politik yang esensinya bertentangan dengan tauhid.
Narasi “jalan tengah” yang sering diagungkan oleh mereka yang mengaku nasionalis sebenarnya hanyalah strategi untuk menjaga agar kapitalisme global tetap berkuasa dengan bungkus kesejahteraan yang semu. Di bawah bayang-bayang ketakutan akan embargo dan stigma adidaya, umat Islam seolah dipaksa untuk terus berkompromi, menyisipkan potongan syariat ke dalam wadah yang najis, dan berharap sistem tersebut akan berubah dengan sendirinya.
Persoalan mendasar yang paling menghambat kebangkitan ini adalah kelumpuhan motivasi di tubuh umat yang berakar dari perbedaan tafsir yang tak berujung dan kenyamanan elitis.
Banyak tokoh agama dan ulama kondang hari ini telah merasa cukup dengan keamanan di dalam “padepokan” kultural mereka, sementara membiarkan umat tetap terjajah oleh sistem yang secara sistemik menindas. Mereka berdalih bahwa pembangunan akhlak adalah segalanya, namun mengabaikan fakta bahwa tanpa kendaraan politik yang independen, akhlak individu akan terus digilas oleh kebatilan sistemik. Islam yang mulia dan menyelamatkan mustahil bisa mewujud secara sempurna jika ia dipaksa untuk hidup menumpang di bawah ketiak sistem jahiliyah modern yang dibangun atas dasar keserakahan dan pengabaian terhadap perintah Allah dalam Surah Al-Ma’idah ayat 44, 45, dan 47.
Kita harus menilik kembali hakikat “Manhaj Madinah” yang dicontohkan oleh Rasulullah SAW. Beliau tidak hadir untuk memperbaiki sistem jahiliyah Makkah agar menjadi sedikit lebih baik; beliau hadir untuk mendeklarasikan entitas baru yang benar-benar mandiri dan berdaulat. Rasulullah SAW menyingkirkan sistem lama tanpa syarat dan membangun Madinah sebagai antitesis total terhadap penindasan. Beliau membuktikan bahwa kekuatan Islam lahir dari keberanian untuk berdiri sendiri sebagai pemimpin visioner yang tidak membutuhkan restu dari sistem demokrasi liberal maupun kekuatan oligarki.
Perubahan ini digerakkan oleh para saudagar dan profesional muslim yang merdeka, mereka yang paham bahwa kedaulatan iman tidak akan pernah tegak di atas ketergantungan ekonomi dan politik dari tangan-tangan musuh.
Inilah saatnya bagi umat Islam untuk berhenti menjadi “penghuni tambahan” dalam rumah yang dibangun oleh ideologi lain. Format Madinah modern menuntut kita untuk membangun ekosistem mandiri yang berani menyingkirkan paradigma kapitalistik tanpa kompromi.
Kita membutuhkan para teknokrat, pengusaha, dan pemikir muslim yang memiliki mentalitas “pembangun”, bukan sekadar “pengekor”. Mereka harus berani merumuskan langkah nyata untuk memutus rantai ketergantungan sistemik, mulai dari tata kelola ekonomi yang bebas riba secara mutlak hingga penegakkan hukum Allah yang tidak mengenal kasta. Islam adalah cahaya yang harus menyinari seluruh aspek kehidupan, bukan lilin kecil yang dinyalakan hanya saat sistem gelap ini sedang dalam krisis.
Karakter asli politik Islam adalah kedaulatan tunggal di bawah hukum Allah. Islam yang menyelamatkan hanya akan hadir jika kita memiliki keberanian untuk meninggalkan kendaraan jahiliyah yang sudah bobrok ini dan membangun kendaraan kita sendiri. Kebangkitan Madinah bukanlah sebuah nostalgia sejarah, melainkan sebuah aksi nyata untuk menegakkan keadilan sejati yang melampaui sekat-sekat nasionalisme sempit dan tipu daya kapitalis.
Hanya dengan memosisikan Islam sebagai poros utama yang mengatur seluruh sendi kehidupan tanpa syarat, umat ini akan kembali menemukan kemuliaannya dan menjadi tempat perlindungan bagi seluruh warga dunia, persis sebagaimana yang dicontohkan Rasulullah SAW empat belas abad yang lalu.





Leave a Reply