JAMPANG-CILETUH: Menyibak Lava Laut Eosen dan Karakter Ksatria
Oleh:
Oman Abdurahman
Terasjabar.co – Teman-teman, mari kita jelajahi ujung barat daya Sukabumi: Ciletuh, bagian utama dari Ciletuh-Palabuhanratu UNESCO Global Geopark (UGGp)! Kawasan eksotis ini menyuguhkan ruang refleksi yang mendalam tentang bagaimana keajaiban bentang alam bumi mampu meluruskan narasi sejarah sains sekaligus membentuk karakter ksatria peradaban manusia yang mendiaminya.
Penjelajahan ke rahim Ciletuh bukan sekadar perjalanan menikmati pesona eksotisme pesisir, melainkan sebuah kontemplasi filosofis yang menuntun setiap jiwa untuk tertunduk bersujud menyadari mutlaknya Kuasa dan Keagungan Sang Pencipta Jagat Raya. Kehadiran formasi cagar bumi purba ini bertindak sebagai sasis pembuka gerbang literasi kebumian yang menyandingkan kedaulatan riset geologi moderen dengan kemegahan tata sosial kultural masyarakat lokal. Jalinan kosmis ini membawa pesan kuat bahwa melalui instrumen interpretasi geowisata yang mandiri, pusaka abiotik nusantara harus sukses ditransformasikan menjadi kompas pelestarian yang menyejahterakan ekonomi masyarakat lokal secara nyata di atas kaki sendiri.
Keunggulan abiotik (Abiotic) objek cagar bumi di tatar Pasundan ini dikunci rapat oleh koreksi sains radikal ahli geologi Awang H. Satyana yang mematahkan mitos lama bahwa batuan subduksi di sini berasal dari Zaman Pra-Tersier. Penanggalan laboratorium moderen membuktikan bahwa formasi ini merupakan produk vulkanisme Tersier Kala Eosen sekitar 40 hingga 50 juta tahun lalu, di mana tekanan tektonik hebat pasca-Eosen berhasil mengangkat landasan samudra purba tersebut ke permukaan bumi.
Bukti fisik terekam kuat pada Formasi Ciletuh berupa singkapan Lava Bantal (Pillow Lava) di Pulau Kunti dan kawasan Curug Puncakmanik, yang dibingkai megah oleh tebing melingkar raksasa berbentuk tapal kuda akibat runtuhan tanah masif (gravity collapse) bernama Mega-Amfiteater Alami. Dihiasi belasan air terjun megah seperti Curug Cimarinjung, dan curug-curug lainnya, wadah hidrologi ini dialiri oleh Sungai Ciletuh yang secara fisis selalu tampil keruh berlumpur pekat akibat erosi, sementara di pedalaman dataran tinggi Surade tersimpan kuburan fosil gigi raksasa Hiu Megalodon (Otodus megalodon) yang menjadi bukti empiris pergeseran garis pantai purba jauh ke arah selatan.
Karakteristik fisik benteng tebing raksasa yang mampu menangkap kelembapan angin laut tersebut, otomatis merawat pilar hayati (Biotic) kasta tertinggi dengan terciptanya ekosistem hutan hujan tropis dataran rendah yang sangat lebat di bawahnya. Rimba batu tua yang terjaga ketat ini bertindak sebagai suaka aman bagi populasi primata endemik tatar Sunda yang terancam punah, yaitu Owa Jawa (Hylobates moloch), serta menjadi tempat tumbuh subur bagi flora langka parasit Rafflesia patma (Padma patma) di kegelapan lantainya. di kegelapan lantainya.
Bergerak ke zona perbukitan kering di lereng atas, karakteristik tanah kapur dirawat secara selaras melalui dominasi kultivasi vegetasi pangan lokal Padi Huma (padi darat) organik yang tangguh. Sementara di pesisir selatannya, dinamika hayati Ciletuh disempurnakan oleh butiran pasir halus Pantai Pangumbahan yang menjelma menjadi situs suaka perlindungan dan peneluran bagi mamalia laut raksasa Penyu Hijau (Chelonia mydas) terbesar di dunia.
Pada panggung sejarah sosiokultural (Cultural), respons peradaban manusia menyublimasikan karakteristik fisis geosfer dan kekhasan ekosistem biosfer menjadi akar spiritualitas, arsitektur pangan kuno, hingga gerakan konservasi mandiri warga. Nama wilayah Jampang secara luhur berakar dari frasa “Jampana Hyang” yang bermakna sarana atau tandu peribadatan tempat suci para leluhur, melahirkan pendidik spiritual legendaris Batara Jampang hingga heritase ksatria pertahanan Pangeran Purwa melawan kolonial yang kelak menginspirasi cerita rakyat pendekar “Si Abang Jampang” di tanah Betawi.
Secara etimologi, toponimi “Ciletuh” berasal dari kata bahasa Sunda kuno: Cai (air sungai) dan Letuh (keruh atau berlumpur) akibat erosi batuan, sebuah isyarat alamiah pasca-validasi status UGGp yang kini direspon secara ksatria lewat gerakan reboisasi penanaman pohon masif di hulu, Gunung Cibuluh. Ketangguhan kultural ini kian mentereng melalui keberadaan arsitektur lumbung padi tradisional (Leuit) pengunci pangan abiotik, inovasi diversifikasi serealia non-beras di Desa Wisata Hanjeli, Waluran oleh Kang Asep, serta penyelamatan lebih dari 500 fosil laut purba dari perburuan liar komersial melalui pendirian Museum Megalodon “Sri Asih Pakidulan” di Surade sebagai pusat edukasi internasional.
Oleh karena itu, orkestrasi hulu-hilir antara sasis pengangkatan lava bantal Eosen, keunikan ekosistem Mega-Amfiteater Wallacea, dan kedaulatan tradisi budaya ksatria Jampang wajib diposisikan murni sebagai kompas fondasi utama dari gagasan besar pembangunan berkelanjutan (Environmentally Sound and Sustainable Development).
Langkah pengungkapan rekam jejak geologi bawah laut dan mitigasi erosi hulu sungai ini dirancang ksatria bukan sekadar untuk pariwisata semata, melainkan menjadi menjadi pendorong utama yang mengobarkan semangat nasionalisme dalam menjaga martabat tanah air di tatar pertiwi.
Keberhasilan menyandingkan riset sains internasional dengan ketangguhan gerakan ketahanan pangan hanjeli dan penyelamatan fosil berbasis komunitas membuktikan keluhuran jiwa manusia Nusantara yang berdaulat secara ekonomi di atas kaki sendiri. Menjaga ingatan sejarah bumi dari gigi megalodon purba hingga aksi reboisasi hijau hulu Cibuluh adalah cara paling radikal untuk merawat harga diri bangsa; menegaskan bahwa masa depan bumi pertiwi harus terus dijaga kemandiriannya demi kelestarian Indonesia seutuhnya.






Leave a Reply