Candi Bentar di Tanah Priangan: Ketika Simbol Dibangun Tanpa Membaca Luka Sejarah

Oleh:
Robby Maulana Zulkarnaen
(Budayawan)

Terasjabar.co – Di Jawa Barat, ruang publik bukan sekadar bentang fisik; ia adalah panggung tempat identitas kolektif berbicara. Setiap bangunan yang berdiri membawa pesan mengenai nilai yang dijunjung masyarakatnya.

Maka ketika sebuah Candi Bentar bergaya Majapahit didirikan di lingkungan Gedung Sate, kontroversi yang muncul bukanlah reaksi emosional semata, melainkan suara kewaspadaan budaya yang lahir dari ketidaktepatan simbol dan ketidakpekaan pemangku kebijakan.

Luka yang Belum Sembuh. Mengapa Perang Bubat Masih Relevan?

Peristiwa perang Bubat telah berabad lampau, namun jejaknya masih mengendap dalam kesadaran kultural Sunda. Sejarawan seperti Edi S. Ekadjati, Yoseph Iskandar, hingga Ajip Rosidi mencatat bahwa tragedi tersebut menorehkan trauma yang diwariskan antargenerasi.

Menghadirkan simbol Majapahit di jantung pemerintahan Sunda tanpa kehati-hatian rasa adalah tindakan yang mengabaikan memori kolektif masyarakat dan itu adalah kesalahan strategis dalam membaca psikologi budaya.

Simbol yang Salah Tempat

Candi Bentar adalah ikon Majapahit, Bali, yang lahir dari kosmologi berbeda dengan Sunda. Para ahli arsitektur Nusantara seperti Etty Saringendyanti dan Cecep Eka Permana menegaskan bahwa arsitektur Sunda tidak mengenal gerbang monumental terbelah. Identitas visual Sunda cenderung bersahaja, organik, dan membumi, jauh dari monumentalitas Majapahit.

Maka ketika Candi Bentar ditempelkan begitu saja ke jantung Jawa Barat, yang terjadi bukan akulturasi, melainkan distorsi. Ia memaksa narasi luar untuk berbicara di ruang yang semestinya merepresentasikan suara lokal.

Minim Musyawarah, Minim Sensitivitas

Lebih mengkhawatirkan lagi, keputusan pembangunan Candi Bentar tampak lahir dari selera personal, bukan hasil musyawarah budaya. “Kumaha Aing” bukan gaya kepemimpinan yang memuliakan martabat budaya.

Hal itu justru bentuk pengingkaran terhadap etika politik Sunda yang menjunjung kesadaran rasa dan kehati-hatian dalam setiap tindakan simbolik.

Ketiadaan dialog dengan budayawan, akademisi, komunitas adat, arsitek heritage, hingga lembaga pelestarian membuat kebijakan ini kehilangan legitimasi moral. Di titik inilah persoalannya menjadi semakin jelas, bukan hanya salah simbol tetapi juga salah prosedur.

Kerangka Hukum yang Diabaikan

Yang lebih ironis, pembangunan ini secara terang mengabaikan sejumlah aturan resmi terkait kebudayaan:

  1. UU Nomor 5 Tahun 2017 tentang Pemajuan Kebudayaan
    Undang-undang ini menegaskan bahwa setiap pembangunan simbol budaya wajib mempertimbangkan sejarah dan kearifan lokal, serta pemerintah daerah harus mengedepankan identitas budaya daerah. Candi Bentar jelas gagal memenuhi amanat tersebut.
  2. Permendagri No. 52 Tahun 2007 tentang Pedoman Pelestarian dan Pengembangan Adat Istiadat
    Peraturan ini dengan tegas menyebutkan pentingnya musyawarah budaya dan keterlibatan masyarakat adat serta pakar budaya dalam setiap keputusan simbolik ruang publik. Fakta bahwa pembangunan ini dilakukan tanpa konsultasi publik memperlihatkan kelalaian prosedural yang serius.
  3. Perda-Perda Kebudayaan Lokal di Jawa Barat
    Sejumlah perda di berbagai kabupaten/kota menegaskan bahwa kultur Sunda harus menjadi identitas visual ruang publik Jawa Barat. Kehadiran Candi Bentar di Gedung Sate bukan hanya melenceng dari semangat perda-perda tersebut, tetapi juga menimbulkan tanda tanya besar, untuk siapa simbol ini dibangun? Dengan kata lain, bukan hanya rasa Sunda yang diabaikan tetapi landasan hukum pun dilangkahi.

Ketika Anggaran Tidak Berpihak pada Kebutuhan Nyata

Di tengah kondisi ekonomi yang menuntut efisiensi, ketika paguron-paguron silat kekurangan fasilitas, seniman tradisi kesulitan ruang berkarya, dan banyak situs budaya Sunda memerlukan perawatan, penggunaan anggaran besar untuk membangun simbol yang keliru terasa seperti ironi yang pahit. Kebijakan publik semestinya berpijak pada urgensi dan kebutuhan rakyat, bukan ambisi estetika seorang pejabat.

Identitas Bukan Dekorasi

Jawa Barat tidak kekurangan simbol untuk dibanggakan. Gedung Sate sendiri adalah contoh harmonisasi arsitektur Indo-Eropa dengan ruh Sunda. Menghadirkan Candi Bentar justru merusak komposisi visual yang telah lama menjadi penanda identitas daerah.

Identitas bukan barang dekoratif yang bisa ditempel sesuai selera. Ia adalah fondasi nilai yang harus dipahami, dihormati, dan dirawat bukan diganti oleh simbol lain yang tak memiliki akar historis di tanah Priangan.

Mengapa Kritik Ini Perlu Disuarakan

Menolak Candi Bentar bukan menolak Majapahit, bukan anti-Jawa Timur, dan bukan anti-Bali. Sunda tidak pernah alergi pada perjumpaan budaya. Yang ditolak adalah ketidaktepatan konteks, pengabaian sejarah, ketiadaan musyawarah, kelalaian terhadap kerangka hukum, serta kurangnya sensitivitas pemimpin membaca identitas daerahnya sendiri.

Ruang publik Jawa Barat berhak berbicara atas nama Sunda dan masyarakat berhak menegur ketika simbol yang didirikan tidak menghormati sejarah, rasa, dan aturan yang mestinya menjadi pedoman. Karena ketika pemimpin gagal membaca masa lalu bangsanya, maka rakyatlah yang harus mengingatkannya.

Bagikan :

Leave a Reply

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

fourteen − 3 =

Studi Kasus Mahjong Ways Menunjukkan Perubahan Cara Pemain Membaca Susunan Simbol Akibat Baris Tambahan
Sering Terjadi Kesalahpahaman Bahwa Transformasi Simbol Emas Mahjong Ways Menandakan Hasil Putaran Berikutnya
Perbandingan Tampilan Antara Mahjong Ways Dan Sekuelnya Dalam Menyajikan Informasi Fitur Di Layar Seluler Modern
Direkapitulasi Perjalanan Mahjong Ways Dari Tema Tradisional Menuju Industri Game Digital Modern
Tanpa Mencampurkan Dengan Peran Wild, Fungsi Scatter Mahjong Ways Dapat Dikenali Dalam Susunan Kemenangan
Penyelaman Mengungkap Perubahan Dan Makna Baru Dunia Baccarat Di Era Digital
Media Gaming Mengungkap Perjalanan Mahjong Ways 2 Dalam Menghadapi Perubahan Tren Industri Hiburan Digital
Baccarat Ditampilkan Dalam Catatan Perubahan Platform Media Gaming Masa Kini Yang Mengubah Cara Bermain
Pergeseran Media Modern Menjadikan Wacana Kasino Online Sebagai Sorotan Baru Masyarakat
Perubahan Gaya Platform Membawa Bakarat Digital Menjadi Sorotan Baru Dalam Percakapan Modern
Perkembangan Komunitas Mahjong Ways Digital Dorong Kebangkitan Popularitas di Indonesia
Tren Mahjong Ways Mobile Gaming Terbaru Hadirkan Kebangkitan Jadi Sorotan Utama
Kenapa Mahjong Ways Tetap Viral? Alasan Ini Bikin Kaget!
Fenomena Game Bertema Oriental Bangkit Kembali, Mahjong Ways Jadi Sorotan Utama
Strategi Mahjong Ways Tetap Digemari Di Tengah Persaingan Game Online Diungkap Media Digital
Transformasi Industri Mahjong Ways Digital Perjalanan Panjang Menuju Inovasi
Kebangkitan Platform Game Mahjong Ways dalam Era Perkembangan Digital
Meski Zaman Berubah, Mahjong Ways Tetap Favorit! Ini Rahasianya
Mahjong Ways Masih Jadi Perbincangan Hangat! Komunitas Gaming Ungkap Alasannya
Evolusi Mahjong Ways Dari Masa Ke Masa Yang Bikin Penasaran Diungkap Laporan Industri
Mahjong Ways Tetap Eksis! Ini Rahasia Bertahan di Tengah Persaingan Industri Game Ketat
Identitas Visual Mahjong Ways Bikin Penggemar Terpikat! Media Online Soroti Konsistensinya
Tren Digital Menggairahkan Lagi! Game Penghasil Uang Cepat Jadi Sorotan Publik
Kenapa Game Penghasil Uang Cepat Menarik Minat Pemain Indonesia? Ini Alasannya!
Benarkah Game Penghasil Uang Cepat Makin Diminati? Faktanya Mengejutkan!
Majestic Treasures Menarik Perhatian Komunitas Game Digital Lewat Pesona Khas dan Ragam Strategi Menarik
Mahjong Ways 2 Ramai Dibahas Lagi! Ini Dampak Besar pada Industri Game Digital Indonesia
Mahjongways Kasino Online Viral di Komunitas Game dan Mulai Disebut sebagai Sumber Penghasilan Baru
Mahjong Ways Kembali Jadi Sorotan! Penggemar Game Penghasil Uang di Indonesia Serbu
Game Penghasil Uang Mulai Dilirik Media Game Mobile di Tengah Pergeseran Tren Global