400 Tahun Kelahiran Tuanta Salamaka (Tusalama) ri Gowa: Ulama Sufi dan Mujahid dari Makassar

Oleh:
Nunu A. Hamijaya
(Penulis Buku Warisan Hikmah Tamsil Linrung/Pusat Studi Sunda)

Terasjabar.co – Sulawesi Selatan adalah nama administratif pemerintahan,bukan tentang nama etnis seperti halnya Jawa Barat, sebagaimana nama provinsi dengan mayoritas etnis Sunda. Namun, bagi banyak orang sebutan orang Makassar rupanya dianggap sebutan umum untuk etnis yang berasal dari dari provinsi tersebut. Padahal, faktanya Sulawesi Selatan adalah rumah bagi banyak etnis, seperti Bugis, Makassar, Toraja, dan Mandar, Luwu, Sidenreng Rappang (Sidrap) dan lain-lain.

Kuatnya stereotipe orang Sulsel sama dengan orang Makassar salah-satu akar utamanya adalah hegemoni administratif dan kultural. Sebagai ibu kota provinsi, Makassar menjadi wajah utama Sulawesi Selatan. Kota ini merupakan pusat ekonomi, pendidikan, dan pemerintahan. Setiap orang yang bepergian ke Sulawesi Selatan pasti melalui Kota Makassar. Nama bandara internasional (Sultan Hasanuddin) dan universitas terbesar (Universitas Hasanuddin) yang mengambil dari sejarah Kerajaan Gowa turut memperkuat persepsi ini di kancah nasional. Akibatnya, keragaman budaya yang ada di daerah lain sering kali tertutupi oleh dominasi satu nama ini.

Suku Bugis, yang berasal dari daerah seperti Bone, Wajo, dan Sinjai, terkenal sebagai pelaut dan perantau ulung dengan filosofi Siri’ na Pesse (harga diri dan solidaritas yang dalam). Mereka memiliki bahasa dan aksara Lontara sendiri. Sementara itu, Suku Makassar dengan pusat kebudayaannya di Gowa, juga memiliki sejarah maritim yang gemilang dan menjunjung tinggi konsep Siri’ (harga diri) dengan karakter yang dikenal lugas dan tegas. Meski berbagi nilai inti yang sama tentang harga diri, bahasa dan detail ritual adat antara Bugis dan Makassar jelas berbeda.

Banyak referensi tentang siapa Syeikh Yusuf al Makassari al Bantani. Dalam tulisan ini, dikemukan gelarnya sebagai Tuanta Salamaka ri Gowa (tuan guru penyelamat kita dari Gowa). Ia lahir 400 tahun yang lalu (3 Juli 1626 – 23 Mei 1699).

Sebagai ulama yang mendunia, ia adalah ulama sufi yang menjadi mursyid tarekat Khalwatiyah. Ia juga turut serta menyebarkan tareket Naqsabadiyah, Qadariyah, Syatariyyah dan Ba’lawiyah.

“Kuharamkan menginjak tanah Gowa sebelum menjadi seorang sufi” (Massiara, 1983:14).

Perjalanannya membawanya melintasi Yaman, Madinah, hingga Damaskus. Ia mendalami tasawuf dan berbagai tarekat seperti Khalwatiyah, Qadiriyah, Naqsyabandiyah, Ba’alawiyah, dan Syattariyah. Dalam proses itu, ia menyadari betapa pentingnya zikir sebagai jalan mendekatkan diri kepada Allah.

Di pusat peradaban Islam, ia berguru pada ulama besar seperti Syekh Abi Abdullah Muhammad Abdul Baqi al-Naqsyabandi. Ia tidak hanya kembali dengan gelar Tajul Khalwati, tetapi juga membawa jejaring intelektual yang luas. Dari seorang pemuda lokal, Muhammad Yusuf bertransformasi menjadi Syekh Yusuf al-Makassari, ulama besar yang melampaui batas etnis dan geografis.

Ulama mujahid karena ia turut serta berjuang melawan VOC (Kompeni Belanda) sejak zaman Kerajaan Gowa hingga Kesultanan Banten, menjadi mufti besar kesultanan. Perlawanan atas VOC mengakibatkan dirinya dibuang ke Ceylon Srilangka hingga ke Afrika selatan, Cape town dan wafat disana. Pada tahun 1682, di tanah Banten, ia memimpin sekitar 1.500 hingga 2.000 pasukan dalam perang gerilya di hutan-hutan Tatar Suhda.

Kearifan Lokal: 8 Karakter Istimewa

Lontaran RSTG (Riwaqana Tuanta Salamaka ri Gowa) adalah lontara yang berbahasa Makassar.Lontaraq Riwaqana Tuanta Salamaka ri Gowa adalah lontara yang menceritakan riwayat hidup Syekh Yusuf seorang ulama dan pejuang yang berasal dari Gowa sejak lahirnya sampai meninggalnya.

Prof. Dr. Abdul kadir Mayambeang yang berjasa melalui disertasinya yang mengungkap tentang sosok tokoh dunia ini berdasarkan naskah lontaraq RSTG yang telah dituliskan kembali dalam buku berjudul “Syekh Yusuf dalam perspektif lontaraq Gowa.

Berdasarkan buku tersebut, setidaknya ditemukan ada 8 karakter (delapan) istimewa Syekh Yusuf yang di temukan dalam naskah riwayaqna tuanta salamaka ri Gowa yaitu meliputi:

  1. Nikatutuinna dan Ningainna Menyanyangi/Disukai)
  2. Kamaseang (Peduli/Mengasihan)
  3. Mallaq dan Masiriq (Takut dan Malu)
  4. Paqrasangang Matangkasaka (Mencari Kebenaran)
  5. Bantui Na Tamaka-makai Rannuna Pagmaiqna Taua-Membantu membuat hati seseorang senang
  6. Tamasalai (Tidak Menyalahkan)
  7. Napassamaturuki (Musyawarah Mufakat
  8. Pamopporang (Memaafkan)

Kedelapan karakter istimewa yang merepresentasikan pribadi seorang Yusuf tersebut dalam hubungan pribadi dengan sesamanya patut menjadi ‘kompas’ bagi pembinaan karakter generasi muda muslim khususnya, dengan latar perbedaan etnis namun dapat menjalin hubungan yang harmonis.

Novel Sejarah tentang Syeikh Yusuf

Labbiri, S.Pd., M.Pd. seorang Guru Berprestasi dari Kabupaten Gowa. menulis sebuah novel berjudul Tusalama’ yang bermakna Tau Salama (Orang yang Selamat),Kisah novel sejarah menyibak tabirsejarah dan budaya lokal, sisi religiusitas dari sosok ulamapejuang dan dinobatkan sebagai tokoh dan pahlawan nasional dua negara, Indonesia dan Afrika Selatan.

Kisah ini digali dari naskah-naskah klasik di Sulawesi Selatan pada umumnya dan naskah Riwayat Tuanta Salamaka ri Gowa (disingkat RTSG) pada khususnya. Dalam novel tersebut, kisah kehidupannya dibagi dalam 25 mozaik yang berisi mulai dari mozaik ke-1, Orang Tua Syeikh Yusuf hingga mozaik ke-25, meninggalnya Tuanta. Ditutup dengan bab Epilog yang berisi nasehat-nasehat Tunata Salamaka. Berikut daftar isi novel tersebut:

Mozai 1: Orang Tua Syekh Yusuf
Mozaik 2: Undangan Raja Gowa Kepada Sang Ayah
Mozaik 3: Kelahiran Syekh Yusuf
Mozaik 4: Masa Remaja Syekh Yusuf
Mozaik 5: Menuntut Ilmu di Jazirah Sulawesi Selatan
Mozaik 6: Mengail di Danau Mawang
Mozaik 7: Peminangan Puteri Raja
Mozaik 8: Perjalanan ke Tanah Mekah
Mozaik 9: Peristiwa Mistis dalam Pelayaran
Mozaik 10: Belajar pada Imam Empat
Mozaik 11: Berguru pada Syekh Abdul Kadir Jailani
Mozaik 12: Mencari Kuburan Rasulullah
Mozaik 13:Pertemuan dengan Syekh Mas’ung
Mozaik 14: Pertemuan dengan Syekh Muhyiddin
Mozaik 15: Syekh Muhyiddin Tajul Qabdiah ke Dima
Mozaik 16: Pertemuan dengan Nabi Musa
Mozaik 17: Berangkat ke Banten
Mozaik 18: Tuanta Pamitan dengan Kakbah
Mozaik 19: Kedatangan Utusan Gowa
Mozaik 20 Ksungguhan Daeng Ritasammeng Menjalankan Agama
Mozaik 21: Negeri Banten Ditimpa Musibah
Mozaik 22: Mengunjungi Si Antang dan Giri
Mozaik 23: Di Buang ke Seilon
Mozaik 24: Kembali ke Banten
Mozaik 25: Meninggalnya Tuanta
Epilog: Nasihat-nasihat Tuanta Salamaka

Kekuatan Tauhidnya: laysa kamitslihi syai’

Landasan utama ajaran tauhid Syaikh Yusuf adalah ayat ke-11 dari surah Asy-Syuraa (QS.42), “Allah pencipta langit dan bumi. Dia menjadikan bagi kalian pasangan-pasangan dari jenis kalian sendiri, dan dari jenis hewan ternak juga berpasang-pasangan. Dijadikannya kalian berkembang biak dengan jalan itu. Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan Dia (laysa kamitslihi syai’). Dan Dia yang Maha mendengar lagi Maha melihat”. Juga surah Al-Ikhlash (QS. 112:1-4), “Katakan, Dialah Allah Yang Maha Esa. Allah adalah tempat bergantungnya segala sesuatu. Allah tidak beranak dan tidak pula diperanakkan. Dan tiada sesuatu pun yang setara dengan-Nya.”

Islam berporos pada ajaran Tauhid. Itu sebabnya, mengapa seorang HOS Tjokroaminoto meninggalkan warisan ajarannya hikmahnya yang utama dan pertama adalah ‘semurni-murninya Tauhid’. Demikian pula, apa yang menjadi pusat kekuataan dan kehebatan seorang Syeik Yusup adalah pada berpegang teguhnya pada ajaran Tauhid yang semurni-murninya itu.

Berkaitan dengan satu macam ajaran tauhid adalah Wihdatul Wujud, Syaikh telah menyederhanakan dan “memodifikasinya” hingga sedemikian rupa. Yaitu bahwa Allah meliputi dan menyertai segala sesuatu tanpa memasuki, tanpa bersatu, dan tak pernah berada di dalamnya, tetapi memimpin seluruhnya, tak terkecuali manusia.

Beliau menulia kitab An-Nafhatus Saylaniyah pada masa pengasingan di Ceylon. Dalam risalah Mathaalibus Saalikiyn yang juga ditulisnya dalam bahasa Arab misalnya, Syaikh membabar bahwa salah satu macam ajaran tauhid adalah Wihdatul Wujud. Yaitu tauhid yang didalami oleh para sufi ahli hakikat yang menegaskan bahwa tidak ada yang maujud pada alam gaib dan alam nyata, tidak ada dalam bentuk maupun makna, tidak ada dalam lahir dan batin, kecuali wujud yang satu (waahid); Zat yang tunggal (ahad) dan hakikat yang satu. Sebagaimana ruh yang tidak menetap pada suatu anggota badan, namun ruh maujud pada badan. Demikian Allah tidak menetap pada sesuatu, namun Dia maujud pada segala sesuatu. Segala sesuatu sudah berada dalam ilmu Allah dan ilmu-Nya adalah sifat-Nya. Sifat dan Zat adalah Esa. Tidak akan tergambar pemisahan antara jasad dan ruh sebelum insan meninggal dunia.

Landasan utama ajaran tauhid Syaikh Yusuf adalah ayat ke-11 dari surah Asy-Syuraa (QS.42), “Allah pencipta langit dan bumi. Dia menjadikan bagi kalian pasangan-pasangan dari jenis kalian sendiri, dan dari jenis hewan ternak juga berpasang-pasangan. Dijadikannya kalian berkembang biak dengan jalan itu. Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan Dia ( laysa kamitslihi syai’ ). Dan Dia yang Maha mendengar lagi Maha melihat.” Juga surah Al-Ikhlash (QS. 112:1-4), “Katakan, Dialah Allah Yang Maha Esa. Allah adalah tempat bergantungnya segala sesuatu. Allah tidak beranak dan tidak pula diperanakkan. Dan tiada sesuatu pun yang setara dengan-Nya.”

Kebanggaan Nelson Mandela

Afrika Selatan terus mengingat Syekh Yusuf meskipun ia bukanlah orang asli negara itu. Bekas area pengasingan Syekh Yusuf di Cape Town lalu menjadi daerah kecil bernama Macassar. Tak heran ada beberapa jalan yang namanya bernuansa Melayu seperti Macassar Road, Kramat Road, dan Syekh Yusuf Road.

Bagi pahlawan revolusioner Afrika Selatan, Nelson Mandela, Syekh Yusuf adalah panutannya ketika berjuang melawan politik apartheid. Mantan Presiden Afrika Selatan itu pernah menyebut Syekh Yusuf sebagai “Salah Seorang Putra Terbaik Afrika”.

Jauh dari masa ia hidup, Syekh Yusuf dianugerahi gelar Pahlawan Nasional oleh Presiden Suharto pada 7 Agustus 1995. Pemerintah Afrika Selatan kemudian turut melakukan hal yang sama pada 2009. Saat itu Syekh Yusuf dianugerahi penghargaan Oliver Thambo yaitu penghargaan sebagai Pahlawan Nasional Afrika Selatan oleh Presiden Afrika Selatan Thabo Mbeki kepada ahli warisnya yang disaksikan oleh Wapres RI. M. Jusuf Kalla di Pretoria Afrika Selatan.

Bagikan :

Leave a Reply

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

ten − seven =

gamespools

aceplay99

dewaslot88

slot anti rungkat

ace99play

slot777