Banjir Bandang Sumatera: Cermin Lunturnya Pengamalan Pancasila dalam Pengelolaan Lingkungan
Oleh:
Alisa Salsabilah
(Mahasiswa Program Studi Sosiologi, FISIP, UIN Sunan Gunung Djati Bandung)
Terasjabar.co – Berapa hari terakhir ini bencana besar telah melanda Sumatera. Bukan bencana biasa, akan tetapi bencana yang melanda adalah bencana banjir bandang yang sangat besar. Sehingga banyak masyarakat yang beropini kalau bencana ini harus dijadikan bencana nasional Karena kerusakan dan dampak yang sangat parah. Hal ini sangat penting untuk kita ketahui sebagai sesama warga Indonesia.
Banjir yang melanda di beberapa daerah seperti di Padang, Aceh, Tapanuli dan Sibolga menelan sedikitnya 900 nyawa sehingga cukup layak untuk disebut dengan bencana nasional. Banyak rumah warga yang terendam, barang-barang yang besar sekalipun terbawa arus, akses jalan yang terputus dan fasilitas-fasilitas umum yang rusak.
Banjir memang kerap terjadi karena curah hujan yang tinggi, namun di sisi lain pada banjir bandang yang terjadi di Aceh dan Sumatera ini banyak kayu atau pohon yang terbawa arus sehingga menutupi rumah-rumah warga dan menutup akses jalan. Dapat disimpulkan kalau banjir kali ini disebabkan oleh penggundulan hutan.
Namun, terdapat kejanggalan yang dimana Menurut Liputan6, Guru Besar Fakultas Kehutanan dan Lingkungan mengatakan kalau gelondongan kayu besar yang terbawa arus banjir ini tidak mengindikasikan karena lapuk dan roboh alami. Ada indikasi perbuatan tangan manusia. Penggundulan hutan ini sangat merugikan warga sehingga dampaknya sebesar sekarang.
Seharusnya, pemerintah melihat risiko terlebih dahulu sebelum memberi izin pada perusahaan. Sebagaimana pada sila ke empat yaitu, kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dan permusyawaratan perwakilan. Penggundulan hutan tanpa menilai risiko menunjukkan bentuk sila ke empat belum sepenuhnya dijalankan dengan baik. Karena setiap keputusan yang pemerintah ambil harus memprioritaskan rakyat dan berpihak kepada rakyat.
Hampir sepekan lamanya kejadian ini, banyak warga Indonesia di luar Sumatera yang memberikan donasi dengan memberikan bantuan berupa pakaian, makanan, ataupun barang lainnya. Juga para pemengaruh di media sosial turut membuka ruang donasi bagi para korban.
Hal ini menunjukkan kalau warga Indonesia mencerminkan perilaku sila ke dua yaitu kemanusiaan yang adil dan beradab, juga sila ke tiga yaitu persatuan Indonesia. Yang di mana warga bergotong royong membantu juga turut berempati pada para korban.
Banyaknya masalah bangsa menyadarkan kita terhadap nilai Pancasila, Pancasila bukan hanya sekedar kata yang harus kita hafal, akan tetapi bagaimana kita menerapkannya pada kehidupan sehari-hari. Dengan penerapan nilai Pancasila pada kehidupan sehari-hari dapat memberikan solusi, dan menghindari konflik bagi masalah yang ada.






Leave a Reply