Gen Z dalam Bayang Digitalisasi dan Tantangan Memaksimalkan Potensi Diri
Oleh:
Fatin Nurhasanah S.Pd.
(Aktivitas Muslimah dan Pegiat Literasi)
Terasjabar.co – Media sosial telah menjadi sahabat generasi, terlebih bagi Generasi Z (Gen Z) yang lahir, bertumbuh, dan hidup berdampingan dengan teknologi (digital native). Banyak platform yang bisa menjadi ruang untuk mengekspresikan diri. Informasi yang mudah dicari, dengan sedikit kata kunci pemaparan sudah langsung tersaji. Semua kebutuhan pun serba digitalisasi, cukup klik saja barang yang diinginkan. Semuanya serba instan mengandalkan smartphone untuk mobilitas kehidupan baik untuk komunikasi, hiburan, belajar bahkan kerja.
Kemudahan ini menjadikan Gen Z kreatif dan mampu melakukan banyak hal sekaligus. Namun tanpa disadari, mereka juga kerap dihantui overthinking, burnout, serta menurunnya rentang fokus (short attention span). Paparan gaya hidup media sosial yang serba terlihat sempurna sering memicu rasa tidak aman (insecure). Keinginan untuk produktif kerap berujung pada kekecewaan karena realitas tak selalu sesuai ekspektasi. Kebiasaan mengonsumsi konten cepat pun perlahan mengikis kemampuan fokus jangka panjang.
Konsumsi digital yang berlebihan juga membuat Gen Z lupa waktu, memicu perubahan suasana hati (mood swing), terlebih ketika membandingkan diri dengan standar kesempurnaan semu di media sosial. Rasa minder dan perasaan kurang pun tak jarang muncul, yang pada akhirnya berdampak pada kesehatan mental.
Padahal, Gen Z memiliki potensi besar dalam dirinya, terlebih jika ia memahami makna hidup dan mampu memaksimalkan potensi tersebut. Kesadaran akan tujuan hidup akan membuat langkah lebih terarah dan memberi kekuatan untuk bangkit ketika terjatuh, meskipun harus melalui peluh. karena dia tau ada visi sejati yang harus ia capai agar bisa meraih kebahagiaan yang hakiki.
Sebagai seorang muslim, sejatinya kita telah memiliki jawaban atas tiga pertanyaan mendasar kehidupan: dari mana kita berasal, untuk apa kita hidup di dunia, dan ke mana kita akan kembali. Jawaban dari ketiganya adalah Allah. Namun pertanyaannya, sejauh mana makna itu benar-benar dihayati dan diamalkan dalam kehidupan sehari-hari. Ketika hidup berlandaskan keimanan, kegelisahan akibat beragam standar kehidupan dan ekspektasi berlebihan akan terasa lebih ringan. Segala larangan Allah sejatinya adalah bentuk kasih sayang agar manusia tidak tersesat di jalan yang keliru.
Larangan menyia-nyiakan waktu, misalnya, menjadi sangat relevan di era digital. Tanpa terasa, berjam-jam berlalu hanya untuk menggulir layar, hingga lupa ibadah, lupa tanggung jawab, lalu terjebak dalam pikiran, “Mengapa hidupku begini-begini saja?” Membandingkan diri dengan pencapaian orang lain justru kerap berujung pada kelelahan mental. Fenomena serupa juga muncul saat menyaksikan figur publik dengan tampilan sempurna, kulit cerah, wajah bercahaya, serta kehidupan finansial yang tampak berlimpah. Tanpa sadar, muncul dorongan untuk memenuhi standar tersebut, padahal Islam mengajarkan bahwa Allah tidak menilai rupa dan harta, melainkan iman dan ketakwaan hamba-Nya
Bayangkan potensi Gen Z yang super besar, jika hanya disibukan dengan hal-hal yang sebenarnya hanya memuaskan nafsu belaka, bagaimana jadinya dunia ke depan terutama umat Islam. Dulu Muhammad Al-Fatih menjadi panglima terbaik, menaklukkan konstantinopel di usia 21 tahun, Usamah bin Zaid yang menjadi panglima perang di usia 18 tahun, Ibnu Sina yang sudah menjadi tabib sejak usia 18 dengan buku terkenalnya Al-Qanun fi At-Tibb yang menjadi rujukan dunia kedokteran di Eropa selama ratusan tahun, Imam Syafi’i yang sudah berijtihad dari usia 15 tahun, dan masih banyak lagi.
Pemuda Islam dahulu berlomba-lomba membuat karya, menjadi panglima, bukan untuk popularitas semata tapi untuk validasi dari Allah tuhannya. Agar karyanya bisa bermanfaat dan semangatnya bisa terus berkobar di tengah-tengah umat. Mereka membuktikan bahwa usia muda bukan penghalang untuk prestasi besar, selama dibangun di atas iman dan ilmu. Memang sulit di zaman sekuler kapitalis untuk mendulang potensi emas seperti mereka. Karena mereka bisa berjaya juga disokong oleh sistem Islam yang menghargai setiap karya, yang menjamin ibadahnya dan memfasilitasi penemuannya.
Tapi bukannya sulit juga untuk bisa seperti mereka, Gen Z muslim bukan generasi lemah. Mereka adalah harapan umat jika mampu menyatukan iman, ilmu, dan aksi. Sejarah telah membuktikan bahwa perubahan besar sering dimulai dari pemuda. Kini, giliran Gen Z muslim mengambil peran menjadi cahaya di tengah zaman.
“Dan sesungguhnya mereka adalah para pemuda yang beriman kepada Tuhan mereka, dan Kami tambahkan kepada mereka petunjuk” (QS. Al-Kahfi: 13).
Mari bersama meraih cahaya, kita sudah terlalu gelap karena jauh dari Al-Qur’an, mari bangkit dan gaungkan semangat persatuan, berlandaskan aqidah Islam.






Leave a Reply