SUSUKAN HARUM: Sebuah Novel Pendek tentang Air, Sungai, dan Masa Depan Peradaban
Oleh:
ACHMAD TANS
(XFITVAL/Explorer Fitrah Values, Anggota TKPSDA Wilayah Sungai Citarum & Penikmat Seni-Budaya)
Terasjabar.co – Langit pagi di Provinsi Mandalasari tampak kelabu. Kabut tipis menggantung di atas Waduk Jayamukti yang selama puluhan tahun menjadi urat nadi kehidupan wilayah itu. Dari waduk itulah listrik dihasilkan. Dari sungai-sungainya sawah mendapatkan air. Dari alirannya kolam ikan hidup. Dari tepian dan hilirnya jutaan penduduk manusia menggantungkan hidup.
Namun beberapa tahun terakhir, sesuatu berubah. Air semakin keruh. Debit sungai tak menentu. Ikan-ikan semakin sulit ditemukan. Sawah kadang kebanjiran, kadang retak kekeringan. Di tengah situasi itu, Gubernur Mandalasari, Arya Nagara, berdiri memandang permukaan waduk yang mulai surut. Di sampingnya berdiri Bupati Sukamanah, Raden Wiratama. “Pak Bupati,” ujar Arya pelan, “dulu ayah saya bilang, sungai itu seperti urat nadi manusia. Kalau sungai nya sakit, wilayahnya juga akan sakit”. Wiratama tersenyum tipis. “Sekarang saya mulai benar-benar memahami maksudnya, Pak Gubernur”. Mereka sedang menuju sebuah forum besar bernama: MUSYAWARAH SUSUKAN HARUM.Sebuah pertemuan lintas profesi, lintas kepentingan, dan lintas cara pandang. Bukan sekadar rapat. Tetapi usaha mencari jalan agar wilayah sungai di Mandalasari tetap menjadi sumber kehidupan.
Aula pertemuan itu sederhana. Namun pesertanya tidak biasa.Ada: pejabat PLTA, pengelola Jasa Tirta,industrialis, petani, pembudidaya ikan,nelayan sungai dan waduk,akademisi, bahkan seniman. Yang paling unik, di forum itu juga menghadirkan “wakil alam”. Di pojok aula berdiri sebuah batang kayu besar tua yang dibentuk menyerupai sosok manusia.
Mereka menyebutnya Pohon Kayu. Di sisi lain terdapat akuarium besar berisi: ikan, udang, dan kerang sungai. Dan di tengah ruangan dipasang rekaman suara aliran sungai. “Kenapa semua ini harus ada?” tanya seorang pejabat industri.
Arya Nagara menjawab: “Karena terlalu lama manusia bicara tentang sungai tanpa pernah mendengar suara sungai itu sendiri”.Ruangan mendadak hening.
Orang pertama yang berbicara adalah Achtan. Ia petani padi dan hortikultura dari daerah hulu. Tubuhnya sedang. Kulitnya seperti terbakar matahari. Namun matanya tajam. “Saya ini petani,” katanya. “Kalau air rusak, sawah kami yang pertama kali merasakan”.
Ia menghela napas.“Dulu tanah di kampung saya seperti spons. Hujan turun, air meresap. Mata air hidup sepanjang tahun. Sekarang hujan besar sedikit langsung banjir. Dua bulan kemudian kering”.“Kenapa bisa begitu?” tanya Wiratama. Achtan menatap semua orang. “Karena gunung dibuka. Pohon hilang. Tanah dipaksa bekerja tanpa istirahat”. Semua diam.
Kini giliran Dakan. Ia pembudidaya ikan. Sudah tiga generasi keluarganya hidup dari kolam air tawar.“Dulu ikan tumbuh sehat”, katanya. “Tapi sekarang air sering berubah warna. Kadang berbusa. Kadang bau”.Ia menunjuk pejabat industri. “Saya tidak menuduh siapa-siapa. Tapi kalau air terus diperlakukan seperti tempat sampah raksasa, suatu hari bukan cuma ikan yang mati”. Industrialawan bernama Surya Pradana langsung menjawab.“Industri juga penting. Jangan semua kesalahan dilempar ke industri”. Dakan mengangguk.
“Saya tidak bilang industri tidak penting. Tapi kehidupan juga penting”. Ruangan kembali hening.
Nelayan sungai bernama Usep berdiri.Wajahnya penuh keriput.“Saya lahir di bantaran sungai,” katanya. “Dulu anak-anak mandi di sungai. Sekarang orang takut menyentuh air”. Ia tertawa pahit.“Kadang saya bingung. Manusia sekarang pintar sekali membangun. Tapi kenapa semakin sulit menjaga air tetap jernih?”. Pertanyaan itu seperti menggantung di langit aula.
Tiba-tiba lampu ruangan diredupkan.Suara gemericik air terdengar. Lalu dari pengeras suara, terdengar suara berat dan dalam. “Aku adalah sungai.” Semua orang saling memandang. “Aku pernah menghidupi kalian. Sawah kalian. Ikan kalian. Kota kalian. Listrik kalian”. Suara itu terus berbicara. “Tetapi kalian memperlakukanku hanya sebagai saluran. Kalian persempit tubuhku. Kalian kotori darahku. Kalian lukai huluku”. Beberapa orang mulai tertunduk. “Padahal aku hanya ingin tetap mengalir membawa kehidupan”.Usep mengusap matanya.
Kini Pohon Kayu berbicara. Tentu bukan benar-benar pohon hidup. Namun seorang seniman lingkungan membacakan narasinya.“Aku pohon di pegunungan,” katanya. “Dulu akar-akarku menahan air. Menjaga tanah. Menenangkan sungai.” “Tetapi manusia melihatku hanya sebagai kayu. Mereka lupa bahwa ketika pohon tumbang, air kehilangan rumahnya.”
Arya Nagara memejamkan mata.
Pejabat PLTA bernama Bangkit mulai berbicara. “Banyak orang menyalahkan waduk,” katanya. “Tapi listrik yang kalian nikmati berasal dari air”.Ia menunjuk layar besar. “Kalau debit air turun, produksi listrik turun. Kalau sedimentasi naik, umur waduk memendek”.Ia menatap semua peserta.
“PLTA tidak bisa hidup tanpa DAS yang sehat”.
Direktur Jasa Tirta, Flumen Larasati, mengangguk. “Masalah kita selama ini,” katanya, “terlalu sektoral”. “Petani ingin air. Industri ingin air. PLTA ingin air. Kota ingin air. Perikanan ingin air. Tetapi sedikit yang benar-benar memikirkan bagaimana air tetap lestari”. Ia berhenti sejenak. “Kita terlalu sibuk membagi air, tetapi kurang sibuk menjaga sumber kehidupan air itu sendiri”.
Industrialis Surya Pradana akhirnya berdiri lagi.Kali ini nadanya lebih tenang. “Mungkin kami para pengusaha juga harus berubah.” Semua menatapnya.“Selama ini kami terlalu fokus pada produksi dan profit.
Padahal tanpa sungai yang sehat, industri pun suatu hari akan lumpuh”. Ia menghela napas. “Air bukan hanya bahan baku. Air adalah fondasi seluruh sistem.”
Perdebatan mulai berubah menjadi percakapan.Tidak lagi saling menyalahkan. Tetapi mulai mencari jalan. Achtan berkata: “Kalau hulu dijaga, petani siap ikut konservasi”. Dakan berkata: “Kalau kualitas air diperbaiki, budidaya ikan akan berjaya lagi”.
Usep berkata: “Kalau sungai hidup kembali, masyarakat bantaran juga akan hidup”. Bangkit berkata: “Kalau DAS sehat, listrik dari PLTA bisa terus menyala”. Flumenta berkata: “Kalau semua bekerja bersama, air akan cukup untuk semua”. Bahkan Surya berkata: “Industri harus mulai menghitung jejak air, bukan hanya laba.”
Malam semakin larut. Namun percakapan justru semakin hangat.Di luar aula, hujan kecil mulai turun. Arya Nagara lalu berdiri.
“Saudara-saudaraku,” katanya pelan. “Kita terlalu lama melihat sungai hanya dari fungsi ekonominya”.Ia menunjuk layar yang menampilkan aliran sungai dari hulu ke hilir.
“Padahal sungai adalah ruang hidup bersama”. Ia melanjutkan: “Kalau air rusak: pangan terganggu, listrik terganggu,perikanan terganggu,kesehatan terganggu, bahkan stabilitas sosial terganggu”.
Ia menatap semua peserta. “Maka tujuan kita tidak boleh sekadar membangun proyek. Kita harus membangun peradaban air”.
Seorang akademisi muda kemudian bertanya: “Kalau begitu, apa ukuran keberhasilan pengelolaan sungai kita?”Ruangan kembali sunyi. Lalu Usep tersenyum. “Orang Sunda dulu punya ungkapan,” katanya. Semua menoleh.
Usep berdiri perlahan.“Kalau sungai sehat dan kehidupan seimbang, maka akan lahir kondisi: CAINA HERANG-Airnya jernih dan layak diminum. LAUK PARENA BEUNANG-Ikan dan pangan melimpah. LISTRIKNA CAANG-Energi cukup dan berkelanjutan.
RAHAYAT SENANG-Masyarakat hidup sehat dan sejahtera”.
Ruangan langsung hening.Kalimat itu terasa sederhana. Namun semua orang tahu: itulah inti dari seluruh pembicaraan malam itu.
Achtan kemudian menambahkan: “Itulah yang orang tua kami sebut: SUSUKAN HARUM. Wilayah sungai yang bukan hanya menghasilkan air, tetapi juga melahirkan kehidupan yang harum”. “Harum?” tanya seorang peserta.Achtan mengangguk. “Harum bukan sekadar bau. Tapi keadaan ketika: air bersih, tanah subur,manusia sehat,dan alam tetap memberi berkah”.
Malam itu mereka tidak menandatangani kontrak besar. Tidak ada tepuk tangan meriah. Tidak ada pidato kemenangan. Tetapi sesuatu berubah. Mereka mulai melihat sungai bukan sebagai objek rebutan, tetapi sebagai amanah bersama.
Beberapa bulan kemudian, perubahan mulai terlihat. Program rehabilitasi hulu diperkuat. Petani mulai menerapkan konservasi tanah dan air. Industri tersadarkan memperbaiki pengolahan limbah. Waduk tidak lagi dikelola hanya untuk listrik, tetapi juga untuk menjaga aliran ekologis sungai. Masyarakat bantaran dilibatkan menjaga kebersihan sungai. Sekolah-sekolah mulai mengajarkan literasi air. Anak-anak kembali bermain di tepian sungai.
Lima tahun kemudian. Arya Nagara berdiri lagi di tepi Waduk Jayamukti. Namun kali ini wajahnya berbeda. Air tampak lebih jernih. Burung-burung mulai kembali. Perahu-perahu kecil nelayan tampak bergerak di kejauhan. Usep sedang melempar jala sambil tersenyum riang.
Dakan menunjukkan kolam ikan yang kembali produktif. Achtan memanen padi bersama warga. Dan malam hari, lampu-lampu kota tetap menyala terang dari energi air. Arya tersenyum.Ia teringat kalimat lama: “Air adalah cermin peradaban”. Kini ia benar-benar memahami maksudnya.Karena ternyata menjaga sungai bukan sekadar urusan air. Tetapi urusan bagaimana manusia menjaga hubungan antara: tanah dan langit,hulu dan hilir, teknologi dan kebijaksanaan,
pembangunan dan fitrah kehidupan.
Saat matahari tenggelam, suara sungai kembali terdengar. Namun kali ini suaranya lembut. “Akhirnya kalian mulai mendengar.
Aku hanya ingin tetap mengalir membawa kehidupan”. Kalimat sederhana, tetapi seperti mewakili jeritan banyak sungai di dunia modern.
Angin berhembus pelan.Pepohonan bergerak perlahan. Air mengalir tenang. Dan di wilayah bernama Susukan Harum itu, manusia mulai belajar: bahwa sungai yang sehat bukan hanya menghasilkan air, melainkan melahirkan masa depan.






Leave a Reply