Geulisna Wanoja pada Cover Mangle 1957-2000-an
Oleh:
Nunu A. Hamijaya
(Sejarawan Publik-Pusat Studi Sunda)
Terasjabar.co – Masyarakat Sunda, terutama mereka yang lahir antara tahun 50-an hingga 80-an masih mengenal Majalah Sunda ‘Mangle’ sebagai majalah berbahasa Sunda yang fenomenal dan digemari sebagai bacaan populer bernas jatidiri Sunda. Penulis sendiri pertama kali membaca majalah Mangle tahun 83-an. Saat duduk di SMP. Mangle sendiri berarti untaian melati.
Majalah Mangle pertama kali terbit pada tanggal 21 November 1957 di Kota Bogor, dengan edisi perdana dicetak 500 eksemplar. Para pendirinya adalah tujuh sekawan ini merupakan anggota organisasi Putera Sunda- yang kemudian berafiliasi dengan Badan Musyawarah Masyarakat Sunda, yaitu Oeton Moechtar, Rochamina Sudarmika, Saleh Danasasmita, Wahyu Wibisana, Sukanda Kartasasmita, Ali Basyah dan Abdullah Romli.
Sejak 20 Mei 2025, Majalah Mangle dimiliki Universitas Padjadjaran. Rektornya, Prof. dr. Arief Sjamsulaksan Kartasasmita adalah putra salah seorang pendirinya,yaitu Sukanda Kartasasmita, yang pernah menjadi dosen Unpad dan Bupati Subang. Sementara pimpinan umum adalah Prof. Ganjar Kurnia (Budayawan Sunda, Rektor Unpad, 2007-2015) yang sangat mencintai budaya Sunda sebagai refleksi keislaman orang Sunda.
Masyarakat Sunda sejatinya bangga dengan kesundaannya yang terbukti lewat media masa di zamannya, seperti ada Majalah “Sunda” (1965) dan Koran “Sunda” (31 Maret 2006). Banyak nama majalah lainnya terbit di Tatar Sunda. Bahkan, tradisi literasi koran pertama kali berkembang di Priangan, yaitu di Cianjur, lewat “Soenda Berita” (7 Februari 1903) dirintis RM Tirto Adhi Surjo (TAS).
Mangle Untaian Bunga: Representasi Wanoja Sunda
Kota Paris,
karya Wahyu Wibisana
Napas awal abad paul dina djandela
Imut salambar, kembang, djeung dangdanggula Sampurasun pileuleujan
Kota Paris/
Manis, Adjeuna, geus niis
(Mangle Edisi I, 1958)
Dinamakan Mangle sebagai nama majalah Sunda mengandung arti ranggeuyan kembang (untaian bunga). Majalah ini dinamai demikian sebagai simbol keindahan dari berbagai karya sastra dan ide yang dirangkai di setiap halamannya. Namun, rupanya ‘mangle’ lebih identik dengan ‘wanoja Sunda”, karena seluruh cover-nya menampikan sosok wanoja Sunda.
Sebagai majalah, pertama kali yang akan dilirik dan dilihat adalah covernya. Pada edisi awal memuat tentang wanoja Sunda, bernama Ikka Rostika yang suaranya memikat pendengar RRI Bandung. Sosok Ikka Rostika yang ternyata cover edisi perdana setebal 24 halaman ini adalah juru kawih dari Sanggar Mang Koko.

Majalah Mangle edisi kedua Desember 1957 terbit dengan cover Jetty Sumiadjanie. Sosoknya ditulis dalam artikel berjudul “Mun Tjiluk Heg Muka Kedok” diceritakan Jetty adalah penari yang mempersona penonton Pekan Pemuda pertama di Surabaya dengan ibingan “Topeng Menakdjingga”. Jetty diceritakan jadi incaran juru potret. Murid Pak Kontjar dari Garut lahir di Bandung 21 September 1939, mengenyam pendidikan SMP dan Kursus Bahasa Inggris, Pouws College. Jetty belajar Ngibing pada 1955 dan sudah menguasai 9 tarian. Jetty juga memikat peserta Kongres kehutanan internasional Asia Pasifik, APFC di Bandung dengan membawakan tari topeng. Jetty kemudian diusulkan menjadi utusan Indonesia ke Pesta Pemuda Sejagat di Moskow.
Ciri-ciri Fisik Cantik Wanoja Sunda
Laki-laki Sunda sangat memperhatikan penampilan fisik wanoja. Mungkin, ini terutama dilakukan oleh kalangan menak Sunda yang mempunyai banyak istri, lalu berdasarkan pengalamanya memberikan istilah-sitilah yang menggambarkan wujud fisik wanoja Sunda. Jadi, estetika tentang wanoja berasal dari laik-laki (jajaka).
Setidaknya ada enam belas (16) konsep kecantikan (fisik) perempuan yang dikenal dalam kehidupan masyarakat Sunda (Isur Suryati, Kompasiana, 2022). Keenambelas itu adalah, Pertama, rambut hideung meles, galing muntang, ombak banyu. Kedua, pameunteuna ngadaun seureuh, artinya wajahnya berbentuk hati atau heart seperti pada daun sirih. Ketiga, Halis ngajeler paeh, artinya memiliki alis yang indah berbentuk seperti ikan jeler (nemacheilus chrysolaimos) yang mati. Keempat, soca cureuleuk, bulu soca carentik, artinya mata yang bersih, bentuknya bulat dan besarnya sedang, dilengkapi dengan bulu mata yang lentik.Kelima, damis ngagula sapasi, siga katumbiri, artinya pipi seperti gula merah yang dipotong menjadi dua, berwarna-warni seperti pelangi. Keenam, gadona endog sapotong, artinya bentuk dagu seperti telur matang yang dipotong menjadi dua. Menurut hemat saya, dagu yang mirip dan masuk ke dalam peribahasa itu adalah dagu miliknya Paramitha Roesadhy, artis cantik dan awet muda yang berasal dari tanah Pasundan.
Ketujuh, kulit hejo carulang, koneng umyang artinya kulit berwarna hijau daun rumput belulang, memiliki nama latin Eleusine Indica. Ada dua hal yang dipertentangkan tapi memiliki makna yang hampir sama dalam hal ini, yakni antara hijau rumput belualang dan kuning keemasan. Jadi, mungkin ada dua warna kulit yang menjadi standar kecantikan perempuan Sunda, bisa salah satunya hijau saja atau kuning saja, atau perpaduan antara keduanya. Kedelapan, cangkeng lenggik lir papanting, artinya bentuk pinggang yang ramping seperti pada pinggang papanting, sejenis tawon dengan nama Latin Neotropis yang sangat besar. Kesembilan, taktak wayangeun artinya bahu seperti bahu wayang, ramping dan bagus memakai pakaian apa saja.
Kesepuluh, waos gula gumantung artinya gigi seperti gula yang bergantung. Mungkin maksud dari peribahasa ini, bentuk gigi yang bagus itu seperti gula putih, berbentuk persegi kecil-kecil putih dan jernih menggantung pada rahang. Kesebelas, lambey jeruk sapasi artinya bentuk bibir seperti sekerat jeruk yang segar dan menyehatkan. Keduabelas, panangan ngagondewa, ramo pucuk euriheun. Artinya, bentuk tangan yang seperti gondewa atau busur panah, jari-jari ramping dan runcing ke ujung seperti pucuk daun alang-alang. Ketigabelas, imbit dempok biola, artinya bokong atau pantat seperti bentuk biola. Ternyata, bentuk bokong seperti biola ini juga menunjukkan tanda kesehatan yang baik bagi kaum perempuan. Penelitian menunjukkan bahwa perempuan dengan pinggang ramping dan pinggul lebar memiliki resiko rendah terkena diabetes dan kematian dini.Keempat belas, iga kawas gambang pawayangan, artinya tulang rusuk seperti alat musik gambang.
Kelimabelas, pangambung kuwung-kuwungan artinya lubang hidung seperti membentuk lengkungan yang indah. Dalam hal ini, standar kecantikan pada masyarakat Sunda tidak menekankan pada bentuk hidung. Baik mancung, maupun demes atau dempak. Hidung yang cantik menurut standar masyarakat Sunda adalah bentuk lubangnya yang ‘kuwung-kuwungan’ melengkung indah. Keenambelas, bitis babalingbingan, ngabuah pare, jaksi sajantung artinya betis seperti buah belimbing, seperti tanaman padi yang sedang hamil, dan jantung pisang. Betis perempuan dikatakan cantik apabila berisi di bagian tengah dan meruncing di kedua sisinya. Betis perempuan digambarkan seperti bunga jaksi, konon bunga ini dipercaya sebagai ratunya bunga.Bunga jaksi merupakan bunga pandan berduri, ia biasanya tumbuh di dekat pantai. Dalam legenda Sangkuriang, dikisahkan bahwa saat menghilang di Gunung Putri, Dayang Sumbi berubah menjadi pohon bunga jaksi. Menurut cerita, itulah mengapa Dayang Sumbi awet muda. Karena, dia selalu menyelipkan bunga jaksi pada rambutnya.
Dinamika Konsep Kecantikan (Estetika Sunda)
Filsafat Sunda memandang kecantikan perempuan tidak hanya dari aspek fisik (lahiriah), tetapi juga aspek perilaku dan spiritual (batiniah). Melalui cover Mangle, pergeseran tersebut terlihat dari:
- Era Klasik (1960-an–1970-an): Kecantikan diukur dari pakem tradisional. Perempuan digambarkan memakai kebaya, kain batik, bersanggul (sanggul), dengan ekspresi wajah yang teduh dan santun (andhap asor). Ini mencerminkan konsep ideal nyunda (menjadi Sunda yang autentik).
- Era Transisi (1980-an-1990-an): Mulai masuknya modernisasi dan pengaruh mode Barat. Perempuan di sampul mulai tampil dengan rambut terurai, pakaian modern (gaun atau kasual), dan pose yang lebih ekspresif serta percaya diri.
- Era Kontemporer (Awal 2000-an): Munculnya pluralitas identitas. Ragam kecantikan semakin luas, mulai dari gaya urban modern hingga munculnya tren busana Muslimah (hijab), yang memadukan nilai Islam dan identitas Sunda.
Tokoh wanoja yang menjadi model sampul (cover) majalah Mangle antara era klasik (1960-an) dan era keemasan selebritas (1990-an):
- Era Klasik (1960-an)
Pada dekade ini, majalah Mangle fokus menampilkan sosok perempuan Sunda yang merepresentasikan kecantikan tradisional, keanggunan etnis, atau prestasi lokal. Tokoh yang muncul umumnya adalah:- Alice Iskak: Aktris film senior dan model terkenal era 1960-an yang memiliki darah keturunan campuran namun kerap tampil anggun dalam balutan busana tradisional.
- Mojang Jajaka/Pemenang Kontes Lokal: Mangle sering menampilkan pemenang kontes kecantikan daerah, perwakilan Mojang Priangan, atau penyanyi lagu-lagu Cianjuran dan seni tradisional Sunda. Identitas mereka menonjolkan nilai nyunda, lengkap dengan konde (sanggul), kebaya klasik, dan pose yang sangat santun (andhap asor).
- Era Modern (1990-an)
Memasuki era 90-an, Mangle mulai mengadopsi budaya pop urban. Model sampulnya didominasi oleh artis-artis papan atas berdarah Sunda yang sedang naik daun di tingkat nasional: Nike Ardilla: Diva pop legendaris asal Ciamis ini merupakan salah satu figur yang paling sering menghiasi sampul Mangle di awal tahun 90-an, termasuk edisi ikonik Maret 1992. Desy Ratnasari: Artis kelahiran Sukabumi yang menjadi salah satu ikon kecantikan perempuan Sunda modern di era 90-an melalui berbagai penampilannya di majalah ini. Mel Shandy: Lady rocker asal Bandung yang memberikan warna berbeda pada citra perempuan Sunda lewat penampilannya di sampul Mangle edisi Juni 1999. Ratih Purwasih/Endang S. Taurina: Penyanyi-penyanyi pop melankolis era tersebut yang juga beberapa kali terpilih menjadi model utama sampul. Memasuki era tahun 2000-an, tampilan sampul (cover) majalah Mangle mengalami transformasi visual dan konseptual yang cukup signifikan. Era ini menjadi titik temu antara upaya mempertahankan identitas budaya (nyunda) dengan tuntutan industri media modern yang mulai bersaing dengan penetrasi internet dan media digital. - Era Tahun 2000-an
Jika era 1960-an didominasi sanggul tradisional dan era 1990-an didominasi gaya rambut terurai ala artis pop, era 2000-an ditandai dengan mulai maraknya model berhijab.Representasi wanoja Sunda bergeser ke arah relijiusitas-modern. Busana Muslimah yang ditampilkan tetap mengusung unsur lokal (misalnya dipadukan dengan aksen batik atau kebaya modern), mencerminkan perpaduan nilai Islam dan nilai budaya Sunda kontemporer. Mangle mulai mengurangi ketergantungan pada selebritas nasional papan atas. Porsi cover kembali banyak diberikan kepada mojang-mojang berprestasi non-selebriti. Model sampul era 2000-an sering kali merupakan mahasiswa berprestasi dari universitas di Jawa Barat, pemenang kontes Mojang Jajaka, atau gadis remaja lokal yang aktif dalam komunitas seni Sunda. Penekanan citra perempuan beralih dari sekadar popularitas (pop-star) ke arah kecerdasan dan kreativitas (singer).
Kosa-kata Perempuan dalam Majalah Mangle (1958- 2013)
Dalam disertasi Prof. Dr. Susi Yuliawati, M.Hum. (Unpad) yang meneliti dari sumber Majalah Mangle (1958-2013) terungkap peran Mangle dalam mengonstruksi perempuan Sunda. Hal ini terlihat dari penggunaan nomina yang melambangkan perempuan yang berhasil ditelitinya pada majalah Manglé periode 1958-2013. Kehadiran leksikon (kosakata) untuk melambangkan perempuan dalam bahasa Sunda mengindikasikan peran penting perempuan dalam masyarakat Sunda.
Menggunakan metode penelitian linguistik korpus, Susi mengkaji sampel majalah Manglé dari tahun 1958 hingga 2013. Ia membagi ke dalam empat periode utama, yaitu masa Demokrasi Terpimpin (1958-1965), masa Orde Baru (1966-1998), masa transisi menuju demokrasi (1999-2003), serta masa Reformasi (2004-2013). Seluruh edisi yang terbit pada empat periode tersebut berjumlah sekira 2.000 edisi. Berdasarkan 92 sampel edisi Susi menemukan berbagai nomina pelambang perempuan yang digunakan dalam Manglé, yaitu awéwé, istri, mojang, parawan, wanoja, bébéné, wanita, pamajikan, geureuha, garwa, dan bojo. Nomina ini kemudian disaring kembali menggunakan penghitungan statistik chi-square. Hasilnya, ada lima kata yang dianalisis lebih dalam oleh Susi, yaitu mojang, wanoja, wanita, geureuha, dan pamajikann.
Susi meneliti berdasarkan tren kemunculannya di setiap periode penerbitan Manglé. Kendati lima kata ini konsisten digunakan dalam setiap periode, ternyata empat kata mengalami tren penurunan penggunaannya. Empat kata tersebut, yaitu pamajikan, geureuha, wanita, dan mojang. Dari empat kata itu, geureuha semakin langka digunakan, dari 156 di periode pertama hingga menjadi tiga di periode keempat. Kondisi sosial, budaya, dan sejarah yang terjadi dalam konteks masyarakat Sunda maupun Indonesia memengaruhi perubahan tren penggunaan nomina perempuan.
Namun, kata wanoja justru meningkat penggunaannya dalam setiap periode. Peningkatannya cukup signifikan, dari semula 13 di periode pertama menjadi 301 di periode keempat. Tren penggunaan wanoja yang meningkat sejalan dengan geliat perempuan Sunda di ranah publik, di mana usia perkawinan, tingkat pendidikan, hingga jumlah pekerja perempuan Sunda terus meningkat. Hingga periode 1980an, perempuan Sunda masih berkutat di ranah domestik. Angka usia perkawinan yang di bawah 20 tahun, hingga masih sedikitnya jumlah perempuan Sunda yang mengenyam pendidikan tinggi.
Pergeseran makna dari tren tersebut, ia menyimpulkan makna dari setiap kata berdasarkan penggunaannya dalam artikel beserta kata-kata pengiringnya. Kata ‘geureuha’ pada Masa Demokrasi Terpimpin bermakna bahwa perempuan Sunda berperan sebagai istri yang fungsi utamanya sebagai pemenuh kebutuhan biologis laki-laki. Sementara mojang awalnya merupakan konstruksi perempuan Sunda berdasarkan aspek tubuhnya (kecantikan). Namun pada periode ketiga, objektivikasi pada mojang perlahan menghilang dan berubah menjadi sebutan untuk perhelatan mojang-jajaka. Kata ‘pamajikan’ konsisten menampilkan sosok perempuan Sunda sebagai istri dengan peran tradisionalnya dalam keluarga. Sementara kata ‘wanita’ mengalami ameliorasi. Dari semula bermakna obyek seksual, kemudian memiliki peran dalam kerangka keluarga dan negara, hingga peran setara dalam laki-laki tetapi tetap dalam ranah domestiknya.
Adapun kata ‘wanoja’ dipandang sebagai kata yang mampu menghadirkan perempuan Sunda ke ranah publik. Kata ini terus meningkat penggunaannya hingga periode Reformasi. Pada periode ini, kata wanoja menggambarkan perempuan Sunda dengan kepribadian mandiri dan punya kepentingan tersendiri di ranah publik. Jika empat kata lain memiliki pasangan istilahnya dengan laki-laki. Wanoja tidak punya pasangannya dalam laki-laki. Ini menunjukkan bahwa wanoja cenderung memperbincangkan perempuan sebagai diri sendiri, tidak terikat dengan laki-laki.






Leave a Reply