PAK OGAH
Oleh:
Ganjar Kurnia
Terasjabar.co – Di sebuah pertigaan, berdirilah seorang laki-laki dengan peluit yang tidak pernah benar-benar berbunyi. Orang-orang menyebutnya Pak Ogah. Tidak jelas asbabun nuzulnya, mengapa diberi nama seperti itu. Tapi biasanya, karena sejarah kita, lebih senang menyederhanakan hal yang rumit.
Pak Ogah berdiri di tengah jalan dengan sandal jepit, topi kusam, kadang pake rompi dan dengan gerakan tangan yang lebih meyakinkan daripada pidato kampanye. Tangan kirinya menyuruh mobil maju, tangan kanan menahan sepeda motor. Sementara jiwanya mungkin sedang bertanya: mengapa manusia menciptakan kendaraan untuk mempercepat perjalanan, lalu menciptakan kemacetan?
Ia tidak memiliki surat keputusan. Tidak ada pelantikan. Tidak ada sumpah jabatan. Tidak pakai seragam. Tidak ada pensiun, tidak ada tunjangan hari raya, tidak memiliki asuransi kecelakaan kerja. Bila hujan turun, ia basah. Bila matahari membakar, ia gosong seperti bala-bala yang lupa diangkat. Namun dalam praktik sehari-hari, ia memiliki kekuasaan yang nyata dan telanjang, tidak dibungkus undang-undang, tetapi dipatuhi. Sebuah paradoks negeri: yang resmi sering tidak berfungsi, sedangkan yang tidak resmi justru bisa mengatur.
Pak Ogah sesungguhnya adalah kementerian kecil di sebuah pertigaan. Ia merangkap Menteri Perhubungan, Menteri Keuangan, Menteri Sosial, sekaligus Menteri Urusan Recehan. Anggarannya tidak berasal dari APBN, tetapi dari tangan pengendara yang keluar melalui kaca jendela. Seribu rupiah. Dua ribu rupiah. Kadang-kadang lima ratus rupiah yang dilempar dengan perasaan seperti sedang memberi hibah internasional.
Ada pula pengendara yang setelah dibantu berbelok, langsung tancap gas tanpa memberi apa-apa. Mungkin ia sedang menerapkan kebijakan efisiensi. Pak Ogah tidak pernah menagih secara resmi. Ia hanya mendekat dengan wajah penuh harapan. Jika kaca mobil tidak dibuka, ia mengangguk pelan. Anggukan itu bisa berarti ikhlas, bisa juga berarti kutukan ringan, agar AC mobil mendadak tidak dingin.
Di negeri ini, recehan memiliki hubungan mistis dengan kekuasaan. Kecil nilainya, tetapi menentukan kelancaran. Pak Ogah menerima recehan agar mobil dapat berbelok. Di tempat lain, orang memberi uang pelicin dengan nilai yang besar agar berkas dapat berlanjut dari meja ke meja. Yang satu berdiri di jalan raya, yang lain di kantor. Keduanya bergerak dalam bidang yang sama: membantu sesuatu yang seharusnya bisa berjalan sendiri, tetapi entah mengapa macet.
Pak Ogah lahir dari rahim kemacetan. Ia tumbuh di antara kegagalan desain kota, ketidaksabaran pengendara, dan kebiasaan masyarakat membuat putaran arah di tempat yang seharusnya tidak boleh berputar. Tanpa kekacauan, Pak Ogah tidak diperlukan. Tetapi tanpa Pak Ogah, kekacauan terasa semakin jujur.
Namun jangan mengira hidup Pak Ogah selalu mudah. Ia menghadapi risiko tinggi. Setiap hari ia berdiri beberapa sentimeter dari bumper, spion, knalpot, dan emosi masyarakat. Satu kesalahan kecil bisa membuatnya terserempet, dimaki, atau dituduh memaksa meminta uang.
Negara mungkin melihatnya sebagai masalah ketertiban. Masyarakat melihatnya secara ganda: kadang membantu, kadang mengganggu. Pengendara senang ketika membutuhkan jalan untuk berbelok, tetapi kesal ketika dimintai uang setelah berhasil lewat. Manusia memang sering menyukai pertolongan, tetapi sering tidak berterima kasih atas pertolongan itu.
Ternyata banyak juga pemimpin yang belajar dari Pak Ogah. Mereka pandai memberi isyarat, tetapi tidak jelas arah mana yang harus ditempuh. Tangan kanan menyuruh rakyat maju, tangan kiri menahan anggaran. Dalam politik, kita juga sering dibantu berbelok. Janji kampanye belok menjadi alasan anggaran. Program kesejahteraan belok ke rumah. Semangat reformasi belok entah ke mana. Hukum belok saat yang bermasalah adalah orang gede.
Suatu hari pemerintah menertibkan semua Pak Ogah. Pertigaan dibersihkan. Tapi, seminggu kemudian kemacetan bertambah panjang. Orang-orang mulai mencari-cari laki-laki bertopi kusam yang dulu dianggap mengganggu itu.
Sebenarnya banyak juga orang yang mempunyai tugas seperti Pak Ogah, diantaranya pada tingkatan yang lebih tinggi, yaitu memperlancar arah dan tata kelola negara, agar tidak berbelok dan tidak macet sehingga semua rakyat mendapatkan kesejahteraan secara adil dan merata. Mereka duduknya di Gedung ber AC, bermobil mewah dan berbagai fasilitas hidup lainnya. “Di gedung tersebut, rompinya berupa jas, peluitnya dari mikrofon, recehannya angka dengan banyak nol. Persoalannya, ketika mereka sudah lama duduk di kursi empuk, tapi — tidak bisa membawa kebijakan berbelok ke arah yang lebih baik dan malah sering tersendat, maka tidak heran kalau banyak rakyat yang meminta mereka mundur. Namun demikian, mereka tidak pernah mau, bahkan dengan gagahnya, berkata : Ogah ah!.





Leave a Reply