Kisah dari Balik Layar yang Tak Pernah Padam
Oleh:
Ummu Fahhala, S. Pd.
(Praktisi Pendidikan dan Pegiat Literasi)
Terasjabar.co – Saya bertemu seorang remaja di sebuah taman kecil di Bandung, sore itu. Ia duduk sendirian, menunduk pada layar ponselnya, seolah seluruh dunia hanya tersisa dalam kotak cahaya itu. Namanya Fikri, usia 15 tahun. “Saya capek, Kak. Tapi kalau saya berhenti buka ini, saya malah gelisah,” katanya tanpa mengalihkan pandangan.
Saya menatap matanya sesaat. Ada ruang kosong di sana. Ruang yang tidak seharusnya ada pada anak seusianya.
“Berapa lama biasanya kamu menatap layar?” tanya saya pelan.
“Seharian. Rasanya kalau enggak ikut tren, saya hilang.”
Kata-katanya menempel lama di benak saya. Hilang. Itu kata yang berat diucapkan anak seusia itu.
Namun faktanya, ribuan remaja lain menggumamkan hal yang sama, meski tidak semua berani mengakuinya.
Fikri hanyalah satu wajah dari jutaan. Data CNBC Indonesia pada 29 November 2025 menyatakan Indonesia berada di peringkat pertama dunia dalam kecanduan gawai.
Warganya, termasuk anak-anak, tenggelam dalam screen time yang berlebihan, hingga memicu digital dementia, rasa malas berpikir, dan kesepian yang sunyi.
Sore yang lembut itu berubah menjadi peringatan keras. Saya duduk di sampingnya, mencoba memahami dunia tempat ia hidup.
“Di beberapa negara, anak-anak seusiamu tidak boleh bermain media sosial,” kata saya. “Tapi di Indonesia, semua orang bebas masuk, tanpa batas.”
Fikri mengangkat kepalanya. “Kenapa enggak ada aturan, Kak?”
Pertanyaannya sederhana. Namun jawaban atas pertanyaan itu tidak sesederhana luka yang ditimbulkan media sosial pada mental generasi.
Salah satu media menunjukkan daftar negara yang melarang anak-anak mengakses media sosial. Tetapi Indonesia tidak termasuk di dalamnya.
Saya ingat temuan fakta, ketika Meta diduga menghentikan riset internal setelah mengetahui bahwa produk mereka dapat merusak kesehatan mental remaja.
Di sisi lain, laporan media lain menyebut fenomena “remaja jompo, ” adanya penurunan kognitif pada anak akibat paparan digital berlebih.
Fenomena ini bukan lagi sekadar gangguan kecil. Ini pola. Ini tren. Dan tren ini bergerak seperti arus besar yang menyeret generasi tanpa sadar.
Saya menatap Fikri lagi. Ia kembali menunduk. Jemarinya bergerak cepat, seakan hidupnya terseret oleh ritme yang tidak ia kuasai.
Saya Mulai Bertanya kepada Diri Sendiri
Apakah kita sedang membiarkan generasi masa depan kehilangan diri?
Apakah kita terjebak dalam sistem yang menganggap perhatian anak-anak sebagai komoditas?
Apakah kita masih punya pilihan ketika layar sudah menjadi pusat kehidupan?
Ketika Sebuah Pertanyaan Menggetarkan
“Fikri,” kata saya memecah hening. “Kalau kamu boleh memilih, kamu ingin hidup seperti apa?”
Ia berhenti. Menutup layar. Melihat langit yang mulai pudar warnanya.
“Saya ingin tenang, Kak. Saya ingin bisa fokus. Saya ingin jadi orang yang kuat.”
Ada jeda panjang. Kemudian ia menambahkan, “Tapi dunia di sini…” katanya sambil mengangkat ponselnya, “…keras banget. Kalau enggak ikut, kita ditinggal.”
Kata-katanya membuat dada saya sesak. Apakah kita sedang membiarkan generasi merasakan kekerasan yang diciptakan algoritma?
Generasi yang seharusnya tumbuh pada kasih sayang dan pendidikan yang kokoh malah hidup di bawah bayang-bayang kapitalisme digital.
Kapitalisme Digital: Ketika Layar Mengatur Jalan Pikiran
Perusahaan digital global merancang platform mereka agar memancing kecanduan. Mereka menjual perhatian generasi muda. Mereka menambang data. Mereka meraup keuntungan dari setiap detik yang dicuri dari hidup remaja kita.
Dalam sistem kapitalisme, perhatian manusia hanyalah angka. Waktu anak-anak hanyalah statistik. Masa depan generasi hanyalah peluang keuntungan.
Dan Indonesia, dengan pasar yang besar, menjadi sasaran empuk. Kita menjadi konsumen, bukan subjek. Kita mengikuti arus, bukan mengendalikannya.
Bukan karena penguasanya tidak peduli. Namun sistem yang membingkai kebijakan sering kali menempatkan ekonomi di atas kesehatan mental. Pertumbuhan di atas perlindungan. Investasi di atas masa depan generasi.
Itulah mengapa kritik harus elegan. Karena kita tahu pemerintah bekerja di atas sistem yang lebih besar daripada dirinya.
Namun sebuah negara tetap memiliki tanggung jawab moral. Ia tidak boleh membiarkan generasi runtuh tanpa pelindung.
Lalu Saya Teringat Jalan Islam: Jalan yang Pernah Melahirkan Generasi Besar
Saya mengingat kembali ayat Allah: “Wahai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka…”
(QS. At-Tahrim: 6)
Ayat itu menunjukkan kewajiban melindungi, mengawasi, dan menjaga. Dalam Islam, negara memegang amanah menjaga rakyatnya dari bahaya, termasuk bahaya digital.
Saya juga teringat sabda Nabi saw: “Setiap kalian adalah pemimpin dan setiap pemimpin akan dimintai pertanggungjawaban.”
(HR. Bukhari dan Muslim)
Dalam sistem pemerintahan Islam, para pemimpin dahulu memandang generasi muda sebagai aset terbesar peradaban. Mereka merawatnya. Mereka membentenginya. Mereka menetapkan aturan tegas agar tidak ada perilaku, budaya, atau teknologi yang merusak mental generasi.
Saya menjelaskan hal Itu kepada Fikri
“Dulu,” kata saya, “negara Islam melindungi anak muda dari semua hal yang merusak akal. Mereka mengawasi konten. Mereka membatasi apa yang boleh masuk. Mereka menjaga pendidikan agar membentuk karakter, bukan hanya kecerdasan teknis.”
Fikri mengangguk pelan.
“Sistem itu tidak anti-teknologi,” lanjut saya. “Tapi mereka memastikan teknologi tidak merusak manusia.”
Solusi Islam: Jalan yang Lebih Tegas dan Lebih Manusiawi
Mekanisme Islam dalam menyiapkan generasi emas dan pengaturan media, diimplementasikan dalam beberapa kebijakan diantaranya:
- Negara memprioritaskan pembinaan generasi
Sistem Islam menyiapkan kurikulum yang membangun kekokohan mental. Anak tumbuh dengan kecintaan pada ilmu, bukan kecanduan pada layar. - Negara menguatkan peran orang tua dan masyarakat
Orang tua menjadi madrasah pertama. Masyarakat menjadi pelindung kedua. Negara menjadi penjaga utama. - Negara mengatur teknologi dengan aturan yang jelas, diantaranya dengan:
- Mengawasi konten digital agar sesuai syariat.
- Memberi sanksi tegas untuk konten merusak.
- Membatasi media sosial yang boleh beroperasi.
- Mengatur usia minimal akses platform digital.
- Mengelola penggunaan AI agar tidak menggusur akal manusia.
Semua kebijakan ini berpijak pada maqasid syariah, yakni menjaga akal, jiwa, keturunan, dan agama.
Dan Sore itu, Saya Melihat Harapan Kecil
Fikri menutup ponselnya. Ia menyimpannya ke saku. Untuk pertama kalinya, ia menatap dunia nyata tanpa gelisah.
“Mungkin saya harus mulai kurangi, Kak,” katanya pelan. “Mungkin saya harus mulai pilih apa yang baik buat saya.”
Saya tersenyum. “Itu langkah pertama,” jawab saya.
Langkah kecil. Namun langkah itu bisa menjadi awal bangkitnya satu generasi, jika negara, masyarakat, orang tua, dan sistem yang mengatur kita bersatu melindungi masa depan.
Karena jika kita diam, layar akan terus memakan generasi kita pelan-pelan. Dan pada akhirnya, kita akan bertanya: Apakah kita sudah cukup menjaga amanah itu?






Leave a Reply