MASAGI KAWUNG SUNDA: Aksiologi Manusia Sunda

Oleh:
Nunu A. Hamijaya
(Sejarawan Publik/Pusat Studi Sunda)

Khoirunnaas anfauhum linnass.

“Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia” (HR. Ahmad, ath-Thabrani, ad-Daruqutni. Hadits ini dihasankan oleh al-Albani di dalam Shahihul Jami’ No: 3289)

Hirup kudu kawung, sakabeh bagian aya mangpaatna” – Papatah Sunda

Toponimi dengan Kata ‘Kawung’

Di beberapa tempat di Tatar Sunda dikenal sungai atau daerah dengan nama Kawung. Misalnya, di wilayah Desa Karangwangi, Cidaun, Cianjur Selatan, dikenal nama Sungai (Walungan) Cikawung. Selain di Cianjur, topinimi dengan kata ‘kawung’ misalnya terdapat beberapa daerah yang seperti: Bantar Kawung di Kabupaten Brebes, Kawung Girang di Kabupaten Cilacap, Kedung Kawung di Kabupaten Banyumas, Kawung Carang di Kabupaten Banyumas, Kali Kawung di Kabupaten Banyumas dan Purbalingga, Kawunganten di Kabupaten Cilacap (kalau ini merujuk kepada istri Sunan Gunung Jati)

Diambil dari kata “kawung”, bagi masyarakat tatar Sunda keberadaanya sudah menjadi bagian dari kesadaran kosmologi dan ekologi, sehingga nama ini digunakan dalam berbagai frasa dengan makna yang berbeda-beda.

Secara ekologi, pohon kawung banyak manfaatnya tetapi penyebaran dan regenerasi pohon kawung sepertinya lebih mengandalkan bantuan satwa mamalia careuh (Paradoxurus hermaproditus) daripada diusahakan dengan sengaja ditanam atau dibudidayakan.

Padahal, kawung ini memiliki banyak manfaatnya, setiap bagiannya bermanfaat. Bogornya digunakan untuk tiang rumah atau lumbung padi, atau barera untuk menenun; empulurnya dibuat sagu; akarnya dihadikan pecut, atau dijadikan obat untuk orang yang baru melahirkan; kawul-nya (sejenis lumut berwarna coklat) untuk bahan korek api; seratnya dijadikan tali untuk mancing; ijuknya untuk bubungan rumah atau tali tambang; lidi harupatnya dijadikan kalam (pena) oleh para santri; kulit pelepahnya dijadikan tutup botol; lidinya dijadikan sapu; daun mudanya dijadikan rokok; langgari-nya dijadikan tongkat; kolang-kalingnya (caruluk) dijadikan bahan makanan atau tasbih. Belum lagi kuliner lokal yang bisa dikembangkan: bajigur (air gula aren dan santen), bandrék, dawet (air dicampur santen dan dagingnya dari tepung aren), jojongkong (dibuat dari tepung ketan campur santen berisi gula aren), katimus (pepes singkong di dalamnya berisi gula aren), atau yang khas Banten Kidul, yakni intil (dari nasi dicampur gula kawung dan kelapa parut).

Punahnya pohon-pohon kawung secara lokal dapat menyebabkan musnahnya pula sistem pengetahuan lokal (Local Knowledge) atau pengetahuan ekologi tradisional (Traditional Ecological Knowledge-TEK), praktik budaya, serta linguistik lokal penduduk perdesaan yang berhubungan dengan kawung.

Kawung mabur Carulukna: Ramalan Uga

Kawung mabur carulukna. gula leungiteun ganduna. Ciamis kari paitna, Ciherang kantun kiruhna, Samak tinggaleun pandanna. Kiai leungiteun aji, pandita ilang komara; kahuruan ku napsuna.

Pernyataan diatas disebut sebagai uga Bandung, sebuah sumber tentang ramalan Ki Sunda atau karuhun Sunda tentang kondisi masa depan lingkungan, masyarakat dan tatar sunda pada khususnya.

Kerusakan alam dengan yang digambar dengan ungkapan tersebut dijelaskan sebagai berikut:

  1. Kawung mabur carulukna: Leungiteun huluwotan atawa sumberna.
  2. Gula leungiteun ganduna: Leungiteun sari atawa jati dirina (leungit kamanisanana).
  3. Ciamis kari paitna: Nu amis geus robah jadi pait (kaayaan nu tibalik).
  4. Ciherang kantun kiruhna: Sumber cai nu tadina herang ayeuna geus kotor.
  5. Samak tinggaleun pandanna: Leungiteun bahan asal atawa dasarna.

Manusia Sunda: Masagi Kawung

Dalam buku Kawung: Simbol Kehidupan, Kearifan, dan Keberlanjutan Peradaban, pohon kawung (aren) menjadi simbol penting dalam kebudayaan Sunda yang tidak hanya memiliki nilai ekonomi, tetapi juga makna filosofis yang mendalam (Ade Burhanudin, 2026). Kawung dipahami sebagai representasi kehidupan ideal karena seluruh bagian pohonnya dapat dimanfaatkan, mencerminkan nilai kebermanfaatan, kerja keras, dan kesederhanaan yang menjadi dasar pandangan hidup masyarakat Sunda.

Dari hasil penelitian Sarip Hidayana dkk berjudul “Makna Budaya Pohon Aren dalam Pendekatan Ekologi Budaya di Kampung Adat Dukuh, Cikelet, Garut”, disebutkan bahwa pohon kawung dianggap sebagai manusia itu sendiri, menjadi bagian hidup masyarakat kampung adat Dukuh.

Bahkan pada saat proses penyadapan, ada sebuah ritual doa arti kasih sayang untuk pohon kawung yang berbunyi: “Nyai, hidep tah geus manjing dewasa, akang bogoh ka hidep, sing iklas sing rido, hiji mangsa akang nitah nyuluran omat hidep olah pundungan. Sing jadi bekel hasil ti hidep kahirupan dunya jeung ahirat.”

Menurut Prof. Agus Aris Munandar, pohon kawung dipercaya oleh sebagian masyarakat Sunda sebagai axis mundi atau penghubung antara langit dan Bumi. Dahulu daun kawung memang kerap digunakan untuk menulis naskah yang biasanya dibuka dengan menyebut nama dewa-dewi. Tak mengherankan bila kemudian ada anggapan bahwa pohon kawung adalah tumbuhan yang berfungsi sebagai media penyampai wahyu dari para dewa dan karuhun (leluhur) orang Sunda.

Penggunaan kata ‘kawung’

Istilah ‘kawung’ sejenis pohon digunakan dengan banyak makna, ketika disandingkan dengan kata lainnya. Misalnya, sebagai nama ‘gula kawung’, cukang kawung, masagi kawung, dan batik kawung, buah kawung (manisan caruluk). Saat ini, dalam industri pangan menjadi ‘palm sugar (gula palem) disebut juga sebagai ‘gula semut’ berwana coklat muda adalah pemanis alami yang dihasilkan dari nira (getah) pohon palem-paleman, seperti aren, kelapa, atau siwalan.

Batik motif kawung adalah motif tua yang berasal dari tanah Jawa yang berbentuk seperti kolang kaling dengan penyusunan pada empat sudut persegi. Makna motif kawung sendiri adalah pengendalian diri yang sempurna.Motif Batik Kawung tersebut menyimbolkan kekosongan nafsu dan hasrat duniawi, sehingga menghasilkan pengendalian diri yang sempurna. Kekosongan ini menjadikan seseorang netral, tidak berpihak, tidak ingin menonjolkan diri, mengikuti arus kehidupan, membiarkan segala yang ada disekitarnya berjalan sesuai kehendak alam. Motif batik jenis kawung ini selalu dikenakan oleh Semar sebagai gambaran sosok yang bijaksana.

Orang Sunda juga mengenal istilah cukang kawung yang artinya kira-kira jembatan yang terbuat dari batang pohon kawung. Secara simbolik, pohon kawung juga dianggap dapat menjadi jembatan penghubung dengan dunia asal-usul (karuhun) manusia. Selain itu orang Sunda juga mengenal istilah masagi kawung. Istilah ini merujuk pada prinsip hidup yang berpijak pada keseimbangan dan daya manfaat agar manusia dapat menjadi sosok yang berguna seperti pohon kawung.

Orang Sunda mengenal istilah ‘cukang kawung’ yang secara harfiah adalah jembatan yang terbuat dari batang pohon kawung. Secara simbolik, dianggap dapat menjadi jembatan penghubung dengan dunia asal-usul (karuhun) manusia. Selain Cukang Kawung, ada juga istilah ‘masagi kawung’. Istilah ini merujuk pada prinsip hidup yang berpijak pada keseimbangan dan daya manfaat agar manusia dapat menjadi sosok yang berguna seperti pohon kawung.

Kawung, Babad, dan Kosmologi Sunda

Kawung dalam bahasa Sunda, adalah lebih dari sekadar tanaman bagi masyarakat Sunda.Dikenal sebagai “pohon kahirupan” (pohon kehidupan), kawung mengandung filosofi Tri Tangtu yang mendalam, hubungan harmonis antara alam, manusia, dan Tuhan, serta nilai ekologis dan sosial yang kaya.Tri Tangtu, inti falsafah Sunda, mencakup tiga unsur utama: alam (jagat raya), manusia (jagat karuhun), dan Tuhan (jagat gede).

Dalam mitos Sunda, pohon kawung adalah tanaman yang keluar dari kuburan Dewi Sri selain padi. Hanya dua tanaman inilah yang disebut sebagai Dewi Sri dalam mitos Sunda. Dalam wujud Padi dia disebut Nyai Dewi Pohaci Sanghyang Sri Dangdayang Tresnawati, sedangkan dalam wujud Kawung dia disebut Nyai Pohaci Hideung Geulis atau Nyai Pohaci Hideung Sieup.

Pemuliaan kawung ini tidak terlepas dari sumber mitologi terhadapnya, sebagaimana misalnya tertuang dalam Lakon Budug Basu, sumber yang tertua sejauh ini dan Wawacan Sulanjana, versi puisi yang lebih muda.

Dalam kisah-kisah ini digambarkan bahwa pohon kawung berasal dari kemaluan Sang Hyang Pohaci. Dalam naskah tersebut dikisahkan Semar ditugasi menunggu sebuah sawah subur di wilayah Pakuan oleh Dewi Sri. Batara Guru dan Narada menjadi burung pipit untuk memeriksa apakah padi itu dijaga dengan baik. Semar dan anak-anaknya marah karena tanaman diganggu burung pipit, lengan pohon kawung dipotong oleh Semar sehingga mengeluarkan rasa manis. Itulah mengapa, ketika hendak menyadap kawung, panyadap melafalkan jangjawokan sebagai berikut dengan harapan air lahangnya melimpah:

“Poen kawoeng kengkeng kawoeng bingkeng
diteunggoer koe boedak kereng
pakěrěng-kěrěng
doek tjereleng-doek tjereleng-doek tjereleng.”

Di wilayah Sunda yang lain, seperti di wilayah Galuh, kawung diperlakukan sebagai perempuan. Ia dianggap jelmaan Dewi Sri. Bahkan ketika penyadap hendak menyadap menggunakan sigay (seutas bambu untuk memanjat kawung), para penyadap ini ‘menyapa’ pohon seolah-olah pohon itu kekasihnya:

Masyarakat Banten telah lama memanfaatkan pohon ini bahkan disakralkan orang Kanékés khususnya. Dua buah naskah yang sekarang tersimpan di Perpustakaan Nasional, berjudul “Babad Kawung Baduy (nomor naskah SD 99) dan Babad Kawung di Distrik Lebak (SD 64)” menampilkan informasi tentang pemanfaatan pohon suci ini pada akhir abad ke-19. Naskah pertama, merupakan hasil pemeriksaan Radén Kanduruan Atmakusuma, Wedana Distrik Lebak berdasarkan keterangan dari Sarmah, Jaro Kanékés, dan Jasmah Tasinem, tetua kampung Cibéo dan Jaéni sesepuh kampung Kaduketug di désa Kanékés. Naskah yang kedua, juga merupakan pemeriksaan Raden Atmakusuma, wedana distrik Lebak, kepada Ayamad lurah desa Kalurahan serta disepakati oleh Jasa’id jaro desa Sapan, dan Sudini Jaro Sinapati, serta orang yang dipertua dari Pasirangin desa Lebak, dan Aki Arnati alias Armain. Naskah tentang kawung ini termasuk kelompok naskah dengan tema yang sama, yang dikumpulkan oleh berbagai kepala daerah untuk K. F. Holle, sebelum menjadi koleksi Masyarakat Seni dan Pengetahuan Batavia.

Prof. Iswass dalam paparan Babad Kawung disebutkan bahwa koleksi naskah naskah (manuskrip) berbahasa Sunda yang berisi eksposisi tentang pengelolaan pohon enau (kawung) di PNRI berjumlah empat buah. Empat buah naskah tersebut (1) Babad Kawung di Distrik Lebak (1863), (2) Babad Kawung Baduy: Kajeroan sareng Kaluaran; (3). Caritana Babad Kawung, (4). Babad Kawung.

Kawung merupakan tanaman istimewa. Konon disebutkan kawung memiliki mitologi sebagai jelmaan Dewi Pohaci yang tidak hanya tersirat pada kata Babad, melainkan juga dalam mantra-mantra (jangjawokan) yang harus dibisikan oleh para penyadap pada tahap-tahap pengelolaan pohon ini. Kawung merupakan tanaman yang serba guna dalam kehidupan manusia. Pemanfaatan pohon kawung berupa nira sebagai bahan gula merah, kolang-kaling, bahan aci, ijuk untuk atap, sapu lidi, tiang, pemantik api, dan sebagainya.

“Bismillahirrahmanirrohim, Cangkuruluk dina injuk, Cangkérélék dina nyéré, Randa bésér guwar gawér, Gedung gedug da butuh, Gentrang gentrang da hayang, Dug dug curulung, Dug dug curulung, Dug dug curulung. Budak bengkung pang ninggeurkeun, Dug dug curulung, Dug dug curulung, Dug dug curulung…” (Jampé Ngayun Kawung, Sumedang)

Rokok Kawung di Tatar Sunda

Dalam tradisi orang tua Sunda, setidaknya zaman kakek penulis yang lahir tahun 1911, yang saat itu tahun 70-an adalah pensiunan Guru ST (sekolah Teknik) dan tinggal di daerah Kaum, Kota Cianjur, bahwa tradisi menggunakan ‘kawung’ sebagai rokok kawung penulis saksikan sendiri. Dengan tembakau cap ‘mole’ kakek melinting tembakau dengan daun kawung. Bahkan, saya sendiri pun pernah mencobanya.

Tembakau mole menjadi ciri khas tembakau dari Jawa Barat. Meskipun banyak juga tembakau jenis lain. Tembakau mole banyak dikembangkan di Kabupaten Sumedang, Majalengka, Garut, dan sekitarnya.Rasa-rasa tembakau mole yang unik dan beragam tersebut boleh dikatakan semuanya enak. Sebab, menurut kamus R.A. Danadibrata, bako yang tidak enak boleh jadi tidak akan dikatakan mole. Misalnya, akan dikatakan ‘bako sebul’, yaitu tembakau yang tidak enak dihisapnya.

Rokok kawung dibuat dengan pembungkus daun kawung (daun pohon aren). Konon, penemunya adalah seorang Tionghoa penduduk Bandung yang belum diketahui dengan pasti namanya, yang untuk pertama kali membuat rokok kawung di tahun 1905.

Sedangkan dalam artikel Pikiran Rakyat edisi budaya yang berjudul “Cerita Tentang Kawung dan Kejayaan Rokok Lokal,” bersumber dari cerita dari penduduk tua Kampung Cibeureum, Garut, menjelaskan bahwa “Awal mulanya penderes (penyadap) ngebul tembakau linting daun kawung, terus ada juragan Tionghoa ngambilin buat dijual”.

Rokok kawung menjadi rokok lintingan khas Tatar Pasundan, lahir dari tangan petani dan buruh tani yang merepresentasikan kehidupan sederhana. Koran berbahasa Belanda De Indische Courant pada 12 Desember 1934, juga turut memotretnya.

Di Preanger (Priangan), dikenal rokok kawung, rokok yang sangat tipis, digulung dalam daun aren dan diisi dengan tembakau asli, yang dikeringkan di atas api. Pasaran rokok kawung tidak hanya tersebar di daerah Jawa Barat saja. Rokok kawung pada masanya juga meluas ke Jakarta, hinga Sumatera.

Sebagai informasi, rokok kawung pada mulanya tidak menggunakan campuran cengkeh, tetapi beberapa modifikasi yang muncul di Ciledug Wetan Majalengka, dan Cilimus, Kuningan sudah menggunakan gilingan cengkeh. Jadi, rokok kawung itu bisa dikonsumsi dengan atau tanpa cengkeh. Seperti halnya rokok klobot di Jawa.

Rokok kawung: rokok rakyat yang tenggelam oleh zaman

Disadur dari artikel JCCNetwork.id, di Bekasi era 80-an banyak aki-aki (kakek-kakek) yang setia menghisap rokok kawung sebagai teman bekerja di sawah dan di kebun. Daun kawung juga mudah ditemukan di pasar-pasar Bekasi. Kelekatan rokok kawung dengan masyarakat Sunda juga tergambar dari buku cerita berjudul “Munjung” karya Mohamad Ambri. Sastrawan asal Sumedang tersebut menggambarkan tiga pemuda di gardu ronda sedang menghangatkan diri di depan api unggun sambil menghisap rokok.

Kawung, bukan saja merupakan nama sebuah pohon namun menyimpan berbagai geohistoris yang berisi kekayaan nilai-nilai hikmah dan filosofis sebagai artefak ajen-inajen Ki Sunda. Sebagai generasi urang Sunda, baik yang lahir pasca 70-an apalagi generasi Z-Alpha yang hidup di Tatar Sunda semestinya memelihara alam tatar sunda ini berdasarkan nilai-nilai Ki Sunda yang banyak sekali sesuai dan harmoni dengan nilai -nilai Islam sebagaimana mayoritas keyakinan orang Sunda hari ini.

Bagikan :

Leave a Reply

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

ten + 19 =

gamespools

aceplay99

dewaslot88

slot anti rungkat

ace99play

slot777