Antara Investasi dan Pengangguran
Oleh:
Ummu Fahhala, S. Pd.
(Praktisi Pendidikan dan Pegiat Literasi)
Terasjabar.co – Senja baru saja turun di Kota Bandung. Lampu-lampu jalan mulai menyala. Terlihat seorang pemuda duduk termenung di pinggir jalan. Tangannya memegang map berisi lembaran-lembaran kertas. Wajahnya murung, matanya kosong.
Saya mendekatinya.
“Sedang menunggu seseorang?” tanya saya pelan.
Ia menggeleng lemah. “Bukan, Kak. Saya baru saja pulang dari wawancara kerja. Itu yang kesekian kali. Lagi-lagi ditolak.”
Saya menatap map di tangannya. Isinya ijazah dan berkas lamaran. Pemuda itu menunduk, lalu berkata lirih, “Saya sudah berbulan-bulan mencari kerja tapi belum dapat juga, kenapa kerja masih susah? Katanya Jabar juara investasi.”
Kata-kata itu seperti menghunjam dada. Pertanyaan sederhana, tapi menyimpan luka yang dalam.
Beberapa hari sebelumnya, saya membaca berita yang menyesakkan dada. Badan Pusat Statistik (BPS) merilis data terbaru. Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) nasional Februari 2025 berada di angka 4,76 persen, turun tipis dibanding tahun lalu. Namun, di balik penurunan itu, faktanya Jabar justru menempati posisi ketiga tertinggi pengangguran di Indonesia.
Ribuan anak muda kini menghadapi jalan buntu. Seolah pintu masa depan tertutup rapat, sementara slogan “Jabar Juara” terdengar di mana-mana.
Beberapa hari setelahnya, saya berbincang dengan seorang dosen ekonomi dari Jakarta. Namanya Pak Rizal, pengamat kebijakan publik yang sering muncul di media.
“Pak, kenapa pengangguran di Jabar masih tinggi? Padahal investasi besar-besaran katanya masuk,” tanya saya.
Beliau tersenyum pahit. “Investasi memang besar, tapi tidak banyak menyerap tenaga kerja lokal. Sektor yang dikembangkan justru lebih padat modal bukan padat karya. Jadi wajar jika anak muda tetap kesulitan mencari pekerjaan.”
Saya menghela napas panjang. Ternyata masalahnya bukan kurang investasi, melainkan arah dan strategi yang tidak berpihak pada rakyat.
Saya merenung. Apa arti investasi miliaran jika anak-anak muda masih antre panjang di depan lowongan pekerjaan? Apa gunanya gedung-gedung megah jika banyak pemuda pulang dengan tangan kosong?
Masalah ini bukan semata ekonomi. Ia menyentuh akar sistem yang menopang kehidupan kita. Negara sering kali sibuk mencetak angka-angka, tetapi abai menyiapkan solusi yang nyata. Jalan pintas pun ditempuh: mengirim tenaga kerja ke luar negeri. Padahal, apakah rakyat hanya pantas dijadikan komoditas ekspor?
Inilah bukti bahwa sistem sekuler dan kapitalis tidak mampu memberi jawaban. Negara seakan berdiri jauh dari rakyat, sementara rakyat dibiarkan berjuang sendiri.
Namun, Islam pernah menghadirkan jawaban yang nyata. Rasulullah saw. menanamkan semangat kerja sebagai ibadah. Beliau bersabda, “Tidaklah seseorang memakan makanan yang lebih baik daripada hasil kerja tangannya sendiri.” (HR. Bukhari).
Para khalifah setelahnya melanjutkan jejak itu. Umar bin Khattab membagikan tanah terlantar agar rakyat bisa menggarapnya. Negara memberi modal, pendidikan, dan keterampilan. Industri alat-alat dikembangkan agar sektor riil tumbuh, bukan sekadar sektor nonriil yang rapuh.
Negara memfasilitasi rakyat untuk bekerja, bukan menyingkirkan mereka dengan dalih persaingan. Perempuan tidak diwajibkan bekerja, sehingga persaingan tenaga kerja lebih sehat. Semua ini bukan utopia, tetapi sejarah nyata dari peradaban Islam yang pernah tegak.
Saya kembali teringat pemuda yang saya temui sore itu. Sebelum kami berpisah, ia berkata lirih, “Saya hanya ingin bekerja, Kak. Saya ingin bahagiakan orang tua. Kenapa itu begitu sulit di negeri sendiri?”
Saya terdiam. Tak ada jawaban yang mampu menenangkan hatinya saat itu. Namun, saya yakin satu hal, bahwa masalah ini tidak akan selesai dengan tambal sulam. Saat ini butuh sistem yang benar-benar berpihak pada rakyat, sistem yang menempatkan anak muda sebagai aset, bukan beban.
Harapan itu ada pada Islam. Sebuah sistem yang menyalakan cahaya kerja, menutup jalan pengangguran, dan membuka masa depan yang layak.Jawa Barat dan seluruh negeri ini berhak bangkit. Bukan dengan slogan, tapi dengan perubahan mendasar yang menyentuh akar kehidupan.






Leave a Reply