Saat Beton Bicara Tentang Masa Depan Kita

Oleh:
Ummu Fahhala, S. Pd.
(Praktisi Pendidikan dan Pegiat Literasi)

Terasjabar.co – Senja turun pelan di sebuah desa di Bogor. Sungai di hadapan saya mengalir tenang, seolah menyimpan cerita yang belum selesai. Di tepinya, seorang lelaki paruh baya duduk sambil menatap air yang memantulkan warna jingga.

“Air ini saksi,” katanya lirih ketika saya duduk di sampingnya. “Dulu kami takut setiap hujan deras. Banjir bandang datang seperti amarah tak terbendung.”

Saya mengangguk. Hari itu, saya datang untuk melihat langsung lokasi pembangunan Bendungan Cijurey, salah satu dari 15 bendungan yang sedang dikebut pembangunannya oleh Kementerian Pekerjaan Umum. Proyek ini menelan dana Rp3,7 triliun dan disebut akan beroperasi pada 2028. Bendungan ini akan menekan banjir bandang dan mendukung swasembada pangan.

“Kalau nanti jadi, hidup kami mungkin lebih tenang,” lanjut lelaki itu.

Saya menarik napas panjang. Inilah harapan yang tertanam di tengah beton-beton yang sedang disusun. Harapan yang sering tak terlihat di balik riuh wacana pembangunan.

Dialog di Warung Kopi: Menimbang Jalan Tol dan Jalan Hidup

Malamnya, saya bertemu Arif, seorang pemuda pengajar di Bandung. Kami bertemu di sebuah warung kecil di pinggir kota. Jalan di depannya masih padat, kendaraan merayap seperti semut.

“Kota ini lelah,” katanya sambil menyeruput kopi hangat. “Macet membuat semua orang kehilangan waktu.”

Pernyataannya mengingatkan saya akan pembangunan jalan tol baru di Bandung senilai Rp 8,3 triliun yang akan dimulai pada 2026. Proyek ini diberitakan sebagai solusi kemacetan.

“Kalau tol jadi,” Arif melanjutkan, “mungkin perjalanan lebih cepat. Tapi aku bertanya-tanya, pembangunan ini benar-benar untuk siapa?”

Pertanyaannya menggantung. Warung itu sunyi beberapa detik.

Saya menatap cangkir kopi yang sedikit bergetar. Keraguan, harapan, dan realitas berpadu seperti aroma robusta yang pekat.

Perenungan: Saat Infrastruktur Menguji Nurani Kita

Dalam perjalanan pulang, kata-kata Arif terus mengikuti langkah saya. Ia bukan menolak pembangunan. Ia hanya menggugah sesuatu dalam diri saya. Sesuatu yang tak bisa ditinggalkan begitu saja.

Di sinilah hati saya bergetar. Infrastruktur memang penting. Kita membutuhkan bendungan, jalan tol, dan sarana transportasi. Namun, kita juga harus jujur, bahwa pembangunan sering bergerak lebih cepat daripada kebermanfaatannya. Beberapa bandara sepi, beberapa jalur transportasi tidak terpakai, bahkan beberapa proyek menimbulkan beban baru bagi negara.

Dan malam itu, saya bertanya pada diri sendiri: Apa arti pembangunan jika tidak menguatkan orang-orang seperti lelaki di tepi sungai atau pemuda penyeruput kopi di pinggir jalan?

Dialog Batin: Menyibak Akar Sistem

Saya memejamkan mata sejenak. Dalam keheningan malam, saya membayangkan deretan proyek besar yang berdiri di atas sistem yang tidak selalu memihak rakyat. Sistem itu bernama kapitalisme sekuler, yang menempatkan kepentingan bisnis di kursi pengemudi.

Beton dibangun. Jalan tol menyala. Kereta cepat melaju. Namun, sebagian rakyat justru tertinggal di tepi jalan.

“Selama pembangunan mengikuti logika korporasi, orientasinya tidak akan berubah,” desah saya dalam hati.

Kapitalisme membuat negara berperan sebagai penyedia fasilitas untuk pebisnis, bukan penjaga kebutuhan publik. Konsep good governance yang dikagumi banyak pihak kadang menjelma menjadi alat untuk melegitimasi prioritas yang tidak berpihak pada rakyat.

Di titik ini, saya merasa perlu melihat arah lain. Arah yang pernah menjadi pilar peradaban selama 13 abad. Arah yang digerakkan bukan oleh pasar, melainkan oleh akidah, amanah, dan kepemimpinan.

Malam yang Mencerahkan: Ketika Islam Menawarkan Jalan

Saya kemudian membuka mushaf kecil yang selalu saya bawa. Tangan saya berhenti pada satu ayat: “Jika sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pasti Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi” (QS Al-A‘raf [7]: 96).

Ayat itu seperti cahaya yang jatuh ke dada. Islam memandang infrastruktur bukan sebagai alat mencari untung. Ia adalah pelayanan publik, komitmen negara kepada rakyat.

Keesokan harinya, dalam sebuah diskusi dengan seorang guru agama setempat, percakapan kami mengalir pelan.

“Sungguh,” kata beliau, “Rasulullah saw. bersabda, ‘Imam (khalifah) adalah pengurus rakyat dan ia bertanggung jawab atas rakyat yang ia urus.’ (HR Bukhari). Jadi, negara wajib memastikan kebutuhan rakyat terpenuhi, termasuk infrastruktur.”

Beliau menambahkan, “Jika sebuah fasilitas umum rusak atau membahayakan, negara harus memperbaikinya segera. ‘Tidak ada bahaya dan tidak boleh saling membahayakan,’ sabda Nabi saw.” (HR Ibnu Majah, Ahmad, dan Ad-Daruquthni)

Saya merasakan keteduhan. Islam hadir dengan sistem yang jelas. Negara bertanggung jawab penuh atas infrastruktur tanpa tergantung pada korporasi atau utang berbunga. Jika dana kurang, negara boleh memungut dharibah secara adil. Namun, semua bergerak untuk rakyat, bukan untuk pasar.

Beliau menutup percakapan dengan kisah inspiratif tentang Kereta Api Hijaz yang dibangun pada 1900 oleh Sultan Abdul Hamid II. Jalur itu dibangun bukan untuk investor, tetapi untuk memudahkan jemaah haji.

“Lihat,” katanya, “ketika iman memimpin pembangunan, fasilitas menjadi rahmat bagi rakyat.”

Epilog: Di Tepi Sungai Itu, Harapan Kembali Berbicara

Saya kembali ke tepi Sungai Cijurey beberapa hari kemudian. Lelaki paruh baya yang saya temui sebelumnya tersenyum kecil ketika melihat saya datang.

“Bendungan itu nanti akan menolong kami?” ia bertanya.

Saya menatap air yang terus mengalir, mendengar gumamannya yang lembut.

“Jika dibangun dengan niat melayani rakyat,” jawab saya, “maka insyaAllah ia membawa berkah.”

Angin sore berhembus perlahan, seperti mengamini doa kami berdua. Saya menyadari bahwa pembangunan bukan semata tentang beton dan angka. Ia adalah tentang manusia, tentang harapan, tentang masa depan yang kita bangun bersama.

Dan saya percaya, suatu hari nanti, ketika prinsip Islam memimpin arah pembangunan, setiap jembatan, setiap bendungan, dan setiap jalan akan menjadi rahmat, bukan beban. Karena pada akhirnya, peradaban tidak dibangun oleh beton, tetapi oleh nilai yang menghidupkan ruh manusia. Wallahu’alam.

Bagikan :

Leave a Reply

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

five + three =

Pengalaman Pengguna Game Penghasil Saldo DANA Lebih Cepat Adaptif Dan Efisien Dibawa Oleh Inovasi Teknologi
Pergeseran Mutu Produksi Kosmetik Terdeteksi Lebih Akurat Berkat Aliran Data Langsung
Pengalaman Pengguna Semakin Responsif Adaptif Dan Efisien Berkat Perkembangan Teknologi Modern
Momentum Tetap Terarah Dan Terkendali Dipertahankan Melalui Taktik Mode Pemburu Sic Bo Live
Keputusan Tetap Terukur Dalam Game Online Dipertahankan Melalui Pengelolaan Modal Cerdas
Kapitalisasi Pasar Dan Inovasi Kasino Online Berubah Di Tengah Disrupsi Teknologi Modern
Strategi Baru Untuk Meningkatkan Keunggulan Kompetitif Dibuka Melalui Business Model Canvas Mahjong Ways
Kualitas Sistem Mahjongways Kasino Online Dipahami Melalui Identifikasi Nilai Pembayaran Game Penghasil Saldo DANA
Perspektif Baru Dalam Menganalisis Perkembangan Mahjong Ways Dibuka Melalui Modernisasi Strategi
Kasino Menjadi Studi Sistem Informasi Bagi Mahasiswa Melalui Pelatihan Enterprise Architecture
Mahjongways Kasino Online Dijadikan Acuan Strategi Marketing dalam Lingkungan Pemerintahan
Keamanan Informasi Jadi Fondasi Utama Layanan Konsultasi Kosmetik Berbasis Teknologi
Teknologi Pemantauan Membantu Mengukur Frekuensi Pembayaran secara Lebih Objektif dan Terukur
Kajian Statistik Pola RTP Menyoroti Perkembangan Teknologi Neural Sintetis Regulatoris
Simulasi Statistik Membuka Pendekatan Baru Memahami Mahjong Game Sungai Penuh secara Terukur
Statistik Objektif Membantu Membaca Pola Mahjong Game Sungai Penuh dengan Lebih Rasional
Strategi Mahjong Game Sungai Penuh Makin Terarah melalui Pendekatan Statistik Modern
Pendekatan Data Objektif Membantu Mengkaji Mahjong Game Saldo DANA Sungai Penuh secara Lebih Terstruktur
Mahjong Game Sungai Penuh Dikaji lewat Simulasi Statistik untuk Membaca Pola Aktivitas
Aturan Mahjong Digital dari Dua Kartu Awal hingga Penentuan Rentang Nilai Game Penghasil Saldo DANA
Pendekatan Adaptif MahjongWays Kasino Online Membantu Menjaga Keseimbangan Anggaran Hiburan
Kemunculan Simbol Unik MahjongWays Kasino Online Perlu Dibaca Secara Lebih Rasional
Mahjong Ways Menarik Minat Pemain di Tengah Ketatnya Persaingan Game Digital
Pengaturan Tempo MahjongWays Kasino Online Tidak Menentukan Munculnya Kombinasi Khusus
Starlight Princess Kembali Merebut Perhatian Pemain MBG Berkat Daya Tariknya
Membaca Pola Mahjong Ways dan Tren Permainan Lewat Data Saldo DANA Terbaru
Disiplin Mental MahjongWays Kasino Online Membantu Mencegah Keputusan Finansial yang Terlalu Impulsif
Mengenal Sweet Bonanza sebagai Game Digital Online dengan Tema Manis yang Menarik
Rotasi Awal MahjongWays Kasino Online Bukan Tolok Ukur Kemurahan Sistem Permainan
Menelusuri Strategi Terbaik dalam Bermain Game Penghasil Saldo DANA Secara Lebih Mendalam